Rider adalah seorang penyihir yang berhasil mengalahkan raja iblis seorang diri, setelah 1000 tahun kisah tentangnya dilupakan dan akhirnya ia hidup sebagai gelandangan di jalanan, meski demikian ia menyukai kehidupan tersebut sampai seorang gadis berumur 9 tahun mendatanginya dan menawarkan sebuah pertukaran yaitu untuk mengajarinya sihir dan sebagai balasan gadis tersebut akan memberikan tempat tinggal serta makanan.
Ini adalah kisah penyihir pengangguran bersama seorang gadis malang yang hidup sebata kara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 : Melewati Tembok Perbatasan Wilayah
"Kalau begitu tolong jaga putriku, aku akan mengurus soal akademinya."
"Dimengerti."
Izin sudah diberikan, berpamitan dengan Vira telah dilakukan, sekarang kami akhirnya kembali berpetualang.
Dari kejauhan kami bisa melihat sebuah tembok yang berdiri kokoh menjulang tinggi ratusan meter ke atas.
Cosetta menunjukkan wajah bersemangat.
"Jika ada seseorang bilang bahwa tembok itu dibuat oleh Titan aku akan mempercayainya."
Tembok ini dibuat dengan sihir karena itulah hal yang dipikirkan oleh Cosetta tidak pernah terjadi.
Di depan gerbang tembok satu-satunya tersebut terdapat sebuah kota kecil. Beberapa orang bertugas di sana untuk mencegah orang-orang tanpa izin memasukinya. Akan buruk jika para kriminal bisa pulang pergi dengan bebas.
Aku menyerahkan izin tersebut pada mereka dan tanpa kesulitan mereka mempersilahkan kami untuk melewatinya.
Hal pertama yang kami lihat adalah sebuah hamparan padang rumput, danau dan beberapa gunung di belakangnya, ketika kami sudah melewati gunung tersebut akan ada kota yang menanti kami dan dari sana kami akan pergi ke kota berikutnya.
Ini perjalanan jauh hanya untuk mengambil sebuah pedang.
Kami beristirahat di pinggir sungai selagi menikmati makanan yang dibuat Elina.
"Ngomong-ngomong aku belum menanyakan kenapa kau ingin mengambil pedangmu kembali, aku yakin aku telah membunuh raja iblis."
"Meski raja iblis sudah tiada, bawahannya masih ada.. iblis akan selalu muncul sebanyak manusia ada."
Hal yang dikatakannya mungkin benar.
"Itu hanya pikiranku untuk jangka panjang, hal yang ingin aku lakukan adalah membunuh orang bernama Pride."
Aku bertemu dengannya waktu itu di kota labirin.
"Dosa mematikan."
Fel mengangguk mengiyakan.
"Enam dosa lainnya telah aku bunuh namun tidak disangka bahwa dia masih hidup, saat itu aku memojokkannya ke tebing jurang, setelah aku menebasnya dia jatuh ke bawah. Seharusnya aku memeriksanya lebih teliti saat itu."
Ada sedikit penyesalan di matanya.
Sesuai yang diharapkan dari pahlawan sesungguhnya, bahkan setelah aku menikmati kehidupan pengganguran dia masih melakukan tugasnya.
Jika diingat tidak ada hal yang mendorongku untuk menyelamatkan dunia sebagai pahlawan, dewi itu sama sekali bilang bahwa aku akan mati dalam waktu dekat, dan aku juga tidak memiliki Harem di dunia ini.
Kehidupan yang cukup tenang untukku sampai gadis ini muncul.
"Silahkan tuan Ardhi."
"Makanan Elina selalu enak."
"Curang, ketika aku masak makananku tidak pernah dipuji sampai segitunya."
"Yah, masakanmu biasa soalnya."
"Kurasa aku harus lebih banyak belajar."
Aku akan senang jika dia melakukannya.
"Kita akan bermalam di sini, mari latihan sebentar."
Claudia maupun Cosetta mengangguk mengiyakan.
Aku meminta Cosetta untuk membuat udara sekelilingnya sangat dingin, sementara dia mencoba aku mengambil tempat berbeda untuk melatih Claudia.
"Aku akan lebih dulu mengajarimu soal bertarung, setelah ahli... baru aku akan mengajarimu soal sihir."
"Apa aku berlatih untuk menutupi kekurangan kak Cosetta."
"Kenapa kau bilang begitu?"
"Mungkin saja aku akan ditempatkan di depan sementara kak Cosetta berada di belakang, agar kami bisa saling mendukung satu sama lain."
"Itu mungkin apa yang akan dilakukan guru lain, tapi aku tidak demikian.. saat peperangan iblis dan manusia terjadi, orang-orang membuat party untuk mengalahkannya, itu untuk memaksimalkan kekuatan mereka antar kelompok tapi aku tidak demikian, aku bertarung seorang diri dan sekarang aku juga ingin membuat kalian melakukan hal sama."
"Tapi kak Cosetta?"
"Memang benar karena kakinya dia tidak bisa bergerak dengan cepat namun aku yakin ia akan bisa menutupi kekurangannya, sekarang majulah."
Aku mengambil ranting sebagai pedang sedangkan Claudia telah membuat sabit di kedua tangannya.
"Mohon bantuannya."
Latihan keras untuk mereka berdua baru saja dimulai.
Btw, si rider guling-guling ngelilingin satu kota, kah? wkwk