Rei, seorang remaja perempuan yang harus menjalani kerasnya hidup bersama neneknya. Saat merasakan kesulitan yang terus menghimpit, seorang pria tua menghampirinya, dan menawarkan pertolongan.
"Dengan satu syarat, jadilah istri kedua cucuku dan berikan dia keturunan, setelah itu berpisahlah!"
Apa yang akan dipilih oleh Rei? Bisakah dia menemukan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROZE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 Tidak Ribet
Frans, Carles dan Delia tiba di rumah sakit dan langsung menuju ruang perawatan. Mereka melihat Marva yang duduk dengan kepala terkulai di brankar Rei, sedangkan Rei masih tidur dengan selang infus tertancap di pergelangan tangannya.
"Mar?"
Marva terbangun dari tidur ayamnya.
"Sudah datang?"
"Bagaimana, apa bayinya sehat-sehat saja?"
"Mereka cukup baik, hanya saja kondisi Rei yang sangat lemah. Dokter bilang Rei tidak boleh setres atau mereka tidak akan bertahan di dalam sana."
"Mereka?"
"Iya, Rei mengandung anak kembar."
"Benarkah?"
Frans, Carles dan Delia sangat bahagia bahwa mereka akan mendapatkan cucu dan cicit dua sekaligus.
Mereka hanya memikirkan bayiku, tanpa peduli dengan kondisiku.
Rei memang terbangun dsri tidurnya saat mendengar pintu terbuka.
Apa yang bernama Freya itu keguguran juga karena merasa tertekan? Apa dia Freya yang sama? Di mana dia sekarang? Apa barang-barang mewah yang dia pakai dulu juga dari keluarga ini?
"Oya, ini mama bawakan makan siang dari rumah."
"Ya sudah, kalau begitu kami pergi dulu, masih banyak pekerjaan," ucap Carles, lalu dia, Frans dan Delia pergi.
Mereka bahkan tidak berbasa-basi menungguku bangun. Apa kalian tidak sadar bahwa kalianlah yang membuatku tertekan.
Lima menit setelah kepergian mereka, Rei baru membuka matanya.
"Syukurlah kamu sudah bangun, apa kamu merasa sakit atau pusing?"
"Enggak, Kak."
"Ayo makan dulu, setelah itu minum obat."
Marva membuka tempat makan yang tadi dibawa oleh mamanya. Di dalamnya ada steak, spagethi, kentang dan salad. Juga ada buah-buahannyang sudah dipotong-potong dan kue.
Makanan yang enak, tapi tidak menarik untuk Rei.
"Ayo aku suapi."
"Aku makan sendiri saja, Kak."
"Tanganmu masih di infus, pasti susah makannya."
Mau tidak mau Rei terpaksa menerima suapan Marva.
"Kamu dengar kan, apa kata dokter. Kamu tidak boleh kelelahan dan setres. Kamu harus menjaga anakku baik-baik."
Ya ya ya, selalu saja itu yang kalian katakan. Aku hanyalah babu penghasil anak.
Rei yang memang sejak awal tidak selera makan, semakin tidak selera lagi.
"Ayo, habiskan makananmu. Kamu dan anak aku butuh nutrisi dan tenaga agar mereka bisa tumbuh dengan baik dan sehat."
Rei merasa seperti mengunyah daging badak, dan badak itu adalah Marva.
"Sudah, Kak. Aku sudah kenyang."
"Kamu makan buahnya dulu."
"Nanti saja, Kak."
"Ya sudah, tapi jangan lupa dimakan. Sekarang minum obat dan vitaminnya."
Di mansion
"Sepi banget, Bi. Pada ke mana?"
"Tuan Frans, tuan Carles dan nyonya Delia tadi ke rumah sakit, Non."
"Rumah sakit? Buat apa ke rumah sakit?"
"Nona Rei dirawat di rumah sakit."
"Apa?"
Viola kaget bukan karena Rei yang dirawat, tapinkarena tidak ada satu pun yangbmemberi tahunya, bahkan sekedar berbasa-basi untuk mengajaknya.
Apa kini aku tidak seberharga itu?
Akhirnya Viola makan sendiri di ruang makan.
Lebih baik aku jalan-jalan saja ke mall, daripada di rumah aku malah setres gara-gara ounya suami yang nikah lagi dan tidak peduli dengan istri pertama.
Selesai makan, Viola langsung bersiap-siap untuk pergi ke mall. Dia ingin pergi ke salon dan shoping, membeli baju baru. Mungkin dengan dia mempercantik dirinya, Marva akan lebih perhatian padanya.
Sesampainya di mall, Viola ke salon lebih dulu. Dia melakukan perawatan dari atas sampai bawah. Dia juga memelih model baru untuk rambutnya. Setelah melakukan perawatan, dia pergi ke toko alat kosmetikndan membeli kosmetik dengan merk terkenal, lalu membeli sepatu, tas dan baju baru.
Viola juga membeli beberapa lingerie dengan warna-warna menantang dan model yang berbeda-beda.
Apa perempuan itu juga memakai ini di dalam kamarnya, hingga Marva tergoda dan menyentuhnya? Jika dia hanya memakai oakaian biasa saja Marva mau menyentuhnya, pasti aku yang berpakaian seksi akan lebih menggoda.
"Viola?" panggil seseorang.
"Eh, Riezka. Apa kabar?"
"Baik, kamu sendiri bagaimana?"
"Aku juga baik. Kamu di sini ngapain?"
"Aku di sini habis temani kakakku meeting. Biasalah, belajar bantu-bantu di perusahaan."
"Oh ... ya sudah, aku duluan, ya."
"Oke."
"Kamu ngapain di sini?" tanya seorang pria pada Riezka.
"Oh, tadi aku habis ketemu sama Viola, tapi dia sudah pergi."
"Oh, ya sudah. Ayo."
Menjelang Magrib Viola baru tiba di Mansion. Dia meletakkan barang-barang belanjaannya di atas kasur, lalu mandi.
Makan malam ini tanpa kehadiran Marva dan Rei. Seperti biasa, mereka makan tanpa ada yang mengeluarkan suara, hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Tidak ada makanan sederhana seperti tadi pagi. Semua terlihat mewah dan tentu saja bergizi.
"Suruh pelayan untuk menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam untuk Marva dan Rei selama mereka di rumah sakit. Cicit-cicitku harus sehat dan makan makanan yang bergizi. Mereka harus tumbuh dengan baik dan lahir dengan selamat," ucap Frans setelah mereka semua selesai makan malam.
"Cicit-cicit?" tanya Viola tak mengerti.
"Iya, Rei ternyata hamil anak kembar. Marva akannmendapat dua anak sekaligus. Benar-benar luar biasa. Setelah menuggu selama tiga tahu, akhirnya papa dan mama akan segera menjadi kakek dan nenek untuk bayi kembar."
Viola meremas tangannya, perasaannya semakin kacau memdengar kabar ini.
Satu bayi saja statusku bisa terancam, apalagi dua sekaligus. Bisa-bisa aku benar-benar tersingkir dari kehidupan Marva.
"Oh, begitu."
Viola memaksakan senyum, meski dalam hati terus berteriak tidak terima.
Marva itu suamiku, milikku, tidak ada yang boleh merebutnya dariku.
Di rumah sakit
Marva sudah menyuruh sopirnya untuk membeli susu hamil tadi siang, saat tahu bahwa Rei harus dirawat di rumah sakit. Berbagai rasa susu ada di atas meja.
"Tadi siang kamu sudah minum susu yang rasa coklat. Sekarang mau minum yang rasa apa?"
"Yang rasa coklat lagi saja, Kak. Sayang kalau harus membuka yang baru sedangkan yanv coklat masib banyak banget."
"Ya gak apa-apa, daripada kami nanti bosan minum yang rasa itu-itu terus."
Aku tidak akan mungkin bosan. Aku tidak pernah ingat kapan terakhir kali aku minum susu. Atau mungkin aku tidak pernah minum susu sebelumnya? Aku juga sering memakan makanan yang sama selama berhari-hari. Jika aku mengalah pada bosan, mungkin sudah lama aku dan nenek mati kelaparan.
"Bagaimana kalau sekarang rasa vanila?"
"Terserah Kakak saja."
Marva lalu membuatkan susu rasa vanila untuk Rei, setelah itu memotong buah-buahan yang dikirimkan mamanya melalui sopir.
"Apa ada makanan yang ingin kamu makan untuk nanti malam atau besok?"
"Enggak, Kak. Aku bisa makan apa saja yang ada."
Dia tidak pernah ribet. Apa karena memang tidak ada, atau karena tidak ingin merepotkan aku? Atau karena takut untuk mengatakannya?