NovelToon NovelToon
Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Masuk ke dalam novel / Chicklit / Tamat
Popularitas:136.8k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Digital

BUDAYAKAN BACA SKRIPSI DULU. TYPO, MAKSUDNYA DESKRIPSI!!

WARNING☇☇
DILARANG BOOM LIKE (SPAM LIKE). KASIH JEDA WAKTU MINIMAL 1 atau 2 MENIT!!!

Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu masuk ke Dunia Novel dan tidak bisa kembali ke Dunia nyata?

Adinda yang notabene seorang sekretaris, ia adalah orang yang tidak mudah menangis dan percaya diri, tiba-tiba keluar dari dunianya dan masuk ke dunia novel yang ia baca.

Adinda terkejut saat membuka mata, ia bergumam, "Dimana aku?". Adinda semakin terkejut dengan rasa tidak percayanya melihat lingkungan sekitar dan tubuhnya bukanlah dirinya sendiri melainkan tokoh utama dari novel tersebut yang mana ia adalah korban bullying.

Bersusah payah kembali ke dunia asalnya, ia akhirnya memutuskan untuk menetap dan mengubah takdir sang tokoh utama. Apakah ia berhasil mengubah takdir tokoh utama dari novel tersebut dan bisa kembali ke dunia nyata? Ataukah ia akan gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Pembentukan Struktur kelas (1)

Tidak lama setelah itu wali kelas mereka meninggalkan kelas dan meminta kelas XII A untuk membentuk struktur kelas mereka.

"Baiklah, kita akan langsung membentuk struktur kelas hari ini juga." tutur Rafa dan disetujui oleh seisi kelas.

"Kita mulai dari Ketua Kelas," usul temannya yang lain.

"Aku mengajukan diriku untuk menjadi calon Ketua Kelas." ucap Larina dengan santai.

Teman-teman sekelasnya melirik ke arah Larina, mereka terdiam.

"Tapi, kau belum pernah ikut organisasi Osis ataupun Ekstrakurikuler disini." salah satu temannya keberatan.

"Hu'um, tidak ada riwayat dia aktif di organisasi apapun. Menurutku, dia menang lomba pun palingan juga hanya karena beruntung saja." timpal Nana sambil tersenyum sinis.

Larina hanya menghela napas.

"Kalian tidak boleh berfikir seperti itu, terutama Nana. Jangan kau membuat asumsi tentang prestasiku berdasarkan 'Kebetulan' hanya karena kau tidak bisa sepertiku."

Nana mengepalkan tangan.

"Ya tidak masalah sih kalau dia mau mengajukan diri untuk menjadi ketua kelas, toh dia telah membawa kemenangan saat lomba kemarin," ucap temannya yang lain.

Rafa maju ke depan kelas, ia mengambil spidol dan menulis sesuatu di papan tulis.

"Baik, calon ketua kelas yang pertama ada Larina. Kemudian, aku juga mencalonkan diri sebagai ketua Kelas." ucap Rafa sambil menulis nama Larina dan dirinya.

"Jangan lagi menjatuhkan mental seseorang dengan melarangnya melakukan hal yang dapat membuatnya percaya diri." lanjutnya.

"Siapa lagi yang mau mencalonkan diri sebagai ketua kelas?" tanya Rafa.

Seisi kelas terdiam.

"Baiklah, kalau begitu hanya dua orang. Aku dan Larina. Kita akan melakukan voting untuk menentukan pemenangnya."

"Oke, setuju."

"Oke."

Salah satu teman kelasnya ikut maju ke depan.

"Larina nomor urut satu, Rafa nomor urut dua. Kalian tinggal sebut nomer saja." ucapnya.

Para siswa-siswi kelas XII A setuju. Satu persatu mereka memilih. Kelas XII A yang isinya dominan perempuan, mereka lebih condong memilih Rafa dan sebagian kecil memilih Larina. Hingga hasil sudah didapatkan, Rafa lah yang menjadi ketua kelas mereka.

"Baik, dengan hasil yang telah kita dapatkan, Rafa menjadi ketua kelas kita."

Larina tidak mau menyerah. Ia harus menjabat di kelas, baik itu untuk namanya sendiri maupun agar ia bisa lebih dekat dengan Rafa.

"Ketua kelas sudah ada. Tinggal yang lainnya. Selanjutnya penentuan Wakil ketua. Ataukah pihak kedua yang kalah tadi otomatis menjadi wakil ketua?"

"Adakan pemilihan yang baru saja." tutur Nana,

"Baiklah. Bagaimana dengan yang lain?"

"Jadikan pihak kedua sebagai wakil ketua saja."

"Adakan pemilihan baru saja."

Dua pendapat yang berbeda.

"Kita serahkan saja pada ketua kelasnya."

Larina tersenyum dan berharap Rafa menyetujui suara pertama yang berpendapat pihak kedua yang kalah langsung saja dijadikan wakil ketua kelas.

"Adakan pemilihan yang baru." ucap Rafa.

Larina menghela napas mendengar keputusan Rafa, Nana tersenyum penuh kemenangan mendengar keputusan Rafa.

"Tuh kan, apa ku bilang? Memang lebih baik diadakan pemilihan baru saja, sih." tutur Nana.

"Aku mencalonkan diri sebagai Wakil Ketua," ucap Nana dengan penuh percaya diri.

"Aku juga mencalonkan diri sebagai Wakil Ketua." ucap Larina.

Nana menyipitkan matanya, ia tidak suka dengan hal itu.

"Mana bisa begitu. Kau kan tadi sudah mengajukan diri sebagai calon Ketua kelas." Nana tidak terima.

"Memangnya ada peraturan yang menyatakan bahwa aku hanya boleh mencalonkan diri di suatu posisi jabatan kelas maksimal satu kali? Tidak ada kan? Kita disini punya hak yang sama."

Nana menghentakkan kaki ke lantai, ia kesal.

"Wakil ketua itu harus cantik agar setara dengan Ketua kelasnya." bela Nana.

"Jadi menurutmu aku tidak pantas menjadi Wakil Ketua kelas karena fisikku ini? Penampilan memang penting, pengetahuan juga penting. Lebih penting lagi Attitude. Secara tidak langsung kau telah melakukan body shaming padaku," Larina tersenyum.

"Sudah-sudah, kenapa malah berdebat sih?" ucap teman kelasnya yang lain.

"Yang dikatakan Larina sangat benar sih."

"Iya juga, ya."

Nana semakin kesal mendengar perkataan teman kelasnya.

"Baiklah, kalau begitu aku tetap maju dan aku mencalonkan diriku sebagai wakil ketua kelas." ucap Larina.

Nana tidak mengatakan apapun lagi.

"Baiklah. Calon wakil ketua kelasa nomor urut satu Larina, nomor urut dua Nana. Ada lagi?"

Siswa-siswi kelas XII A lainnya tidak menjawab.

"Oke. Kita mulai votingnya."

Setelah beberapa saat hasilnya imbang, mereka berdua mendapat suara yang sama yakni 15 : 15, tersisa Rafa yang belum memilih.

"Tingga ketua kelasnya yang belum memilih, suaranya akan menentukan siapa yang menang."

Jantung Larina berdebar mendengar hal tersebut.

"Ya jelas Rafa akan memilihku, dong." ucap Nana.

Rafa terdiam.

"Ayo, ketua kelas. Siapa yang kau pilih?"

Rafa melirik ke arah Nana yang terlihat percaya diri akan memenangkan posisi ini. Larina menghela napas melihat pandangan Rafa yang tertuju pada Nana.

Nana berjalan dan berdiri disamping Larina.

"Kau hanya buang-buang waktu, Larina. Sudah ku bilang bahwa yang pantas menjadi wakil ketua itu aku," ucap Nana pelan.

"Keras kepala dan sok PD, sih." lanjutnya.

Larina hanya diam. Ia tidak melihat tanda-tanda Rafa akan memilih dirinya.

"Duh, kasihannya." ledek Nana.

"Bisakah mulutmu itu diam? Percaya diri sekali dirimu." tutur Larina dengan suara pelan.

"Eh-eh, kok marah? Haha. Pakai kepala dingin dong. Lain kali itu tidak usah sok dan keras kepala seperti ini. Simpan pendapatmu tentang Attitude itu. Rafa itu tampan, dia pasti tidak sudi punya wakil yang buluk sepertimu. Yah, kau saksikan sendiri lah kelalahanmu itu. Nana kok dilawan."

"Ayo Ketua, silahkan pilih."

"Aku tidak peduli pada penampilanmu itu, bagiku attitude jauh lebih berarti. Cantik itu relatif, kau akan terlihat biasa saja di mata orang yang tidak menganggapmu berarti sih." ucap Larina

"Lah, kau kepanasan ya??" tanya Nana pada Larina.

"Kau tidak lihat? Pandangan Rafa terus tertuju padaku. Itu sih sudah jelas siapa yang akan dia pilih, haha."

Larina tidak menjawab lagi.

Sekali lagi Rafa melihat ke arah Larina kemudian beralih pada Nana. Nana dengan senyum lebarnya merapikan rambutnya dan sudah bersiap namanya keluar dari mulut Rafa. Larina sekali lagi menghela napas dan memangku wajahnya.

"Ya sudahlah, terserah dia saja mau pilih aku atau Nana. Dia pasti tidak akan memilih orang sembarangan." gumamnya.

Rafa menarik napas dan membuangnya perlahan, kemudian ia membuka mulutnya untuk menyebut nama Larina atau Nana.

"Aku sudah membuat keputusan untuk memberi suaraku-" Rafa menggantung kalimatnya.

"Pasti aku sih, sudah pasti." batin Nana

"Rafa juga dari tadi terus melihat ke arahku. Itu sudah jelas bahwa akulah yang akan ia pilih, haha." lanjutnya.

1
Anne Rukpaida
ok Kaka
larasatiayu
smangattt
KAITO KID
ya ampun gua ikutan ngakak ketika baca ini teks/Facepalm/
Hanum Anindya
lanjut kak. tetap semngat ya menulisnya🥰
Lina Octavianti
Luar biasa
Hanum Anindya
Sandrina bakalan kalah, bukan lawannya anak SMA lawan adinda 😂😂😂😂, lanjutkan kak. pokoknya jangan pernah berhenti menulis novel ini kak, biarpun ada typo nya juga😂😂😂semangat
Anindya K Setiawan
ceritanya bagus, lanjutkan kak. aku nyakin Adinda bakalan kembLi keduania atau bisa saja mereka ketemu disini 😂😂😂cuma ide saja kak.
semangat ya, pokoknya aku tunggu kelanjutannya jangan pernah berhenti. kecuali menulis langsung terbitkan oke💕
Anindya K Setiawan: siap ditunggu novelnya yang baru💕.
total 2 replies
Hanum Anindya
lanjut kak😊. aku kira larina bakalan jadi andinda.
aisarah silma
Luar biasa
@🍾⃝ ʟͩɪᷞʟͧɪᷡᴛͣ𝐀⃝🥀℘ℯ𝓃𝓪ˢ⍣⃟ₛ
Maaf ya temen², aku habis bergelut sama kehidupan di RL dan baru bisa update lagi😊 Makasih ya udah meluangkan waktunya untuk baca karyaku!
Dwi Istiani
kak ini nggak ada lanjutannya tah?
@🍾⃝ ʟͩɪᷞʟͧɪᷡᴛͣ𝐀⃝🥀℘ℯ𝓃𝓪ˢ⍣⃟ₛ: ada kak, tunggu ya!😊
total 1 replies
Ibuk'e Denia
aq mampir thor semoga ceritanya bagus
Buke Chika
lanjutan nya mana thor gantung
Buke Chika
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/Kasihan tu adik kelas
Buke Chika
kayak nya bumbu2 cinta bersemi anak dpt anaknya bpk dpt ibunya boleh tu/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Srie Sifa
bagus,menarik,seru LG. tp nanggung
Srie Sifa
y ampuun sedih banget,padahal ceritanya lagi seru-serunya nih. kok udah tamat aja.
Buke Chika
Luar biasa
Buke Chika
istri kaya itu dipelihara sudah selingkuh lg
Buke Chika
cerai kan saja ngapa istri macam itu dipelihara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!