Follow Ig@rii.ena
Season.1
Tidak mendapatkan jawaban dari ibunya, saat menanyakan siapa ayah biologis dirinya.
Seorang anak laki-laki berusia lima tahun mencari ayahnya sendiri dengan menggunakan aplikasi kemiripan wajah, dari kalangan biasa, artis sampai kalangan pengusaha.
Hingga dia merasa yakin jika seseorang yang dilihatnya di suatu profil sebuah perusahaan memiliki wajah yang sangat mirip dengan dirinya, dan dia memiliki keyakinan kalau pria itulah ayahnya, lalu anak laki-laki itu datang sendiri untuk menemui pria yang di duga ayah biologisnya.
Apakah pria itu benar ayahnya atau hanya sekedar mirip saja ? Bukankah di dunia ini banyak yang namanya kebetulan ?
Season, 2
Biru, pria muda berusia dua puluh tujuh tahun, pria dengan ketampanan yang tidak diragukan lagi karena darah yang mengalir ditubuhnya lebih dominan wajah ayahnya daripada wajah ibunya.
Bertemu dengan dua gadis kecil yang rusuh, dan sayangnya tidak tahu siapa dirinya dengan menitipkan bekal makanan untuk karyawan di perusahaan milik keluarganya.
Bagaimana kisah seru kedua gadis centil yang bertemu dengan pria-pria dewasa yang salah satunya adalah Om-nya Biru sendiri?
Ikutin terus kisah mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Bertemu Aile
Alard membawa Bella ke restoran kelas atas yang sudah biasa Alard datangi sebelum maupun seseudah dirinya bertemu dengan Bella.
Memasuki ruangan VVIP, ekor mata Alard melihat seseorang yang dikenalnya yang juga tengah menatap ke arah dirinya.
Perempuan cantik dengan postur tinggi semampai bak seorang model mengenakan high heels setinggi 12 cm, gaun hitam setinggi lutut dengan belahan tinggi hingga memperlihatkan pahanya yang ramping seputih susu itu. Berjalan kian mendekat kearah meja yang sudah di pesan oleh Alard.
Bella juga melayangkan tatapan ke arah wanita yang berjalan kian mendekat.
" Hai, Al."
Wanita itu mendekatkan wajahnya dan mengikis jarak agar pipinya bisa bersentuhan dengan pipi Alard yang ditumbuhi dengan bulu-bulu tipis yang selalu Alard babat habis.
Sebelum perempuan itu sempat menyentuhkan pipinya, Bella menarik tangan Alard kearah dirinya sendiri.
Perempuan itu tersentak mendapati ruang hampa ketika hendak mendaratkan pipinya pada wajah Alard.
" Aku tidak suka suamiku disetuh oleh wanita lain, Al."
Lirih Bella tepat disebelah telinga Alard.
" Iya, Bel, tidak ada yang bisa menyentuh aku selain dirimu."
Balas Alard sama lirihnya.
Wanita itu tersenyum kecut.
"Aile, ini Bella, istriku. "
Alard merengkuh bahu Bella memperkenalkan pada Aile, cucu dari teman Kakeknya.
Bella hanya mengulas senyum tipis, perempuan yang bernama Aile itu memperhatikan sosok Bella secara menyeluruh dari ujung kepala sampai ujung sepatu berhak rendah yang dikenakan Bella.
"Oh, jadi benar kabar yang beredar jika kau sudah menikah ?"
"Ya, bahkan kami telah memiliki seorang putra yang sangat tampan dan pintar."
Alard menggeser kursi dan mendudukkan Bella dengan hati-hati seperti sebuah kaca agar tidak pecah.
" Al, aku bukan pesakitan, aku bisa sendiri."
"Tapi kau sedang hamil, jadi harus berhati-hati."
Alard mengecup pelan pelipis Bella lalu duduk di kursinya sendiri.
" Dia anak dari keluarga siapa, Al ? Aku tidak pernah melihatnya dalam perkumpulan kelas atas,"
Aile masih saja belum pergi dari depan meja yang sudah dipesan oleh Alard.
Alard tahu kemana arah dari pertanyaan Aile, putri dari keluarga Thomas memang selalu memandang orang lain berdasarkan status sosial. Makanya Alard tidak mau dan menolak mentah-mentah ketika Kakeknya hendak menjodohkan mereka.
Diusia tiga puluh enam tahun, dirinya belum juga menikah membuat Kakeknya mulai mencari-cari cucu dari anak teman-temannya yang cocok untuk Alard.
Beberapa gadis yang cantik dan berpendidikan serta berpenampilan kelas atas diperkenalkan pada Alard, tetapi Alard menanggapinya dengan acuh tak acuh.
Aile, salah satunya. Dia sedikit berbeda dari gadis-gadis yang pernah diperkenalkan dengan Alard. Jika gadis lain langsung mundur dengan sikaf Alard yang dingin, tidak dengan Aile. Dia justru tertantang dan terus mendekati Alard, walaupun Alard bersikap acuh padanya.
" Tidak penting dia anak siapa, tetapi dia yang terpenting dalam hidupku."
Alard menyentuh ujung jari tangan Bella, Bella mengulas senyum paling manis yang pernah dia miliki.
" Kau juga yang terpenting dalam hidupku selain putra kita."
Balas Bella dengan tatapan lembut.
Terlihat garis jengkel diraut cantik wajah Aile yang dipoles dengan make-up sedikit berlebihan jika hanya untuk makan makanan ringan atau sekedar ngopi di sore hari.
" Baiklah, aku permisi!"
Tanpa menunggu jawaban dari Alard, Aile membalikkan badannya kembali kemejanya untuk bergabung dengan dua orang temannya.
"Dia..."
"Aile, putri keluarga Thomas."
Sahut Alard santai sembari memesan beberapa menu yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan janin dalan kandungan Bella.
"Bukan itu maksudku,"
Dengkus Bella cemberut, Alard tertawa tanpa suara.
"Kau cemburu ?"
Entah itu tuduhan atau tebakan, tapi Bella merasa itu ejekan. Bella hanya bisa mencebikkan bibirnya.
"Katakan dulu, kau cemburu atau tidak ? Kalau tidak aku tidak akan menjelaskan siapa dirinya,"
Pelayan mengantarkan semua pesanan yang ada dalam list daftar makanan, Bella membulatkan kedua matanya.
"Al, Kau selalu memesan makanan yang paling mahal yang ada di tempat ini. Bukankah itu pemborosan ?"
Protes Bella lirih agar tidak sampai terdengar dengan pengunjung lainnya, terutama di sudut dekat jendela. Tepatnya di meja Aile dan kedua temannya duduk, terlihat jika mereka bertiga terus melirik ke arah Alard dan Bella. Terutama tentu saja yang mereka perhatian itu Alard.
Alard mendesah, mungkin Bella menyamakan kondisi keuangannya dengan keuangan Alard. Tetapi Alard tidak bisa menyalahkan Bella, karena mereka memang berasal dari latar belakang yang dan status ekonomi yang berbeda.
"Tahu dari mana kalau harga makanan ini mahal ?"
Alard memicingkan matanya menatap Bella yang sedikit tersipu, dimata Alard, justru Bella sangat menggemaskan.
Kepolosannya, tanpa perlu berpura-pura agar terlihat sama seperti Alard.
"Aku membaca label harganya, Al,"
Kali ini Alard tidak bisa lagi menyembunyikan tawanya, dia tergelak sampai menimbulkan kerutan di kedua ujung mata dan sudut mulutnya karena Alard tertawa lebar.
Dimeja lain, Aile sangat menikmati raut lepas Alard ketika tertawa, sangat tampan. Aile bahkan tidak pernah melihat Alard tertawa selain wajahnya yang kaku seperti robot. Kalau beruntung akan mendapatkan senyuman sekilas dari bibir tipis Alard.
"Kau mentertawakan aku ?"
Bella kembali memberengut, ternyata bersikap sedikit manja itu sangat menyenangkan. Bella tidak pernah merasakan bagaimana dirinya diperlakukan istimewa selain bersama Alard.
Dulu, Almarhum Papanya ada waktu sesekali dan sembunyi-sembunyi masuk kedalam kamarnya hanya untuk membelai kepalanya dan mengucapkan selamat malam, kuatir Tante Rosa melarangnya dengan alasan jangan terlalu dimanja agar bisa mandiri. Sekarang Bella baru tahu, kenapa Almarhum Papanya bertindak seperti itu. Semua karena dirinya hanyalah anak dari seorang selingkuhan.
"Jadi selama ini, kau lama jika memesan makanan karena melihat harganya ?"
Alard benar-benar tidak percaya.
Pantas saja Bella kalau memesan makanan selalu yang harganya paling murah, Alard kira karena Bella menyukai makanan itu, rupanya karena Bella melihat harga.
Bukankah kebanyakan perempuan seperti itu ya ?
Tetapi kedua mata Bella selalu berbinar ketika melihat pesanan Alard, jika Alard menawari padanya untuk mencicipi, Bella selalu menggelangkan kepalanya menolak.
"Mulai sekarang, pesanlah apa yang kau inginkan tetapi harus yang dibutuhkan oleh tubuhmu dan calon bayi kita. Jangan pikirkan soal harga, aku mampu membayarnya. Sekarang, makanlah ! Mumpung masih hangat."
Bella makan dengan lahap karena memang dia sangat lapar, bahkan ketika tiba-tiba dia menginginkan es krim sebagai pencuci mulut, Bella sampai meminta tambah dua kali.
"Al, kau belum menjawab siapa Aile."
Bella melirik ke meja Aile dan dua orang temannya, kenapa mereka belum juga pergi ? Padahal sepertinya mereka sudah lebih dulu datang, dan mereka cuma memesan secangkir kopi dan beberapa kudapan.
"Dia pernah di jodohkan padaku."
Alard mengelap sudut bibirnya dengan kain lembut yang diletakkan diatas pangkuan-nya.
"Kenapa kau tidak mau ? Bukankan dia cantik ? Bentuk tubuhnya juga sangat sempurna."
Ada kecemburuan lewat sorot mata dan ucapan Bella, Alard tersenyum tipis.
"Perempuan cantik yang memiliki tubuh bagus seperti Aile sangat banyak, tapi aku tidak tertarik."
"kenapa?"
"Karena dia bukan ibu dari anakku. Bagiku, kau yang paling cantik."
Alard mengambil kedua tangan Bella, lalu mengecupnya lembut.
"Apalagi saat ini, ada benihku yang tengah berkembang di dalam rahim-mu."
Bella melirik ke meja Aile, perempuan itu langsung membuang tatapannya ke luar jendela. Hatinya merasa masam melihat bagaimana manisnya perlakukan Alard terhadap Bella. Padahal dirinya jauh lebih cantik dan kaya dari perempuan yang katanya istri Alard itu, tetapi kenapa Alard tidak pernah tertarik pada dirinya.
"Tetapi sebentar lagi aku menjadi jelek dan gendut,"
Membayangkan tubuhnya berubah bentuk, Bella merasa menyesal telah memakan habis semua hidangan yang Alard pesan tadi. Bahkan tatapannya terlihat sedih ketika jatuh pada dua wadah es krim yang sudah kosong isinya.
"Bagaimanapun bentuk tubuhmu, kau tetap terlihat cantik. Aku bahkan sudah sangat tidak sabar melihat perutmu yang membesar, pasti semakin seksi."
Bibir Alard membentuk senyuman menggoda.
Seperti biasa, Alard langsung saja meninggalkan meja setelah makan tanpa membayar bil-nya. Karena biasanya Gisel yang akan menyelesaikan semua belanja Bos-nya.
Hubungan antara Bella dan Arald juga tidak lagi se-kaku sebelumnya, entah karena kehadiran Aile atau karena Bella yang sedang mengandung. Mereka lebih terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya.
...****************...
udah candu sama karya nya mak riie 🤭