Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Yakin.
Saat sedang berada di Kantor Polisi untuk melaporkan Putra dan si Kepala Desa, tiba - tiba ponsel Ryu berdering. Ryu pun kemudian keluar dan meminta rekannya untuk melanjutkan pelaporan.
"Yes, Sir!" Ujar Ryu ketika menerima panggilan telfon dari Elno.
Dahinya berkerut saat mendengarkan instruksi dari Elno. Ryu kemudian melihat jam yang melingkar di tangannya. Tentu saja ada sebuah misi yang harus ia kerjakan.
"Kenapa mendadak? Sir kan tau aku ada dimana." Kata Ryu.
"Iya. Sir tau, kamu lagi mengunjungi calon mertuamu." Jawab Elno dari sebrang telfon.
"Ch! Sial!" Kata Ryuga yang membuat Elno tertawa. Meski begitu, ada senyuman tipis yang terlukis di senyumnya. Namun, Ryu segera mengatur ekspresi wajahnya saat menyadari jika ia tiba - tiba tersenyum.
"Masih ada cukup waktu kalau kamu berangkat sekarang." Kata Elno kemudian.
"Baik, Sir!" Jawab Ryuga sebelum mengakhiri panggilan.
Ryu pun bergegas menuju ke mobilnya. Ia segera menghidupkan mobil dan langsung tancap gas menuju ke lokasi yang sudah di kirimkan oleh Elno.
Ryu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Butuh waktu lebih dari satu jam jika ia mengendarai mobilnya dengan santai menuju ke lokasi. Sedangkan ia harus tiba di sana dalam waktu lima puluh menit.
Ryu kemudian memarkirkan mobilnya di sebelah mobil milik markas yang sudah terparkir di sana. Tentu saja, tempat mereka parkir berada di tempat yang aman dan pasti luput dari pantauan musuh.
"Dimana yang lain?" Tanya Ryu saat berganti pakaian di dalam mobil Markas.
"Sudah masuk, Mas." Jawab supir yang memang stand by di dalam mobil.
Setelah berganti pakaian dan mengambil senapannya, Ryu menonaktifkan ponselnya. Ia lantas menyusul rekan - rekannya yang sudah berada di titik pantau.
"Loh! Kok lo di sini, Yu?" Tanya Adit.
"Sir El nelfon gue, suruh nyusul ke sini." Jawab Ryu.
"Lo dari mana sih, Kak? Beberapa hari ini gak pernah ke Markas. Dapet stand by di luar terus." Tanya Wili.
"Ada hal yang lagi gue urus." Jawab Ryu tanpa memberi tau jika ia sedang berada dalam misi lain.
"Ini bangunan kantor apaan sih?" Tanya Ryu sambil memindai ke sekelilingnya. Bangunan kantor itu seperti sudah lama tak di tempati karena kotor dan sedikit pengap.
"Gue juga gak tau, Yu." Jawab Adit.
"Yang jelas, target kita ada di Hotel itu." Imbuh Adit kemudian.
"Enak si Davi sama Bryan noh, di dalem Apartemen sebelah sana." Kata Wili sambil menunjuk Apartemen yang ada di belakang Hotel.
"Sama aja." Kata Ryu.
"Beda lah, Kak!" Sergah Wili.
"Sama, Wil. Sama - sama berdiri kaku, gak ada yang tiduran di sana atau di sini." Kata Adit yang menjelaskan maksud Ryu.
Ryu nampak memantau keberadaan target. Sesekali ia juga melirik ke arah jam yang tergantung di dinding.
"Kenapa, Yu? Ada acara?" Tanya Adit.
"Enggak." Jawab Ryu yang kemudian kembali fokus memantau targetnya.
"Target udah terlihat. Arah jam sembilan." Terdengar suara Bryan di earpiece mereka.
"Sial! Gak kelihatan." Kata Ryu yang langgsung berlari ke ruang lain agar bisa melihat keberadaan target.
Tak hanya Ryu, Adit dan Wili pun melakukan hal yang sama. Mereka bertiga segera berpindah agar bisa membidik target.
"Gak bisa, Kak!" Kata Wili yang tak bisa menjangkau targetnya.
"Naik! Kita naik ke genting." Kata Ryu.
Mereka bertiga pun akhirnya menjebol atap yang memang sudah rapuh agar bisa naik ke atas genting dengan cepat.
Setelah berada di atas genting, barulah mereka bisa membidik target mereka dengan jelas.
"Gentingnya bocor, Kak?" Tanya Bryan yang sempat - sempatnya meledek.
"Ngapain pada nangkring di atas genting?" Kekeh Davi yang ikut meledek.
"Gak usah berisik." Sahut Ryu.
"Yes, Kapt!" Jawab Bryan dan Davi bersamaan.
"Hahaha, mampos!" Kata Wili. Namun, ia langsung terdiam saat melihat lirikan tajam dari Ryu.
Mereka berlima pun langsung membidik target yang berjumlah enam orang itu. Para target itu adalah komplotan penjual organ manusia yang sangat meresahkan.
Maka dari itu, mereka di minta untuk membersihkan target mereka di tempat. Tentu saja itu adalah kesepakatan dari seluruh negara.
"Target lock!" Ryu memberi aba - aba.
"Ready, shoot!" Titah Ryu yang membuat semua rekannya menarik pelatuk senapan bersama - sama. Hanya Ryu yang menarik pelatuk senapan itu dua kali, karena memang targetnya ada dua. orang.
"Mission accomplished." Ujar Ryu yang mengakhiri misi mereka malam itu.
Ryu segera turun dari atap. Dengan setengah berlari, ia menuruni anak tangga dan segera menuju ke tempat dimana mobilnya terparkir.
"Buru - buru banget, mau kemana, Kak?" Tanya Wili.
"Ada urusan." Jawab Ryu yang dengan cepat mengganti pakaiannya.
"Tolong urus senapan gue, ya." Pinta Ryu.
"Aman, tenang aja." Sahut Wili tanpa keberatan.
"Hati - hati di jalan, Yu!" Seru Adit yang di jawab acungan jempol oleh Ryuga.
...****************...
"Kok sampe jam segini, Ryu belum ke sini, Dys?" Tanya Bapak yang menghampiri Gladys.
Sudah setengah jam Gladys duduk di teras dengan perasaan gelisah. Ia sudah beberapa kali mencoba menghubungi ponsel Ryu, namun tidak aktif.
"Mungkin sebentar lagi, Pak. Ryu bilang tadi masih di jalan." Kata Gladys yang tenti saja berbohong karena tak ingin membuat Bapaknya khawatir.
"Sudah sebentar lagi ya, Dys? Kalau gitu, biar ibu hangatin sayur dan lauknya." Kata Ibu Gladys yang kemudian beranjak ke dapur.
"Biar nanti Gladys aja, Bu. Ibu istirahat aja." Cegah Gladys, namun tak di hiraukan oleh Ibunya.
"Kamu beneran mau menikah sama Nak Ryu?" Tanya Bapak saat Gladys kembali duduk di sebelahnya.
"Iya, Pak." Jawab Gladys.
"Menurut Bapak, gimana?" Tanya Gladys kemudian.
"Bapak setuju saja. Kelihatannya dia anak yang baik dan sopan. Walaupun agak pendiam dan terlihat dingin." Kekeh Bapak yang membuat Gladys tersenyum.
"Pak..."
"Kenapa?" Tanya Bapak saat Gladys memanggilnya.
"Kalau suatu saat nanti, Gladys harus berpisah dengan suami Gladys, gimana?" Tanya Gladys yang membuat dahi Bapaknya berkerut.
"Maksud Gladys, kan kita gak tau gimana masa depan. Apa lagi, di Kota itu tingkat stresnya meningkat dan bisa berpengaruh dengan hubungan suami - istri." Kilah Gladys yang membuat Bapak mengangguk mengerti.
"Kalau masih bisa di pertahankan, ya pertahankan. Tapi, kalau memang sudah gak sanggup, ya jangan di paksakan. Bapak akan mendukung setiap keputusan terbaik yang kamu ambil." Jawab Bapak sambil mengusap sayang kepala anak gadis satu - satunya.
Gladys pun tersenyum. Ia merasa sedikit lega saat ini. Setidaknya, ia punya Bapak yang akan terus menguatkannya.
"Kenapa kok tiba - tiba memutuskan menikah sama Nak Ryu?" Tanya Bapak.
"Aku memang udah lama dekat sama dia, Pak. Dia laki - laki baik, bertanggung jawab dan bisa mengerti tanpa aku bercerita." Jawab Gladys.
"Cuma memang dia itu jahil." Imbuh Gladys sambil terkekeh.
"Lalu, kenapa bertanya tentang perpisahan?" Tanya Bapak.
"Ya seperti yang aku bilang, Pak. Hanya untuk berjaga - jaga." Jawab Gladys sambil tersenyum.
"Kalau memang belum yakin, tunda dulu saja." Ujar Bapak Gladys.
Tepat saat itu, lampu mobil Ryu menyorot ke halaman rumah mereka, diikuti dengan mobil yang perlahan memasuki halaman.
Gladys pun tersenyum. Ia merasa lega karena Ryu sudah kembali.
"Enggak, Pak. Aku sudah yakin dengan keputusanku ini, kok." Jawab Gladys. Ia kemudian tersenyum ke arah Ryu yang baru turun dari mobilnya.
abang cemburu berat ini 🤣
help 🤣🤣🤣🤣
lanjut kak author