[TAMAT]
Ketika terbangun, Abella berada di dalam sebuah novel yang dimana tokoh utamanya, sang ratu, yang memiliki nama yang sama dengannya mati di tangan sang raja.
Dan berita buruknya, ia adalah ratunya sekarang.
By @yooazaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yooazaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Bertengkar
Berminggu minggu telah berlalu, tidak ada yang berbeda dari biasa nya dari hari ke hari. Kecuali raja yang sibuk dengan pekerjaan nya karena harus mengerjakan nya sendiri, sedangkan Ruth bersama yang lain nya masih berkeliling mencari apa yang Pearl katakan.
Keseharian Abella pun tidak berubah. Ia akan memulai hari dengan sarapan kemudian mengerjakan beberapa pekerjaan nya, lalu jika ia tidak memiliki pekerjaan setelah makan siang ia akan pergi ke perpustakaan. Dan di sore hari ia akan menikmati waktu di taman sambil meminum teh.
Tidak ada yang berbeda, tetapi ada satu hal yang membuat nya merasa janggal.
Deart, roh itu kali ini tidak pernah menampakan diri lagi. Bahkan ketika Abella berusaha berkomunikasi dan juga memanggilnya, Deart tidak akan menjawab nya. Dan yang lebih aneh, tanda di tulang selangka nya mulai memudar.
"....Ratu... Yang Mulia.."
Abella yang melamun tersentak kemudian mendapati Peter yang menatap nya khawatir.
"Ah, Peter, ada apa?" tanya Abella bingung.
"Apa anda tidak apa apa? Akhir akhir ini anda sering melamun" ujar Peter khawatir.
"Aku tidak apa apa, aku hanya sedang memikirkan beberapa hal" Abella tersenyum menanggapi kalimat Peter agar tidak menghawatirkan diri.
"Tapi-"
"Aku tidak apa apa, sungguh" potong Abella sebelum Peter sempat melanjutkan kalimat nya.
"Baiklah"
"Kalau begitu temani aku ke taman, dan katakan pada Lela aku akan meminum teh disana sekarang" perintah Abella mengalihkan pembicaraan.
"Baik, ratu" Peter dengan cepat pergi untuk memenuhi perintah Abella.
Hari kembali berganti, tetapi masih belum ada tanda tanda dimana Ruth dan yang lain nya akan kembali dan juga Deart yang seketika menghilang.
"Ratu, anda melamun lagi" Peter kembali membuyarkan lamunan Abella untuk kesekian kali nya.
"Ahh.. aku tidak tahan" erang Abella kesal memikirkan sesuatu yang buntu.
"Huh? Apa maksud anda?"
"Peter, apa raja sudah selesai dengan rapat nya?" tanya Abella karena Peter baru saja kembali dari ruangan raja untuk mengirim dokumen yang baru saja di kirim dari Pebatasan Jiles.
"Yang Mulia Raja baru saja kembali ke ruangan nya beberapa menit yang lalu"
"Bagus, kalau begitu aku akan kesana" Abella langsung bangkit dari sofa dan dengan sengaja menjatuhkan buku yang tadi di baca nya.
"Eh? Ratu, tunggu saya!"
Tok.. tok.. tok..
"Masuk" raja memperbolehkan masuk begitu Abella mengetuk pintu.
"Zaven" panggil Abella yang membuat raja yang awal nya masih fokus dengan kertas yang di kerjakan nya mengarah pada nya.
"Abella?"
"Biarkan aku bertanya satu hal" pinta Abella kemudian duduk di sofa yang berada di depan meja raja.
"Katakan"
"Apa sudah ada kabar dari Ruth dan yang lain nya?"
"Jangan bilang kau akan memohon pergi ketempat itu?" Abella mengangguk.
"Biarkan aku kesana, tidak akan ada yang menyakiti ku"
"Tidak, Abella. Sekali ku bilang tidak, ya tidak" raja berusaha mengontrol emosi nya.
"Zaven kumohon, percaya padaku" pinta Abella lagi.
"Aku tidak akan pernah mengizinkan mu kembali kesana, jadi berhenti memohon seperti itu padaku!" raja akhirnya meninggikan suara nya sambil menatap Abella marah.
Abella yang juga tersulut emosi menatap raja tajam, mereka saling menatap beberapa saat. Peter yang ikut masuk ke ruang terdiam dengan ekspresi bingung.
"Menyebalkan, aku akan tetap memaksamu untuk pergi, dan jika kau tidak mengizinkan nya aku bisa pergi sendiri!" ujar Abella pada akhirnya.
"Coba saja kalau bisa, kupastikan kau tidak akan bisa keluar dari istana"
"Aku membencimu"
Abella melangkah ke luar meninggalkan raja, ini pertaman kali nya mereka bertengkar. Ia tau ia kekanak kanakan sekarang, tapi ia tidak bisa tinggal diam. Ada beberapa hal yang harus ia pastikan.
"Ratu, tunggu!" Peter berlari mengerjar Abella yang sudah jauh dari nya.
"Jangan ikuti aku" ucap Abella dingin, ia harus menenangkan pikiran nya sekarang.
"Ratu..."
"Kubilang jangan!" bentak Abella sebelum akhir nya melangkahkan kaki nya ke arah taman.
Ia berkekeling disana sendiri, sedangkan Peter memperhatikan nya dari jauh.
Menyendiri adalah satu satu nya hal yang bisa membuat nya tenang, di tambah lagi ia harus bisa berpikir jernih dan menemukan cara agar bisa berkomunikasi dengan Deart ataupun Pearl lagi.
Hanya mereka yang tau dari mana ia berasal, dan hanya mereka yang dapat membantu nya. Ia sebenar nya tidak mau menyembunyikan masalah ini dari raja dan yang lain nya, tapi ia harus berhati hati dan tidak bisa gegabah.
Dan disaat Pearl mengode nya bahwa ia mengetahui darimana asal nya, itu masih terasa janggal. Karena Deart juga seketika muncul dan mengatakan hal yang sama, dan aneh nya sekarang Deart menghilang begitu diri nya bertemu dengan Pearl.
"Akhh... kenapa menyelesaikan masalah ini sangat sulit!" erang nya frustasi.
Bekeliling di taman tanpa menemukan solusi justru membuat nya semakin pusing. Dan lagi aneh nya akhir akhir ini Abella merasa cepat lelah, walaupun ia tahu ia jarang beristirahat ia tetap memaksakan diri.
Karena hari yang beranjak sore, di tambah keadaan taman yang sudah gelap yang tidak memungkinkan diri nya berdiam diri disana lebih lama. Akhir nya Abella memutuskan pergi ke kamar pangeran.
"Ibunda?" pangeran yang sedang membaca buku di kasur nya terdiam saat melihat Abella masuk ke kamar nya.
"Apa ibunda boleh tidur disini malam ini?" tanya Abella yang membuat mata pangeran berbinar binar.
"Benarkah?" Abella mengangguk menanggapi.
"Apa ayahanda tidak marah?" tanya pangeran lagi.
"Tidak tau, yang pasti ibunda tidak ingin bertemu dengan ayahanda saat ini" ujar Abella jujur.
"Ayahanda membuat ibunda kesal?" tebak pangeran.
"Mungkin" Abella melangkah menuju kasur pangeran dan ikut duduk disana.
"Lucius benar kan, ayahanda menyebalkan" bukan nya marah, pangeran justru setuju dengan Abella dan itu membuat nya terkekeh.
"Jadi, apa ibunda harus tidur disini bersama pangeran setiap hari?"
"Tentu saja!" balas pangeran senang.
"Ah, ngomong ngomong dimana Luke? Ibunda tidak melihat nya bersama mu hari ini" tanya Abella sambil memeluk pangeran yang mulai manja dengan nya.
"Luke pergi ke Perbatasan Jiles menggantikan Ruth, jadi dia akan kembali setelah kerusuhan disana selesai" jawab pangeran.
"Eh, kau mengetahui permasalahan yang sedang terjadi juga?"
"Itu karena Robert memaksaku agar menghafal semua nama kota, perbatasan, keluarga bahkan permasalahan yang sedang terjadi" ujar pangeran mengadu.
Abella terkekeh dan mencium puncak kepala pangeran.
"Itu juga karena pangeran nanti nya akan menjadi raja bukan? Jangan menyalahkan Robert seperti itu" nasehat Abella.
"Setidaknya seharusnya Robert memberiku waktu istirahat agar bisa bersama ibunda lebih lama" rajuk pangeran.
"Setidaknya ibunda akan tidur disini bukan?"
"Tapi ibunda harus janji untuk temani Lucius lebih lama dari biasa nya"
"Baiklah, baiklah.. sekarang ayo kita makan malam baru tidur"
"Oke"
TBC
@yooazaa
Tinggalkan like, vote dan komentar kalian, jangan lupa di share juga :)
sukaaaaa😻😻😭