Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Meskipun Seina pernah tumbuh besar di keluarga Hartono pada kehidupan sebelumnya, bukan berarti ia menjalani masa kecil yang penuh kemewahan.
Tahun-tahun pertama setelah memasuki keluarga itu justru menjadi masa yang paling sulit dalam hidupnya. Ia harus belajar bertahan di tengah tatapan dingin dan perlakuan yang tidak adil. Namun, meski pernah melalui berbagai kesulitan, ia belum pernah melakukan pekerjaan dapur yang berat seperti yang biasa dilakukan perempuan desa.
Mira tentu tidak tega membiarkan putrinya mengotori tangan mungilnya dengan abu tungku ataupun minyak masak. Ia segera mengambil sebuah bangku kayu kecil, meletakkannya di dekat tungku, lalu mengusap kepala Seina dengan penuh kasih.
"Duduk saja di sini, ya."
Seina menurut tanpa membantah. Ia duduk dengan tenang sambil mengayunkan kedua kakinya yang pendek. Bibir mungilnya tak henti-hentinya mengobrol, menceritakan hal-hal sederhana yang membuat dapur yang biasanya sunyi menjadi jauh lebih hidup.
Mira mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil.
Semakin lama ia memandang putrinya, semakin hangat pula hatinya. Tanpa disadari, kedua matanya mulai memerah.
Inilah anak perempuan yang selalu ia impikan.
Selama bertahun-tahun, ia hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya memiliki seorang putri yang akan menemaninya memasak, mengobrol di samping tungku, atau sekadar duduk diam sambil memperhatikannya bekerja.
Kini, semua impian itu benar-benar menjadi kenyataan.
Orang-orang selalu berkata bahwa anak perempuan adalah penyejuk hati seorang ibu.
Hari ini Mira benar-benar mempercayainya.
Kelima putranya memang berbakti dan tidak pernah membangkang. Mereka bekerja keras membantu keluarga, tetapi kasih sayang seorang anak laki-laki tetap berbeda dengan kelembutan seorang anak perempuan.
Melihat Seina duduk di dekatnya saja sudah membuat rasa lelahnya seolah menghilang.
Di desa ini hampir setiap keluarga berharap memiliki anak laki-laki. Anak laki-laki dianggap mampu bekerja di ladang, mencari nafkah, dan mengangkat derajat keluarga ketika dewasa nanti.
Namun Mira tidak pernah berpikir seperti itu. Baginya, memiliki Seina sudah merupakan anugerah terbesar.
Apa salahnya memiliki anak perempuan?
Kelak ia akan mengajarkan seluruh keterampilan menyulam yang dimilikinya kepada Seina. Dengan begitu, putrinya tetap dapat hidup mandiri tanpa harus bergantung kepada siapa pun.
Sambil tersenyum sendiri, Mira membuka tutup panci.
Uap hangat segera memenuhi dapur.
Ia mengambil sebutir telur rebus, menyiramnya dengan air dingin, lalu mengupas kulitnya perlahan hingga bersih sebelum menyerahkannya kepada Seina.
"Perutmu pasti sudah lapar. Makanlah dulu. Sebentar lagi sarapan siap."
Seina menerima telur itu menggunakan kedua tangannya.
Namun bukannya langsung makan, ia justru mengangkat telur tersebut ke arah Mira.
"Ibu saja yang makan."
Ucapan sederhana itu membuat dada Mira kembali dipenuhi kehangatan.
Ia tersenyum lembut sambil menggeleng.
"Ibu tidak lapar."
"Kamu saja yang makan. Anak kecil harus banyak makan supaya cepat besar."
Barulah Seina menggigit telur rebus itu sedikit demi sedikit.
Ia makan dengan sangat pelan dan rapi.
Setiap suapan dikunyah hingga halus sebelum ditelan, seolah-olah ia telah dibesarkan dengan tata krama seorang putri bangsawan.
Mira kembali dibuat heran.
Seandainya bukan karena pakaian lusuh yang dikenakan Seina ketika pertama kali datang, ia pasti akan mengira putrinya berasal dari keluarga kaya.
Sikapnya terlalu anggun.
Cara duduknya, cara berbicaranya, bahkan cara makannya benar-benar berbeda dengan anak-anak desa seusianya.
Mira menutup kembali panci, lalu menambahkan beberapa potong kayu bakar ke dalam tungku agar nasi cepat matang.
Tak lama kemudian aroma makanan mulai memenuhi seluruh rumah.
Satu per satu kelima kakak Seina mulai terbangun.
Mereka berjalan menuju dapur sambil mengusap mata yang masih mengantuk.
"Ibu... apakah sarapannya sudah siap?"
Mendengar suara itu, Seina buru-buru memasukkan potongan telur terakhir ke dalam mulutnya.
Saat itulah kakak keempatnya memasuki dapur.
Begitu melihat Seina duduk di dekat tungku, ia langsung mengernyit.
"Ibu... dia sedang makan apa?"
Belum sempat Seina menjawab, Mira sudah lebih dahulu memelototi putranya.
"Apa maksudmu 'dia'?"
"Itu adikmu."
Mira mengangkat sepotong kayu bakar seolah siap memukul jika putranya masih bersikap sembarangan.
"Panggil dia adik."
Anak laki-laki itu langsung mengangkat kedua tangannya menyerah.
"...Adik."
Walaupun mulutnya menurut, wajahnya jelas masih dipenuhi rasa enggan.
Ia sama sekali tidak mengerti.
Ibunya memang selalu menyayangi mereka semua.
Namun tatapan penuh kelembutan yang kini diberikan kepada Seina belum pernah ia lihat sebelumnya.
Tatapan itu begitu hangat hingga membuatnya merasa sedikit iri.
Ia kembali melirik gadis kecil itu.
Seina hanya membalas dengan mata bulat yang polos, seolah sama sekali tidak memahami apa yang sedang dipikirkan kakaknya.
Justru kepolosan itulah yang membuatnya semakin curiga.
Begitu keluar dari dapur, ia diam-diam memutuskan akan mengajak keempat saudaranya berkumpul.
Menurutnya, mereka harus mencari tahu siapa sebenarnya gadis kecil itu.
Tidak mungkin seseorang bisa membuat ibu berubah sedemikian cepat.
Sementara itu, Mira sama sekali tidak mengetahui isi kepala putranya.
Yang ia lihat hanyalah Seina yang dengan cepat menghabiskan suapan terakhir sebelum kakak-kakaknya datang.
Hal kecil itu justru membuatnya semakin bangga.
"Putriku memang pintar."
Ia segera menuangkan semangkuk air hangat untuk Seina agar putrinya tidak tersedak.
Ketika sarapan akhirnya disajikan, seperti yang sudah diduga, tidak ada telur lagi di atas meja.
Satu-satunya telur rebus telah diberikan kepada Seina.
Sementara kakak-kakaknya menikmati sarapan sederhana seperti biasanya.
cerita nya juga seru