NovelToon NovelToon
Bodyguard Cool Rasa Pacar

Bodyguard Cool Rasa Pacar

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Teen School/College / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:74.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Akikaze

Cantik paripurna dan terlahir dari keluarga kaya raya. Siapa yang tidak kenal Biru, sang gadis impian banyak kaum adam. Tabiatnya yang agak "berandal" membuat keluarganya pusing menghadapinya. Biru sudah menentukan kekasih hatinya dan siapapun tak bisa menentangnya. Karena perangainya yang kurang tertata, Biru banyak menghadapi banyak masalah di hidupnya. Hingga akhirnya keluarga memutuskan untuk menyewa seorang bodyguard untuk Biru. Awalnya Biru menolak karena dia merasa tidak akan sebebas dulu. Hanya saja akhirnya dia sedikit melunak dan mengajukan syarat, yaitu bodyguardnya tidak boleh tampan karena suatu alasan. Lantas bagaimana pertemuan Biru dengan bodyguard pilihan keluarga? lalu bagaimana kebebasannya setelah mendapatkan bodyguard?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Akikaze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagaimana Dengan Kisah Kita?

Muncul buket besar saat pintu terbuka. Biru, Luna dan Ros melihat ke arah pintu. Dan…muncullah wajah Mario di sana.

“Beb…,”Biru tersenyum senang melihat kedatangan Mario dengan buket bunga besar di tangan.

Luna menyenggol lengan Ros dan mengajaknya keluar.

“Kita balik dulu ya Bi, lo sehat-sehat,” ujar Ros berpamitan, Biru mengangguk dengan senyum di wajahnya.

“Makasih ya,” Biru melambaikan tangan.

“Lo, tega…,” bisik Luna pada Mario, tapi Mario tidak peduli dengan apa yang terucap dari bibir Luna.

Luna dan Ros keluar dari kamar perawatan Biru. Nampak di depan tidak ada Dipa, mungkin saja Dipa belum kembali setelah mengantar Bundanya Biru.

“Lo baik-baik aja kan beb,?” tanya Biru, dia sangat khawatir dengan keadaan Mario. Mario tersenyum melihat Biru. Kontras, Mario seolah tidak mengkhawatirkan Biru.

“Sorry nggak sempat ngabari,” Mario meletakkan bunga tersebut di samping Biru.

“Nggak apa-apa, yang penting kamu baik-baik saja, dan kamu sudah ada di sini,”

            Semalem, Mario sengaja meninggalkan Biru yang juga kalut, Mario juga takut jika yang terjadi semalam dapat merenggut nyawanya. Yang ada di pikirannya hanya kabur dan menyelamatkan diri tanpa peduli dengan keadaan sekitar, termasuk Biru.

“Lo baik-baik aja kan beb,?” tanya Mario akhirnya.

Biru mengangguk senang. “Lihat, gue baik-baik saja,” Biru mengangkat kedua tangannya, bahkan yang masih pakai selang infus tadi.

Mario menarik kursi dan mendekatkan ke bed yang ditempati Biru, melihat Biru dengan tatapan senang.

“Mau aku kupasin buah,?” tanya Mario.

“Makasih beb, tadi udah sama Ros dan Luna, kenyang,” Biru mengusap perutnya. “Ditambah melihat kamu di sini menambah rasa kenyang juga,” Biru meringis senang.

“Dih,” Mario mengibaskan tangannya.

                        Dipa menuju kafe rumah sakit tersebut untuk menyarap, karena di ruangan masih ada Ros dan Luna  yang menemani Biru, jadi dia punya kesempatan untuk sarapan terlebih dahulu.

Dipa memesan nasi goreng dan teh hangat untuk pengganjal perutnya, tak berapa lama pesanannya datang.

“Dipa,?” ujar sebuah suara, Dipa yang hendak menyendokkan nasi ke mulutnya pun menghentikan aktivitasnya. Dipa menoleh ke arah samping.

“Ayu,?” Dipa melihat Ayu ada di sampingnya.

“Hah beneran kamu, tadi aku sempet ragu sih apa bener yang aku lihat, ternyata beneran,” Ayu masih berdiri mematung di dekat Dipa.

Dipa berdiri dan menarik kursi kosong yang ada di depannya, diperuntukkan untuk Ayu.

“Duduk Yu,”

“Terima kasih,”

“Oh ya, aku pesenin sarapan ya?” tawar Dipa.

“Ok terima kasih,”

Dipa menuju ke arah meja pesanan dan memesankan menu yang sama untuk Ayu, setelahnya dia kembali ke mejanya, karena pesanan akan diantar ke sana nanti jika sudah siap.

“Oh ya, kamu ngapain di sini,?” tanya Ayu.

“Oh, itu…ada majikan sakit,” jawabnya sambil senyum, menyebut Biru sebagai majikan, toh memang benar adanya.

“Oh, sakit? Sakit apa,?” tanya Ayu.

“Ada sedikit kecelakaan kemarin, sudah baikan,” jawab Dipa.

“Oh syukurlah,” balas Ayu.

Makanan dan minuman yang dipesan oleh Dipa diantarkan ke mejanya.

“Silahkan kak,” ujar pelayan tersebut.

“Terima kasih,” sahut Ayu. Ayu menarik piringnya, mendekatkannya padanya. Sepeninggal pelayan yang mengantarkan makanannya, Ayu kembali bertanya perihal yang mengganjal di hatinya.

“Kamu kapan hari pulang ke rumah,?” tanya Ayu sambil mengulum senyum, Dipa melihat ke arah Ayu, ada rasa bersalah. Karena dia pulang tanpa meminta bertemu dengan Ayu. Sudah sangat jarang dia meluangkan waktu untuk Ayu.

“Maaf untuk itu,” jawab Dipa, hanya itu yang bisa dia ucapkan.

“Nggak apa-apa, bukan salahmu,” Ayu masih mengulum senyum, meskipun sebenarnya dia kecewa. Akhir-akhir ini Dipa amat sangat sibuk sehingga waktu bertemu pun sangat jarang.

“Aku kirim pesan juga buat kamu sejak kemarin,” timpal Ayu, Dipa melihat ke arah Ayu.

“Oh,” Dipa mencoba mencari ponsel yang dia simpan di saku celananya, tangannya mengambil ponsel tersebut. Dipa memandangi layar ponselnya, ada banyak pesan masuk yang belum sempat di abaca sebelumnya. Menggeser layar, dan ditemukan pesan dari Ayu. Ada di bagian bawah. Menambah rasa bersalahnya pada gadis itu.

“Nggak apa-apa, nggak usah merasa bersalah, yang penting kamu baik-baik saja,” ujar Ayu sambil mengembangkan senyum.

“Lain kali akan aku jadwalkan untuk kita bertemu,”

“Akan aku tunggu,” jawab Ayu singkat, terasa mustahil mengharapkan waktu Dipa, karena memang Dipa sesibuk ini sekarang.

“Maaf ya Yu,” Dipa kembali merasa bersalah.

“Nggak usah difikirkan begitu, santai saja,” Ayu menyendokkan nasi goreng dan mengarahkan ke mulutnya, terasa lumayan di lidahnya. Mengisi perutnya yang keroncongan karena semalam dia mendadak harus membawa Papanya ke rumah sakit karena anfal oleh sakitnya. Menungguinya sendiri dan menahan lapar. Pagi-pagi melihat Papanya sudah tidur nyenyak, dia keluar kamar dan mencari sarapan di kafe rumah sakit.

Tak sengaja dia melihat sosok yang mirip dengan Dipa, setelah semakin dekat dan jelas, benar adanya jika itu adalah Dipa yang dia maksud. Benar-benar kebetulan bisa bertemu di sini.

“Oh ya, kenapa kamu di sini,?” tanya Dipa, pertanyaan yang tadi menggelayut di pikirannya, baru tercetus sekarang.

 “Oh…Papa,” jawab Ayu, piringnya sudah kosong, tangannya meraih gelas teh hangat yang ada di hadapannya, dan meminumnya. Dipa menunggu jawaban Ayu.

“Papa anfal lagi,” jawab Ayu. Papanya memang mempunyai sakit jantung dan sering kumat. Akhir-akhir ini semakin sering anfal. “Entahlah, banyak gawean, banyak pikiran tuh Papa,”

“Oh…Pak Wahono,” Dipa menyebut nama Papa Ayu.

“Yap, jadi mau nggak mau aku yang nungguin,” Ayu mengangguk. Karena Mamanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, Ayu lah sang putri tunggal yang mengurus Papanya dan juga mengurus pekerjaan ayahnya.

“Di kamar berapa,?” tanya Dipa.

                        Mario tak punya banyak waktu, karena dia ada urusan, hanya sekitar 30 menit dia berada di kamar Biru. Mario sebenarnya malas untuk datang, hanya saja dia harus datang dan biar tidak terkesan tidak peduli pada Biru. Akhirnya dia menyempatkan datang sejenak.

“Gue balik dulu beb, nanti sore balik, ada urusan soalnya,” pamit Mario. Nampak Biru mencebikkan bibirnya karena sebenarnya enggan ditinggal. “Nanti balik lagi,” Mario mendekat ke arah Biru dan mengecup puncak rambut Biru.

“Iya, hati-hati ya beb,” Biru melambaikan tangan.

“Iya, kamu buruan sehat,”

“Iya,” Biru mengangkat jempolnya, “Makasih sudah kesini bawa bunga,” Biru mengambil buket tersebut dan mendekapnya.

“Iya beb,” sahut Mario sembari berlalu meninggalkan kamar perawatan Biru. Biru menoleh ke kanan kiri, benar-benar sepi.

“Kemana dia,?” Biru menggumam, dia sedang mencari Dipa yang tidak kelihatan sejak tadi. Biru turun dari ranjangnya, badannya semakin terasa baik-baik saja, pusing di kepalanya pun sudah hilang.

“Bosen banget kan di kamar, mana nggak ada teman ngobrol pula,” Biru memakai sandalnya dan keluar dari kamar perawatan. Di lantai yang sama, ada kafe yang cukup estetik. Biru memutuskan untuk duduk santai di sana.

Namun pandangannya mengarah pada sosok yang sudah sangat dia kenal.

1
Vhee🍃
ada ga sih laki2 modelan kek Dipa gini ? mau satu ya Allah 😭😭😭
Me Akikaze: 😄 hihi mungkin ada kak
total 1 replies
Nur Hidayanto
Luar biasa
Sulaiman Efendy
TERNYATA DIPA KRJA DIPRUSAHAAN SAGA..
Sulaiman Efendy
TRLALU TROBSESI SI AYU..YG MENGKELNYA SI DIPA GK ADA TEGAS2NYA
Sulaiman Efendy
SI DIPA YG GK TEGAS, LO MLH HNCURKN PRASAAN BIRU, LO LBH KEJAM DRI MARIO
Sulaiman Efendy
SKRG DIPA SDH TAU SIAPA INDA..
Sulaiman Efendy
GAK TEGAS BANGET..
Sulaiman Efendy
JGN LO BRJANJI JIKA TK BSA MNEPATI, URUSAN LO SAMA WAHONO BLM KELAR .
Sulaiman Efendy
BERHARAP ADA ADEGAN BAKU HANTAM, MLH GAK ADA.. LEMPEM BANGET CERITANYA
Sulaiman Efendy
LO PECAT SAJA TU RAKA, KLO LO TAU RAKA SDH LECEHKN BIRU, PSTI LO BUNUH TU RAKA
Sulaiman Efendy
KLO SPRTI INI BARU UTINYA JAHAT .
Sulaiman Efendy
PENASARAN NIH DGN JAWABAN DIPA
Sulaiman Efendy
HRSNYA LO REKAM TU OMONGN RAKA, LO LAPORKN KE PAPA LO
Sulaiman Efendy
SEMOGA DIPA MNOLAK, HIDUP KOQ MAU DIATUR ORG LAIN..
Sulaiman Efendy
CARI MATI SI RAKA BRANI NGATAIN ANAK BOS WANITA SIMPANAN
Sulaiman Efendy
MASIH INGAT LO, KMARIN2 KMN LO GK CARI ANAK2 LOO..
Sulaiman Efendy
KLO LO MASH MAU TERIMA MARIO, LO WANITA TERBAHLUL..
Sulaiman Efendy
PASTI SI MARIO TUH
Sulaiman Efendy
PASTI ADA SI SANDRA/INDA TUH BESOK
Sulaiman Efendy
UTI GK JAHAT, SBAGAI IBU DIA SEDIH LIAT ANAK LKI2NYA YG DIRONGRONG ISTRINYA UNTUK KERJA JDI TKW.. KRN SANDRA SI ARHAN JDI MMFORSIR KERJANYA..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!