"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 11
"Aku pulang ya, Tante? Salam buat Alana." Setelah semalam menginap, akhirnya aku pamit. Bersyukur Om Ben mau mengantarku, tak bisa membayangkan betapa panjangnya omelan Ibu karena semalam aku tak pulang.
"Hati-hati, nanti aku sampaikan sama Alana. Tau kamu balik, pasti pengennya dia bolos lagi," seru Tante Lia seraya terkekeh.
"Oke Tante."
Aku masuk ke dalam mobil bersama Om Ben setelah berdada ria dengan Tante Lia.
Gini-gini, sebenarnya aku tak ingin jadi anak durhaka.
"Sudah, jangan panik. Biar Om yang jelasin ke Ibu kamu," ujar Om Ben kemudian melajukan mobilnya. Mobil hitam merk apansa itu melaju pelan membelah jalanan.
"Aku sih nggak takut diomelin, karena sudah biasa sih, Om."
"Terus jadi ke Jakartanya? Mau kerja dimana? Atau mau ikut kenalan, Om?" tawar Om Ben.
"Nanti aku pikir-pikir lagi, Om. Lagian di pabrik Mas Firman aku juga belum resign.
"Jadi kamu kerja di tempat Firman?" tanya Om Ben, ia cukup terkejut.
Perjalanan satu jam malah aku gunakan untuk cerita banyak-banyak sama Om Ben, dia benar-benar tak menyangka padaku yang manut-manut saja dibodohi oleh Naura. Mau gimana lagi, aku kan gak tahu kejadian sebenarnya kalau Mas Firman nggak cerita.
"Semua orang nggak percaya sama Firman, termasuk Ibumu karena Naura pintar memanipulasi keadaan dengan depresinya. Maaf, Om sih lebih percaya sama Firman."
"Mas Firman cerita sama, Om?"
Om Ben mengangguk, "alasan kenapa Om jarang ke tempat Ibumu. Sudah sampai nih, " ujar Om Ben membelokkan mobilnya masuk ke dalam gang.
Mendengar deru mobil, Ibu langsung keluar dan terkejut melihat kedatangan mobil Om Ben. Raut wajahnya keheranan, akan tetapi saat melihat kami turun Ibu bernapas lega.
"Jadi kamu ke rumah Om Ben!" meski galak dan sering kali membela Mbak Naura, ibu terlihat bernapa lega. Apa semalaman Ibu khawatir akan diriku yang menurutnya tak tahu dimana.
"Iya, Alana kangen jadi aku hubugi Hanin, Mbak!"
God! Gara-garaku, Om Ben jadi ikutan bohong.
Ibu mengangguk-ngangguk, "ayo masuk, Ben!"
Sedangkan aku melangkah lebih dulu dan lega rasanya rumah dalam keadaan sepi, "Mbak Nau udah pulang, Bu?"
"Iya."
Jawaban singkatnya membuat hatiku sedikit tercubit,
"Karena percuma nginep kalau bikin kamu nggak betah di rumah katanya."
"Aku cuma mau Mas Harsa nikahin Mbak Naura, kok." mencoba berkilah, bahkan Om Ben bisa mendengar jelas perdebatan kami di lorong dapur.
"Harsa kan pacar kamu, ya mana mungkin Naura mau!" sungut Ibu. "Lagi pula, belum tentu keluarga Harsa mau menerima Naura yang statusnya mantan istri Firman, mana laki itu nggak ada tanggung jawabnya sama Haikal."
Teh untuk Om Ben pun sudah jadi, lengkap dengan camilan ringan di atas nampan.
Segera aku ke depan menghampiri Om Ben.
"Jangan terlalu maksa Hanin, Mbak. Dia masih muda, masa depannya masih panjang." Om Ben menasehati.
"Halah, Ben. Wong pada akhirnya dia cuma jadi istri yang tugasnya nggak jauh-jauh dari dapur kok pake mikir masa depan segala," sungut Ibu.
Apa salahnya sih mengiyakan kalau tak mau mengaamiin-kan, rasanya sakit sekali saat Ibu menyepelekan keinginanku. Padahal gajiku di Jakarta gede, aku bisa kirim banyak uang tiap bulan untuk Ibu.
"Aku mau balik ke Jakarta, Bu."
"Hanin-Hanin, dibilangin orang tua kok nggak manut, baru di rumah beberapa bulan udah gatel pengen pergi lagi. Kamu nggak mau merawat Ibu? Naura aja lebih milih disini nemenin Ibu kok."
"Kalau Naura kan emang gak bisa jauh-jauh Mbak, ada anak yang harus diurus. Kalau Mbak aja nggak ngizinin Hanin kerja di pabrik Firman, dia mau kerja apa? Buruh nyuci kaya Mbak?" tanya Om Ben.
Ibu bungkam, mungkin ia tak bisa membalas kata-kata Om Ben barusan. Di kampung memang tak ada pabrik, apalagi perusahaan besar kaya di Jakarta, tapi kalau Ibu kekeuh gak ngizinin aku kerja di tempat Mas Firman, opsi keduanya ya balik Jakarta.
"Kamu kerja lah sama Firman, tapi ingat jangan deket-deket sama badjingan itu."
"Mas Firman bukan badjingan, Bu!"
"Yang aku tahu, Mbak. Firman mau ajak Naura tes DNA sama Haikal, tapi Nauranya nggak mau!" jelas Om Ben.
"Ya jelas gak mau, Naura gak goblog, makanya gak mau melukai hatinya Haikal. Macam mana anak itu kalau tahu bapaknya sendiri meragukannya!" suara Ibu meninggi membuatku terlonjak kaget.
"Mbak nggak tahu ya, kalau Firman memergoki Naura tidur sama sepupunya di kamar mereka? jadi yang gila siapa disini?" Om Ben mati-matian membela Mas Firman.
"Makanya aku nyuruh Mas Harsa nikahin Mbak Naura, karena kemarin tetangga kontrakan juga protes karena Mbak Nau bawa laki masuk terus pas Haikal sekolah!" jelasku, yang entah akan dipercaya Ibu atau tidak.
"Aku nggak akan ngotot nyuruh mereka menikah tanpa melihat sendiri interaksi mereka. Terserah Ibu mau percaya aku atau nggak."
Ibu terlihat menghela napas dan banyak diam sedari tadi, sebentar-sebentar menatap Om Ben kemudian beralih menatapku.