[Selamat tuan, anda berhasil menyelesaikan tugas]
[Anda menerima 100 poin dan uang tunai yang langsung masuk ke rekening anda]
[Sebagai bonus anda menerima uang 500.000 karena telah menyelesaikan misi kurang dari waktu yang ditentukan]
"Haah.. Apa ini?" Julian terkejut, apakah ia baru saja menyelesaikan tugas dari aplikasi aneh yang ada di ponselnya itu.
Julian yang penasaran segera memeriksa mobile banking yang ada di ponselnya dan benar saja ternyata nominal uang di rekeningnya telah bertambah. Julian sedikit bingung, bagaimana aplikasi ini bisa tau nomor rekeningnya.
Privilege App System, Aplikasi aneh yang tiba-tiba muncul di ponselnya membuat Julian yang penasaran dan semakin tertarik untuk mencoba.
Akankah aplikasi ini dapat mengubah kehidupannya yang malang….
Simak terus kisahnya hanya di sini !
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zarans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Target Khusus
"Kamu ke belakang!" bisik Alex saat Julian membuka pintu mobil Alex.
"Kenapa?" kening Julian berkerut, ia heran kenapa ia disuruh duduk di belakang.
"Elena disini," ujar Alex tertawa sambil mendorong Julian mundur.
Ternyata tanpa dirinya Alex sudah menebar jaring agar dapat menggaet Elena. Julian akhirnya sadar jika ia hanya dijadikan umpan untuk aksi si buaya satu ini.
Julian duduk di belakang dengan tenang, Elena yang baru datang tampak bingung karena ia dipersilahkan duduk di depan.
Alex terus melancarkan aksinya dengan melontarkan kata-kata manis untuk merayu Elena. Sesekali Julian tertawa mengejek karena ia tau bahwa itu hanya bualan Alex semata.
[TUGAS KHUSUS!!]
[Sistem telah mengunci target]
[Temukan tanda yang terdapat di tubuh target]
[Hadiah 5000 poin dan Uang tunai sebesar tiga ratus juta]
[Klik disini untuk profil target]
[Silahkan selesaikan sebelum 7 hari]
[PROFIL TARGET]
[Nama : Azura Kiehl]
[Usia : 22 tahun]
[Pekerjaan : Mahasiswi]
[Level Privilege : 25]
[Tinggi/Berat Badan : 170/53]
[Status : Single ]
[Lokasi saat ini: The Mars Club]
"Kita ke mana?" tanya Julian begitu selesai memeriksa tugas khusus yang masuk
"Tempat biasa," jawab Alex singkat dan melanjutkan kembali obrolannya dengan Elena.
"Mars aja ya?" tawar Julian singkat.
"Emang mau ke sana," jawab Alex mengejek.
Julian menggeleng pasrah, kali ini ia ibarat obat nyamuk bakar yang hanya menjadi pajangan. Sedari tadi kedua sejoli di depannya terus menjadikan Julian topik candaan terkait profesi barunya.
"Kita akan bergabung dengan beberapa temanku," ujar Elena sambil tersenyum setibanya di parkiran.
Julian melirik ke arah Alex dan hanya dibalas kedipan genit. Julian sedikit tidak terbiasa dengan lingkungan baru, tetapi kali ini akan sulit baginya untuk menolak.
Mereka tiba di sebuah meja yang telah ada dua perempuan lain disana, Elena mengenalkan Alex dan Julian pada kedua temannya itu Kassy dan Diana.
Pandangan Julian tertuju pada sebuah gambar yang ada di punggung sebelah kiri milik seorang gadis yang sedang duduk di bar membelakangi mereka.
Selang beberapa waktu, dua orang pria datang yang ternyata pacar dari Kassy dan Diana.
Julian memandang sendu beberapa anak manusia yang tengah berpasang-pasangan ini. Sungguh, seperti inikah kehidupan malam yang baru dikenal Julian.
Julian benar-benar menjaga kesadarannya malam ini karena ia harus menyetir saat pulang nanti menggantikan Alex. Sesekali Julian terus memantau keberadaan gadis kelinci yang sedari tadi duduk memunggunginya.
Alex sangat cocok dengan Elena, mereka tampak serasi dengan dunia malam ini. Julian menatap mereka sambil sesekali meminum cola yang tadi ia pesan.
Tampak beberapa rekannya sudah mulai asik sendiri, Julian memutuskan untuk melancarkan aksinya. Tak lain dan tak bukan semua ini ia lakukan karena poinnya benar-benar telah habis.
"Aku pergi sebentar," pamit Julian.
Setelah mengumpulkan segenap keberanian yang ia miliki, Julian memutuskan untuk menghampiri gadis yang sedari tadi ia perhatikan itu.
"Maaf ya lama," bisik Julian sambil memeluk gadis itu dari belakang.
Sebelum datang penolakan dan tanpa menunggu aba-aba Julian segera mendaratkan ciuman di punggung gadis itu, tepat di gambar kelinci yang sedari tadi ia pandangi.
Gadis itu tampak terkejut, begitu juga dengan Julian. Julian memasang tampang terkejut dan berpura-pura jika ia salah orang.
"Oh maaf, sa.. Saya kira teman saya," ujar Julian terbata.
Tatapan aneh menembus langsung ke jantung Julian, Julian yang awalnya mencoba santai. Namun kini jantungnya berdegup kencang.
"Maaf," ucap Julian sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Gadis itu tampak tersenyum singkat, dan kembali membelakanginya. Julian kebingungan dengan apa yang terjadi dan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
"Mati aku," Julian menelan paksa salivanya yang tertahan.
Julian memutuskan untuk menghentikan sapa basa-basinya, ia mengulurkan tangannya dengan maksud ingin mengajak berkenalan.
"Julian," ucap Julian mantap.
"Azura," jawab Azura sambil menyambut uluran tangan Julian.
Julian menyadari bahwa gadis di sampingnya ini tampak sudah sangat mabuk karena wajahnya yang memerah setelah terkena cahaya lampu bar.
Percakapan-percakapan ringan dimulai Julian, tetapi Azura hanya menjawab seadanya. Setelah cukup lama Julian memutuskan untuk mengakhiri transaksi ini karena tugasnya telah berhasil.
"Yaudah saya ke sana ya. Jangan terlalu mabuk, nanti ga bisa pulang," ujar Julian menasehati dan beranjak dari duduknya.
"Mau tidur bareng?" lirih Azura mencoba mengentikan Julian, ia menatap Julian dengan tatapan sendu.
Julian mengalihkan pandangannya ke arah Alex dan yang lainnya, mereka tengah sibuk dengan dunia mereka sendiri.
"Ayo," Julian tersenyum dan menarik Azura berdiri.
Azura tampak berjalan dengan sedikit oleng, Julian dengan sigap merangkulnya. Entah apa yang merasuki Julian, bisikan dari si Rabbit membuat Julian lebih bersemangat.
Bersambung..
"Menyala Abangkuhh"
"yang bener aje, Rugi dong? "