Pernikahan yang berlandaskan rasa bersalah juga karena ingin bertanggung jawab membuat Icha terjebak dalam situasi rumah tangga yang sangat menyedihkan. Kehadirannya tak dianggap ada oleh suami yang dia cintai. Namun, dia masih bisa tetap bertahan.
"Bukan aku yang menginginkan pernikahan ini, kak Adit. Tapi kenapa kamu malah membuat aku semakin lama semakin tersiksa? Apakah aku harus tetap bertahan, atau malah pergi jauh meninggalkan kehidupan yang menyedihkan ini?" Marisa Aurelia.
"Beri aku waktu untuk belajar mencintai kamu, Icha. Jika aku sudah siap nanti, maka rumah tangga kita pasti akan baik-baik saja." Aditya Hutomo.
Namun, bukannya malah membaik. Rumah tangga yang sudah dasarnya rusak itu malah semakin rusak dengan munculnya orang ketiga. Akankah Icha masih tetap bertahan dengan Aditya yang semakin dingin padanya? Atau ... Icha malah memilih pergi meninggalkan kehidupan pahit yang selama ini menyiksa hati juga pikirannya.
Ikuti kisahnya di sini. Di Sebatas menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 33
Icha menyeka air mata yang entah kenapa tiba-tiba saja tumpah. Padahal, sebelum datang ke tanah air ini, dia sudah belajar jari perempuan yang kuat. Tapi, entah kenapa, hatinya terlalu rapuh jika berhadapan dengan kenangan masa lalunya yang rumit.
Bi Indah. Bibi yang kakak sepupunya pekerjakan untuk mengurus semua kebutuhan Icha, melihat hal itu. Si bibi langsung menghampiri Icha yang sedang berada di taman kecil samping rumah tersebut.
"Non Risa kenapa, non? Kok bibi lihat, non seperti baru saja menangis? Ada masalah kah? Jika ingin cerita, bibi bersedia kok menemani non buat jadi pendengar setia."
"Aku gak papa kok, Bi. Gak ada yang mau aku ceritakan. Mata ini hanya kelilipan saja. Bukan habis nangis tau .... "
"Beneran, non?"
"Iya, bik. Beneran. Gak percaya bibi sama aku?"
"Bukan gak percaya, non cantik. Cuma cemas aja atuh. Bibi dapat tugas buat jagain non Risa soalnya. Kalo non kenapa-napa, terus bibi gak perhatian sama non nya. Bibi akan kena amukan mas Cleo, non."
"Ah, bibi kok takut amat ama kak Leo. Gak perlu memikirkan apa yang dia katakan, bi. Orang kak Leo itu gak galak kok."
"Sama non Risa mungkin iya. Tapi ... gimana kalo sama orang lain. Takutnya, bibi akan dapat peringatan, non."
"Udah. Gak papa, bi Indah. Gak perlu takut sama kak Leo. Lagipula, aku juga gak papa tuh. Hanya kelilipan saja."
Sementara Icha dan bi Indah ngobrol di taman samping rumah. Aditya yang baru pulang tanpa sengaja melihat ke arah samping. Matanya membulat ketika melihat Marisa.
Untuk yang kedua kalinya, batin Aditya merasakan kehadiran Icha di sisinya. Hal itu langsung membuat Aditya menginjak rem mobil karena ingin melihat Icha lebih lama lagi.
"Tuhan ... siapa dia sebenarnya? Kenapa setiap kali melihat wajah dia, aku selalu merasakan kehadiran istriku? Tuhan ... jangan buat aku tersiksa lagi. Sudah cukup aku tersiksa karena kehilangan dia. Atau ... dia?"
Aditya membulatkan mata selama beberapa saat sambil memperhatikan Risa. Namun, sesaat kemudian dia sadar, kalau ada banyak perbedaan antara Risa dan Icha. Bukan banyak, tapi memang terlalu jauh berbeda.
Aditya tertawa. Menertawakan dirinya sendiri yang mungkin sudah gila sekarang.
"Ha ha ha. Ditya-Ditya. Kamu benar-benar sudah gila kah? Kenapa berpikir kalau dia adalah Icha. Terlalu jauh berbeda antara dia dengan Icha, Aditya. Tolong sadarlah," ucap Aditya sambil mengusap kasar wajahnya.
Berusaha mengabaikan Risa yang kini tinggal di sebelah rumahnya. Aditya langsung menjalankan mobil memasuki garasi rumah mewah tersebut.
Untuk sesaat, Aditya kembali terdiam ketika mobil sudah berada di garasi. Ingatan tentang Risa, kembali berputar di dalam benaknya. Senyuman itu, sungguh sangat-sangat mirip dengan Icha.
"Tidak Aditya, tidak! Jangan gila seperti itu, Ditya. Icha mungkin masih hidup. Tapi dia ... dia bukan Icha. Bukan! Karena Icha istrimu, tidak sudah berdandan mewah seperti dia. Yah, meskipun cantiknya sama. Aku yakin kalau itu bukan Icha."
Setelah masuk ke dalam kamar. Aditya memutuskan untuk langsung merebahkan diri di atas ranjang. Tapi sayang, matanya yang tidak sengaja melihat ke arah luar, kembali menangkap sosok perempuan yang baru saja bikin hatinya gelisah.
Risa. Perempuan itu masih ada di taman. Taman yang kebetulan berada di sebelah rumahnya. Hal itu membuat rasa penasaran dalam hati Aditya kembali tumbuh. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan perempuan itu.
Kebetulan, Risa sekarang sedang ngobrol dengan bi Indah. Di sela-sela obrolan itu, ada kata-kata yang mungkin lucu bagi Risa sampai membuat hatinya geli. Sontak saja dia langsung tertawa terbahak-bahak.
Aditya terus saja memperhatikan hal itu. Karena tidak mau berhenti tawa, Risa tiba-tiba saja langsung mengigit harinya.
Aditya sontak langsung membulatkan mata. Dia ingat bagaimana Icha saat ingin menghentikan tawa. Icha juga langsung mengigit harinya jika dia ingin segera berhenti tertawa. Itu sama persis dengan apa yang Risa lakukan barusan. Mengigit jari agar tawanya berhenti.
"Icha." Aditya berucap lirih.
Langkah kaki tidak bisa dia tahan. Aditya langsung saja beranjak turun ke lantai dasar kembali. Dia ingin sekali menghampiri Risa yang batinnya katakan itu adalah Icha istrinya yang sudah hilang terlalu lama.
Namun, saat dia telah sampai ke depan pintu. Tiba-tiba, langkah kakinya mendadak berhenti.
"Dia bukan Icha, Aditya. Bukan!"
"Kenapa kamu ini? Apa kamu benar-benar sudah gila?" Aditya memberikan pertanyaan pada dirinya sendiri.
Lalu, dia memilih kembali ke atas. Sampai di kamar, Aditya langsung menarik gorden agar jendela kamarnya tidak bisa melihat keadaan di luar sana.
Selanjutnya, Ditya diam di samping ranjang. Duduk termenung memikirkan apa yang sedang dia lalui.
"Tolong jangan hukum aku lagi, Cha. Selama ini, kamu sudah cukup membuat aku sangat-sangat tersiksa. Kehadiranmu yang tidak pernah aku anggap ada, itu membuat aku hampir gila saat kamu menghilang."
"Dunia! Tolong jangan menghukum aku dengan hukuman yang sangat berat. Aku memang salah. Tapi, bisakah memberikan aku kesempatan kedua untuk menebus segala kesalahan yang sudah aku buat?"
"Aku ingin dia kembali. Berada di sisiku untuk selamanya. Akan aku ubah status yang dia sandang selama bersamaku dengan gelar yang sangat layak."
Selesai berucap semua kata-kata yang penuh dengan harapan itu, Aditya langsung menyembunyikan wajah di bawah kedua lengannya. Dia menangis. Menyesali semua yang telah dia lakukan dulu.
Yah, Aditya yang dingin itu, dulu bertubuh kekar. Tapi sekarang, dia memang terlihat lebih kurus seperti tidak punya makanan untuk di makan. Icha menyadari hal itu. Menyadari perubahan besar atas diri Aditya saat pertama kali mereka bertemu.
Tapi sayangnya, Icha berusaha tidak menganggap Aditya ada. Atau lebih tepatnya, tidak ingin menghiraukan keberadaan Aditya saat mereka bertemu. Karena bagaimanapun, dalam hati masih bisa merasakan getaran cinta. Meski sudah berusaha menghilangkan rasa itu.
Malam harinya, tiba-tiba saja. Lampu di komplek itu mati semua. Icha dan bi Indah yang baru saja tinggal di rumah itu, mana tahu seluk beluk rumah tersebut. Jadi, yang bisa mereka lakukan hanya keluar dari rumah karena Icha merasa takut saat berada di tempat yang masih asing dalam kegelapan.
"Non, rumah sebelah itu listriknya nyala. Apa kita minta lilin ke rumah dia. Mungkin saja dia punya."
"Gak perlu bik. Kita diam di sini saja. Mungkin, listriknya akan nyala sebentar lagi."
"Tapi, non. Bibi lihat, non Risa sangat tidak nyaman ketika berada di kegelapan. Sambil menunggu listrik hidup, kita minta, atau minjam lilin saja ke rumah sebelah. Pasti dia punya non."
"Gak usah bik. Aku gak papa kok. Bentar lagi, listrik pasti nyala. Yakin deh."