NovelToon NovelToon
OTW Salihah

OTW Salihah

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Nela Kurniaty Idris

Tadinya berjudul OTW Soleha- dibenarkan sesuai KBBI dan novel cetaknya Ayoo beli.

Hidup adalah pilihan, namun takdir adalah sebuah ketetapan. Bukankah kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita akan dilahirkan ? Begitulah yang selalu membuat Bening tidak pernah menyesali hidup yang di jalaninya

Dia besar dan tumbuh di pemukiman lokalisasi prostitusi, Jauh dari pendidikan moral,tata krama, apalagi agama. Yang dia tau, dia dan Ibunya adalah seorang Muslim. Tanpa dia pernah tau apa kegunaan agama itu sendiri hidupnya.

Dia selalu punya rumus berdamai dengan takdir, itu yang membuatnya mampu melewati lingkungan sosial yang menghina, mengucilkan dan selalu menganggapnya "Anak Haram".

Bening remaja mampu melewati badai kepahitan dan membalas semua hinaan dengan senyuman bangga. Bening berada di puncak karirnya sebagai seorang Fashion designer di usia belia.

Sampai pada satu titik balik yang membawanya jatuh dan hampa, sehingga dia mencari apa penyebabnya. Apakah takdir selalu berbaik hati mengiringi perjalanannya mencari jati diri ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAHROM ATAU BUKAN?

Muhammad Iqbar

Ejanya dalam hati saat mencocokkan nama di lembar laporan dengan papan nama yang terconggok di atas meja.

"Kamu mengenal saya?" tanya Iqbar heran. Iqbar ini hampir sama dengan Ahmad, jarang sekali melihat mata lawan  bicaranya. Padahal dia sedang berbicara dengan Bening tapi bola matanya berpura-pura sedang membaca laporan.

"Yaampun ustadz, iya saya kenal. Ustadz kemarin yang ngisi tausiyah pas pesantren ramadhan di sekolah saya," tutur Bening dengan hebohnya.

"Ingat gak ustadz sama saya?" tanya Bening antusias.

Iqbar nampak memicingkan matanya, dia memang merasa pernah melihat Bening. Tapi dia tidak persis dimana mereka pernah berjumpa, yang jelas bukan di sekolah.

"Gak ingat ya ustadz? Itu loh yang pas minta tanda tangan ustadz, saya pakai mukena," Bening menggerakkan tangannya seolah sedang menggambar bentuk mukena dikepalanya.

"Hampir semua siswa perempuan yang minta tanda tangan memang pakai mukena kan?, haha. Yasudah tidak terlalu penting kita pernah ketemu atau tidak.  Jangan panggil ustadz, panggil bapak saja seperti tadi kamu memanggil saya," protes Iqbar.

"Eh, iya...iya pak, maaf," Bening baru sadar dia adalah siswa magang yang sedang bebicara dengan pimpinan. Penentu nasib nilai praktek kerjanya. "Em, maaf. Bapak yang punya Swadaya Grup? Eh mak...maksud saya, Bapak Pimpinan disini?" pandangannya menyapu seisi ruangan besar itu.

Iqbar terpingkal sendiri mendengar penuturan polos dari bibir Bening. Padalah tadi Bening sangat tegang saat pertama kali memasuki ruangan. Belum ada setengah jam, kenapa sudah tidak bisa mengendalikan diri seperti ini? Belum pernah ada karyawan seatraktif Bening.

Bening heran melihat Iqbar yang tidak menjawab pertanyaanya dan malah menertawakannya.

"Menurut kamu bagaimana?"

"Ya...iya karena Bapak duduk disitu," menunjuk kursi tempat duduk Iqbar, "Ya, ya berarti iya bapak Pimpinannya," ucap Bening lagi.

"Iya...Bening," membaca nama di halaman depan laporan. "Saya pimpinan di perusahaan ini, ini buktinya kamu minta tanda tangan saya kan?"

"Nah iyaa itu, bener berarti! Tapi kenapa kemaren Ustadz Iqbar, eh maksud saya Pak Iqbar mengisi tausiyah di sekolah saya? Oh, bapak terima panggilan ceramah keliling juga ya?" tanyanya lagi dengan ekspresi tidak berdosa.

Iqbar refleks tertawa bahkan sampai mengeluarkan suara. Dia mengurut keningnya sangking tak habis pikir bagaimana bisa Bening menyebut profesinya sebagai tukang ceramah keliling.

"Iya itung-itung sampingan," jawab Iqbar asal.

"Oooh," saut Bening sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Astaghfirullah, maaf...maaf. Tidak begitu Bening. Swadaya grup ini salah satu mitra industri sekolah kamu. Setiap tahunnya selalu ada seleksi siswa magang untuk ditempatkan disini, dan para karyawan juga rata-rata alumni dari SMK Global. Hehehe," lagi-lagi Iqbar tidak tahan untuk tidak tertawa melihat Bening yang masih kebingungan.

"Yayasan Global Karya itu juga yayasan keluarga salah satu kerabat saya, jadi memang akan selalu saling berhubungan. Kemarin malam, kebetulan pematerinya yang sudah diundang tidak bisa hadir, dan kebetulan juga saya ada disana untuk menghadiri undangan buka bersama bersama keluarga lainnya, ya jadi saya diminta menggantikan untuk mengisi materi, begitu," urai Iqbar panjang lebar.

"Ooooh...pantas saja bapak tidak memakai pakaian seperti ustadz pada umumnya," celetuk Bening.

"Kamu ada-ada saja, ini laporan kamu silahkan diambil! Selamat ya, terimakasih kamu sudah bekerja sekaligus belajar dengan baik selama dua bulan disini, nanti Dewi akan kirimkan e-sertifikat yang bisa kamu gunakan jika setelah sekolah kamu mau bergabung menjadi keluarga besar Swadaya Grup. Dengan sertifikat itu kamu dianggap sudah lulus training,"

"Saya yang berterimakasih sudah diberi kesempatan untuk magang disini pak, terimakasih banyak. Saya permisi dulu." Berdiri membawa dokumen itu ditangannya.

Iqbar ikut berdiri dengan sopan mempersilahkan Bening kembali ke pabrik untuk menyelesaikan pekerjaanya.

Sepanjang perjalanan kembali ke ruang produksi, Bening menimang-nimang laporannya dengan girang. Usai sudah masa magangnya. Selain pengalaman yang luar biasa, Bening juga mendapatkan nilai yang hampir sempurna.

"Pak Iqbar tadi, iya sih ganteng. Hiyy tapi kok selera gue jadi om om sih? ihh engga engga ga banget. Humm, kalau kak Humai belum punya suami cocok banget dah model begitu buat Kak Humai, ehh apasih fikiran gue? Astagfirullahaladzim..." menepuk keningnya dengan dokumen yang dia bawa.

***

Bening sudah memberesi semua barang-barangnya, dia menutup loker dan menyerahkan kunci kepada Kak Dewi. Setelah perpisahan kecil-kecilan dengan karyawan bagian produksi, kini sudah waktunya dia kembali ke rumah.

Bening menyandang tas, mengganti sendal dengan sepatu kets lalu berjalan menuju ke luar area pabrik bersama beberap karyawan yang biasa menunggu bus yang akan mengantar mereka pulang.

Bus berhenti tepat sebrang jalan butik yang memang berada di tepi jalan raya. Dari jendela tempat duduknya, Bening bisa melihat mobil Bern terparkir disana. Dia tersenyum riang mengetahui Bern ada dirumah.

Huh, kenapa gue seneng?

***

Bening meletakkan sepatu pada raknya. Dia melihat Bern bersandar di kursi sambil menonton televisi dengan santai seolah berada dirumah sendiri. Padahal dirumahnya dia sama sekali tidak pernah menonton TV.

"Hey, udah pulang?" sapa Bern saat melihat Bening mengendap-endap masuk ke dalam kamar.

"Eh, ketauan. Hehehe,"

"Kamu ngapain mengendap-endap begitu? sana buruan ganti baju! tante Sandra tadi pergi ke swalayan, Kamu langsung makan malam aja dulu, Abis itu kita jemput mami kamu sekalian ke rumah madam Ines," ucap Bern.

"Huuum...." Bening berlalu dari hadapan Bern menuju ke kamarnya.

Sesaat kemudian Bening kembali dengan pakaian yang sudah berganti. Dia hanya memakai kaos misty lengan pendek dengan celana jeans setengah tiang. Rambut pendek ikal kecoklatannya dibiarkan tergerai dan diselipkannya di belakang telinga.

"Bening?" Bern terkejut melihat Bening keluar dengan berpenampilan seperti itu. Sudah sejak beberapa bulan yang lalu, Bern tidak pernah lagi melihat Bening membuka jilbab di hadapannya. Bern senang akan hal itu. Tapi kenapa hari ini dia kembali membukanya?

" Ayo makan! aku laper," ucap Bening tanpa merasa bersalah.

"Itu? baju kamu? em... hnn... jil...jilbab kamu?"

"Kenapa? aku gerah. Mentor ku bilang, menutup aurat itu di hadapan non mahrom aja kok. Eh tunggu, Mr.Stuart gak ada kan?" menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan Mr.Stuart memang tidak ada diruangan itu.

"Lalu kamu anggap aku ini apa?" protes Bern serius.

"Kamu kan...."

"Jangan keterlaluan Ning! aku gak suka ya kamu seperti itu. Sana ganti baju mu yang benar, pakai jilbab mu seperti biasanya," Bern mendorong tubuh Bening agar segera kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya lagi. Dia memijat keras keningnya yang tidak mengerti dengan sikap Bening akhir-akhir ini.

***

1
Endriani
nah benar iqbar kan suami humai
Endriani
iqbal suami hmay kan ya
Endriani
ben anak viona sebelum sama samuel sepeeti nyq
She_Rha🍁
Ning I'm coming dari masa depan /Chuckle/
Lina M.
Masyaallah,, sebuah cara kembali pada-Nya yang senantiasa dirindukan setiap manusia di dunia 😊
Nangis terharu aku kak enka baca novel terindahmu, serasa aku diposisinya, semoga bisa menjadikan kita hamba yg selalu mencari jalan untuk selalu taat kepada Sang Pemilik Jiwa&Raga ❤
may
Panitia hari kiamat😭apaan lagi ini
may
Tersesat kelamin😭ya ampun ngakak sekaleee akuuu🤣
may
Mas ahmad cemburu?
may
jadi.....
bern kakanya bening? 😯
nana's Apel
ternyata ini karya dah lama & aku baru baca di Januari 2025
Siti Hany
jd ilfil sma bening... kabor💃💃💃
Siti Hany
rasakan kmu bening gmn sakit gk ya sakit lh pasti... karma d byr kontan
Siti Hany
aku ikutan sedih Bern.,.. sabar ya msh bnyk Bening² laen d luarn sana
Siti Hany
gw jd gedek sma lo bening... 😡😡
Siti Hany
thor ko tega bngt sih kmu sma Bern😭😭😭
Siti Hany
kejutan bngt ni author 😤
Siti Hany
tegang thor🤭
Siti Hany
😂😂😂😂
Rosida maghrib
sedihhh banget gx kebayang kehilangan pasangan hidup selamanya
Rosida maghrib
part paling sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!