Tak pernah terpikirkan oleh Chiara jika hari pernikahan yang dia dambakan selama ini malah berakhir dengan kesedihan. Kesedihan yang begitu menyakitkan bagi Chiara.
Setelah satu tahun berpacaran , Chiara memutuskan menikah dengan Aldo - pria yang sudah menjadi tambatan hatinya selama ini. Bukan pernikahan indah yang dia dapatkan , tapi Chiara malah mendengar kabar kalau calon suaminya telah meninggal.
Nenek Dewi - selaku Nenek Aldo merasa sangat kasihan pada Chiara. Dia sudah menganggap Chiara seperti cucunya sendiri. Karena tamu undangan sudah banyak yang datang , Nenek Dewi lalu menyuruh Dario - cucu kesayangannya yang terkenal berandalan sebagai pengganti Aldo. Dario bersedia menjadi mempelai pengganti karena dia tidak tega melihat Neneknya yang terus memohon.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan lama ? Atau justru berpisah karena tak saling mencintai ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah tidak mencintainya.
Setelah selesai makan, Chiara pun kembali lagi ke kamarnya sedangkan Dario masih berada di dapur.
Di dalam kamar , Chiara mengambil ponselnya yang dari tadi bergetar. Ternyata ada satu pesan.
[ Chiara , malam ini aku ingin mengajakmu bertemu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dan sekalian aku ingin mendengar jawabanmu.] Aldo.
Nafas Chiara langsung memburu ketika membaca pesan itu. Tangannya mencengkram erat hingga kukunya yang panjang menusuk sprei di bawahnya.
" Berani sekali dia mengajakku bertemu. Dasar pria tidak tahu malu," cibir Chiara lalu melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Dia tidak akan mau mempercayai mereka berdua lagi.
Chiara duduk di depan meja rias sambil mencoba berpikir bagaimana caranya menghadapi kedua orang yang sudah mengkhianatinya.
" Aku tidak boleh diam saja," gumam Chiara.
Wanita itu masih mencoba berpikir bagaimana caranya menghadapi kedua orang yang sudah mengkhianatinya.
Tiba - tiba Dario masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya hanya diam saja. Wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Apakah Chiara masih memikirkan semua yang terjadi tadi siang ?
" Chiara, ada apa ? Apakah kau masih memikirkan mereka ? " tanya Dario sembari menatap wanita itu.
Raut wajah Chiara terlihat sangat terkejut ketika melihat Dario yang sudah berdiri di sampingnya. Kapan suaminya masuk ke dalam ? Kenapa dia tidak tahu ?
" Apa kau sudah lama berdiri di sini ? " tanya Chiara sembari menaikkan sebelah alisnya.
" Sudah ada sekitar sepuluh menit aku berdiri di sini , tapi kau tak menyadari keberadaanku. Ada apa ? Kalau ada masalah kau bisa menceritakannya padaku, siapa tahu aku bisa membantumu." Kata Dario dengan raut wajah serius.
Chiara menggigi bibir bawahnya, merasa ragu ketika hendak mengatakan sesuatu pada Dario mengingat selama ini dia sudah banyak merepotkan pria itu.
" Apa kau perlu bantuanku ? Aku adalah suamimu, jadi katakan saja jika kau butuh bantuanku," ujar Dario .
" Dari mana kau tahu kalau aku butuh bantuanmu ? Aku bahkan belum mengatakannya ?" tanya Chiara dengan raut wajah yang terlihat bingung dan semakin terkejut. Dia terkejut karena suaminya bisa mengetahui apa yang ada di pikirannya saat ini. Apakah suaminya bisa membaca isi pikiran seseorang ?
" Firasat seorang suami terhadap istrinya tidak akan pernah salah," sahut Dario dengan santainya.
" Temani aku besok menemui kedua penghianat itu. Aku ingin menyelesaikan semua masalah ini," terang Chiara setelah terdiam hingga beberapa saat.
Dario menatap Chiara dengan dahi berkerut. "Apakah kau yakin ingin menemui mereka ? " tanya Dario dengan mata membulat. Melihat Chiara yang terlihat sangat terpukul dia hanya khawatir wanita itu akan mempermalukan dirinya sendiri.
" Tentu saja ," sahut Chiara dengan sangat mantap.
" Baiklah, aku pasti akan menemanimu. Lebih baik sekarang kau istirahat dan tidur," terang Dario seraya berjalan menuju sofa yang ada di kamarnya. Saaymt ini dia memang belum berani tidur di tempat tidurnya.
Chiara menganggukkan kepalanya sambil melihat Dario yang merebahkan tubuhnya di atas sofa.
" Dario , tunggu ! " seru Chiara.
"Ada apa ? " tanya Dario seraya menoleh ke samping. Sebenarnya dia berharap kalau wanita itu memanggilnya untuk memintanya tidur di sebelahnya . Punggungnya terasa begitu sakit karena dia setiap hari tidur di atas sofa.
" Tidurlah di sini. Nanti punggungmu bisa sakit kalau terus-menerus tidur di sofa," kata Chiara sembari menepuk - nepuk tempat tidurnya.
Kedua ujung bibir Dario pun tertarik ke atas membentuk senyuman mendengar perkataan istrinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Besok paginya
Chiara mematut dirinya di depan cermin. Dia sudah mengirim pesan dan mengkonfirmasi pada Aldo kalau mereka akan bertemu pagi ini di sebuah Cafe. Tak ingin terlihat berantakan, Chiara mengenakan riasan di wajahnya. Menutupi matanya yang sembab akibat kemarin terlalu lama menangis.
Hari ini wanita itu mengenakan sebuah gaun selutut berwarna peach muda yang memiliki lengan pendek. Tak lupa tas selempang kecil sudah tersampir di bahunya. Rambutnya yang panjang di biarkan tergerai indah di punggungnya.
"Aku tidak boleh menangis," ucap Chiara meski air matanya selalu saja merebak kalau mengingat kejadian kemarin.
" Ugh, tetap saja aku ingin menangis. Mereka benar - benar tega padaku, terutama Keysa ," kata Chiara seraya kembali mengusap sudut matanya menggunakan tissue.
" Chiara , apakah kau sudah siap ? " tanya Dario di ikuti dengan ketukan pintu.
" Tunggu sebentar ," seru Chiara . Buru - buru dia mengenakan lipstik agar bibirnya tidak pucat. Lalu menggerakkan bibirnya untuk merapikannya.
Chiara memutar tubuhnya di depan cermin sambil merapikan gaun yang di kenakannya. Dia mengatur nafasnya sebelum keluar dari kamarnya. Penampilannya pagi ini sudah terbilang sempurna
Di luar , Dario merasa cemas. Dia sudah menunggu Chiara cukup lama tapi istrinya belum juga keluar.
"Apakah wanita kalau bersiap - siap selama ini ? " pikir Dario seraya mondar - mandir di depan kamarnya.
Ceklek...
Chiara menarik daun pintu hingga menimbulkan suara derit pintu yang terbuka.
Dario memandang penampilan Chiara dari atas hingga bawah. Mengamatinya dari ujung rambut hingga ujung kukunya. Dia baru sadar kalau Chiara terlihat sangat berbeda ketika berdandan. Istrinya terlihat sangat cantik. Bahkan matanya sampai tak berkedip melihatnya.
Walaupun Chiara saat ini terlihat sangat cantik tapi sejujurnya dia lebih suka wanita itu apa adanya. Kalau Chiara berdandan seperti ini maka banyak pria yang akan menatap atau menggodanya.
Chiara mengerutkan keningnya melihat Dario yang berdiri di depan pintu tanpa berkedip. Dia jadi salah tingkah lalu menyelipkan rambutnya di belakang telinga.
" Kenapa kau memandangku seperti itu ? Apakah ada yang salah ? " tanya Chiara sambil meraba - raba bagian depan tubuhnya.
" Kau terlihat sangat cantik, tapi seharusnya kau tidak usah berdandan secantik ini," jawab Dario dengan jujur.
" Kenapa bicara seperti itu ? Apa kau tak suka kalau aku berdandan seperti ini ? " tanya Chiara seraya menaikkan alisnya.
" Bukannya tidak suka, tapi aku tidak mau ada pria lain menatap istriku ," ucap Dario dengan jujur.
Chiara pun langsung menyunggingkan bibirnya. Entah kenapa dia merasa sangat senang mendengar jawaban yang keluar dari mulut suaminya.
" Kau tenang saja, aku berdandan seperti ini agar Aldo dan Keysa melihat kalau aku sangat bahagia menikah denganmu. Dan juga untuk menutupi mataku yang sembab. Sekarang ayo kita pergi," ajak Chiara sembari tersenyum.
" Apa kau yakin ingin menemui mereka ? Jika belum siap sebaiknya di tunda saja dulu," balas Dario sebelum Chiara bertindak terlalu jauh.
" Aku tak akan menundanya. Aku mau semuanya selesai secepatnya, " tolak Chiara dengan penuh keyakinan yang sangat kuat.
" Tapi aku takut kalau kau tidak kuat melihat kebersamaan mereka. Aku tidak ingin kau memaksakan diri. Setidaknya kau harus menguatkan hatimu terlebih dahulu. Aku tahu semua itu tak mudah bagimu," terang Dario. Saat ini mental Chiara masih lemah, dia hanya takut Chiara semakin sakit hati nantinya.
" Percayalah padaku , aku pasti baik - baik saja. Apa kau lupa kalau saat ini aku sudah tidak mencintai Aldo ? Yang aku cintai saat ini adalah kau , " sahut Chiara sembari berjalan mendekati Dario.
" Ketika kemarin melihatmu menangis , aku berpikir kalau kau masih mencintai Aldo," balas Dario sembari menunduk.
" Tidak, aku benar - benar sudah tidak mencintai Aldo. Mana mungkin aku tidak menanggis mengetahui semuanya. Dan yang membuatku sangat sedih adalah sahabat yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri begitu," sahut Chiara dengan raut wajah yang kembali terlihat sedih.
" Baiklah , kalau begitu ayo kita pergi. Tunjukkan pada mereka kalau kau bahagia dengan pernikahanmu. Kau adalah wanita yang kuat. Aku yakin kau pasti bisa menghadapi mereka," kata Dario memberi semangat pada Chiara.
semoga saja Chiara akan baik2 saja dan rencana nenek Dewi tidak jadi kenyataan .
kasihan Chiara dan Dario kalo sampe itu terjadi