Mahalini Lembong menatap tajam Rae Sitha Dewi. ia berjalan memutar menuju ke meja Rae dan menulis cek seratus juta rupiah. Rae mengambil cek itu acuh dan memasukkan ke kantong celana jeannya. Ia berharap dengan uang ini ia bisa mengobati ibunya yang lagi butuh pertolongan.
Dengan senyum licik Mahalini menyodorkan selembar kertas putih untuk ditandatangani oleh Rae. Walaupun agak ragu, Rae dengan cepat menggores kan pulpen hitam itu diatas kertas.
Mahalini Lembong adalah gadis kaya berusia dua puluh lima tahun. Dia putri pemilik Cafe Gaul tempat Rae mengais rejeki setiap hari. Kebetulan postur tubuh mereka juga hampir mirip yang membuat Mahalini lebih leluasa menguasai Rae. Ia punya rencana jitu untuk bertukar posisi dan mengelabui ibunya, serta calon suaminya.
Apakah rencana Mahalini Lembong dibalik pemberian uang seratus juta?
***
Hallo guys, ini buku baruku. Jangan lupa like, comment dan gift. Trimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYANYI CAFE
Seminggu telah berlalu, Dewa tidak peduli dengan penampilannya lagi. Dia tetap bekerja seperti biasa, habis bekerja dia minum sampai tertidur. Kadang dia pulang kadang tidur di kantor. Semenjak istrinya mengaku sering tidur di kantor, Dewa ikut-ikutan.
Malam ini kembali Dewa memanggil bibi Sumi, tujuannya supaya pelayan itu tidak membocor kan ketidak beradaan istrinya di Puri. Yang paling menakutkan adalah mamanya, kalau wanita itu sampai tahu akibatnya fatal. Mamanya akan melapor ke tetua, panjang jadinya kalau tetua tahu. Apalagi kalau sampai keluarga besar tahu, ia yakin akan ada pers conference, maklum ia membawa nama besar papanya dan Puri.
"Selamat malam tuan, ada apa tuan memanggil saya?"
"Aku lupa mengatakan supaya bibi dan Sri merahasiakan kejadian ini, jangan sampai ada yang tahu, takut mama marah atau keluarga besar mengambil tindakan."
"Baik tuan saya tidak mungkin berbicara, kasihan nona. Bagi saya pertengkaran dalam rumah tangga itu hal biasa, nanti juga rukun kembali."
"Bi tolong telepon istriku, katakan papa sangat merindukannya. Suruh pulang untuk menengok papa. Katakan juga aku tidak dirumah dan sering tidur di kantor supaya dia tidak takut pulang."
"Baik tuan."
Bibi Sumi membuka ponselnya dan menelepon Rae. Ia berharap nonanya mau kembali. Setelah berkali-kali baru ponsel di angkat.
"Malam bibi, apakah bibi meneleponku karena suruhan suamiku?, jika ya, tolong buka speaker hapenya supaya suamiku mendengarnya juga."
"Ya..ya..nona..."
Duhh...Dewa gregetan melihat bi Sumi yang gugup dan tidak bisa berdalih. Tapi tidak apa-apa sudah terlanjur, malah bi Sumi bilang speaker sudah di buka.
"Nona pulanglah ke Puri, saya kangen dan sepi kalau tidak ada nona. Tuan juga kangen..hehe..tidak....gimana...."
Dewa memberi kode suruh berhenti, bibi tidak mengerti terus saja nyerocos. Dewa jadi malu ketahuan menguping.
"Untuk sementara aku tidak pulang, karena kerjaan di kantor banyak, ini hari pertama aku bekerja. Disini aku bekerja sampai malam, sekalian melupakan orang yang tidak penting dalam hidupku. Siapa tahu dengan cara menjauhinya aku bisa hidup normal."
"Nona, tidak boleh bicara begitu. Disini ada pak Agung yang selalu menanyakan nona, jika nona tidak mau bertemu suami, setidaknya tengoklah bapak. Nona harus tetap berbakti kepada orang tua, kepada ibu nona dan kepada bapak."
Hiks..
Terdengar suara sedu sedan, Dewa ikut menangis mendengar istrinya menangis. Bibi ikut sedih juga.
"Bibi, hati ku sangat sakit...ahh...tapi aku tidak mau lagi dengan orang suka selingkuh, aku benci ingat itu, jijik....huhu.. biarlah dia cari wanita lain yang berkasta dan lebih segalanya..huhu..huhu."
"Sayank, maafkan aku, aku janji tidak bakal begitu lagi. Pulanglah sayank, aku tidak bisa hidup tanpamu."
Dewa cepat menyambar omongan istrinya, ia tidak tahan mendengar suara istrinya menangis. Ia ikut sedih.
"TIDAAkK!!"
"Tutt..tutt.. tutt..."
Hubungan di putus sepihak. Bibi bengong, Dewa melanjutkan tangisnya sambil memaki-maki Bened, ntah apa hubungan Bened dengan kesedihannya.
"Bibi kapan dia datang menengok papa?"
"Nona sangat baik, dia pasti datang. Tunggu sampai dia tenang."
"Dia tidak mungkin tenang, sama seperti ku. Kami saling mencintai dan menyayangi aku tahu dia pasti merindukan aku juga."
"Semoga nona cepat balik kesini, kapan-kapan tuan menengoknya ke tempat kerja. Mengalah demi menang."
"Aku sekarang mau kesana."
"Tuan tidak secepat itu, lusa atau kapan, jangan cepat-cepat kesana."
"Ohh...tersiksa kalau begini terus."
"Makanya hargai istri, sayangi, jangan suka dipukul. Lagi satu tuan, jangan suka selingkuh....."
"Ya bi aku janji."
"Tuan, jangan janji dengan saya, berjanji dengan diri sendiri."
"Baik bi."
"Tulilut...tulilut...tulilut...."
Ponsel Dewa berdering, ia menghapus air matanya, setelah tenang baru dia membuka hapenya.
"Hallo siapa ini?" ada nomer baru masuk, ia berharap itu istrinya.
"Dewa kenapa kamu blokir aku, biarpun sudah punya bini, aku tetap nengharap cintamu. Aku tahu kita tidak bisa bersatu dalam sebuah perkawinan, tapi tetap seranjang."
"Merry maaf, kita tidak ada hubungan lagi, bukan kamu saja, semua cewekku sudah aku tendang. Tidak ada borongan baju lagi, stop sampai disini. Jika kau bertemu aku, jangan kau memelukku, aku sudah punya istri dan aku sangat mencintainya."
"Tidak bisa begitu, aku tetap selingkuhan mu selamanya. Jika kau menolak, aku akan bongkar semua perselingkuhan kita kepada istrimu, tunggu saja. Kecuali kamu memberikan aku mobil."
"Aku tidak peduli!!" Jawab Dewa kesal.
Dewa langsung membongkar hapenya dan mematahkan kartunya. Hapenya ia lempar ke laci dan mengambil hape yang lain. Ia sudah tidak peduli dengan Cewek-cewek itu, bikin pusing saja.
Dulu hapenya ada tiga, hape bisnis, hape keluarga dan hape bebas alias hape percewekan. Sekarang ia sudah lempar hape percewekan, dan berjanji akan fokus memperjuangkan istrinya. Tekadnya sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat.
Seminggu telah berlalu, Dewa tidak peduli dengan penampilannya lagi. Dia tetap bekerja seperti biasa, habis bekerja dia minum Wine sampai tertidur. Kadang dia pulang, kadang tidak. Komunikasi dengan istrinya tidak pernah, karena nomernya sudah diblokir. Malas memakai nomer baru, ujung-ujungnya akan di blokir lagi.
Jalan satu-satunya ia akan mendekati istrinya secara persuasif, siapa tahu istrinya bisa luluh. Malam ini ia bertekad mengunjungi Cafe Gaul, belakangan ia mendengar khabar istrinya sering tidur di Cafe karena malas pulang. Sebenarnya ia tidak senang mendengar istrinya tidur di Cafe, seperti wanita murahan, walaupun yang punya Cafe istrinya.
Pukul 19.25 wita, Lamborghini itu melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan ia berdoa supaya istrinya mau rujuk dan menerimanya dengan baik.
Tidak berapa lama mobil masuk keparkiran Cafe. Seperti biasa pak Made menyambutnya dengan senyum ramah.
"Selamat malam tuan, apakah tuan mau menemui nyonya?"
"Apa dia masih kerja?"
"Saya telepon dulu pengawalnya, biasanya dia kerja sampai malam."
"Nyonya tidak bisa dikasi tahu supaya di rumah saja. Makanya saya menyewa konsultan untuk mengajarinya, apakah konsultan itu sering kesini?" bohong Dewa.
"Nyonya orangnya smart, dari pertamakali kerja, konsultan selalu mendampinginya. Saya salut dengannya. Sering tidur di sini."
"Waktu ini saya keluar kota, makanya nyonya tidur disini. Siapa nama konsultan itu?" pancing Dewa, ia akan marah kalau nama Bened terucap.
"Ibu Padmawati." jawab pak Made tenang, tentu ia tidak mau mengatakan konsultan lagi satu, bisa terjadi perang nanti.
"Bagus, aku kesana dulu."
"Tuan katanya nyonya belum datang, mungkin dia ke Restoran untuk makan. Bisa saja dia langsung pulang."
"Aduhh...sudah kamu telepon nyonya?"
"Tuan, tidak ada yang boleh menyimpan nomer telepon nyonya. Sekarang nyonya punya pengawal, hanya pengawal itu yang boleh kita telepon."
"Lupa aku, memang harusnya begitu." kata Dewa kecewa.
Apa yang harus ditunggu, iapun ngeloyor pergi. Istrinya agak rada-rada, melebihi presiden.
Harusnya aku begitu, jadi bisa memilih orang diajak bicara, tidak sembarangan cewek-cewek menelponku. bathin Dewa.
Mobil masuk ke garasi, Dewa berjalan dengan rasa kecewa. Kembali sendiri dan sepi menjelajahi hati. Setiap ke Cafe, pak Made selalu mengatakan istrinya pergi, rasanya aneh. Apakah pak Made sudah di komando istrinya supaya menjawab hal yang sama.
Dewa kembali ke mobil dan memencet remote, pintu Lamborghini itu terangkat ke atas. Dewa membenamkan tubuhnya di jok dan tancap gas. Ia memilih jalan toll Bali Mandara yang sudah termasyur ke indahnya. Go kil habis!!.
Dewa tidak kalah akal, ia tentu tahu jalan lewat belakang Cafe. Dengan harap-harap cemas ia memarkir mobil di antara mobil karyawan lain kemudian naik lift khusus ke ruangan owner. Sampai di atas sayup- sayup ia mendengar lagu I Wish yang biasa dibawakan oleh Libianca.
Dada Dewa berdebar, ia ingat kepada penyanyi Cafe yang dulu menghilang tiba-tiba. Dewa melangkah dan masuk ke ruangan owner, pintu tidak di kunci. Ia bersyukur sekali.
Hatinya lega setelah sampai di dalam. Ruangannya sangat bersih dan rapi, padahal ia berpikir akan menemukan kertas berserakan di mana-mana.
Dewa melangkah kebelakang menuju kamar istirahat, harum parfum baccarat rouge 540 menyentuh hidungnya, serasa istrinya berada disini. Ahh...Dewa menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Walau terasa capek, tapi ia berharap bisa bertemu dengan istrinya.
Semoga angin sorga menghampirinya, ini awal yang bagus. Ia Duduk di pinggir bed yang berukuran seratus enam puluh kali seratus delapan puluh, bed ini terasa kecil.
Dewa membuka sepatu, dan menaruh di samping almari, dulu ia biasa istirahat disini, sekarang istrinya tidur disini. Masih tersisa bau rambutnya di bantal, wangi.
Untuk menghilangkan rasa jenuh, Dewa mengeluarkan hapenya dari jaket. Ia berdiri dan mulai mengambil gambar di ruangan itu. Saat membuka almari Dewa kaget melihat jaket yang bertulisan Supercar est Belle tergantung di dalam almari, bersatu dengan beberapa stel baju istrinya.
Rahangnya mengeras dengan gigi gemeletuk menahan marah. Ia menutup pintu almari dengan kasar. Tangannya mengepal sempurna, ia ingin menghajar kedua pendosa itu. Nafas Dewa memburu tidak beraturan.
Istrinya sudah berani berselingkuh dengan Bened. Tidak ada ampun lagi, manusia itu harus lenyap. Rupanya kesabarannya di salah gunakan oleh kedua pengkhianat itu harusnya dari dulu ia hancurkan Bened sebelum istrinya terperangkap bujuk rayu laki-laki brengsek itu.
Dewa kembali memakai sepatunya dan keluar dari kamar. Ia mencari istrinya dan harus ketemu. Tapi di setiap ruangan tidak ada istrinya. ia tambah curiga. Dewa lalu turun ke lantai dasar dan melihat ke parkir, tapi tidak ada istrinya.
Dewa kembali naik dan mengintip ke dalam Cafe, satu persatu pengunjung Cafe ia perhatikan. Tidak satupun ia melihat istrinya atau Benedictine ada di setiap table.
Tiba-tiba ia melihat stage dan melihat penyanyi Cafe sedang membawakan lagu Alonica. Astaga rupanya istrinya yang bernyanyi. Hatinya tersentak dan baru sadar.
"Ya Tuhan, apakah ini benar, istrinya ternyata penyanyi Cafe yang menghilang. Dewa bersandar di tembok, hatinya mencelos melihat kenyataan ini. Bayangan buruk menerpa perasaannya. Ia berharap ini hanya mimpi, tapi ini nyata!!.
*****