NovelToon NovelToon
RANJANG BALAS DENDAM

RANJANG BALAS DENDAM

Status: tamat
Genre:Misteri / Patahhati / Balas Dendam / Duda / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Menikah dengan Musuhku / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 5
Nama Author: Min Ziy. Minfiatin FauZiyah

Dinikahi karena ingin membalaskan dendam kematian sang kakak yang meninggal karena bunuh diri.

Mahendra Addison Wijaya, duda anak satu yang tampan, kaya dan berkuasa. Menyimpan dendam pada seorang gadis muda cantik bernama Alisia.

Kakaknya, Brahmana. Ditemukan meninggal di apartemennya gantung diri. Dan semua bukti yang ada mengarah pada Alisia sebagai penyebabnya.

Akankah cinta bersemi di hati Mahendra yang sudah terlampau benci pada Alisia, dan apakah cinta Alisia tetap singgah dalam hati setelah menerima kekejaman demi kekejaman dari Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISI MEMORI

"Buka!"

Sebuah miniatur bangunan yang sangat cantik, seperti gedung pada umumnya, mempunyai beberapa jendela pada setiap lantainya. Dan dalam miniatur bangunan ini, jendela-jendela kecil itu jika di tekan maka akan bisa bergerak keluar seperti sebuah laci.

Mahend menggerakkan jari telunjuknya menekan jendela yang paling atas.

'Sssttttss' jendela pertama terbuka, kosong, Mahend memasukkannya lagi, ia lantas kembali menekan jendela sampingnya, kosong, Mahend memasukkan lagi. Mahend terus mengulang gerakan yang sama pada jendela-jendela itu hingga sampai jendela paling bawah terakhir. Dan kosong juga.

Keduanya membuang nafas kasar. Tempat yang mereka yakini menyimpan sesuatu nyatanya kosong.

"Pintu?" Tom kembali berseru.

Mahend dan Tom semakin deg-degan tak karuan. Beberapa kali Mahend menelan salivanya kasar.

Kini Mahend membuka pintu miniatur bangunan itu dengan cara menggesernya. Mahend dan Tom saling menatap tajam.

"That's it" ucap Tom yakin sambil mengangguk.

Sebuah kotak kecil terbuat dari kaca berada di sana. Dan sebuah Memori Card terletak pada busa berwarna putih di dalam kotak kaca itu.

Mahend mengeluarkan benda kecil yang mereka yakini menyimpan sesuatu yang tersembunyi. Hingga Lastri datang.

"Tuan? Nyonya sudah menunggu di meja makan?" suara Lastri yang datang tiba-tiba mengagetkan Mahend dan Tom secara bersama.

"Iya, kami datang!" Tom yang menyahut. Lastri pun membungkukkan badan dan kembali keluar.

"Kita buka setelah makan siang." ucap Mahend yang langsung mendapat anggukan dari Tom. Dan benda kecil itu Mahend masukkan ke dalam saku celananya.

Siya, Al, Levi dan Sabrina sudah duduk di kursi masing-masing di meja makan. Mahend dan Tom datang bersama dan nampak akur. Membuat Sabrina merasa senang meski tak ia perlihatkan.

Tom bersikap sangat normal, seakan tak ada apa pun yang dirahasiakan. Siya terus menatap Tom seakan bertanya. 'Bagaimana?'. Dan Tom mengangguk sambil tersenyum memberikan jawaban pada Siya. Sedangkan Mahend terus menatap Siya yang sama sekali tak melihat dirinya.

'Jika benar yang kau katakan kalau kau tidak bersalah dan Kak Bram mati bukan karena bunuh diri, lantas bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri atas apa yang sudah kulakukan padamu selama ini, Siya? Bagaimana aku bisa menghadapimu? Cintamu padaku pasti telah sirna sudah. Meninggalkan diriku yang mencintaimu penuh luka. Dan kau pasti akan pergi meninggalkanku seorang diri?'

Mahend tak juga menggerakkan sendoknya, ia masih terus menatap Siya dalam diam.

"Kau tidak akan kenyang hanya dengan memandang wajah Siya, Mahend." suara Sabrina yang lantang mengagetkan semua orang yang tengah makan dalam diam.

Siya akhirnya baru menyadari jika suaminya itu terus melihatnya sedari tadi.

'Ada apa denganmu, mas?'

...****************...

Siya menidurkan Al dan Levi di kamar Al. Sabrina juga beristirahat di kamarnya. Mahend dan Tom berada di dalam ruang kerja Mahend.

Mahend duduk pada kursinya, membuka laptop di atas meja. Memasukkan card pada tempat lalu menggerakkan jari jemarinya memainkan keyboard laptop itu. Tom berdiri sedikit membungkuk di belakang Mahend. Tangan kanan bersandar pada tepian meja dan tangan kirinya berpegangan pada punggung kursi Mahend.

Benar, itu adalah memory milik Bram, ada begitu banyak file disana. Mahend dan Tom harus ekstra sabar untuk bisa mendapatkan sesuatu yang mereka harapkan sebagai sebuah bukti, suatu data yang mereka sendiri tidak tahu itu apa.

Hampir seluruh isi file itu adalah tentang Siya. Baik foto, Video, kata-kata puitis. Semua tentang Siya.

Kedua cucu Addison itu sudah berkutat dengan laptop selama 3 jam. Tapi belum juga mendapatkan apa-apa. Hanya file-file keseharian Bram yang tersimpan disana.

'Tok tok tok' suara ketukan pintu mengagetkan Mahend dan Tom.

"Biar aku yang buka." Tom yang melangkah membuka pintu.

'Klek.'

"Boleh aku masuk?"

"Siya?" Tom terkejut. Mahend melihatnya dari dalam. Tom menoleh pada Mahend. Dan Siya juga masih terdiam di sana.

"Biarkan dia masuk, Tom. Dia juga berhak untuk tahu." ucap Mahend.

Siya pun melangkahkan kaki memasuki ruangan bernuansa serba hitam dan dark brown itu.

"Ba_ bagaimana?" tanya Siya ragu. Tom menghela nafas lalu menggeleng.

"Boleh aku lihat?"

Mahend bangun dan berdiri dari kursinya, ia mempersilahkan Siya untuk memeriksa dan memainkan laptopnya.

Siya duduk menggantikan posisi Mahend. Mahend dan Tom berdiri di belakang mereka.

"Sepertinya Kak Bram memang sangat mencintaimu, Siya." Tom membuka suara. Siya hanya diam sambil terus melihat data dari memori card Bram.

"Jika kau tidak menemukan bukti apapun. Maka semua sudah jelas. Kak Bram mengakhiri hidupnya karena frustasi kau yang tak menerima cintanya." suara Mahend berat dan serak.

Mereka bertiga semakin cemas dan gugup.

'Siya? Kau mau lihat kabin pesawat?' suara Bram terngiang di telinga Siya.

'Tapi aku harus menonaktifkan ponselku sekarang, kau tidak perlu khawatir, aku akan merekam penerbangan ini dengan kamera yang ada pada jam ku.' suara Bram kembali menggema.

"Pasti ada." ucap Siya yakin yang tak begitu dimengerti oleh Mahend dan Tom.

"Apa maksudmu?" Mahend semakin mendekat membungkukkan badannya hingga wajahnya hampir bersentuhan dengan wajah Siya.

"Tanggal 9 bulan_..." Siya menyebut sebuah tanggal pada hari dimana Bram melakukan penerbangan.

Mahend mengalihkan laptopnya menghadap dirinya. Ia lantas mencari urutan tanggal yang terletak paling akhir. Mereka salah sejak awal Karena memeriksa file berdasarkan judul.

Mahend lekas menekan klik pada satu folder data yang bertuliskan tanggal yang Siya sebutkan. Sebuah folder yang tak memiliki judul.

"Hai Siya? Aku sudah memasuki kabin pesawat, tapi aku harus bergerak sedikit maju lagi, kursiku ada di depan." sebuah video menampakkan wajah Bram yang terlihat seperti cembung memenuhi layar laptop Mahend. Itu karena lensa kamera yang terlalu dekat dengan wajah Bram hingga terlihat cembung.

"Akan aku ajak kau ke Paris setelah Kakak pulang nanti, kau bilang sangat ingin melihat menara Eiffel, kan? Ha ha ha!"

Dalam video itu sudah berganti pada pemandangan di depan Bram, para penumpang yang sudah duduk di kursi-kursi mereka, para paramugari yang tengah membantu penumpang yang bermasalah. Dan Kak Bram masih terus bicara sambil tertawa.

Air mata Siya sudah lolos membanjir, kenangan-kenangan indah antara dirinya dan Bram muncul seketika. Mahend menatapnya nanar, ia tak tahu mengapa batinnya merasa ikut terluka. Siya menunduk menutup mukanya dengan kedua tangan. Isak tangisnya semakin kencang, dan Mahend bergerak pelan memeluk Siya. Siya tak melawan saat Mahend memasukkan wajah Siya kedalam perut atasnya dekat dada.

Mahend dan Siya tak lagi memperhatikan layar laptop. Hanya Tom yang masih begitu fokus pada video itu.

"Papah?" teriak Bram dalam video. Sontak Mahend dan Siya kembali menatap layar laptop. Tom sangat kaget. Mahend dan Siya juga sama halnya

Mereka bertiga seakan tak percaya dengan apa yang kini terpampang pada layar laptop.

"Bram?" lirih Tuan Wijaya.

...****************...

1
Eka Pramesti
suka
Mischa Chantika
Luar biasa
Cis Siu
y
Rimayanti Ismaya
meteor garden
Rasmiati Nur
seru..aku suka ceritax
Rasmiati Nur
seru aku suka ceritax
Erni Zalukhu
bisa jd Al bukan anak kandung mahen,kan Anita wanita jalang
Ririn Nursisminingsih
mama sabrinalah yg ikut andil.mnghancurkan semuanya
Ririn Nursisminingsih
iyaa thor mkin penasaran
Ririn Nursisminingsih
jg2 al anaknya anita sama ayahnya
Ririn Nursisminingsih
ayoo tom bantu sya
Ririn Nursisminingsih
ayoo sya temukan buktinya kmu tak bersalah
Ririn Nursisminingsih
kabur aja sya jg bodoh
Ririn Nursisminingsih
ayoo sya jg lemah kmu
Rastika Ima
waduuuh,pasti Anita
Diankeren
👍🏻👏🏻👏🏻
Diankeren
lano sirik aja deh, tggl peluk tuh yg dsmping lu klo pngen
tng ca w bla'in
Diankeren
klo dsitu ada Rangga bisa d lmpar pulpen lu lano 😝 aduuh knpe w trbyg² trus ama ayang Nico wktu muda ye 🙈 uh gmez
anjirr... anjirr... w bnci otak w sndri 🤦🏻‍♀️
🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻💨
Diankeren
bubur woii... eh slah bubar bkn buyar malih.... 🤣
Diankeren
maen kcok²an Mak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!