Tiara nama panggilan yang cantik, secantik orang yang menyandangnya
Namun siapa sangkah ada terselip kisah kelam dibalik nama cantiknya.Kehilangan orang tua, suami dan adik nya membuatnya menjadi wanita tangguh demi sang anak dan keluarga barunya
Bram ayodya seorang pembisnis kenamaan yang menyamar jadi seorang pengajar disebuah sanggar seni.
Karna hoby nya melukis Dia bisa menghabiskan waktunya berlama-lama didepan kanvas
Dion mantan suami Tiara.
pemuda baik yang hanya menjadi korban kelicikan orang-orang terdekatnya. Kehilangan cinta sejatinya hanya karna sebuah kebohongan.
Willi dokter tampan nan rupawan. Dokter ternama yang tidak pernah sepi pasien.
Elisya seorang publick figure yang sedang naik daun.
Bertemu tanpa sengaja dan menjalin persahabatan dengan Tiara, namun siapa sangkah ada kisah dibalik ketenaran Elisya
Penasaran dengan kisah mereka?
Ikuti kisah mereka dalam kisah Tiara yang Serra buat, selamat menikmati dan semoga terhibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serra R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiara
Sinar matahari pagi menyembul, memberi kehangatan di pagi yang dingin. Udara sejuk dipinggiran kota menambah suasana damai. Pagi ini Tiara dan Nara sudah sibuk di dapur, membuat sarapan. Tak lupa Tiara juga membuat penganan untuk bekal nanti saat jalan-jalan. Semalam Bram berjanji akan mengajaknya berkeliling kebun sayur dan buah-buahan yang berada disekitar daerah tersebut.
" Nara, bagaimana tidurmu semalam?"
" Baik sekali Tiara, baru tadi malam aku bisa tidur nyenyak hahaha" Nara tertawa.
Memang benar apa yang diucapkan Nara, semalam dia tertidur dengan pulas setelah puas berkirim pesan dengan Doni. Apalagi di bungalow ini ada pengawal yang selalu berjaga. Mark dan Suta sendiri turun langsung menjaga boss mereka, menjadikan rasa was-was pada diri Nara yang biasanya selalu waspada karena harus menjaga Tiara sedikit enak Tidur.
Tiara tersenyum, Nara sudah banyak berubah belakangan ini. Dia lebih banyak tersenyum dan ceria. Tidak seperti awal-awal bertemu dengan Tiara.
" Kamu membuat makanan banyak sekali Tiara, apa akan ada tamu nanti?". Nara bertanya melihat banyaknya makanan yang Tiara siapkan.
" Bram bilang kita akan jalan-jalan nanti, aku menyiapkan semua ini supaya kesannya kita lagi camping"
Tiara tersenyum membayangkan dia dan semua orang makan bersama, menggelar tikar dan saling bercerita.
" Kamu memikirkan apa Tiara, kenapa senyum-senyum begitu?"
Tiara mengangkat bahunya dan tertawa, Nara hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Tiara yang absurd itu.
" Kau memang terkadang bertingkah aneh" Acuhnya kemudian mengangkat brownise dari panggangan.
Sementara itu dalam kamar
" Hei anak nakal, sudah bangun ya. Papa masih mengantuk jangan berisik ya." Bram mengangkat Cameli dari keranjangnya dan membawanya berpindah ke kasur agar dia bisa kembali memejamkan matanya.
Awalnya boneka kecilnya itu menurut, tapi karena bosan lama-lama dia pun mengoceh dalam pelukan Bram. Tentu saja dengan ocehan yang hanya dia sendiri yang tau.
" Sayang, papa masih mengantuk." Ucap nya masih enggan membuka mata ketika tangan-tangan mungil tersebut sibuk menggerayangi wajahnya.
Bram membuka matanya, diciuminya sang boneka yang malah tertawa tanpa dosa karena telah mengganggu tidurnya. Bram masih merasakan kantuk yang berat.
Mereka mengakhiri obrolannya sekitar jam tiga dini hari, namun Bram baru bisa tertidur sekitar jam lima pagi.
Siang ini Willi akan kembali ke kota bersama Suta, sesuai dengan pembagian tugas yang mereka lakukan. Willi akan membawa sampel dari Nara dan juga Andrew untuk cek DNA, sementara Suta kembali dengan segala urusan kantor Bram.
...🌹🌹🌹🌹...
Mark berjalan mondar mandir didepan dapur, dia bingung harus bagaimana sekarang. Pasalnya dia mendapatkan tugas untuk mengambil sampel rambut Nara sebagai bahan yang dibutuhkan Willi. Tapi sekarang, jangankan rambut mendekatpun Mark belum mendapatkan kesempatan itu. Tiara masih senantiasa berada didapur dengan segala macam penganan olahannya.
Mark memutar otaknya mencari cara dan alasan agar bisa masuk kedapur dan berbicara dengan Nara, hanya berdekatan dengannyalah bisa membuat kemungkinan bagi Mark mendapatkan sehelai rambut Nara.
" Aku harus bagaimana? astaga kenapa tugas ini lebih berat dibandingkan menghajar preman suruhan Nyonya Amel" Gerutu Mark menggaruk kepalanya kasar.
Mark berjengkit kaget ketika sebuah tangan memukul pundaknya pelan. Segera dia menoleh dan mendapati Suta sedang menaikkan alis dan dagunya sebagai kode. Mark mengikuti Suta yang berjalan keruang dalam.
" Kau kenapa Mark? ku perhatikan dari tadi kau hanya berputar-putar dan mondar mandir didepan dapur, apa kau punya masalah?"
Suta bertanya setelah mengajak Mark duduk diruang tengah, dia tidak mau ada yang curiga jika dia mengobrol dengan Mark dalam keadaan berdiri.
" Aku bingung mencari alasan untuk bisa masuk ke dapur" Jawab Mark sedikit pelan
Suta menaikkan alisnya, dia sungguh tidak mengerti maksud Mark.
" Aih, aku mendapat tugas untuk mencari sampel dari Nara kau tau itu Suta" Mark menjelaskan dikit tentang masalahnya.
Namun reaksi Suta sungguh diluar dugaannya. Bukannya simpati dan membantu mencari solusi. Suta malah tertawa terbahak dengan keluhan Mark.
" Ayolah Mark, ada apa denganmu?. Tugas ini sangat muda dibanding tugas mengintai yang biasa kamu lakukan" Bram kembali tertawa
" Tapi ini sulit, sejak tadi aku kebingungan mencari alasan agar aku bisa masuk ke dapur dan mendekat padanya"
Hahahahah
" Ayolah Suta, bantu aku. Kau ini bukannya membantu malah menertawakanku." Mark menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dengan kesal.
" Mudah saja Mark, kau tinggal masuk saja. Mengambil gelas dan kemudian mengisinya dengan air minum, berjalan didekatnya dan pura-pura tidak sengaja menyenggolnya. Saat itu kau bisa mengambil kesempatan mengambil rambutnya. Mudah bukan?" Suta berbicara setelah berhasil menguasai tawanya.
" Ah kau sungguh genius Suta, kenapa aku tidak memikirkan cara ini tadi" Mark meninju lengan Suta pelan senyum mereka diwajah nya
" Kenapa kau susah mencari cara? jangan bilang kau lagi naksir dengannya Mark?" Suta memicingkan mata
" Si..siapa yang naksir cewek galak seperti dia" Mark menjawab salah tingkah
" Kau benar, dia cewek galak yang pandai bela diri. Kau harus hati-hati bila berdekatan dengannya, bisa-bisa kau jadi sasaran tendangan mautnya." Suta memenasi Mark yang terlihat merenung.
" Aku bahkan sudah merasakan tendangannya" Gumam Mark pelan namun masih bisa didengar oleh Suta.
Suta menggeleng kemudian berdiri dan beranjak pergi setelah menepuk pundak Mark dan mengucapkan kata "Selamat berjuang" padanya.
Suta tersenyum, ada lagi yang bisa terlihat bodoh karena cinta selain sang boss.
...🌹🌹🌹🌹...
" Sayang, sayang.." Bram keluar dari kamar mencari keberadaan Tiara. Sungguh dia masih sangat mengantuk.
Sementara sang boneka imut masih saja mengoceh dan memeluk leher sang Papa.
" Eh mas, Cameli dah bangun. Maaf ya mas aku keasyikan bikin kue tadi" Tiara berjalan tergesa setelah mendengar suara Bram memanggilnya.
" Apakah sudah selesai?" Tanya Bram sambil mengecup kepala sang istri. Rutinitas yang tidak pernah dia tinggalkan setiap harinya
" Masih satu loyang lagi, tapi ada Nara yang membantuku mas" Tiara mengambil alih Cameli dari dekapan Bram.
" Uluh uluh anak cantik udah bangun" Tiara menciumi sang boneka yang tertawa kegelian " Anak cantik bau acem, mandi yuk sayang biar makin cantik" Tiara berjalan kembali masuk ke kamar.
Bram masih setia mengekor sang istri.
" Mas mau dimandiin juga?" Tiara menoleh pada Bram
" Jika kamu tidak kaberatan sayang" Kerling Bram
Entahlah rasa kantuk yang tadi masih menyerang tiba-tiba hilang melihat senyum ceria sang istri, Bram teringat janjinya. Hari ini dia berjanji akan mengajak Tiara berkeliling kebun sayur dan buah.
" Kalau masih mengantuk sebaiknya mas tidur lagi sebentar" Tiara berucap sambil melewati Bram dan berjalan menuju kamar mandi membawa Cameli dalam gendongannya.
" Tidak, aku mau bermain sama anak nakal". Bram kembali mengekor sang istri.
" Mas kamu bisa basah semua kalau mendekat, sudah tau Cameli nakal" Tiara melebarkan matanya, pasalnya Bram masih saja mengekor
" Aku juga mau mandi sayang" Ucap Bram santai sambil melepas kaos yang dia pakai.
Tiara mendesah pelan, suami tampannya tidak mau mengalah sama Camelia.
TO BE CONTINUE
Tepok jidat Bram hahaha
Mark tetap semangat dan berusaha ya, ingat ada saingan berat lo eits belum tau ya dia ahhaahh
Makasih banyak atas dukungan teman-teman, semoga cerita ku ini bisa menjadi teman disaat santai
Jangan lupa dukungannya🤭Love you teman-teman🤗
Ehh semua bahagia pokoknya 😚😁
Mark siap2 puasa nih kata Abang, tak apa ya Mark puasa juga demi istri tercinta dan si twins buah hati kalian 😁😚
Nah, papah Bram jangan bicara sembarangan didepan Qee dia pasti keppo apa yang papahnya ucapkan😁
Semangat berkarya dan sukses selalu Thor 💪😚