Askana sangat benci pada sosok pria yang sudah menodainya. Sampai pria bernama Rafan itu ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, sayangnya Askana menolak karena terlalu benci.
Mampukah Rafan mengambil hati Askana? Dan Membuatnya jatuh cinta, akan seperti apa kisah cinta mereka yang diawali sebuah kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khoirun Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32.
"Siapa gadis itu, Fan?"
Rafan hanya menggelengkan kepalanya saja, karena ia pun bingung dengan sosok gadis yang sudah ia nodai, Rafan mengatakan kepada bunda-nya kalau malam itu ia mabuk berat sehingga ia tidak sadar dengan perilakunya, karena merasa kecewa terhadap Kamila yang sudah menyelingkuhinya. Rafan kalap dan menuntaskan amarah-nya kepada seorang gadis yang mencoba menolongnya.
Bunda Aulia menangis tersedu-sedu, ia sungguh kecewa dengan perilaku putranya kenapa dia harus mabuk bahkan menodai seorang gadis karena sakit hati terhadap seorang wanita, Bunda Aulia pun menyuruh Rafan untuk mencari keberadaan gadis yang sudah ia nodai, Rafan hanya menggelengkan kepalanya bingung karena ia pun sudah berkali-kali mencari gadis yang ia nodai namun sampai sekarang gadis itu belum juga ia temukan.
"Tolong maafkan sikap Rafan, Bunda! Rafan benar-benar hilap, Rafan tidak sengaja melakukannya Bunda." Rafan tertunduk dengan penuh penyesalan, terlihat bulir bening menetes di pipi Rafan karena penyesalan yang amat besar ia rasakan.
Bunda Aulia tak tega melihat putra-nya tertunduk dan bersedih, ia segera merangkul tubuh Rafan mengelus pucuk kepalanya dengan lembut. "Bunda mengerti akan posisi mu, Nak! Hati pria mana yang tak akan terluka bila melihat kekasihnya sendiri berselingkuh jelas di hadapan mata-nya dengan pria lain. Berjanjilah kepada bunda, Rafan! Kalau kamu akan bertanggung jawab kepada gadis yang telah kamu nodai, dan kamu akan terus berusaha mencari keberadaan gadis itu, setelah kamu menemukan gadis itu segeralah kamu perkenalkan kepada bunda. Bunda mendukung mu, Nak! Karena bunda tahu kamu adalah seorang anak yang baik dan bertanggung jawab."
Rafan merasa bahagia ada rasa tenang dalam hatinya setelah mendengar perkataan bunda-nya, ia menjadi semangat kembali untuk terus mencari keberadaan gadis yang sudah ia nodai.
"Terima kasih, Bunda?" Bunda sudah mendukung dan menyemangati Rafan, hanya bunda yang mengerti akan posisi Rafan saat ini."
"Seorang ibu tidak akan pernah membiarkan putra-nya untuk salah jalan, ia akan selalu membimbing putra putrinya ke jalan yang benar," ujar Bundanya dengan lembut.
Doni ikut bersedih menyaksikan keharuan sahabatnya bersama Bunda-nya. Doni merasa lega Rafan sudah menceritakan semua keluh kesahnya kepada bunda-nya, karena itu bisa menjadikan sebuah jalan kemudahan bagi Rafan untuk segera menemukan gadis itu.
"Kenapa lo, Don! Ikutan nangis segala?"
"Terharu gue, Fan!"
Bunda Aulia pun kembali tersenyum, melihat putranya yang kembali bahagia. Ia menyuruh Doni untuk mempercepat perjalanannya karena bunda takut kalau suaminya akan sampai terlebih dahulu dan mendapatinya tidak ada di-rumah.
Tak terasa mereka pun akhirnya sampai dihalaman rumah mewah yang dibuat dengan spesifikasi bangunan terbaik, yang dirancang dengan gaya modern minimalis oleh Arsitek ternama. Dengan warna peach yang menghiasi dinding rumah dan kombinasi putih. Rumah dua lantai ini terlihat sangat indah, ditambah dengan kolam renang mewah yang dihiasi dengan tanaman yang ada dipinggir kolam membuat rumah terlihat sangat indah. Bagian belakang rumah yang dihiasi dengan taman bunga yang berwarna-warni yang memberikan refleksi ketenangan tertentu pada setiap penikmatnya. Apalagi rumah Pak Andi Hermawan terletak di kawasan perkotaan, ia sengaja membuatkan taman karena istrinya Bunda Aulia begitu menyukai tanaman sehingga rumah-nya terkesan asri dan menyehatkan, di tambah dengan hiasan air mancur yang memberikan efek menyejukkan.
Namun bagi Rafan kemewahan sebuah rumah bukanlah jaminan bahagia bila di dalamnya terdapat banyak luka, maka kemewahan itu takkan berarti apa-apa.
Kedatangan Rafan dan Bunda Aulia beserta Doni disambut oleh Bi Ami, ia segera menuju dapur untuk membuatkan teh manis hangat kesukaan Rafan, dan juga kopi untuk Doni.
Rafan dan Doni duduk di meja makan, sedangkan Bunda Aulia pergi menuju dapur untuk menyiapkan makanan.
"Bu!"... Panggil bi Ami.
"Iya, ada apa, Bi!" Jawab Bunda lembut.
"Semalam Bapak menelpon menanyakan keadaan ibu, katanya ponsel ibu tidak dapat dihubungi. Jadi Bapak menghubungi melalui telepon rumah."
"Terus Bi Ami jawabnya gimana? Apa bi Ami bilang kalau saya sedang menginap di apartemen Rafan."
"Iya, Bu! Saya bilang ke bapak kalau ibu sedang menginap di apartemennya Den Rafan," ujar bi Ami sambil menunduk karena takut dimarahi oleh bunda Aulia.
"Ngak apa-apa juga kalau bibi kasih tahu kepada bapak! Malahan itu lebih baik," ujar Bunda Aulia sambil tersenyum kearah bi Ami.
Bi Ami merasa lega karena majikannya tidak memarahinya. Sudah dua puluh tahun bi Ami melayani keluarga Pak Andi Hermawan. Sehingga ia sudah tahu mengenai kepribadian keluarga Pak Andi.
Malah bi Ami merasa bersyukur bisa mengabdikan diri pada majikannya yang sangat baik, bunda Aulia adalah sosok yang lembut dan baik hati, makanya bi Ami betah bekerja dirumahnya, mulai dari Afandi dan Rafan masih kecil, ia juga tahu karekter ke dua putra majikannya, mana yang benar-benar baik dan yang berpura-pura baik.
Setelah selesai membuatkan teh manis dan juga kopi bi Ami langsung mengantarkannya kepada Doni dan juga Rafan beserta cemilan kue keringnya.
"Makasih ya, bi?" Ujar Rafan dan Doni bersamaan.
"Sama-sama, Den!" Ujar bi Ami sambil beranjak pergi menuju dapur.