Ingatan akan hidup seorang wanita muda di masa lalu tiba-tiba menerpa Elena. Kisah cintanya dengan sang suami, kematian tragis mereka, hingga seucap janji yang diikrarkan sang wanita di detik-detik terakhir kematiannya, semua terekam jelas di memori gadis berusia 18 tahun itu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa wanita itu? Dan, apa yang akan Elena lakukan saat mengetahui, bahwa suami dari wanita yang ada dalam ingatannya tersebut, adalah kakaknya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Mimpi Evans Kembali Hadir.
Elena baru saja tiba di rumah, tepat ketika malam datang. Wajahnya tampak masam setelah mendengar celetukan Evans, yang mengira ucapannya tadi hanya sekadar lelucon belaka.
Maklum saja, pria itu merasa tak tahan mendengar imajinasi sang adik, yang baginya terlalu mengada-ada dan melampaui batas logika.
"Zaman sudah semaju ini, dan kamu masih percaya hal-hal mustahil semacam itu?"
"Cih!" ketus Elena begitu mengingat sebaris kata bernada ejekan dari pria itu.
Enggan membuang waktu untuk memikirkan kata-kata menjengkelkan Evans, ia memilih mengecek pekerjaannya terlebih dahulu sebelum pergi tidur.
...******************************************...
Suara derap kaki kuda membelah keheningan hutan di malam itu. Leon, bersama beberapa prajurit setianya, melaju cepat untuk mengejar Drustan, musuh Kerajaan Valcke, yang melarikan diri bersama beberapa pengawalnya setelah menyerbu istana.
Mereka tak boleh kehilangan jejak. Drustan adalah otak dari semua kekacauan yang terjadi dan Raja Varley telah mengeluarkan ultimatum yang tak bisa ditawar. Mereka harus menangkap dan membunuh Drustan, apapun yang terjadi!
Leon menghentikan kudanya tiba-tiba di persimpangan jalan setapak, sebelum kemudian menyapu pandangannya liar ke segala arah. Ia pun mengangkat tangannya tinggi-tinggi, seolah memberi isyarat pada pasukannya agar tidak bersuara.
Dengan gerakan perlahan dan sangat hati-hati, Leon meraih busur yang berada di balik punggungnya.
Para prajurit bawahannya juga turut melakukan hal yang sama. Mereka menanti, dalam sunyi yang meremang menembus kepekaan.
Leon berkonsentrasi. Ia menajamkan indera pendengarannya dua kali lipat.
"Aarrgghh!"
Teriakan kesakitan tiba-tiba memevah keheningan tersebut. Leon menoleh ke belakang dan terkejut, ketika mendapati salah seorang prajuritnya telah tewas dengan anak panah yang menancap tepat di batang lehernya. Anak panah kedua pun melesat ke arah anak buah Leon yang lain.
Dengan sigap Leon membalas tembakan anak panah itu ke arah kegelapan. Meski tidak dapat melihat sang pemanah, tapi ia bisa mengetahui dengan jelas dari mana datangnya anak panah yang telah menyerang mereka.
"Aaarrrghh, tolong!"
"Arrghh!"
"Arrghh! Sial!"
Suara-suara penuh keputusasaan mulai bersahutan. Para prajurit tumbang dan kini hanya tersisa Leon dan Larry, sahabat baik sekaligus bawahannya.
"Bagaimana?" tanya Larry sembari tetap memasang kuda-kuda dengan busur panah beracun miliknya.
"Aku akan tetap mengejar, sedangkan kau kembalilah ke Istana!" titah Leon seraya memacu kudanya meninggalkan Larry tanpa menunggu jawaban.
Mendengar derap kaki kuda bergema kembali, Drustan memerintahkan empat orang pengawal yang tersisa, untuk memacu kudanya lagi demi menghindari kejaran Leon.
"Dia hanya sendirian Tuan, kami berempat akan menghadapinya di sini!" usul salah seorang anak buahnya.
"Jangan remehkan orang itu. Dia adalah panglima perang elit termuda yang pernah dimiliki Kerajaan Valcke. Kemampuannya jauh di atas kalian. Sebelum kalian berhasil membunuhnya, dia yang akan lebih dulu memecahkan kepala kalian!" seru Drustan seraya pergi meninggalkan keempat orang tersebut.
Keempatnya saling berpandangan sejenak, dan tanpa disadari mereka, empat buah anak panah tiba-tina melesat cepat, hingga menembus kepala dalam satu kali serangan.
"Shit!" geram Drustan yang ternyata memerhatikan kejadian tersebut sembari terus memacu kudanya.
Tak bisa dipungkiri, rasa takut mulai menghinggapi benak Drustan saat menghadapi Leon.
Leon dikenal gigih dan tak akan melepas buruannya. Dengan kemampuan hebatnya, dia bahkan pernah menerobos pertahanan musuh seorang diri dan menghabisi pimpinannya hanya dalam beberapa saat saja. Jadi, sudah bisa dipastikan Drustan tidak akan bisa menghadapi Leon seorang diri.
"Sial! Sial! Sial!" hardik Drustan seraya memukul kudanya agar lebih cepat berlari.
Leon kembali berburu. Ia menajam indera penglihatannya lagi guna mengejar Drustan.
Namun, sesosok bayangan tiba-tiba melesat cepat dari sisi kiri, melewati dirinya.
"Larry!" teriak Leon, mengenali sahabatnya.
Namun, Larry tak menoleh. Ia malah semakin melajukan kudanya, meninggalkan Leon jauh di belakang. Panahnya dibidik, dan dilepaskan tepat mengenai kaki kuda Drustan. Hewan itu meringkik keras sebelum terjungkal, menjatuhkan penunggangnya ke tanah.
Larry melompat dari kuda dan menahan Drustan. Namun, pria licik itu sempat menyayat perut Larry dengan pisau kecil yang tersembunyi di sakunya.
Larry terluka. Tapi dalam sekejap ia menendang pisau itu dan mengunci tubuh Drustan dari belakang. Perburuan hampir selesai.
Leon datang tak lama kemudian. Ia turun dari kuda dan menghampiri kedua pria yang tengah bertarung tersebut.
"Jangan mendekat! Bidik dari sana!" teriak Larry sambil berusaha menghindari serangan Drustan. Pria itu juga sempat berlari, hendak menyerang Leon, tetapi dengan cepat Larry segera mendekap tubuh Drustan kembali.
"Cepat Bodoh!" hardik Larry.
"Kau gila! Minggir! Tak perlu melakukan hal itu!" balas Leon.
"Ini kesempatan, Bodoh! Cepat lakukan!" teriak Larry penuh kemarahan. Pria itu kemudian meringis pada luka sayat yang mulai terasa nyeri.
Drustan memberontak keras. Namun, Larry semakin mengencangkan pelukannya.
"Aku percaya padamu, Leon," suara Larry terdengar lebih rendah sekarang. Pria itu juga tersenyum lembut padanya.
Leon mulai mengangkat panahnya dan membidik kepala Drustan. Ia sengaja membidik telinga Drustan untuk melumpuhkannya sejenak, agar Larry sudi melepaskan kungkungannya.
Namun, ketika anak panah Leon melesat, Drustan tiba-tiba menggeser tubuh mereka.
Panah tersebut dengan cepat melesat ke kepala Drustan, hingga menembus tepat di kening Larry.
Leon berteriak. Pria itu berlari menuju Larry yang sudah roboh di tanah bersama Drustan.
Leon menendang Drustan dari atas tubuh Larry dan memangku sahabatnya. Pria itu menyuruhnya untuk tidak banyak bicara dan akan segera membawanya pulang.
"Pulanglah tanpaku, berikan kabar bahagia ini pada Raja Varley!" pesan Larry dengan terbata-bata.
Leon menggeleng. "Diamlah! Aku akan membawamu pulang! Aku akan membawamu pulang!" tegas pria itu.
Larry memejamkan matanya seraya mencengkeram seragam Leon. "Aku merelakan kematianku untuk melindungi Kerajaan Valcke. Jadi, kuharap pun demikian. Tolong, jangan salahkan dirimu sendiri, kawan!"
Leon mulai menangis. Kenangan-kenangan akan kebersamaan mereka seketika terngiang diingatan pria itu.
"Teruskan perjuangan dan pengabdianku, Leon!" Begitu mengatakan hal tersebut, Larry diam tak bergerak. Tangannya terkulai jatuh ke tanah. Kematian memenangi Larry.
Leon berteriak histeris.
...********************************************...
"HAH!" pekik Evans yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
Pria itu menegakkan diri dan menoleh ke sana kemari, seolah sedang mencari sesuatu. Ia kemudian teralih pada laptopnya yang ternyata masih berada dalam pangkuan.
"Mimpi?"
Evans sontak mengusap pipinya yang basah.
"Air mata? Dari mana?" tanya Evans kebingungan seraya memperhatikan jejak airmata di tangannya.
Evans mencoba mengingat-ingat mimpi yang baru saja dialaminya. Fragmen-fragmen kejadian pada pria yang berada di dalam mimpi tersebut.
Evans yakin, bahwa pria itu adalah pria yang pernah diimpikannya lalu.
"Mimpi apa ini?" gumam Evans tak mengerti.