Ayura Azura sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama pada Elvano, cowok populer di kampusnya. Saat mabuk, tanpa sadar Yura menyatakan perasaannya pada Elvano secara langsung. Dan saat cintanya bersambut, masa lalu kedua orang tua mereka menjadi penghalang terbesar bagi hubungan mereka. Akankah mereka bisa terus mempertahankan cinta mereka?
Ikuti yuk kisah Yura dan Vano dan jangan lupa masukkan sebagai favorit kalian.
Terus dukung Author ya. Jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan bintang 5 nya.
Terimakasih 🙏🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar Riyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : BSC
Saat ini Yura tengah berada dikamar mandi dan berdiri didepan cermin. Ia menatap wajahnya didalam cermin sambil menangis.
"Elvano... untuk apa kamu kembali? Sekarang aku sudah tidak punya kekuatan untuk mengejarmu seperti dulu lagi" batin Yura menangis
Gadis itu mencoba menata hatinya, ia tidak bisa menyangkal jika perasaan cinta itu masih ada untuk Vano. Wajah yang sama, 8 tahun lalu saat ia pertama kali melihatnya dikampus dan diam-diam selama 2 tahun ia menulis surat cinta untuk pria itu.
Sekarang mereka kembali dipertemukan setelah 6 tahun berpisah. Apakah ini sebuah kebetulan atau takdir?
Setelah menangis cukup lama didalam kamar mandi, Yura menghapus air matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Saat hatinya sudah sedikit lebih tenang, ia berjalan keluar dari dalam kamar mandi untuk kembali bekerja. Gadis itu memasuki ruangan kerjanya dan melihat Naya yang sedang berdiri disamping meja Vano, gadis itu nampak sedang asyik mengobrol dengan Vano. Dalam hatinya, Yura merasa tidak senang melihatnya, namun ia mencoba bersikap biasa saja dan berjalan melewati mereka menuju meja kerjanya. Sementara Vano diam-diam melirik ke arah Yura yang berjalan melewatinya.
Melihat Naya terus asyik mengobrol dengan Vano membuat Yura mulai tidak fokus dengan pekerjaannya. Beberapa kali ia melirik ke arah mereka dan lama-lama ia pun merasa tidak tahan dan bergegas bangun. Ia melangkahkan kakinya berjalan mendekat ke arah mereka.
Vano dan Naya pun menoleh ke arah kedatangan Yura.
"Kamu datang untuk bekerja atau untuk mengobrol?" sindir Yura pada Vano. Yura pun menoleh pada Naya dan meminta gadis itu untuk kembali ketempat duduknya.
Dengan kesal Naya kembali duduk dikursi kerjanya. Sementara Yura kembali menatap ke arah Vano.
"Apa tidak ada perusahaan lain yang mau mempekerjakanmu hingga kamu harus bekerja di perusahaan kecil seperti ini?" tanya Yura
"Kenapa memang? Apa ada masalah denganmu?" tanya Vano
"Memang tidak ada. Tapi aku beri tau sesuatu, kalau perusahaan ini tidak begitu terkenal dan gajinya juga sangat kecil. Lihat saja manager tua itu, dia sangat aneh. Aku tidak mengerti kenapa orang seperti dia bisa dipercaya untuk memimpin perusahaan ini. Pemilik perusahaan ini saja tidak jelas siapa orangnya. Bahkan dia tidak pernah memberikan bonus pada karyawan, sangat pelit sekali" ujar Yura mencoba menjelek-jelekkan Azura group dan berharap agar Vano mundur dari sana.
Vano yang mendengar cerita gadis itu hanya manggut-manggut sambil tersenyum simpul.
"Lalu kenapa kamu bekerja disini?" tanya Vano membuat Yura nampak gelagapan.
"I.. itu bukan urusanmu. Sebaiknya kamu bekerjalah dengan baik" gadis itu pun melenggang pergi kembali ke tempat duduknya.
Melihat tingkah Yura yang salah tingkah membuat Vano tersenyum. Ia meraih ponselnya diatas meja dan mengirim pesan pada seseorang.
Saat jam istirahat seisi kantor ramai karena seluruh karyawan mendapatkan transferan uang direkening mereka masing-masing termasuk Yura. Manager Fang datang dan memberitahukan bahwa itu adalah bonus tambahan untuk para karyawan.
"Wah, padahal baru minggu kemarin kita mendapatkan bonus, tapi sekarang kita diberi bonus lagi. Benar-benar baik ya pemilik perusahaan Azura group" puji salah satu karyawan.
Mendengar ucapan manager Fang, Yura mengecek ponselnya dan benar saja ia juga mendapat pemberitahuan dari m-banking bahwa ada saldo masuk ke rekeningnya. Gadis itu pun nampak berfikir dan mengingat ucapannya tadi pada Vano. Diarahkannya pandangannya pada meja kerja Vano dimana pria itu tengah sibuk dengan pekerjaannya. Namun ia tidak menaruh curiga sedikitpun.
Sepulang kerja, Revan menjemput Yura ke tempat kerjanya. Sesampainya disana ia melihat gadis itu keluar dari pintu utama bersama karyawan yang lain dan berjalan menghampirinya.
"Bagaimana harimu hari ini?" tanya Revan.
"Cukup menyenangkan" jawab Yura dengan senyum diwajahnya.
Seseorang datang dari arah belakang Yura, mata Revan langsung menangkap sosok itu yang adalah Vano. Mereka saling berpandangan dan menatap tajam. Melihat tatapan Revan, Yura pun menoleh ke arah belakang dan melihat Vano sudah berdiri tak jauh dibelakangnya.
Tak ingin berurusan dengan Revan, Vano melangkahkan kakinya berjalan melewati mereka tanpa menoleh. Walaupun sebenarnya dalam hatinya ia merasa sangat cemburu melihat kedekatan Yura dengan pria itu. Tapi ini semua bukan salah gadis itu, ia yang dulu pergi meninggalkan gadis itu hingga memberikan kesempatan pada pria lain untuk mendekati gadis itu.
Sama dengan Vano, hati Yura pun merasa sedih saat Vano tidak berkomentar apapun saat melihatnya sedang bersama Revan.
Revan menggenggam tangan Yura dan mengajaknya masuk kedalam mobil. Mobil itu berjalan melewati Vano yang sedang berjalan kaki dan mata pria itu hanya bisa memandang ke arah kepergian mobil yang dinaiki oleh Yura dan Revan.
Beberapa menit kemudian mobil Revan terhenti didepan kontrakan Yura. Pria itu kembali memegang tangan Yura sebelum gadis itu sempat turun dari dalam mobilnya.
"Yura, kita sudah kenal cukup lama. Aku mencintaimu Yura, menikahlah denganku" ucap Revan pada gadis itu yang terlihat kaget dengan pengakuannya barusan.
"Kak, tapi aku...."
"Yura, selama ini aku yang selalu ada untuk kamu. Siapa lagi yang kamu harapkan?" ujar Revan mencoba mengingatkan pengorbanannya selama 6 tahun ini yang selalu setia menemani gadis itu.
"Aku tidak akan membiarkan Elvano masuk kembali dalam hidupmu Yura. Sekarang kamu hanya milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku" batin Revan
"Tolong beri aku waktu untuk berfikir kak" ucap Yura dengan wajah tertunduk.
"Tentu, aku harap jawabanmu nanti tidak akan mengecewakanku. Ingatlah bahwa aku yang selalu ada untukmu selama 6 tahun ini" ucap Revan membelai lembut wajah Yura.
Dengan perasaan bimbang, Yura turun dari dalam mobil Revan. Ia melambaikan tangannya pada Revan sebelum mobil yang dinaiki Revan pergi.
Dari arah jauh sebuah mobil tengah memantau mereka. Didalam mobil itu duduklah Vano dan Helena.
"Helena, cari tau apa yang terjadi selama 6 tahun ini. Kenapa pria itu bisa bekerja di perusahaan papaku dan kenapa dia bisa sedekat itu dengan Yura" perintah Vano, entah mengapa ia merasa ada yang mengganjal dihatinya.
"Lu tenang aja Van, gue tau apa yang harus gue lakuin" jawab Helena saat melihat kekhawatiran diwajah pria itu.
Keesokan harinya manager Fang menyuruh seluruh karyawan untuk berkumpul dan memberikan sambutan pada pemilik perusahaan Azura group. Helena pun datang kesana dan memperkenalkan diri sebagai direktur utama di Azura group.
Siangnya setelah jam istirahat Yura kembali duduk dimeja kerjanya, sesekali ia menoleh ke arah Vano yang nampak serius dengan pekerjaannya. Ia pun bangun dari tempat duduknya dan dengan ragu-ragu berjalan mendekat ke arah meja Vano.
"Apa tidak ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Yura dengan nada dingin.
"Bertanya tentang apa?" tanya Vano balik tanpa melihat ke arah Yura
"Maksudku bertanya tentang pekerjaan" jawab Yura dan Vano pun mengangkat wajahnya untuk melihat wajah gadis itu.
"Tidak, tidak ada..." jawab Vano dengan tatapan dan nada lembut.
Yura menganggukkan kepalanya mengerti dan membalikkan badannya hendak melangkah pergi namun Vano keburu bangun dan memegangi pergelangan tangannya.
"Aku ingin bicara denganmu" ucap Vano. Namun gadis itu tidak mau menatapnya.
"Aku menolak berbicara selain masalah pekerjaan" jawab Yura lalu melepaskan tangannya dari pegangan tangan Vano dan melangkahkan kakinya pergi kembali ke meja kerjanya.
Sementara Vano terus menatap kearah Yura, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan itu. Yura yang melihatnya pun menatap ke arah kepergian pria itu dengan tatapan sedih.
"Kak, sebenarnya aku sangat merindukanmu. Tapi sebaiknya kita tidak berhubungan lagi. Hanya dengan melihatmu saja aku sudah cukup senang. Lagipula sekarang aku memiliki kak Revan yang selalu ada untukku" batin Yura
💖💖💖