NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Mikayla

Rumah Untuk Mikayla

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Ibu Tiri
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Pintu Gudang Tua

Motor sport hitam milik Gavin akhirnya melambat dan berbelok ke sebuah area yang agak tersembunyi di pinggir jalur lingkar kota. Tempat itu berupa sebuah warung kelontong kecil beratap seng. Namun, yang menarik perhatian adalah sebuah gudang semen kosong berukuran cukup besar yang berdiri kokoh tepat di samping warung tersebut.

Di halaman tanah yang luas itu, belasan motor sport dengan berbagai warna dan modifikasi terparkir rapi, berjejer layaknya pameran kendaraan liar. Di depan warung, tampak riuh oleh obrolan keras dan tawa lepas dari puluhan remaja. Sebagian besar mengenakan seragam sekolah yang dikeluarkan asal-asalan, dan tak sedikit juga siswi dengan rok yang sengaja ditegakkan di atas lutut sedang asyik mengobrol sambil memegang ponsel mereka.

Gavin mematikan mesin motornya, lalu melepas helmnya dengan gaya santai. "Nah, udah sampai, Kay," ucap Gavin, melirik Kayla dari kaca spion.

Kayla turun dari boncengan motor, lalu perlahan melepas helm hitam yang membungkus kepalanya. Ia berdiri mematung di samping motor, mencengkeram tali tas ranselnya erat-erat. Pandangan matanya menyapu sekeliling halaman warung tersebut. Tatapan dari anak-anak motor yang asing, tawa mereka yang terdengar kasar, dan atmosfer liar tempat ini seketika memicu perasaan takut yang berdesir di dada Kayla. Ia merasa salah kostum, salah tempat, dan ingin segera berbalik pulang.

Menyadari perubahan raut wajah gadis di sebelahnya, Gavin turun dari motor dan melangkah mendekat. Ia menepuk pundak Kayla pelan, berusaha menyalurkan ketenangan. "Udah, Kay, jangan takut. Mereka anak-anak buah gue, kok. Pada kelihatan sangar doang, tapi aslinya baik-baik."

Begitu Gavin berjalan mendekati area warung sambil menuntun Kayla, seluruh atensi di halaman itu seketika terarah pada mereka. Sorot mata penuh selidik dan siulan menggoda langsung terdengar sahut-menyahut.

"Widiihh! Cewek baru nih, Vin? Boleh juga selera lo kali ini!" teriak salah satu teman Gavin yang berambut jabrik, memicu tawa riuh dari anak-anak yang lain.

Gavin merangkul pundak Kayla dengan bangga, memamerkan gadis itu ke hadapan teman-temannya. "Gimana? Cantik, kan? Pacar gue!" ucap Gavin lantang dengan nada sombong yang sangat kentara.

Mendengar klaim sepihak itu, Kayla seketika membeku. Ia menoleh ke arah Gavin lalu melotot tajam, seolah mata indahnya bisa menusuk kulit cowok itu. "Sejak kapan?!" ketus Kayla penuh penekanan, suaranya sedingin es.

Gavin yang mendapat semprotan mendadak itu langsung meringis pelan. Ia menurunkan tangannya dari pundak Kayla sambil terkekeh canggung di depan teman-temannya yang mulai menyorakinya. "Eh, iya deng... maksudnya calon pacar," ralat Gavin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Kayla hanya bisa memutar bola matanya malas, mengembuskan napas kasar atas kelakuan urakan cowok di sebelahnya ini.

Gavin kemudian berjalan memimpin ke arah meja kayu di depan warung kelontong tersebut. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya. "Bang, biasa, rokok sebungkus sama cemilannya bawa keluar ya," ucap Gavin kepada penjaga warung yang sudah sangat mengenalnya.

Setelah menyelesaikan urusan di warung, Gavin kembali menoleh pada Kayla yang masih berdiri kaku di tengah halaman. "Sini, Kay, masuk ke dalem aja biar gak terlalu berisik di luar," ajak Gavin, menunjuk ke arah pintu besi gudang tua yang sedikit terbuka.

Dengan langkah kaki yang terasa amat berat dan ragu-ragu, Kayla terpaksa melangkah mengikuti punggung lebar Gavin. Dari luar, bangunan gudang tua itu tampak sangat horor dengan dinding semen yang lembap dan jendela-jendela tinggi yang berdebu. Namun, begitu kakinya melewati ambang pintu dan melangkah masuk ke dalam, pemandangan di dalamnya ternyata cukup berbeda.

Tempat itu layaknya markas rahasia anak muda pada umumnya. Dinding-dinding semen yang kusam dipenuhi oleh coretan grafiti dan doodle warna-warni yang mencolok. Di beberapa sudut, terdapat sofa-sofa bekas yang sudah robek, beberapa kursi plastik, serta tumpukan tong minyak kosong dan ban-ban motor bekas yang dialihfungsikan menjadi meja dan tempat duduk darurat.

Namun, baru beberapa langkah masuk, kepulan asap rokok yang tebal dan pekat langsung menyergap indra penciuman Kayla. Udara di dalam gudang terasa pengap, membuat dada Kayla seketika terasa sesak dan ia terbatuk pelan beberapa kali.

Saat Kayla sedang berusaha menyesuaikan diri dengan udara malam yang kotor itu, matanya menangkap sebuah pemandangan di sudut remang-remang gudang yang tak kalah membuat jantungnya mencelos seketika. Di atas sebuah sofa jepret yang agak tersembunyi, Kayla melihat sepasang kekasih—yang tampaknya juga anak sekolah—sedang asyik berciuman dengan sangat intens tanpa rasa malu sedikit pun terhadap sekitar.

Mata Kayla membelalak sempurna. Ia syok berat. Sebagai gadis yang selama ini hidup dalam lingkungan yang kaku dan dijaga ketat oleh Arka, pemandangan vulgar yang terpampang nyata di depan matanya ini benar-benar menghantam kewarasannya.

SRET.

Sebelum Kayla sempat memalingkan wajah atau memikirkan hal lain, sebuah telapak tangan yang hangat dan besar tiba-tiba mendarat tepat di depan wajahnya, menutup seluruh pandangan matanya. Aroma maskulin bercampur wangi samar dari jaket Gavin langsung memenuhi penciumannya.

Gavin dengan refleks yang cepat berdiri di depan Kayla, memosisikan tubuh tingginya untuk menghalangi pemandangan di sudut ruangan tersebut.

"Eits! Jangan lihat ke sana, Kay. Nanti jantungan, lo belum terbiasa sama pemandangan kayak gini," ucap Gavin setengah berbisik tepat di depan wajah Kayla. Tangannya masih setia menutupi kedua mata gadis itu, memastikan kesucian pandangan sang Princess tidak terganggu lebih jauh oleh liarnya dunia malam yang ia miliki.

Gavin kemudian menurunkan tangannya perlahan, menuntun Kayla menjauh dari sudut tersebut menuju sofa kosong yang dikelilingi oleh kumpulan teman-teman dekatnya yang sedang asyik mengobrol. Gavin mengambil tempat duduk, lalu mengisyaratkan Kayla untuk duduk di sebelahnya.

"Santai, Kay..." ucap Gavin lembut, menyodorkan sebuah minuman kaleng yang baru ia buka ke hadapan Kayla.

Kayla menerima minuman itu tanpa minat. Ia hanya menatap permukaannya yang berembun, tenggelam kembali dalam diam.

Gavin memperhatikan raut wajah Kayla yang masih ditekuk. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap lekat-lekat mata indah gadis di sebelahnya. "Gue lihat-lihat lo tuh sering murung di sekolah, Kay. Bahkan kadang, beberapa kali gue lihat lo nangis sendirian di pojokan," ucap Gavin, nadanya melunak drastis, menyiratkan atensi yang besar.

Kayla sedikit tersentak, tidak menyangka jika selama ini gerak-geriknya diam-diam diperhatikan oleh sang bad boy.

"Are you okay, Kay?" tanya Gavin tulus.

Kayla hanya terdiam. Bibirnya terkatung rapat. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, merasa tidak perlu dan tidak siap untuk menceritakan masalah pribadi tentang ayahnya atau kerinduannya pada sang ibu kepada Gavin. Bagi Kayla, Gavin masihlah orang asing yang baru masuk ke radarnya.

Melihat respons kaku dari Kayla, Gavin tidak marah. Cowok itu justru tersenyum maklum, mengangguk perlahan. "Kalau lo belum siap cerita, gak apa-apa. Gue di sini bakal ada buat lo, dan malam ini... gue bakal bikin lo lupa sama semua masalah lo," ucap Gavin dengan nada penuh janji, yang entah kenapa terdengar begitu menenangkan di telinga Kayla.

Sementara itu, malam semakin larut. Jam digital di dinding ruang tengah rumah Kayla sudah berkedip menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Jarum jam yang terus bergerak itu membuat Pak Hendra didera rasa khawatir yang luar biasa. Ia mondar-mandir di ruang tamu, berulang kali menghubungi nomor ponsel Kayla, namun hasilnya selalu nihil; nomor putri tunggalnya itu dialihkan.

Kehabisan cara dan diselimuti rasa panik, Pak Hendra akhirnya meraih ponselnya kembali. Kali ini ia mendial satu-satunya nomor yang paling ia percayai untuk urusan Kayla: Arka.

Di kamarnya, Arka yang sedang belajar langsung menyambar ponselnya begitu melihat nama ayah Kayla tertera di layar.

"Halo, Assalamualaikum, Om? Ada apa?" tanya Arka dengan nada sopan namun langsung diliputi firasat buruk.

"Waalaikumsalam, Arka. Kamu... kamu lagi sama Kayla gak sekarang?" suara Pak Hendra dari seberang telepon terdengar bergetar panik.

Jantung Arka mencelos. "Enggak, Om. Tadi pas pulang sekolah Kayla bilang mau beli sepatu dulu, dan dia mau sendiri. Memangnya Kayla belum pulang, Om?"

"Belum, Arka! Sampai jam sembilan lewat begini dia belum balik ke rumah. Handphone-nya juga gak bisa dihubungi sama sekali. Om takut Kayla kenapa-napa di jalan..."

Mendengar kepanikan Pak Hendra, rahang Arka seketika mengencang. Kilasan kejadian tadi siang di koridor sekolah langsung berputar di otaknya—saat Gavin mengajak Kayla pulang bersama, dan saat Kayla mati-matian berbohong demi menolak pulang dengannya.

Gavin. Sialan, dia pasti dibawa ke markas berandalan itu! batin Arka murka.

"Om Hendra tenang dulu, ya. Jangan panik," ucap Arka berusaha menenangkan orang tua itu meskipun napasnya sendiri kini memburu menahan amarah. "Arka tahu Kayla ada di mana sekarang. Arka bakal cari Kayla dan bawa dia pulang secepatnya, Om."

"Tolong ya, Ka. Makasih banyak..."

Setelah sambungan telepon terputus, Arka langsung menyambar jaket denim dan kunci motornya di atas meja. Matanya berkilat tajam oleh amarah dan kecemasan yang bercampur menjadi satu. Cowok itu bergegas keluar kamar, bersiap membelah kegelapan malam demi menyeret Mikayla pulang dari cengkeraman pengaruh buruk Gavin.

Di saat yang bersamaan, kembali ke area markas gudang tua. Di seberang jalan, di antara rimbunnya semak-semak yang gelap gulita, sesosok manusia berpakaian serba hitam, lengkap dengan masker dan topi rendah, masih setia berdiri mematung.

Sepasang matanya yang dingin menatap lurus ke arah pintu gudang yang terbuka, mengunci bayangan Kayla dan Gavin yang sedang duduk berdampingan di dalam sana. Angin malam berembus kencang, namun sosok itu tidak bergeming sedikit pun. Pengintaiannya malam ini sudah terlalu jauh, dan waktu untuk memberikan kejutan berdarah bagi Gavin kini terasa semakin dekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!