Drama, Romance
Amyra Rahma, seorang gadis pendiam yang cukup peka dan juga cuek pada sekitarnya di saat bersamaan. Tapi, Isna Syifa -biasa dipanggil Isyi- adalah pengecualian, karena ia adalah satu-satunya sahabat Ara. Ara, begitulah gadis itu dipanggil.
Pada suatu hari, tiba-tiba Isyi mengajukan sebuah permintaan yang sangat aneh menurut Ara. Isyi meminta Ara untuk menjadi madunya! Isyi, are you crazy!?
Namun, pada akhirnya Ara tetap tidak bisa menolak permintaan Isyi, pun dengan Imran -suami Isyi- yang dengan berat hati harus memenuhi permintaan konyol istrinya, Isyi.
Dan kemudian, seiring waktu, sebuah peristiwa yang masih menjadi misteri mulai terbuka secara perlahan..
Cerita ini hanya fiksi, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat atau alur, itu adalah ketidaksengajaan.
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grayalfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 33
Ara memejamkan matanya, terlihat dahinya sedikit berkerut dan refleks tangannya memegang kepalanya yang terasa pening.
Ia mencoba mengingat-ingat lagi apa yang dilihatnya di kedai es krim tadi. Tapi tak ada lagi, hanya sepasang perempuan dan laki-laki yang nampak sedang duduk dan menikmati es krim disana.
Ia melihat dengan jelas bahwa perempuan itu adalah dirinya, tapi ia tak tahu siapa laki-laki yang sedang bersamanya saat itu? Ara tak bisa melihat wajahnya karena ia hanya melihat punggung nya saja.
Sia-sia saja. Ia malah merasa kepalanya tambah pening. Akhirnya, Ara memutuskan untuk tidur saja. Sepertinya ia kelelahan sampai-sampai ia mulai melihat sesuatu yang aneh, ah lebih tepatnya seperti mengingat sesuatu padahal ia tidak merasa pernah melakukannya. Apa ada sesuatu yang ia lupakan? Rasanya tidak. Pikir Ara. Ia ingat betul apapun yang pernah ia lakukan. Lalu apa yang akhir-akhir ini selalu ia lihat dalam bayang-bayang ingatannya?! Apa itu hanya halusinasi nya saja!?
Haah..
Bukannya tertidur, sepertinya ia malah berpikir terlalu banyak. Ditariknya nafas berulang kali, berulang kali pula ia menghembuskannya.
Membalik posisi tidurnya dari telentang kemudian menyamping ke kanan. Ara mencari posisi yang membuatnya nyaman. Dan perlahan matanya mulai tertutup
•••
Dengan gerakan perlahan, Ara membuka cincin yang melingkar di jari nya, mengamati cincin itu, dilihatnya ada tulisan di dalam cincin itu. Belum sempat ia membacanya tiba-tiba...
Tok tok tok..
Pats!
Suara ketukan pintu membuat Ara membuka matanya dengan paksa, memaksanya kembali pada alam nyata dan membawa kembali kesadarannya dari alam mimpi.
Hah hah..
Mimpi apa itu!? Tanya batin Ara masih berusaha mengatur nafasnya.
"Araa" Sebuah suara memanggilnya dari balik pintu.
Itu Isyi.
Ceklek.
Pintu terbuka. Isyi memutuskan membuka pintu setelah beberapa kali mengetuk pintu, ia tak mendapati jawaban dari dalam.
"Lho, kemana Ara?" Gumam Isyi bertanya pada dirinya sendiri.
"Aku disini." Ara keluar dari kamar mandi dengan membawa handuk. Ia mengelap wajah dan tangannya yang terlihat basah.
"Ada apa?" Tanya Ara masih sibuk mengelap wajah dan tangannya dengan handuk.
"Ah iya, makan malam sudah siap. Mau aku bawakan makanannya kesini?" Tanya Isyi perhatian.
"Em, tidak usah. Aku akan turun." Ucap Ara.
"Aku akan ganti baju dulu." Lanjut Ara sambil melihat bajunya yang sedikit basah di bagian dada dan lengannya, masih baju yang ia kenakan sejak pagi.
"Baiklah." Isyi mengangguk mengerti.
"Perlu bantuan ku?" Isyi menawarkan bantuan.
Ara terkekeh pelan, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Aku baik-baik saja, Isyi. Aku bisa mengganti bajuku sendiri." Ucap Isyi masih dengan senyum di wajahnya.
Isyi ikut tertawa lirih.
"Baiklah. Aku akan menunggumu disini." Isyi mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
Ara kembali geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Yaa, terserah kau saja."
"Iya, bagaimana kalau kau pingsan lagi ketika hendak memakai pakaian, kan!? Jadi aku akan menunggu dan segera menolongmu jika sampai itu terjadi lagi."
Ara hanya tersenyum menanggapi ucapan Isyi.
Mamah Diana tersenyum pada dua perempuan yang sedang menuruni anak tangga dan berjalan menghampirinya menuju meja makan. Kedua perempuan itu juga menampilkan senyum manis mereka.
"Sudah lebih baik?" Tanya mamah Diana mendahului Imran yang baru saja hendak membuka mulutnya. Imran urung bertanya karena pertanyaan mamah Diana sudah mewakilinya.
"Ara baik mah, Ara kan kuat." Ucap Ara sambil tersenyum, mengangkat kedua tangannya membentuk huruf 'U' seolah sedang memperlihatkan otot lengannya.
Mamah Diana kembali tersenyum melihat kelakuan putrinya itu. Diusapnya puncak kepala Ara dengan lembut penuh sayang. Senyum Ara tak luntur. Senyum untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.
Ara mengalihkan pandangannya pada Imran yang duduk depannya. Saling melempar senyum.
Sesaat Isyi menatap Ara dan Imran bergantian. Tapi tak lama, segera Isyi mengalihkan perhatiannya. Ia mengambil dan mengisi piring Imran.
"Makan yang banyak, biar tambah kuat." Ucap Imran sambil tersenyum. Ia menambah lagi nasi dan lauknya pada piring Ara.
"Maas.." Ara merengek kemudian cemberut. Padahal ia sengaja mengurangi porsinya karena ***** makannya berkurang. Suaminya itu malah menambah lagi isi piringnya, Ara tak yakin bisa menghabiskannya.
"Ini terlalu banyak, mas." Protes Ara.
"Terlalu banyak apanya? Cepat makan dan habiskan." Titah Imran.
"Atau mau mas suapin, hm?" Tanya Imran dengan seringai tipisnya, ketika dilihatnya belum satu suapan pun masuk ke mulut Ara.
Ish..
Segera Ara mengambil sendok dan memasukkan suapan pertamanya dengan enggan, matanya mendelik pada Imran. Imran yang melihatnya hanya terkekeh lirih.
Menggemaskan. Batin Imran beropini.
Isyi menundukkan kepalanya, berusaha bersikap biasa dan tenang, meski sekelebat rasa sesak terbesit. Sekuat tenaga ia menahan sesaknya, ia tak boleh membiarkan rasa sesak menguasainya!
Mamah Diana memperhatikan ketiganya bergantian. Mulai dari putrinya, Ara. Beralih pada Imran kemudian Isyi. Ia juga dapat melihat Isyi yang nampak menahan perasaannya.
Kamu kuat Isyi, mamah tau kamu kuat.
•••
Mereka terlihat berkumpul di sofa depan tv. Ya, setelah makan malam, mereka memutuskan untuk menonton tv sambil mengobrol berbagai hal. Kecuali mamah Diana yang pamit untuk istirahat terlebih dahulu. Mamah Diana juga mengingatkan agar mereka tidak tidur terlalu larut, apalagi Ara.
"Oh" Imran seperti menyadari sesuatu. Suaranya mengundang perhatian kedua perempuan itu.
"Ada apa mas?" Isyi bertanya.
"Es krim." Ucap Imran.
Deg.
"Iya, es krim yang tadi kita beli." Ucap Imran lagi sambil menoleh pada Ara. Ara pingsan ketika mereka sedang menunggu es krim yang sedang mereka pesan. Karena sudah membayar, si penjaga kedai membantu memasukkan es krim ke dalam mobil Imran ketika Imran memangku Ara.
"Tadi, aku sudah menyimpannya di lemari es. Akan aku ambilkan."
Imran segera bangkit dan melesat menuju lemari es. Mengambil 1 cup besar es krim cokelat vanila.
"Tadi es krim nya hampir habis mencair karena aku baru ingat setelah membawa dan menunggumu siuman."
Imran sengaja membawa 3 sendok kecil. Dengan antusias ia membuka es krim itu. Dia memang menyukai es krim.
Melihat kedua perempuan itu tak menunjukkan pergerakan akan ikut menyantap es krim dengannya, Imran menatap Ara dan Isyi bergantian.
"Kalian tidak mau?" Tanya Imran kemudian memasukkan sesendok es krim ke mulutnya.
"Ah, mas tau, kalian mau mas suapin kan!? Baiklah, mas tidak keberatan."
Imran menyodorkan sesendok es krim pada Isyi. Isyi terdiam sesaat sambil menatap Imran yang juga menatapnya sambil tersenyum. Isyi menerima suapan Imran ketika Imran menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana? Enak kan!?" Tanya Imran yang dijawab anggukan oleh Isyi.
"Ara juga mau kan?" Imran beralih pada Ara.
"Ayo buka mulutmu." Ucap Imran karena Ara tak kunjung menyambut suapannya.
"Kau tidak suka? Bukankah tadi kau bersemangat sekali mengajakku membeli es krim?"
Ragu-ragu Ara membuka mulutnya. Rasa dingin dan manis memenuhi mulut Ara. Jantungnya serasa berdetak lebih cepat.
Deg.
Ara tersentak ketika jempol Imran mengusap lembut tepi bibirnya. Membersihkan es krim yang tertinggal di bibir Ara.
Mata Ara bertemu dengan tatapan Imran, kemudian tanpa sengaja Ara melihat tatapan Isyi yang menunjukkan ekspresi yang entah apa, yang pasti sepertinya baru kali ini Ara melihat air muka Isyi yang tak bisa ditebak nya.
Ara bangkit dari duduknya.
"Ma-maaf, sepertinya aku sudah mengantuk. Selamat malam." Ara pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban kedua orang yang menatap kepergiannya.
To be continued~