NovelToon NovelToon
The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Poligami
Popularitas:280.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sebutir Debu

Setiap insan yang menikah tentu ingin Bahagia. Tetapi tidak dengan Sekar. Gadis itu saat baru menikah dengan Guntur, ia sudah harus menjatuhkan air mata. Karena dijodohkan oleh guru. Tak ada niat untuk menikahi alumni pondok pesantren yang diasuh Gus Furqon tetapi mau tidak mau, Guntur menikahi gadis bernama Sekar. Pernikahan itu diawali tanpa rasa Cinta pada Sekar. Namun Sekar memberikan cinta yang begitu tulus. Hati Guntur pun mencair, ia mencintai Sekar.

Sekar mampu menjadi perempuan yang dicintai suaminya. Saat air mata baru saja mengering karena sang suami sudah mencintai dirinya, cobaan kembali datang. Mertua Sekar merasa risau karena Guntur tak kunjung memiliki anak.

“Bapak mau kamu menceraikan Sekar. Atau jika tidak, Sekar harus mengizinkan kamu menikah lagi dengan Arumi! Titik! Tidak ada tapi-tapi!” Bentak Pak Suryo pada anak Sulungnya.

Cerita ini hanya khayalan Author, jika ada kesamaan tokoh, kejadian itu hanya kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Ingat Dosa masa lalu

Suasana jalan cukup sepi, pagi hari adalah waktu dimana para warga pergi ke ladang. Aku dan mas Guntur menuju pesantren. Sebuah pesantren yang bersebelahan dengan masjid. Pesantren salafiyah yang diasuh oleh Gus Damar dan Bu Nyai Ayu atau biasa kami panggil Umi Ayu.

Kami sudah tiba di depan pelataran yang masih di tumbuhi rumput. Bahkan tanah merah akan melekat di sandal kami karena hujan malam tadi, pesantren yang hanya memiliki satu bangunan dengan 6 ruangan. Bangunan yang di bangun secara gotong royong oleh warga, dananya pun juga sumbangan dari warga juga uang milik Gus Damar dan Umi Ayu. Kami mengucapkan salam, sayup-sayup terdengar anak perempuan membaca Al Quran. Tampaknya sedang waktu setoran.

Umi Ayu keluar dari dalam dan menyambut kami. Saat aku duduk bersama mas Guntur, Kyai Damar pun keluar dari arah dalam. Aku duduk agak di sudut ruangan sedangkan Mas Guntur duduk di ujung dekat dengan Gus Damar.

"Pirpun kabare kang? " Tanya Gus Furqon.

"Alhamdulillah sae, Yai...." Jawab Mas Guntur.

Dari segi usia mungkin kami bisa terpaut 25 tahun. Wajar saja, jika dari cerita Umi Laila bahwa Umi Ayu adalah santri pertamanya.

"Mi, puniki wonten titipan saking Umi Laila. Wingi kulo dugi dhateng kediaman piyambakipun, lan puniki mligi dipuntitipaken piyambakipun kangge Umi." Ucap ku seraya menyerahkan satu plastik berwarna putih.

{Umi, ini ada titipan dari Umi Laila. Kemarin saya berkunjung ke kediaman beliau, dan ini khusus dititipkan beliau untuk Umi.}

Umi Siti menerima plastik tersebut. Ia sedikit membuka plastik itu. Umi Siti tampaknya penasaran kenapa aku bisa sowan ke kali Bening.

"Dekat rumah nya dengan Kali Bening?" Tanya Umi Ayu.

"Kulo alumni Kali Bening, Mi." Ucap ku pelan.

Kedua netra Umi Ayu tampak berbinar. Beliau bahkan beringsut merapat ke ke arah ku. Ia usap lengan ku, entah kenapa aku seolah melihat sosok Umi Laila pada Umi Ayu.

"Kita sami-sami alumni kali bening nanging mboten ngertos... padahal sampun lami depang, kulo mboten nyana bilih mbak Sekar alumni Kali Bening. kulo PANGGALIH mbak Sekar setunggal pondok sami kang Guntur. " Ucap Umi Ayu penuh haru.

{Masyaallah... kita sama-sama alumni Kali bening tapi ndak tahu... padahal sudah lama kenal, saya tidak menyangka jika Mbak Sekar alumni Kali Bening. Saya pikir Mbak Sekar satu pondok sama Kang Guntur. }

"Nggih Umi, kulo ugi nembe ngertos menawi panjenengan alumninipun Kali Bening malah santri pertami Umi Laila." Jawab ku sopan.

{Saya juga baru tahu kalau anda alumninya Kali Bening bahkan santri pertama Umi Laila}

Umi Ayu sampai menepuk-nepuk punggung tangan ku.

"Gadhah artos guru ingkang asring njenengan sebataken meniko Umi Laila... " Tanya Umi Ayu.

{Berarti guru yang sering njenengan sebutkan itu Umi Laila?}

"Mboten Mi, Umi Siti. Kula dados abdi ndalemipun umi siti." Jawab ku. Entah kenapa duduk dengan jarak dekat seperti ini sast aku tahu beliau santri kesayangan Umi Laila membuat aku justru dag dig dug. Ada perasaan ndredek.

{Bukan Mi, Istrinya Gus Furqon. Saya jadi abdi ndalem nya Umi Siti beberapa tahun.}

"Alhamdulillah kita bisa berkumpul di sini. Saya itu sudah merasa nyaman, pernah waktu itu ingin tanya Mbak Sekar. Tapi kok ndilala lupa terus." Ucap Umi Ayu.

Aku akui memang setiap kegiatan dan setiap acara di pondok dan masjid, aku sering membantu di bagian pawon atau dapur daripada menyambut tamu. Sama seperti Umi Ayu, beliau pun begitu. Kecuali jika ada ulama yang menjadi pengisi acara membawa istrinya maka Umi Ayu pasti akan ikut menemani tamu nya.

Kami pun berbicara seputar masalah pengajian-pengajian yang akan diadakan dalam beberapa bulan kedepan. Mas Guntur pun menanggapi apa yang menjadi keluh kesah Umi Ayu tentang kemungkinan untuk acara akhirusannah perdana di ponpes Umi Ayu, beliau akan memasak nasi kebuli.

"Berapa ya kang kalau minta orang buat dapur umum di belakang. Mepet sama rumah ndak papa." Ucap Umi Ayu.

"Wah, menawi meniko nggih mboten betah sewa tiyang mi. Mangke supados kulo lan jamaah rotib ingkang badhe rencangi. Keleresan kala-wingi meniko wonten setunggal kebon ingkang dirombak. Nah sami kita persiapan kajeng besmi." Mas Guntur tampaknya kini tak berani menggunakan bahasa Jawa biasa. Karena kami santri di Jawa terbiasa menggunakan bahasa Jawa Halus kalau orang Sumatera bilang.

{Wah, kalau itu ya ndak usah sewa orang Mi. Nanti biar saya dan jamaah Rotib yang akan bantu. Kebetulan kemarin itu ada satu kebun yang dirombak. Nah sekalian kita persiapan kayu bakar.}

"Wah ndak usah Kang, khawatir ngerepotin jama'ah.... " Ucap Gus Damar.

"Mboten Yi, Njenengan sudah sibuk mengajar. Lah kami ini bisa nya ya begini Yai, kalau di suruh mengajar... kami ndak mampu." Ucap Mas Guntur.

Gus Damar tertawa mendengar ucapan Mas Guntur.

"Ah, anda ini selalu merendah Kang. Gus Ali itu loh terkenal dengan kecerdasan nya." Ucap Gus Damar.

Seketika senyum ku getir kala ku ingat bagaiamana beliau meminta mas Guntur untuk poligami dan bahkan menceraikan aku saat aku terdapat kekurangan. Ah, aku jadi ingat pembahasan kitab Ayuhal Walad dimana di sana di jelaskan syaratnya guru yang layak dijadikan guru. Karena orang yang mencari jalan yang benar maka harus memiliki guru, tidak boleh berguru dengan tidak jelas. Adapun beberapa syaratnya yaitu harus ngalim, tapi tidak semua orang alim layak dijadikan sosok guru. Dimana guru adalah sosok yang bisa menjadi naiban li Rosululilah. Dimana untuk menjadi seorang guru bisa dilihat dari apakah beliau senang dunia atau kedudukan.

Entah kenapa aku melihat Gus Damar dan Umi Ayu memiliki kriteria orang yang berpaling dari dunia. Sepasang suami istri ini tak sibuk mengejar kedudukan. Karena beberapa kali aku sering mendapatkan Umi Ayu justru tidak sibuk memperebutkan bantuan untuk Ponpes mereka. Sanadnya juga jelas, karena Umi Ayu dan Gus Damar belajar dari guru-guru yang aku tahu bahwa sampai ke jalur Rasulullah atau sanadnya. Belum lagi bab shodaqoh, beliau sepasang suami istri yang loman pada orang yang tak mampu.

Maka sejak kedatangan ku dan mas Guntur ke pondok pesantren Gus Damar, aku dan mas Guntur pun menyematkan nama beliau berdua setiap selesai shalat. Setelah nama Umi Siti dan Gus Furqon, maka ada nama Umi Ayu dan Gus Furqon.

"ثُمَّ إِلَى جَمِيعِ مَشَايِخِنَا وَمَشَايِخِ مَشَايِخِنَا الْاَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ"

...Khusushon Kiai di pondok dan sekolah kami Kyai Rohim, Kyai Furqon, Kyai Ali, Kyai Damar, Umi Siti, Umi Nina, Umi Ayu, wa ushuulihim wa furuu'ihim wa ahli baytihim wa dzurriyaatihim لَهُمُالْفَاتِحَةُ....

Karena akan menyambung hati ini ketika kita menghadiahkan bacaan Al Fatihah untuk guru kita. Itu yang dulu pernah Gus Furqon ajarkan kepada kami.

Karena aku dan Mas Guntur sadar, hati ini butuh bimbingan dari mereka yang dicintai Allah yaitu Ulama. Maka saat ini, ulama yang berada dekat dekat kami dan jelas sanad keilmuan nya adalah Gus Damar dan Umi Ayu. Entah kenapa aku pun merasa ada sesuatu yang tersirat kala aku dititipin Umi Laila untuk menjaga Umi Ayu. Karena di akhir obrolan kami kemarin, satu rahasia yang tak pernah aku ketahui selama ini, baru ku ketahui dari Umi Ayu sebagai abdi ndalem nya. Tentu hal itu membuat aku paham kenapa kadang orang-orang tak berani menatap kedua netra Umi Laila saat sedang bersih-bersih di area di belakang pondok tempat membuang sampah. Saat itu gosip yang beredar jika Umi Laila tak merestui pernikahan Gus Furqon dengan Umi Siti. Hari ini aku beristighfar karena dulu aku pun akan ikut di barisan santri yang ikut bergosip ria tentang kabar itu.

'Innalillahi... ini jawaban dari gosip yang saat itu menyebar. Ampuni saya Mi.... saya dulu ikut kepo tentang berita hoaks yang beredar... . 'Ucap ku dalam hati. Malamnya aku pun memohon ampunan lewat sepertiga malam ku, karena dulu sempat berpikiran buruk tentang Umi Laila. Maklum aku abdi ndalem Umi Siti maka barang tentu aku jadi tak suka pada Umi Laila ketika kabar itu beredar. Walau kadang ketika bersama Umi Siti, Umi Laila tampak sangat menyayangi beliau. Tetapi saat-saat tertentu, tatapan mata Umi Laila sangat tajam ke arah menantunya. Saat itu aku pernah berucap.

"Semoga aku tak dapat ibu mertua seperti Umi Laila...".

Aku menangis terseru-sedu. Entah kenapa aku seolah mengumpulkan kepingan masalalu dan Ku sambungkan dengan hari ini.

" Dik.... " Panggil mas Guntur seraya memegang pundak ku. Tanpa aku sadari aku sudah berada di sajadah hampir 3 jam lamanya. Aku menoleh ke arah Mas Guntur.

"Ada apa?" Tanya nya.

Aku tak mampu menceritakan apa yang aku pikirkan dan aku rasakan. Aku membenamkan wajah ku di pelukannya. Hanya usapan lembut di punggung ku yang membuat tangis ku justru makin menjadi.

"Masih ngadu soal Ibu?" Tanya mas Guntur lagi.

"Mboten.... " Jawab ku pelan.

"Terus.... ?" Tanya nya lagi.

"Cuma merasa ingat dosa..." Ucap ku lirih.

"Ya wes, rampung toh...?" Tanya nya lagi.

Aku menganggukkan kepala.

"Kalau sudah sekarang tidur, sudah malam. Besok kita ke kediaman Arum." Ucapnya seraya ibu jarinya menghapus air mata di ujung mata ku.

1
-Hn-
kak. apa kabar. sehat kan? sdh 1 tahun lebih tdk ada up. kami merindukan kisah kisah dr kak sebutir debu
NaNa
Luar biasa
Rita Yulianingtyas
udah hampir 1 th kok ga ada lanjutannya thor?
Komariah Komariah
assalamualaikum kak kapan lagi up nya
lama bingit/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Heart//Heart//Heart//Heart/
solihin 78
Masya Allah sebuah kesetiaan seorang suami terhadap istri nya
solihin 78
umi ayu bukan umi Siti
Arda Pratama
ini ada lanjutannya apa tidak sih thor lama amat upnya
Tantina Wyvaldia
Ma syaa Allah, ternyata bunda ada hubungan dengan Lirboyo, Assalamu'alaikum bunda
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Komariah Komariah
assalamualaikum

kakak ko lama banget up nya
sy tunggu udah berapa bulan ga up LG
apakah kakak sedang sibuk
hingga belum bisa up

semoga kakak sehat selalu ya

sy tunggu ya kak
terima kasih

wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Zachary
Luar biasa
Harsilia Devi
kak kok gak up" lagi😭😭😭
Komariah Komariah
assalamualaikum

kapan up lg kakak
sy kangen bacanya
kalo baca ini jadi inget diri sendiri
yg persis kaya mba Sekar
Maz Andy'ne Yulixah
MasyaAllah,selalu istiqomah dan sabar ya Mas Guntur,jadi Kades emang gak mudah😇

Lanjut njeh kak,oh iya Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin kak😊🙏
Yus Warkop
kapan up , kapan up srmoga author sehat drlalu dan kmbali update
Komariah Komariah
bagus banget
cerita kehidupan sehari-hari
memberikan contoh sabar dan penuh pengertian, keikhlasan,dan banyak lg ilmu pikih nya,
pokoknya siiiip deh kayanya
Komariah Komariah
assalamualaikum
kak lama sekali update nya yg baru
sampai jenuh menunggu
karyamu selalu di nanti di hati
War Dani
uda beda alam kaliiiii .......!
rahmilah rahmi
sekian lama aku menunggu,,kehadiran karyamu,,update lah,,update mu ku tunggu/Doubt/
Waty Umi hafidzah
Baguus 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!