Rafasya tak mengira jika kelebihannya membuatnya harus kehilangan orang-orang yang di cintainya.
Rafa dan Raka akan berjuang demi cinta mereka, meski harus menghadapi semua tantangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hantu sekolah
malam ini Raka mengikuti keinginan Jinny yang ingin menyaksikan anak-anak melakukan jelangkung.
Raka memilih mengawasi dari jauh kegiatan itu, dia melihat bersama dua orang satpam yang tengah berjaga.
"anak-anak bandel ini? kenapa bisa masuk ke area belakang gudang tua sih," kesal Karman satpam lama sekolah ini.
"tenang pak, di sana sebenarnya aman, cuma kadang anak-anak suka menakut-nakuti adik kelasnya saja," jawab Raka.
"mereka niat banget pak Raka, lihat saja segala bawa sesajen, mereka ini mau main jelangkung apa mau pesugihan," kata pak Agus.
"kalau begitu bahaya pak, kita samperin kesana, ayo pak Karman," ajak Raka buru-buru.
mereka pun berlari untuk menghampiri kelima orang itu yang mulai menyalakan dupa dan mulai memanggil para arwah.
seketika tubuh Raka merasakan aura yang begitu kuat menerpanya, "berhenti!" teriak Raka dari kejauhan.
saat sampai kelima siswa itu terkejut bukan main, karena Raka langsung membalik sesaji itu.
"kalian apa-apaan, kalian kira ini tempat apa sampai berani melakukan ini?" teriak Raka marah.
dari balik kegelapan sesosok mahluk merasa senang melihat Raka datang, "maafkan kami pak, kami hanya ingin membuktikan jika tak ada hantu di sekolah ini," jawab Eko.
"iya pak, lagi pula mainan ini tak mungkin berhasil kan," jawab Dwi songong.
"aku terlambat," gumam Raka merasakan kehadiran mahluk yang berhasil di undang oleh muridnya.
Raka berbalik, sesosok mahluk tinggi besar dengan bulu hitam lebat yang berdiri di depannya.
bahkan mahluk itu menunjukkan taring tajam dan mata merah menatap Raka.
"wes tak enteni, awakmu teko Saiki, (sudah di tunggu, kamu datang sekarang)," kata mahluk itu.
"minggat, aku gak Wedi Karo awakmu,(pergi, aku tak takut denan mu)," jawab Raka.
makhluk itu pun menyerang Raka, tapi terpental karena Raka memiliki perlindungan tersendiri.
"pak Karman bawa mereka ke pos satpam, jangan berani ada yang pulang sebelum saya datang, jika kalian tak ingin celaka," kata Raka dingin.
pak Karman pun mengiring kelimanya ke pos satpam, sedang Agus seperti sedang menonton film horor nyata.
semua bangku rusak berterbangan ke arah Raka tapi pria itu berhasil menangkisnya.
Raka mengeluarkan golok milik Rafa yang di temukan, Raka mencabutnya kemudian menyerang genderuwo itu.
"AAAAA.... menungso goblok, mati koen Nang tangan ku," teriak mahluk itu.
Raka membaca ayat suci Al-Quran kemudian meniupkan pada golok itu dan sekali tebas genderuwo itu pun hilang.
Raka masih melihat area itu, Raka menanamkan pagar ghaib agar para mahluk tak bisa mengacau di sekolah lagi.
Jinny baru kali ini melihat Raka bertarung seperti itu, tapi dia tak ingin berurusan dengan mahluk menyeramkan seperti tadi.
"ayo kita ke pos satpam," ajak Raka.
"siap," jawab Jinny.
baru juga di area pos satpam, Raka merasakan aura lain di tempat itu.
"em... kakak ganteng, sepertinya murid mu ketempelan deh," bisik Jinny melihat sosok anak kecil di kaki Eko.
"Eko kamu dari mana?" tanya Raka melihat kearah kaki muridnya.
"saya dari rumah pak, memang kenapa?" tanya Eko ketakutan.
dia tau jika Raka menyadari ada yang salah padanya, "kamu yakin bukan dari kuburan untuk mengambil tanah," tebak Raka.
semua orang langsung mundur setelah mendengar itu, "berarti tanah tadi itu," kata Wawan ketakutan.
"tidak kok pak, itu tanah belakang rumah saya," jawab Eko menghindar.
hantu bocah itu terus memeluk kaki Eko, sambil mengejek Raka yang melihatnya.
"AA..... sakit!" teriak Eko saat hantu itu mengigit kakinya.
"dasar kalian ini," geram Raka yang langsung menarik arwah anak kecil itu.
Raka membaca ayat kursi dan alfatihah, tapi sesaat hantu bocah itu malah menutup mata.
seketika Raka terduduk lemah dan tatapan kosong, dia seperti masuk kedalam sebuah ingatan.
Raka berada di sebuah rumah yang begitu bagus, disana ada seorang anak yang sedang bermain dengan sang ayah.
raka bisa mengenali anak itu, dia adalah hantu bocah kecil tadi.
"apa ini?" gumam Raka yang tak bisa menyentuh mereka.
tiba-tiba dia berpindah ke suasana rumah saat malam, bocah itu terbangun dan kemudian melihat sekelebat bayangan wanita.
karena penasaran dengan itu, bocah itu menghampiri bayangan itu, dia mengintip ke sebuah ruangan.
"apa yang dia lihat ...."
Raka ikut mengintip, dia terkejut saat melihat ke dalam ruangan, ternyata ayah bocah itu sedang berhubungan badan dengan pengasuh bocah itu.
"kapan kamu akan menceraikan dia, dan segera menjadikan aku ibu Arif," tanya pengasuh itu.
"tunggu dia melahirkan, dan setelah itu aku akan mengusirnya," jawab ayah Arif.
"kamu jangan berbohong atau aku bisa membongkar segalanya," kata pengasuh itu mengancam.
Arif kecil menangis mendengar itu, Arif berlari menembus badan Raka tapi sayang karena gelap.
Arif terjatuh dari lantai dua rumah itu dan meregang nyawa, kedua orang itu pun hanya terkejut.
tapi saat sang ayah ingin menolongnya, pengasuh itu mengeleng.
Raka pun merasa marah tapi dia tak bisa menyentuh ayah Arif dan pengasuh itu, "biarkan saja, kita pura-pura tak tau."
mereka pun pergi dari sana, setelah mendorong ayah Arif ke ruang kerja.
pengasuh itu turun dan tersenyum melihat bocah itu meregang nyawa, "mampus."
dengan sengaja pengasuh itu memecahkan sebuah vas di samping Arif.
ibu Arif terbangun dan melihatnya, begitupun dengan ayah Arif yang pura-pura baru keluar dari ruang kerja.
"apa itu yah?" tanya ibu Arif sambil menyalakan lampu.
"entahlah," jawab pria itu.
wanita itu terkejut saat melihat putranya sudah bersimbah darah di lantai bawah.
Raka hanya bisa menyaksikan adegan itu tanpa bisa melakukan apapun.
"pak Raka, pak ..." panggil pak Agus yang terus mengguncang tubuh Raka.
pria itu hanya menangis setelah itu, dan arwah Arif melambai dari jauh.