Shakira baru saja memulai lembaran baru di bangku kelas 2. Namun siapa sangka di halaman pertamanya ia bertemu dengan Aji, sosok pria yang notabene digandrungi banyak hawa karena image cool yang keterlaluan.
Pada kenyataannya lain untuk gadis temperamen semacam Shakira, di mana ia menemukan image sebenar dari Aji. Dari itu pula misteri tentang Aji mulai merangsang keingin tahuan Shakira. Satu per satu akan Shakira temukan dalam tiap lembaran kertas kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reirin Mitsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[SEASON 2] Pembuat Keributan
Sebuah tumpukan makalah dilemparkan begitu saja di meja Shakira. Tentu gadis berjilbab kelabu ini kaget bukan main. Bayangkan saja, di saat Shakira santai-santai nonton drama Korea langsung digebrak dengan tumpukan makalah. Siapa yang tak naik pitam? Semua orang pasti naik pitam.
"M-maksud lu apaan, ya, main lempar makalah ke gua?" tanya Shakira menatap tajam.
Mestilah ia berani, Shakira tak bersalah. Lebih-lebih lagi ia dikerubungi banyak gadis, jumlah mereka tak memengaruhi nyali Shakira. Iris sewarna daun segar itu kian berkilat tajam.
"Udahlah, gak usah banyak tanya! Mending lo sekarang kerjain makalah kita semua!" cerca seorang gadis berkerudung merah jambu, berkacak pinggang menepuk-nepuk tumpukan makalah bersampul plastik warna-warni.
"Buat apa gua ngerjain makalah lu pada?" Ucapan Shakira tak kalah kejam dari mereka. Tubuh kerdilnya masih duduk di kursi, berpose layaknya seorang penyelidik. "Tujuan lu semua kuliah buat apa? Mau pamerin gelar sarjana? Baik lu mikirin tindakan lu tadi, gak etis."
Salah seorang di sebelah kanan gadis tadi mendengus sinis, tersenyum miring kemudian memutar bola matanya jengah. "Dia santai karena ada Aji, guys."
"Aji?" Dahi Shakira mengkerut. Seketika itu pula kepalannya mulai terbentuk di kedua tangannya. "Kenapa lu sangkut pautkan gua sama Aji?"
Mereka memilih bergeming. Banyak para mahasiswa yang menonton drama aksi secara gratis di kelas ini. Shakira tak memedulikannya, percuma ia perhatian pada mereka kalau ujungnya malah memanas-manasi pertengkaran.
"Kenapa lu gak jawab? Lu pada punya mulut kagak?" Shakira mengerling malas. "Percuma tuh mulut dipakai buat ngomong maksiat. Giliran ditanya malah gak dijawab."
Mereka masih diam, namun mata tetap menatap tajam kepada Shakira. Sudah ada beberapa yang bisik-bisik memilih siapa yang menang debat hari ini. Mereka bertiga, atau Shakira sendiri.
"Jawab, oi!" Mau tak mau, suka tak suka, Shakira patut lakukan hal demikian: menggebrak meja menggunakan selembar makalah dari tumpukan tadi. Sati gebrakan tersebut membuat semua orang terlonjak kaget. "Gua benci ngelakuin ini, tapi gua udah dongkol sama kelakuan lu pada. Emang gua salah apa sama kalian, hah? Apa? Buruan jawab, jangan diam mulu!"
Lagi-lagi mereka membisu. Mereka justru saling pandang, seperti bertukar pendapat. Sampai seorang perawan berambut cokelat diikat ekor kuda angkat bicara. "Lo itu pura-pura gak tau biar cari sensasi, ya? Mending sekarang lo lihat foto-foto orang di mading! Karena lo satu sekolah sama Aji, lo jadi dekat terus sama cowok idaman gue."
Lelaki idaman kaum hawa? Kalimat terakhir gadis tadi cukup mengundang kernyit. Ia sempat berpikir jernih, kenapa harus ada orang berotak dangkal yang nekat mengadu domba? Lagipula, Shakira tak punya salah apa-apa terhadap sang pelaku.
"Jadi maksud lu pada, gua kegenitan sama Aji?" Shakira bangkit berdiri menggandeng tas selempang. "Gua bukan tipikal orang kayak gitu, oke? Gua sama Aji cuma sebatas sahabat, lu semua udah nyebar fitnah pada orang yang salah."
Lepas itu, Shakira pergi membenarkan jilbabnya yang dirasa terlalu tertarik ke belakang. Orang yang berhijarah dan selalu berkata halus juga punya batas kesabaran. Mungkin Shakira akan perkuat benteng emosi setelah mencaci-maki sesama muslim tadi-ada satu orang yang non-muslim seingat Shakira.
Sudah dua hari gadis beriris emerald ini dikucilkan para mahasiswa. Ia ingat betul waktu kemarin. Perasaan Shakira memiliki perilaku yang baik. Tak mengganggu orang, cuek terhadap sekitar, dan bercakap seperlunya. Tetapi, semenjak mereka menggunjing aib palsu Shakira, ia diperlakukan layaknya seekor kucing. Dijauhi, disiram air berperisa, hingga yang paling parah bagi Shakira: diludahi.
"Dasar pelakor!"
"Cewek gak tau diri!"
"Bisa-bisanya tuh cewek dekat sama Aji!"
"Baru tau gue kalo dia sok alim."
"Penampilan aja pake kerudung, dia malah genit sama cowok."
Semua cemoohan, semua cibiran, semua tindakan mereka pada Shakira, ia tahan kesabaran hati ini seharian penuh. Ia jaga otak agar tetap dingin. Namun sayangnya Shakira tak mampu mencegahnya lagi. Bisa disimpulkan benteng kesabaran hati dan pikiran Shakira sudah hancur menjadi puing.
Sembari berjalan santai di koridor kampus, ia mencoba memecahkan masalah yang menimpa dirinya. Tujuan ia melangkah? Entahlah, gadis berkulit cerah bersih ini tak tahu arah tujuan selagi belum memecahkan masalahnya sendiri. Alisnya mulai bertaut.
Apa salahnya dekat dengan Aji? Toh, sama-sama makan nasi, hanya beda di gender. Mereka yang mencibir Shakira pun punya hak untuk mengenali Aji lebih dekat. Melakukan hal tak seronok bersama Aji? Tidak ada. Justru di waktu mencari organisasi kampus, ia baru bersua kembali dengan Aji di perpustakaan. Ia hanya melakukan hal jahil dan bernuansa edukasi bila mengadakan janji temu dengan Aji.
"Shakira! Tunggu!" Seseorang menyerukan namanya dan meminta Shakira menunggu. Arah suara tadi ada di belakang, maka ia menoleh menuju asal suara tersebut.
Terlihat sesosok pemuda datang dengan napas tersengal-sengal. Sesekali ia mendongak guna memastikan orang yang berdiri di depannya adalah Shakira sungguhan, hingga ia dapat mendesah lega. Ia pun menyapa gadis berpakaian gamis ini, mau itu napas tak kunjung stabil, "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Shakira menarik tas selempang supaya tetap dalam cantelan di bahunya. "Lu kenapa dah kayak dikejar soang, Niko?"
"K-kir, mending sekarang lo ikut gue. Lo pasti ngerti setelah gue tunjukin sesuatu buat lo." Tanpa menunggu balasan Shakira, tangan kekarnya mencengkeram pergelangan tangan Shakira penuh erat. Hm, sudah seperti ditarik polisi.
"L-lu mau ngapain, sih, Nik?" tanya Shakira mengernyit. Kedua kaki beralaskan sendal gunung mencoba menyetarakan kecepatan Niko, selagi tenaganya masih kuat.
Pria dengan topi berets warna hitam tak mau menjawab, dia terus menarik Shakira ke manapun dia pergi. Biarkan Shakira perhatikan Niko dari belakang. Niko mau menunjukkan apa untuknya? Pastinya bukan sesuatu yang membuat Shakira bersenang hati.
Langkahnya berkelok-kelok dan menabrak banyak orang, sampai sepatu sneakers warna putih berhenti di hadapan sepetak papan mading. Di sana sudah banyak lembaran foto polaroid bergambarkan dirinya dan Aji waktu di ruang ketik ulang.
"Tunggu, kenapa ada foto gua di sana?" Ia mengarungi lautan pembaca mading, disambut tatapan jijik dari mereka. Ada yang menggosipi Shakira, ada pula yang menjauh karena foto tersebut.
Tangan berbalut sarung tangan katun warna hitam mengambil satu foto yang menurutnya menarik perhatian. Di sana terlihat Aji tengah mengelus pucuk kepala Shakira yang juga menatap kejut. Langsung saja ia remas hingga tak terbentuk gambarnya, meninggalkan percikan kertas di sarung tangan.
"Siapa yang motoin gua sama Aji?" gumam Shakira murka. Ia melucuti semua foto polaroid yang terpampang di sana, digenangi terus oleh Niko.
Mereka tak sadar, di belakang sana terlihat seorang pria jangkung tampak risih dan berusaha lepas dari sosok mojang satu kelas. Di sela bergelayut manja menyamakan langkah pemuda itu, dia menyunggingkan senyum sinis ke arah Shakira. []
semangat thorr nexttt❤️❤️❤️
Next thorr