NovelToon NovelToon
Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius / Tamat
Popularitas:159.4k
Nilai: 5
Nama Author: Momoy Dandelion

6 tahun yang lalu, seorang lelaki telah menghancurkan impian Flora untuk menjadi seorang penyanyi. Akibat malam panas yang dilalui bersama lelaki itu, ia hamil dan harus pergi ke luar negeri untuk bersembunyi.

Kini, ia kembali lagi membawa seorang anak laki-laki yang lucu bernama Gavin. Meskipun terlihat seperti anak ceria pada umumnya, Gavin mengidap penyakit langka yaitu Anemia Aplastik.

"Mama, Gavin sakit parah, ya? Apa Gavin akan mati?" Pertanyaan itu keluar dari mulut kecil Gavin dengan kepolosannya.

Mata Flora sampai berkaca-kaca. Ia tidak tega melihat putranya yang harus terbaring di rumah sakit. "Tidak, Sayang. Kamu pasti akan sembuh!" Katanya dengan optimis.

"Mama ... sebelum mati, Gavin mau ketemu Papa. Gavin mau punya Papa," pintanya.

Usianya baru 5 tahun, namun Gavin sudah pandai mengutarakan kemauannya. Kasih sayang Flora yang besar membuatnya memutuskan untuk kembali ke negara yang pernah ia tinggalkan demi mempertemukan Gavin dengan ayah kandungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Tidak Sabaran

"Ayo masuk!" ajak Alvaro.

Ia kembali menarik tangan Flora agar mengikutinya, memasuki ruangan apartemen yang sudah lama tidak ditempati. Namun, tempat itu selalu dibersihkan oleh petugas kebersihan setiap harinya.

"Malam ini kita akan tidur di sini," kata Alvaro seraya memamerkan salah satu kamar yang ada di apartemennya. Tanpa meminta pendapat Flora, ia tetap mengajak wanita itu masuk. Ia mempersilakan Flora duduk di tepian ranjang.

Alvaro melepaskan jas yang dikenakannya. Ia juga melepaskan dasi yang melilit di leher, lalu membuka satu persatu kancing kemejanya.

Flora sampai menundukkan pandangan, malu sendiri dengan apa yang lelaki itu lakukan. Kalau masih bisa, ingin ia pergi dari sana.

Saat lelaki yang telah menjadi suaminya itu berjalan mendekat dengan bertelan jang dada, Flora merem as ujung sprei di sisinya.

"Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk berduaan di sini meninggalkan Gavin," ucap Flora sembari mengalihkan pandangannya.

Alvaro menyunggingkan senyum. "Kita di sini juga untuk Gavin. Akan lebih baik kalau kita segera memberinya adik," ucapnya dengan lugas.

Flora terlihat semakin tegang. Apalagi Alvaro tiba-tiba memagut bibirnya tanpa memberi aba-aba. Lelaki itu seperti tidak sabaran. Padahal Flora benar-benar merasa hal itu begitu mendadak.

Alvaro sangat lihai membuat perhatian Flora teralihkan. Pagutan bibirnya membuat wanita itu kewalahan sampai pertahanan diri sang istri melemah hingga ia bisa leluasa melucuti pakaian istrinya. Ia tak memberi Flora kesempatan untuk lari darinya lagi.

"Ah, pelan-pelan!" rengek Flora yang sudah tidak berdaya saat Alvaro menggerayangi seluruh tubuhnya. Sang suami sangat agresif sampai ia tak punya kesempatan untuk menolak. Ia sampai tak bisa memikirkan apapun dengan kelakuan suaminya.

Gavin hanyalah alasan. Hasrat Alvaro memang sudah tidak bisa dibendung lagi. Menyadari kini Flora telah menjadi istrinya, ia menjadi berubah seperti serigala yang siap menerkam mangsanya.

Tubuh Flora mengingatkannya pada tubuh wanita yang ia jamah enam tahun lalu. Tubuh yang sama, dengan kehangatan yang sama. Tubuh yang selalu terbayang-bayang dalam pikirannya sampai membuat ia gila dan sering bermain tangan setiap kali mengingatnya.

Kini, ia tak perlu merasa tersiksa lagi. Ia bisa langsung menyentuh tubuh yang selama ini dirindukannya, tubuh istrinya sendiri.

"Alvaro! Ah! Apa kamu sudah gila? Singkirkan kepalamu dari sana!" Flora merancu saat sang suami membenamkan kepala di antara kedua pahanya. Ia hampir gila merasakan cecapan dan sentuhan lidah Alvaro pada miliknya.

Seluruh tubuhnya menegang. Ia tak henti-hentinya mengerang berharap sang suami bisa menyudahi kegilaannya.

"Hentikan! Hentikan!"

Ada perasaan canggung bercampur malu. Tak pernah terbayangkan hubungan suami istri bisa seerotis itu. Meskipun malu, tak bisa disangkal jika apa yang Alvaro lakukan padanya sangat nikmat.

Sementara, Alvaro belum mau menyudahi usahanya memuaskan sang istri. Lidahnya terus bergerilya membuat Flora tak henti-hentinya mengerang dan menjerit. Semakin ia mendengarnya, semakin ia semangat melakukannya. Sesekali ia iseng memberikan gigitan dan hisapan kecil hingga Flora menjepitkan kedua pahanya. Alvaro terjebak di antara keduanya.

Seluruh tubuh Flora menegang. Tangannya memegang sprei erat-erat. Ia menjerit keras saat ada desakan kuat dari dalam dirinya yang tak tertahan.

Flora mendapatkan klimaksnya. Ia berusaha mengatur napas dengan kondisi tubuh yang melemas. Bagian bawahnya masih berdenyut setelah kenikmatan yang dirasakannya. Sementara, ia melihat Alvaro tersenyum sembari menatapnya. Membuat ia merasa malu.

Masih dalam kondisi yang lemas, Flora membelalakkan mata saat Alvaro mengarahkan benda yang menegang sempurna itu mendekati miliknya. Ingin ia menghindar namun tak berdaya. Ia tidak menyangka jika suaminya akan benar-benar melakukannya. Alvaro seakan tak mau memberinya waktu untuk beristirahat.

"Alvaro, berhenti. Aku benar-benar belum siap," pinta Flora dengan nada yang lemas.

"Kamu tenang saja, aku akan melakukannya dengan hati-hati," ucap Alvaro seraya mengusap kepala Flora.

Perlahan ia mendorong miliknya ke dalam tempat yang dulu pernah ia masuki. Bedanya, kali ini ia melakukannya dengan kesadaran penuh. Adegan yang selama ini hanya bisa sesekali ia bayangkan, kini bisa dilakukan secara nyata. Sensasinya membuat ia seakan menjadi gila.

"Ah, Flora, aku mencintaimu."

Alvaro memeluk Flora dengan erat usai menumpahkan cairan cintanya dengan puas. Ia bersumpah tak akan pernah melepaskan wanita itu. Ia akan menjaganya dan juga putranya.

***

Flora terbaring lemas di atas ranjang. Ia merapatkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih telan jang. Entah berapa kali Alvaro sudah menumpahkan cairan cinta ke dalam tubuhnya sepanjang malam sampai membuatnya tidak berdaya. Bahkan ia tak bisa memikirkan putranya di rumah sakit. Lelaki itu benar-benar menguasai dirinya.

Tak berselang lama, Alvaro keluar dari kamar mandi. Buru-buru Flora memiringkan tubuhnya memunggungi lelaki itu. Ia memejamkan mata berpura-pura tidur.

Bisa ia rasakan Alvaro yang mulai menaiki ranjang. Flora semakin merapatkan matanya berharap lelaki itu tidak akan melanjutkan apa yang baru saja disudahi. Ia sangat lelah dan tidak ada tenaga lagi untuk melayaninya.

Akan tetapi, Alvaro justru ikut masuk ke dalam selimut. Dengan santainya, lelaki itu memeluk tubuh Flora dengan erat. Kulit mereka kembali saling menempel. Bahkan Flora bisa merasakan sesuatu yang mengeras menggesek bagian belakang tubuhnya. Ia membuka mata. Heran, kenapa benda itu terus terbangun sejak tadi.

"Flora ....," panggil Alvaro seraya menggerayangi wanita dalam pelukannya dengan penuh gairah.

Padahal ia baru saja mandi untuk menyegarkan badan. Tapi, melihat Flora yang terbaring di ranjang, ia kembali berhasrat. Rasanya masih belum bisa dipercaya wanita itu ada di atas ranjangnya dan kini menjadi istrinya.

Kulit lembut wanita itu membuatnya terasa nyaman. Ia seakan tak kunjung puas menyentuhnya. Dengan nakal ia memainkan ujung dada sang istri hingga ia mendengar suara lenguhan kecil. Pertanda ia sudah berhasil mengganggu istirahat istrinya.

"Alvaro, bisa kamu berhenti? Aku ingin tidur," pinta Flora yang semakin merasa tak nyaman. Suaminya terus menyentuhnya hingga hasratnya kembali terpancing. Tidak ia pungkiri jika sentuhannya memang terasa enak. Tapi, ia sudah cukup kelelahan menghadapi lelaki itu.

"Maafkan aku, Sayang. Sepertinya aku tidak bisa membiarkanmu tidur sepanjang malam. Aku masih mau lagi," jawab Alvaro. Ia menggigit lembut telinga istrinya hingga wanita itu kembali mengerang. Ia mengulaskan senyum.

Perlahan ia kembali memasukkan miliknya dari belakang. Flora terlihat pasrah menerimanya. Suara lenguhan lembutnya semakin membuatnya bersemangat mendorong miliknya hingga masuk seluruhnya.

"Sayang, enak sekali," bisik Alvaro tepat di telinga Flora. Ia tak bisa membohongi dirinya bahwa momen seperti saat ini adalah hal yang selalu ia impikan. Penantian panjangnya tal terasa sia-sia meskipun harus menghadapi banyak rintangan.

1
αуαηgηуαĝøjøκικøβმĝι2
astaga nagih ya Al 😆😆
ardiana dili
lanjut
amilia amel
akhirnya yang ditunggu-tunggu up juga...
makasih author
rahayu
akhirny up lg thor setelah sekian purnama
Momoy Dandelion: hahaha ... sori, ya. lagi berusaha cari waktu buat lanjutin semua novel yang belum selesai.
total 1 replies
Yati Maryati
kapan ceritanya d lanjutkan lagi kak,tiap hari nungguin terus 😭😭😭
Wita Nadhira21
semangat terus Thor
Arman Despi
Aq baru mampir d cerita ini thorr
tapi Aq suka
semangat thorr 💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
Yati Maryati
kapan thor afdet kgi ceritan masih nunggu nih cerita lanjutannya
Momoy Dandelion: maaf ya, karena kemarin gagal retensi jadi belum aku lanjut.
total 1 replies
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
sudah lama Alvaro berpuasa...gak sabar mau berbuka puasa hehehe... aku jg berharap mama Alvaro dpt menerima Flora dan Gavin
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
aku baru mampir thor, terus semangat 💪 utk berkarya dan update
Wa Tinah
updatenya jangan kelamaan Thor
amilia amel
siap² buka puasa ya pak.. 😅😅😅
amilia amel
semoga pernikahan alvaro dan.flora langgeng, bahagia sampai menua bersama dan maut memisahkan keduanya
Lie Hia
wouww flora siap gak siap...skrg kamu istri Alvaro, kamu hrs bahagia yaaa sampe kakek nenek, semoga gavin cpt sembuh yaaa
Lie Hia
Alvaro luar biasa, semoga pernikahannya dgn flora ttp langgeng dan bahagiaa yaa sampe kakek nenek
Al Vian
lanjut Thor
Muh Nur
semangat berkarya othor
Fajar Alfiyanshah
lanjut thor
Al Vian
lanjut Thor
Muh Nur
prilly ular keket tak punya malu🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!