"Apakah aku akan tetap seperti ini? Jika saja dulu aku tidak mengajaknya masuk kedalam rumah ini, mungkin ini tidak akan terjadi. Menyesal pun aku sudah tidak bisa" (Nara 25th)
"Maafkan aku mencintaimu dan juga dia. Jangan memintaku untuk memilih. Karena kalian adalah pilihanku" (Kendra 26th)
"Aku tau aku salah. Maafkan aku. Tapi, cinta ini telah tumbuh. Aku ingin pergi jauh dari kehidupan kalian. Apakah aku bisa?" ( Yuna 25th)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhifa Syafana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasangan Yang Tepat
"Ayah ih..jadi primadona sekolah. Kean aja sampai kalah loh. Ya kan Bun?" Julian cemberut sejak pulang dari acara sekolah Keanu.
"Iya benar sekali sayang. Udah kayak selebriti ternama saja ya nak. Jadi rebutan banyak orang," Nara dan Kean tertawa mengingat apa yang terjadi sekolah tadi.
Julian berjalan menuju dapur dan mengambil air minum. Dia sedikit kesal karena terus diolok oleh kedua kesayangannya itu. Nara sebenarnya juga merasakan hal yang sama saat tadi melihatnya menjadi pusat perhatian para wanita di sekolah Keanu. Bahkan beberapa wali murid dan guru sengaja mengacuhkan keberadaan dirinya di samping Julian.
"Sayang, kamu ke kamar ganti baju dan bersih-bersih dulu. Terus tidur siang ya nak," Nara berjongkok dan berbicara kepada Keanu.
"Baik bunda," bocah itu segera masuk kedalam kamar tidurnya. Saat ini memang mereka sedang berada di rumah Julian.
Nara berjalan menghampiri Julian yang masih duduk di meja makan dan asyik bermain ponsel. Dia duduk di samping pria tampan itu dan mulai membujuknya.
"Ayah lapar tidak?" Julian masih diam menunduk fokus pada layar ponselnya.
"Hmmm. Jadi masih marah ini? Bunda juga bisa marah," pria itu masih saja diam. Nara berdiri dari kursinya hendak meninggalkan Julian.
"Harusnya bunda yang lebih marah. Apalagi sejak tadi disekolah, ayah hanya fokus melayani para wanita di sana. Bahkan tidak perduli dengan keberadaan ku," setelah mengatakan itu Nara berjalan meninggalkan Julian. Dengan sigap pria itu segera memeluk tubuhnya dari belakang.
"Ayah kesal bukan karena kalian mengolok-olok, tapi aku pikir bunda tidak merasa cemburu ataupun marah melihat sikap para wanita tadi yang begitu genit," dia mengecup pundak Nara. Wanita itu hanya memutar matanya saat mendengar ucapan Julian.
"Sama saja ayah masih menganggap aku tidak mencintaimu dong, jika berfikir seperti itu. Ya sudahlah jika memang ayah beranggapan seperti itu. Aku tidak apa-apa." Nara mencoba melepaskan pelukan Julian, namun itu sangatlah erat.
"Tidak-tidak, bukan seperti itu sayang. Aduh kok malah jadi salah paham sih," Julian membalikkan tubuh Nara dan membuat mereka saling berhadapan.
"Ayah tidak meragukan perasaan kamu sayang, bahkan aku yakin kamu benar-benar tulus ke aku dan Kean. Melihat kamu yang tadi begitu santai saat aku menjadi pusat perhatian, itu membuatku kesal sayang," Nara sebenarnya ingin tertawa. Namun dia tahan. Dia ingin mengerjai Julian untuk melampiaskan rasa kesalnya.
"Anggapan anda sangatlah tidak masuk akal Pak Julian yang terhormat. Wanita mana yang tidak kesal saat prianya dikerumuni wanita lain, bahkan dia tampak nyaman saja saat mereka meminta foto bersama." Julian diam mendengarkan Omelan Nara.
"Maafkan aku Bun. Kamu juga lihat kak aku berusaha menolak. Bahkan aku selalu menggenggam tangan kamu agar kita tidak terpisah dan mereka juga menyadari keberadaan kamu di sampingku. Kamu juga lihat kan sayang, bahkan aku tidak sedikitpun tersenyum saat mereka meminta foto bersama," memang benar adanya, Julian bahkan berwajah dingin saat mereka meminta foto bersama.
"Tetap saja aku kesal. Kamu juga melihat bagaimana mereka terus mendorong ku agar tidak berada di samping kamu," kini Nara yang meluapkan kekesalannya. Julian tampak diam mendengarkan ocehan wanita tercinta itu.
"Jika bukan karena Keanu mengajakku pergi dari samping kamu, apa kamu menyadari jika aku hampir saja jatuh?" Julian mulai khawatir mendengar itu. Dia memang tidak tau jika Nara akan terjatuh.
"Sayang maaf. Aku sangat ceroboh. Kamu boleh menghukum ku sayang." Dia segera memeluk tubuh wanita itu karena sangat merasa bersalah atas kelalaiannya.
"Sudahlah, aku ingin istirahat bersama Kean." Dia melepaskan pelukan Julian dengan paksa dan berjalan menuju kamar putranya. Julian segera menggendong Nara dan membawanya masuk kedalam kamar miliknya.
"Tidak, siang ini bunda tidur menemani ku," Nara terus berontak meminta diturunkan. Namun Julian tidak menurutinya dan terus membawanya masuk kedalam kamar pribadinya.
"Apa-apaan sih mas, tidak baik kita tidur di satu ruangan yang sama," Nara masih berusaha untuk menolak permintaan Julian.
"Biarkan saja, aku tidak mau kamu mendiami aku nanti. Kita hanya tidur bersama bukannya membuat adik untuk Keanu." Jelasnya kepada Nara. Dia meletakkan Nara perlahan diatas ranjang dan kembali berjalan mengunci pintu kamar.
"Kok di kunci mas? Aku gak mau ah," Nara turun dari atas ranjang hendak mendekati Julian.
"Diam ditempat Bun. Atau aku akan benar-benar melakukan hal itu saat ini juga." Ancaman Julian dan ekspresi wajahnya membuat Nara kembali ke atas ranjang. Julian masuk kedalam toilet untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Nara busa saja kabur, tapi dia tahu pria kesayangannya itu saat ini masih kesal.
Sambil menunggu Julian menyelesaikan aktifitasnya, Nara bermain ponsel. Dia melihat beberapa foto Keanu yang dia ambil saat acara di sekolah tadi. Ada beberapa pesan masuk dari teman-temannya saat bekerja dulu menanyakan kabar dan lainnya. Julian berdiri menatap Nara, dia kembali curiga kepada wanitanya saat ini karena tersenyum saat melihat layar ponsel.
"Bun, ganti pakaian kamu. Aku sudah menyiapkan beberapa pakaian untuk kamu disini," atensi Nara teralih kepada pria yang saat ini sangatlah menggoda imannya. Julian hanya menggunakan celana diatas lutut berwarna coklat tua dan kaos putih polos yang benar-benar ketat hingga menampakkan bisep dan dadanya yang begitu kekar.
"Bun, kok melamun. Ganti dulu pakaian kamu sayang." Julian sengaja menunduk dan menatap wajah Nara secara dekat.
"Oh, ah iya. Sebentar aku akan bersih-bersih dulu," dengan gugup Nara segera masuk kedalam toilet di kamar Julian. Pria itu terkekeh pelan melihat sikap Nara yang gugup. Dia naik keatas ranjang menunggunya. Pria itu penasaran dengan ponsel Nara. Dia sudah tau kode untuk membuka benda canggih itu.
Julian tersenyum saat mendapati foto dirinya dan Keanu yang sedang di uslii oleh Nara. Itulah tadi yang menyebabkan wanitanya tersenyum sendiri. Dia juga memeriksa beberapa pesan yang masuk. Membaca beberapa pesan itu. Tidak ada satupun pesan yang mencurigakan. Dia meletakkan ponsel Nara dan beralih pada laptop dan ponsel miliknya sendiri. Sekretaris pribadinya sudah mengirimkan beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan di rumah. Julian sengaja mengambil cuti hari ini demi Keanu.
Nara sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Julian memang menyediakan pakaian baru untuknya di rumah ini semenjak mereka sudah bertunangan. Sedikit demi sedikit semua kebutuhan Nara sudah dia dia siapkan. Nara naik keatas ranjang dan duduk di samping Julian.
"Lembur yah?" Julian menoleh kearah Nara yang kini duduk bersandar di ranjang.
"Tidak Bun, hanya memeriksa beberapa pekerjaan saja," dia tersenyum menoleh kearah Nara. Wanita itu tampak begitu bersinar saat mengenakan warna cerah. Julian sengaja menyiapkan warna cerah untuknya karena dia tahu jika Nara tidak percaya diri menggunakan warna seperti itu.
"Sayangku cantik sekali," pujinya membuat Nara malu.
"Apa sih yah. Biasa saja. Tapi kenapa semua pakaiannya warna cerah? Tidak ada yang gelap," Nara sedikit cemberut karena tidak menemukan warna gelap.
"Sengaja, aku ingin kamu memulai semua dengan yang baru. Termasuk dengan penampilan. Kamu cantik menggunakan warna-warna seperti ini sayang jadi jangan merasa malu. Aku ingin kamu mulai terbiasa dengan kehidupan kamu yang sekarang. Keluarlah dari cangkang mu yang sudah tak layak. Ayo kita mulai dengan hal baru. Warna baru, dan pastinya kebahagiaan didalamnya," ucapan Julian membuat Nara benar-benar bahagia. Dia seperti merasakan menjadi sosok baru.
"Terima kasih mas sudah menerimaku dengan tulus dan membuatku percaya diri berani mencoba sesuatu yang bahkan tidak ingin aku coba dulu," Julian menarik tubuh Nara kedalam dekapannya.
"Mas juga berterima kasih kamu sudah menyayangi Kean dengan sepenuh hati. Bahkan sejak dulu sebelum kita saling mengenal. Ayo kita mulai semua dengan hal baru dan kenangan baru." Mereka cukup lama berpelukan. Bahkan saat ini mereka sudah terlelap dan masih saling memeluk.
LN ada loe, gue..Hadeuhhh bnyak ngawur ini othor
ada keselnya ada meweknya ada bapernya.
upnya jgn lama2 ya soale penasaran sm kelanjutan ceritanya...🙏💪👍🫶