Menceritakan tentang kisah cinta seorang gadis di penghujung masa SMA. dari awal yang tak mengenal cinta, hingga tersakiti oleh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Sore Hari.
Di sebuah Lapangan yang terlihat sudah tidak terawat. Tampak seorang pemuda tengah bermain bola basket seorang diri. Hanya dengan sedikit melompat saja, bola basket itu dapat masuk sempurna kedalam sebuah ring yang terlihat sudah mulai berkarat.
Dahulu, Di Lapangan inilah pemuda itu memulai latihan pertamanya bersama dengan seorang sahabat.
Saat bola berhasil masuk sempurna kedalam ring. Terdengar suara tepukan tangan yang cukup nyaring. Pemuda yang tak lain adalah Rayyan pun menoleh. Mencari sumber suara yang sebenarnya sudah ia tunggu sedari tadi.
"Tembakkan Lo memang ga pernah meleset." Ucap seorang pemuda yang tengah berjalan santai menghampiri Rayyan.
Vino terus berjalan menghampiri Rayyan yang tengah berdiri tegak di tengah Lapangan. Tak lupa Vino memasang wajah dan senyum meremehkannya di hadapan Rayyan. Senyum meremehkan yang hanya ia tunjukkan di hadapan Rayyan Narendra putra. Sang mantan sahabat yang kini menjadi musuh bebuyutan baginya.
"Kenapa?" Tanya Vino ketika melihat Rayyan yang masih saja terdiam.
Jika saja Rayyan tak mengiriminya pesan untuk datang ke tempat ini. Vino sungguh tak ingin berada di tempat ini lagi. Tempat ini memiliki banyak kenangan bersama Rayyan. Dan Vino membenci itu.
"Jauhi Alya!" Ucap Rayyan dengan nada yang tegas.
Kini kedua mantan sahabat itu tengah berdiri saling berhadapan. Keduanya memancarkan aura permusuhan yang begitu kental. Sungguh sangat jauh berbeda dengan aura yang pernah mereka berdua pancarkan beberapa tahun yang lalu.
"Lo pikir gue bakal turutin apa yang Lo bilang?" Ucap Vino dengan nada bicara yang tak kalah tegas.
"Justru Lo yang seharusnya menjauh dari Alya." Ucap Vino lagi.
Rahang Rayyan tampak mengeras dengan kedua tangan yang tampak mengepal kala mendengar ucapan Vino.
"Gue ga akan pernah menjauh dari Alya. Karena Gue ga akan mengalah seperti dulu." Jawab Rayyan menatap tajam Vino.
"Lo bilang mengalah? Sejak kapan Seorang Rayyan bisa mengalah? Denger Rayyan! Gue tahu betul, sedari dulu Lo buka tipe cowo yang mudah mengalah. Mengalah versi Lo, cuma buat nutupin jiwa pengecut Lo aja." Ucap Vino sambil mendorong bahu Rayyan cukup keras.
Mendapat ucapan sarkas dan perlakuan kasar Vino, Rayyan hanya terdiam, Ia masih berusaha untuk meredam emosinya. Ia berusaha untuk tidak terpancing ucapan Vino padanya.
"Kenapa Lo diem aja? Lo ga mau pukul gue lagi." Ucap VIno sengaja memancing amarah Rayyan.
"Jauhi Alya, gue cuma mau itu!" Ucap Rayyan.
"Gue suka Alya jauh sebelum Lo gencar deketin dia. dan gue bukan pengecut kaya Lo. Yang mundur bahkan sebelum bertanding." Jawab Vino semakin berani menantang Rayyan. Vino tidak pernah sekalipun takut menghadapi Rayyan. Baik dulu ataupun saat ini.
Mendengar semua ucapan Vino yang seolah tengah menyudutkannya. Membuat emosi Rayyan meledak. Ia sudah tak bisa lagi menahan emosi yang terus saja semakin memuncak.
"Brengs*k"
Rayyan yang tak bisa lagi menahan emosinya, mencoba melayangkan tinjunya pada wajah Vino, namun berhasil Vino tepis. Bahkan Vino berhasil memegang tangan Rayyan yang hampir mengenai wajahnya.
"Denger Rayyan. Harusnya Lo yang jauhi Alya. Gue tau, Lo itu cuma manfaatin Alya buat bales dendam sama Gue." Ucap Vino dengan penuh Amarah.
Vino tidak terima jika sang pujaan hati yang selama ini Ia cintai, dimanfaatkan dan dipermainkan sebagai alat balas dendam Rayyan padanya.
"Gue ga pernah manfaatin apalagi mempermainkan Alya cuma buat bales dendam sama cowo Brengs*k kaya Lo." Ucap Rayyan sambil menghempas kasar tangan Vino yang masih memegang tangannya.
"Dulu gue emang Cowo Brengs*k, gue Akui itu! Tapi untuk saat ini. Gue minta. Jangan pernah libatkan Alya dalam masalah kita dulu. Alya ga bersalah Rayyan, Jadi lepasin Dia!" Ucap Vino lagi.
VIno berfikir, jika selama ini Rayyan sengaja mendekati dan mempermainkan Alya hanya untuk membalas rasa sakit hatinya dulu padanya.
Vino tahu betul, jika Rayyan sangat menyukai Rania dulu, dan Rayyan bukanlah tipe pemuda yang muda jatuh cinta. Bukankah itu artinya Rayyan tidak benar-benar menyukai Alya. Rayyan hanya sedang memanfaatkan dan mempermainkan Alya untuk kepentingannya saja.
Mendengar semua ucapan Vino tentang Alya, bukannya emosi, justru Rayyan malah tersenyum meremehkan.
" LO pikir Gue cowo brengs*k kaya Lo!. Lo salah VIno! Gue Rayyan, bukan cowo pengecut seperti yang sering Lo bilang dari dulu. Gue ga pernah berniat manfaatin apalagi mempermainkan Alya cuma buat bales dendam sama Lo. Gue bukan Lo yang tega mempermainkan perasaan Rania dulu." Ucap Rayyan yang kemudian berjalan pergi meninggalkan Vino yang masih berdiri terdiam di tengah lapangan.
Baru beberapa Langkah berjalan, Rayyan kembali berhenti kemudian menoleh kearah Vino.
"Hubungan Gue sama Alya lebih dari yang Lo pikirkan. GUe bakal jadiin Alya seutuhnya milik gue." Ucap Rayyan yang kemudian kembali berjalan meninggalkan Vino yang masih tampak terdiam.
Sepeninggal Rayyan, Vino yang masih berdiri di tengah lapangan berteriak kencang. Meluapkan semua emosi yang sedari tadi Ia tahan.
Vino tidak terima, tidak akan pernah terima jika gadis yang sudah hampir 3 tahun di cintainya harus jatuh ke tangan mantan sahabatnya. Vino tidak akan pernah bisa menerima semua itu. Tidak akan pernah!"
Sedari dahulu, Vino merasa tidak pernah merasa bersalah pada Rayyan maupun pada Rania. faktanya, Vino tidak pernah menyukai Rania. Vino hanya menganggap Rania sebagai sahabat. Vino tidak pernah dengan sengaja menyakiti hati gadis itu dengan cara menolak ungkapan perasaan gadis itu. Semua itu ia lakukan semata-mata untuk memberi peluang pada Rayyan agar bisa bersama Rania. karena Vino tahu persis jika Rayyan menyukai Rania.
kalian tim mana nih.
tim Rayyan atau tim Vino.
Yuk komen di bawah.
Ceritanya sendiri, mudah diikuti. Cerita cinta pertama dengan lika-likunya sendiri. Nggak terlalu mainstream, nggak mudah ditebak akhirnya. Penceritaan yang dominan POV 1 sudah baik, dan enak dibacanya, itu saja.
Manis di awal doang.
terkadang orang perfeksionis itu temperamental.
kecuali kamu.