seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Malam semakin larut. Suara tawa Fino dan Nina di lantai atas perlahan surut, digantikan oleh keheningan malam yang sunyi. Di dalam kamar utama, atmosfer terasa begitu canggung sekaligus mendebarkan bagi Rara.
Ia berdiri kaku di dekat meja rias, tangannya yang tidak diperban meremas ujung piyama kaus yang baru dibelikan Bagas untuknya. Matanya melirik ke arah ranjang king size mewah beralas seprai satin abu-abu di tengah ruangan. Di sana, Athur sudah berbaring santai dengan punggung bersandar pada headboard ranjang. Pria itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang hitam, memamerkan dada bidang dan otot perutnya yang kokoh di bawah temaram lampu tidur yang kuning hangat.
Athur menutup tablet kerjanya, lalu mengalihkan pandangan tajamnya lurus pada sosok istri kecilnya yang masih saja berdiri seperti patung di sudut ruangan.
"Sampai kapan kamu mau berdiri di sana, Rara?" suara berat Athur memecah keheningan, mengalun begitu jantan di dalam kamar yang sejuk.
Rara tersentak. Ia menelan ludah dengan susah payah, wajah polosnya kembali bersemu merah. "M-Mas Athur... aku... aku bingung."
Athur mengembuskan napas pendek, sudut bibirnya terangkat tipis melihat kepolosan Rara yang selalu sukses mengusik ketenangannya. Pria berusia 27 tahun itu menepuk sisi ranjang yang kosong di sebelahnya.
"Kemari. Tidur di sini."
Dengan langkah yang sangat pelan dan ragu, Rara mendekati ranjang. Ia naik dengan sangat hati-hati, memosisikan tubuhnya berbaring di tepi ranjang terjauh, membelakangi Athur karena terlalu malu. Jantung Rara berdegup kencang seperti genderang perang, badannya kaku tak berani bergerak sedikit pun.
Namun, ketegangan Rara semakin memuncak saat ia merasakan kasur di belakangnya bergerak. Hanya dalam hitungan detik, sebuah lengan kekar bertato samar melingkar erat di pinggang rampingnya. Athur menarik tubuh mungil Rara tanpa perlawanan, merapatkan punggung gadis itu ke dada bidangnya yang hangat.
Deg.
Rara menahan napasnya. Punggungnya bisa merasakan dengan jelas detak jantung Athur yang konstan dan napas hangat pria itu yang berembus di tengkuknya.
"M-Mas..." cicit Rara gemetar, mencoba memegang tangan kekar Athur yang mengunci pinggangnya. "Tangan aku... masih sakit."
Athur menundukkan kepalanya, mengecup lembut pundak Rara yang tertutup kain piyama, membuat sekujur tubuh gadis itu meremang hebat. Athur membalikkan perlahan tubuh Rara agar menghadap ke arahnya. Kini, jarak di antara wajah mereka tidak sampai lima senti. Mata bulat Rara yang berkedip panik menatap langsung ke dalam manik mata Athur yang tampak menggelap, dipenuhi oleh binar yang sangat berbeda dari biasanya.
"Aku tidak akan membiarkanmu merasa tidak nyaman, Rara," bisik Athur dengan suara rendah yang menenangkan. Sorot matanya yang tajam kini melunak, menatap Rara dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara perlindungan dan kasih sayang yang mendalam.
Jemari Athur bergerak lembut, merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Rara, lalu ibu jarinya mengusap pipi istrinya dengan sangat hati-hati. "Berada di sini, bersamamu, adalah hal yang paling berharga bagi saya. Saya ingin kamu merasa aman di samping saya."
Mendengar ucapan jujur dari suaminya, kecemasan Rara perlahan memudar. Meskipun jantungnya masih berdebar, rasa hangat menjalar di dadanya. Ia menyadari bahwa di balik sosok Athur yang seringkali tampak dingin dan dewasa, pria itu memiliki hati yang sangat peduli padanya.
Rara memberanikan diri untuk menatap balik manik mata Athur.
"Terima kasih, Mas Athur... karena sudah selalu sabar menjagaku."
Athur tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang ia perlihatkan kepada siapa pun. Ia menarik tubuh Rara sedikit lebih dekat, memastikan posisi istrinya nyaman tanpa menekan bagian tangannya yang sedang terluka. Ia mencium kening Rara dengan lembut dan lama, seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya untuk melindungi gadis itu.
Malam itu, di tengah keheningan kamar yang sejuk, tidak ada lagi kecanggungan yang menyesakkan. Yang ada hanyalah kehangatan dua insan yang mulai belajar untuk saling memahami dan mengisi satu sama lain dalam ikatan pernikahan mereka.
Ke Esokan Harinya
Pagi hari di rumah baru, aroma harum nasi goreng yang baru matang menggoda selera memenuhi ruang makan di lantai bawah. Rara, yang tangan kanannya masih terbebat perban bersih, tampak telaten menyajikan sarapan menggunakan tangan kirinya. Namun, ada yang berbeda dari gestur tubuh gadis itu pagi ini. Gerakannya tidak lagi sekaku kemarin, dan setiap kali matanya beradu pandang dengan Athur yang sudah duduk tenang di kepala meja, semburat merah tipis mendadak terbit di kedua pipinya.
"Sini, biar saya yang tuang airnya," ucap Athur dengan suara beratnya yang khas, meraih teko kaca sebelum Rara sempat kesusahan mengangkatnya dengan satu tangan.
"E-eh, iya, Mas... terima kasih," cicit Rara pelan, buru-buru menunduk untuk menyembunyikan senyum malunya.
Fino yang baru saja turun tangga bersama Nina langsung menghentikan langkah kaki kolor abu-abunya. Sepasang matanya yang jeli menyipit, menatap tajam ke arah interaksi manis bin canggung antara kakak perempuan dan kakak iparnya itu.
"Waduh, waduh! Pemandangan pagi hari di istana baru kok rasanya manis banget ya, Nin?" celetuk Fino sambil menyengir tengil, menyenggol lengan kembarannya saat mereka mengambil posisi duduk di tikar dekat meja makan.
"Gue mencium aroma-aroma pergeseran status dari 'terpaksa karena warga' menjadi 'kemauan sendiri karena cinta' nih, Kak Rara!"
"Fino! Mulutnya ya, makan nasi gorengnya atau Kakak sita jatah biskuit premium kamu!" ancam Rara dengan mata membelalak, wajahnya sudah memanas seketika.
Nina hanya terkekeh geli melihat kakaknya yang salah tingkah. "Sudah ah, No. Jangan digodain terus, kasihan Kak Rara pipinya udah mirip tomat matang."
Canda tawa renyah itu membuat suasana meja makan terasa begitu hidup. Athur yang biasanya sedingin es batu, pagi ini hanya diam memandangi keributan kecil adik-adik iparnya sambil sesekali menyuap nasi goreng buatan Rara. Sudut bibirnya berkedut tipis, merasa sangat nyaman dengan kehangatan tanpa topeng kepalsuan ini.
Namun, di balik kunyahan nasi gorengnya dan tawa garing yang ia keluarkan, isi kepala Fino remaja sma kelas 10 itu sebenarnya sedang berputar keras.
Logika remajanya tetap dipasang dalam mode waspada. Fino tahu betul, ia tidak bisa 100 persen menaruh rasa percaya pada pria dewasa di hadapannya ini. Biarpun Athur sudah menyediakan rumah mewah lantai dua, fasilitas lengkap, dan kulkas penuh makanan, Fino tidak pernah lupa ingatan malam itu—saat ia mendengar bisikan Athur dan melihat luka tembak di perut pria itu. Athur adalah orang dari dunia yang sangat keras dan berbahaya.
“Gue nggak boleh lengah. Kalau suatu saat musuh-musuh si Abang tampan ini datang menyerang, gue harus siap pasang badan,” batin Dino, rahangnya mengeras sesaat di balik cengirannya.
Tatapan Fino kemudian beralih, melirik perlahan ke arah Nina yang sedang asyik mengunyah tempe dengan wajah polos tanpa beban. Seketika, rasa protektif di dada Fino bergemuruh hebat.
Fino menyadari satu hal krusial: fokusnya mulai hari ini tidak boleh hanya tertuju untuk menjaga Rara saja. Rara sekarang setidaknya sudah memiliki Athur—seorang pria dewasa kuat yang terbukti siap pasang badan melindunginya di kafe kemarin. Justru sekarang, prioritas utama Fino harus beralih penuh pada Nina. Kembarannya itu adalah gadis yang jauh lebih lugu, lebih rapuh, dan lebih polos daripada Rara. Di usianya yang masih belasan tahun, Nina sangat rentan menjadi sasaran empuk jika musuh-musuh dunia hitam Athur atau aliansi busuk di sekolah mulai mengendus keberadaan mereka.
"Nin," panggil Fino tiba-tiba, menaruh sepotong telur dadar ekstra ke atas piring kembarannya.
"Nanti pas pulang sekolah, lu tungguin gue di depan mading kelas sembilan ya. Jangan keluyuran sendirian atau pulang duluan kalau gue belum nyamperin lu."
Nina mendongak, mengerjapkan matanya bingung namun mengangguk patuh. "Iya, Fino bawel. Biasanya juga kita barengan terus kan."
Athur yang memiliki kepekaan insting seorang bos mafia, sempat menangkap kilat kedewasaan dan tatapan waspada di mata Fino yang mengarah pada Nina. Athur tahu, adik ipar tengilnya ini sedang menyusun benteng perlindungannya sendiri. Diam-diam, di dalam hati Athur, rasa hormatnya pada nyali dan tanggung jawab cowok remaja di hadapannya itu semakin bertambah besar.