Ricko pria tampan kaya raya ini mencintai wanita yang dia lihat di lampu merah. Pandangan pertamanya membawa dia ke jalan yang di ridho'i Allah.
Izza, seorang wanita muslim yang taat pada agama dan keyakinannya, membuat para pria jatuh hati kepadanya.
Ricko terkenal pria nakal dan juga sering mempermainkan banyak wanita, kini ia sedang mengejar wanita yang membuat dirinya jatuh hati.
Ia memutuskan untuk mendekati Izza, namun hal itu tidak berhasil, untuk membuat Izza terpesona sama ketampanan dan juga rayuannya.
Ricko langsung terketuk hatinya, ia ingin menjadi mualaf. Namun, hal itu di tentang besar oleh keluarganya sendiri.
Apakah Ricko bisa menaklukan hati Izza, untuk menjadikan istrinya? Apakah Ricko bisa membujuk keluarganya termasuk kedua orangtua-nya untuk menjadi mualaf.
Nantikan kisah mereka di episode yang akan datang! jangan lupa baca, like komen dan vote, terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naura Shafa mahbubah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam bareng tetangga
Izza langsung menghentikan aksinya yang kini sedang mengulek bumbu halus.
"Abbi, Ummi baru tiga hari palang merah, masa sudah bersih saja heee" ucap Izza sambil melanjutkan lagi nguleknya.
"Hmm, gitu ya, memangnya berapa lama?" tanya Ricko penasaran.
"Biasanya sih seminggu kadang lebih, tergantung tingkat kesuburannya" jawab Izza.
"Oh begitu ya" ucap Ricko.
Ricko masih memeluk istrinya dari arah belakang, tapi Izza membiarkan suaminya manja terhadapnya.
Izza merasa beruntung dan sedikit takut, ia sudah berpikir Suaminya bakalan tidak datang lagi. Tapi ia selalu berdoa yang terbaik untuk dirinya maupun suaminya.
Allah mengabulkan semuanya membuat Izza merasa senang dan juga bahagia, Mertuanya yang dulu sering memaki dan tidak suka terhadapnya sekarang berbalik.
Mertuanya sangat sayang sama Izza, begitu juga Izza. Ia selalu menghormatinya bagimana pun dia adalah Orangtuanya juga.
30 menit kemudian.
Izza sudah beres memasak opor ayam untuk suaminya, hidangan makan malam sudah siap, terdapat gorengan tempe hangat, opor ayam, dan juga sedikit sambal. Sudah tersaji di atas tikar bersama nasi hangatnya.
Izza selalu membantu masak Ibu Hanna sewaktu masih lajang, dan hasilnya sekarang ia pinter masak buat suaminya.
Ricko sudah tiba dari kamarnya untuk siap makan malam yang sudah di sediakan oleh istrinya.
Sewaktu mereka mau makan, terdengar pecah tangis sang bayi dan juga anak kecil dari rumah tetangga mereka.
Izza merasa khawatir dan kasian, ia langsung keluar bersama Ricko. Terlihat tetangganya yang sedang mengayun-ayun anak bayi berumur 8 bulan, dan juga Kakaknya yang sedang menangis di bawah lantai. Terlihat juga lampu mereka padam tidak ada cahaya.
Izza langsung menghampiri mereka merasa sesak di dadanya, ia sedikit meneteskan air matanya.
"Ibu, kenapa, dan ada apa ini?" tanya Izza ia langsung memeluk Kakak si bayi.
Terlihat wajah kusut sang tetangga, ia menangis karena lampu mereka di cabut PLN, akibat tanggungan dua bulan tidak mereka bayar. Dan juga mereka kelaparan termasuk sang anak.
"Suami saya kerja, namun belum pulang juga, lampu kami di matikan oleh pihak PLN, karena kita belum bayar tagihan listriknya. Kami juga belum makan, sekarang kita lagi menunggu suami saya pulang kerja, siapa tau dia membawa makanan untuk kami" ucapan tetangganya membuat Ricko dan izza merasa iba dan sedih.
"Sabar ya Bu, ini ujian hidup berumah tangga, kalau begitu kalian ke rumah saya saja dulu, kebetulan kamar juga ada dua. Dan kita makan bareng saya sudah masak banyak di rumah" usul Izza.
Tetangganya meneteskan air mata, ia sangat beruntung punya tetangga seperti Izza, walaupun baru bertetangga tapi Izza sangat baik dan tidak memandang sebelah mata.
"Hatimu sangat mulia, kami di sini sudah lama, tapi karena kami miskin selalu di acuhkan sama tetangga lain. Membuat saya merasa malu sama keadaan saya" ucap tetangga Izza lirih.
Terlihat Ricko sedang menggendong Kakak si bayi yang kini berumur 5 tahun.
"Semua manusia di hadapan Allah sama mbak, tidak ada yang miskin atau pun kaya. Saya sangat miris mendengarnya, yang sabar mbak saya doakan semoga dagangan suaminya laku keras dan bisa untuk membayar semua keperluan mbak sekeluarga aamiin" ucap Izza.
"Aamiin" ucap sang tetangga.
Tak berselang lama, suami tetangganya datang dengan raut wajah sumringah.
"Assalamualaikum" ucap Suami tetangganya.
"Waalaikumsalam" ucap mereka barengan.
Selang beberapa menit, suami tetangga membawa kabar baik.
"Bu, Alhamdulillah cilok kita laku keras" ucap Pak Samsu.
"Alhamdulillah Pak" jawab mbak Sari.
Mereka suami istri bernama mbak Sari dan Pak Samsu.
Setelah berbincang sedikit, akhirnya Izza dan Ricko mengajak mereka makan malam bersama dan menginap di rumahnya.
Besok pagi rencana Mbak Sari membayar Listrik supaya lampu mereka nyala kembali.
Izza merasa senang bisa bertetangga sama mereka yang terlihat baik dan sopan.
"Kalian jualan warkop, semoga laku keras dan berkah" ucap mbak Sari.
"Aamiin mbak, kita saling doakan dagangan kita supaya berkah. Dan juga suamiku jualan kopi keliling dulunya, tapi sekarang kita buka di depan rumah saja dulu. Karena kita belum punya kendaraan" ucap Izza sambil menyuapi Kakak sang bayi.
"Semoga lancar dan sukses, pasti rame" ucap mbak sari.
"Aamiin mbak, semoga saja rame dan juga jualan cilok suami mbak juga rame dan laku keras. Saya harap mbak kalau misal ada apa-apa tinggal panggil saya saja, pasti repot mengurus anak dua mana masih kecil" ucap Izza.
"Heee, iyaa nih, kadang aku juga repot" jawab mbak Sari.
Setelah itu mereka melanjutkan makan malamnya bareng.
Bersambung.
Pakir ❌. Fakir. ✅
Sipat ❌. Sifat ✅
ga ada bawang nya
bacanya biasa aja kakak 🙏