Aris yang menikahi Sania harus menerima kenyataan bahwa Sania adalah perempuan keras kepala yang susah di atur.
Karena keras kepala Sania, akhirnya rumah tangga mereka jadi berantakan.
Sania hamil tanpa diketahui siapa yang menghamilinya. Hal itu membuat Sania merasa kotor di depan semua orang, termasuk suaminya, hingga Aris yang tulus mencintai Sania harus berjuang keras menyakinkan istrinya bahwa ia menerima Sania dengan keadaan apapun.
Tapi bagaimanakah kelanjutannya? Apakah Aris berhasil meyakinkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Veronika menaiki tangga ke lantai dua sambil membawa baki berisi makanan untuk Sania.
"Ibu, itu makanan buat Kak Sania?" Tanya Adel yang berpapasan dengan Ibunya.
"Iya sayang, Kakak kamu tidak boleh kelelahan. Jadi Ibu mengantar makan siangnya saja." Ucap Veronika.
"Ya udah deh Bu, aku kebawah dulu ya." Ucap Adel lalu berlalu ke lantai bawa.
Veronika tidak mengatakan apa pun dan segera masuk ke kamar putrinya.
"Sayang, ini Ibu bawakan kamu makan siang." Ucapnya ketika ia mengira Sania berada di kamar mandi.
"Sayang?" Lagi panggil Veronika seraya melirik ke pintu kamar mandi.
"Apa dia di kamar Aris ya." Veronika segera keluar dan pergi ke kamar Aris.
Kamar Aris berada di samping kamar Sania, sengaja di buat dekat supaya mempermudahkan Sania melihat suaminya.
Awalnya Sania ingin mereka satu kamar saja, tapi karena dokter tidak menganjurkan Sania terlalu banyak menghirup aroma obat, maka kamar mereka kemudian di pisahkan.
"Sayang, apa kau di sini?" Ucap Veronika memasuki kamar Aris.
Sania sedang menata bunga Krisan di samping ranjang Aris ketika Veronika masuk.
"Eh, Ibu, ada apa Bu?" Ucap Sania yang masih sementara merangkai bunga Krisan.
"Sayang, Ibu sudah membawa makan siang untukmu. Ibu meletakkannya di kamarmu."
"Bu, kenapa dibawakan, aku bisa sendiri kok mengambilnya." Ucap Sania melihat ke ibunya.
"Tidak sayang, Ibu tidak kau kelelahan. Apa lagi tangga di rumah sangat melelahkan. Sekarang pergilah makan lebih dulu." Ucap Veronika pada anaknya itu.
"Iya Bu, aku akan segera makan setelah merangkai bunga ini." Ucap Sania.
"Ya sudah, Ibu mau menemui Dokter Sanya dulu."
"Iya Bu." Sania terus merangkai bunga Krisannya lalu meletakkannya di samping tempat tidur Aris.
"Sayang, apa kau menyukai aromanya?" Sania naik ke ranjang Aris dan berbaring di samping suaminya sambil memeluk lengan Aris.
"Aku akan tidur di sini sebentar." Lagi katanya lalu memejamkan matanya.
Ketika Veronika kembali memeriksa putrinya, ia terkejut melihat Sania malah tidur di ruangan Aris.
"Astaga sayang." Ucapnya mendekati Sania.
"Sayang bangun." Ucapnya lagi menepuk pelan punggung anaknya itu.
"Mmh,, Ibu," ucap Sania membuka pelan matanya.
"Sayang mengapa tidur di sini?" Tanya Veronika dengan wajah cemasnya.
"Maaf Bu, aku ketiduran." Ucap Sania seraya berusaha bangun dari tempat tidurnya.
Sania segera berjalan ke kamarnya untuk makan siang.
"Sayang, ibu mohon ya, tolong jangan terlalu lama di kamar Aris, itu sangat tidak baik untuk bayimu sayang."
"Iya Bu, aku akan lebih memperhatikannya lagi." Ucap Sania yang masih menikmati makan siangnya.
"Ya sudah sayang, Ibu turun dulu ke bawah." Ucap Veronika meninggalkan kamar Sania.
Setelah Sania makan, Sania masih mandi lebih dulu lalu kembali mengunjungi kamar Aris. Ia begitu terkejut melihat Snaya sedang berada di kamar itu dengan gadis itu sedabg memegang tangan suaminya.
'Ada apa dengan dokter itu?' Gumamnya lalu berjalan ke dalam kamar.
"Dokter Sanya?" Panggilnya seraya terus melangkah mendekati Sanya.
"Selamat sore Sania." Ucap Sanya.
'Dia memanggilku dnegan nama saja.' Gumam Sania.
"Dokter sedang apa?"
"Oh ini, saya sedang memijat tangan Aris." Ucap Sanya yang tanpa enggan terus memegang tangan Aris.
"Dokter saya yang akan melakukannya." Ucap Sania mendekat ke Aris membuat Sanya mundur beberapa langkah.
Sania kemudian memijat pelan tangan Aris.
"Sania, tidak seperti itu caranya. Kamu harus menekannya dengan lembut dan berirama di sekitar..."
"Sepeti ini?" Tanya Sania sambil terus memijat tangan Aris.
"Ya, seperti itu." Ucap Sanya menyembunyikan kekesalannya karena Sania berhasil melakukannya dengan baik. 'Aku harus ingat sumpahku.'
"Aku rasa Dokter Sanya sangat dekat dnegan suami saya. Apa kalian memang saling kenal?" Tanya Sania yang memang belum tahu apa pun tentang Sanya.
"Saya dulu adalah teman sekelas Aris, dia sangat suka dipijat sepeti itu, jadi saya melakukannya untuk merangsang daya ingatnya agar ia lebih cepat,,"
"Ah,, jadi kamu temann suami saya di SMA?" Sania sedikit terkejut. 'Pantas saja dia memanggilku seperti tadi.'
"Iya, dulu kami sangat akrab, bahkan kami duduk sebangku." Tamba Sanya dengan wajah tersenyum mengingat kenangan mereka di SMA.
"Begitu ya, suamiku sangat beruntung bisa memiliki teman sepertimu. Dan sekarang keberuntungannya masih sama, teman terbaiknya di SMA biasa menjadi dokternya." Ucap Snaia tersenyum sambil menatap wajah suaminya.
"Ya, saya juga merasa beruntung bisa mengenal Aris, juga mengenalmu Sania." Ucap Sanya.
"Terima kasih dokter Sanya. Sekarang saya jadi lebih tenang karena yang merawat suami saya adalah orang baik seperti Dokter Sanya."
"Kak!" Panggil Adel dari pintu masuk.
"Dek, kecilkan suaramu." Ucap Sania karena ia merasa kaget melihat Adel yang tiba-tiba memanggilnya dengan suara keras.
"Aku mau bicara berdua sama Kak Sania." Ucap Adel berjalan mendekati Sania.
"Ada apa Dek?" Tanya Sania dengan wajah yang panik.
Adel segera menoleh ke arah Sanya memberi kode supaya Sanya meninggalkan mereka berdua.
"Kalau begitu, saya akan keluar. Silahkan berbicara." Ucap Sanya meninggalkan kamar Aris.
"Ada apa Dek? Mengapa kmu teriak seperti itu membuat semua orang jadi kaget."
"Aduh Kak, Kakak ini gimana sih? Masa Kakak sama sekali gak ada waspadanya pada perempuan ular itu?" Geram Adel dengan sikap kakaknya.
"Lho, memangnya kenapa?" Tanya Sania kebingungan.
"Kakak!"
"Ssstt,,, pelankan suaramu Dek." Sania memperingatkan adiknya.
"Kak dengar ya, dari sisi mana pun, Dokter ular itu gak ada baiknya. Beraninya dia megang-megang tangan Kak Aris kayak gitu."
"Lho, dari mana kau tahu Dek?" Tanya Sania kebingungan.
"Aduh Kak, gak penting aku tahu dari mana, yang jelas si dokter ular itu sudah berani nyentuh suami Kakak saat Kakak tidak ada!"
"Dek, kamu kenapa sih? Dokter Sanya tadi hanya memegang tangan Mas Aris untuk memijatnya. Itu sala satu teknik pengobatan." Ucap Sania meluruskan pikiran adiknya.
"Duh Kak, sadar deh,, biar ku kasih tahu ya Kak, Dokter Sanya itu adalah teman masa SMA Kak Aris. Mereka sangat dekat dan bahkan duduk satu bangku."
"Lalu apa masalahnya Dek?"
"Jelas masalahnya ada pada pertemanan mereka! Gak ada satu pun pertemanan antara cewek dan cowok tanpa adanya perasaan saling suka. Dan buktinya si dokter ular itu masih melajang sampai sekarang karena menunggu Kak Aris. Dan sekarang,,,"
"Dek cukup! Kakak tidak mau mendengar apa pun lagi tentang semua omong kosong kamu. Sebaiknya kamu keluar dari sini."
"Tapi Kak," Adel tidak mau percaya kalau kakaknya sendiri tidak mempercayainya.
"Keluar Dek." Lagi ucap Sania tanpa mau memandang Adiknya.
Akhirnya Adel hanya bisa keluar dengan kekesalan memenuhi hatinya.
Begitu ia keluar, ia melihat Sanya sedang berdiri tak jauh dari kamar Aris.
'Perempuan licik! Awas ajah kamu berani menyakiti Kak Sania. Aku akan membuatmu jadi debu!' Gumam Adel sebelum berjalan ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
'Anak itu, ia bisa menjadi penghalang besar untukku. Padahal Mas Aris sebentar lagi akan membaik karena obat yang kuberikan. Apa sebaiknya aku singkirkan dia dulu ya?' Gumam Sanya ketika melihat tingkah Adel.
semangat terus berkarya 👍
asal usul 2 keluarga yang tengyata memiliki kekuasaan belum dijelaskan
nasib Dokter Sanya juga gaada kelanjutannya