NovelToon NovelToon
Cinta dari GIA

Cinta dari GIA

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Erlin A Vidiany

Gia azimaika, seorang anak gadis yang terlahir dari keluarga yang berkecukupan namun sederhana. Dia adalah salah satu mahasiswa dari universitas X, keluarganya ketat dalam agama, gia anak yang sudah pasrah akan semua nasib yang dipilihkan keluarganya untuknya. Dari pendidikan, pasangan hidup bahkan semuanya.Dia dicintai oleh dosen di kampusnya tetapi gia tetap menahan diri karena gia tau bahwa percuma memiliki rasa kepada seseorang yang tak akan bisa dimilikinya, karena gia tau orang tua nya pasti sudah menjodohkan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erlin A Vidiany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32 (Kecemburuan dari Seorang Naufal)

“Pak Kevin, Pak Kevin siapa?” gumam dalam hati Naufal di

dalam kamar mandi.

Hal itu membuat Naufal semakin penasaran siapa Pak Kevin

tersebut.

Setelah Naufal selesai mandi, Naufal melihat istrinya tengah

asik dan senyum-senyum melihat ponselnya.

“Kamu lihatin apa sih, asik banget kayaknya,” ucap Naufal

dengan menyisir rambutnya.

“Kepo banget sih kamu,” jawab Gia sambil tersenyum dengan

menggeser layar ponselnya.

Naufal semakin kesal melihat sikap Gia.

Naufal memberanikan niatnya untuk meminjam ponsel punya Gia, karena dari pertama mereka menikah Naufal sama sekali tidak pernah memegang ponsel Gia begitu juga dengan Gia tidak pernah melihat-lihat isi dari ponsel Naufal.

“Coba pinjem ponsel kamu!” perintah Naufal yang kesal.

“Ambil aja kalo bisa,” ucap Gia sambil mengerjai suaminya.

Naufal mencoba mengambilponsel Gia.

“Weeeek gak bisa kan,” ejek Gia pada Naufal.

“Ya udah terserah kamu,” ucap Naufal kesal.

 “Kamu apaan sih gitu aja marah,” keluh Gia.

“Aku nggak marah, cuman aku pengen tau aja,” tutur Naufal.

Gia langsung menyerahkan ponselnya pada suaminya.

“Tuh kan, orang aku cuman lihat kartun aja kok, curiga an

banget sih kamu,” ejek Gia lagi.

“Aku cuman mastiin kalo istriku nggak macem-macem, gitu aja

sebenernya,” ucap Naufal malu-malu.

“Astagfirullah, aku gak pernah ya mencoba berpaling dari

kamu, meskipun dulu kamu pernah…,” kata Gia terhenti karena Gia tak ingin membahas masalah Naufal dengan Vela dulu.

“Pernah apa? Ha? Kok gak dilanjutin, terus aja ngungkit-ngungkit masalah yang udah berlalu!” kata Naufal.

“Gak asik ah kamu, hari ini sensi banget, tau ah, aku mau

tidur, minggir kamu,” kata Gia sambil menepis badan Naufal.

“Loh loh loh, kok jadi kamu yang marah sih,” tutur Naufal.

Gia langsung menarik selimut untuk menutupi semua badannya

dari ujung kaki sampai kepala.

“Dasar kamu mah, ngambek mulu hobi nya,” ejek Naufal yang

ikut tidur di samping Gia.

Tiba-tiba ponsel Gia kembali bergetar, Gia membuka

selimutnya, meraih ponselnya, rupannya ada pesan dari Pak Kevin yang masih ingin memilikinya.

Naufal melihat isi pesan di ponsel Gia yang membuat amarah

di hatinya.

Pesan Pak Kevin pada Gia.

“Gi, apakah masih ada ruang untukku di hatimu lagi, Kevin,”

Pak Kevin.

Gia langsung mendekap ponselnya agar Naufal tidar

mengetahuinya, tetapi Gia terlambat karena rupanya ketika Gia membuka pesan dari Pak Kevin, Naufal juga sudah ikut melihat isi pesannya.

“Siapa itu?! Selingkuhan kamu!,” ucap Naufal.

“Astagfirullah Fal, kamu nuduh aku!” kata Gia yang

membangunkan tubuhnya dari Kasur karena merasa tidak nyaman dengan apa yang telah dikatakan oleh Naufal padanya.

“Eh aku bukannya nuduh kamu ya, emang fakta kok!” sontak

Naufal.

“ini itu cuman,” penjelasan Gia terpotong oleh Naufal.

“Cuman apa? Cuman keluarga dari pasien kamu? Ha? Mau alasan apa lagi kamu sama aku! aku gak nyangka Gi kamu setega ini sama aku,” ucap Naufal yang marah dengan Gia.

“Terserah kamulah! aku capek berantem sama kamu, initinya

aku nggak pernah selingkuhin kamu!” kata Gia sambil kembali tidur membelakangi Naufal begitu juga dengan Naufal.

Gia memilih tidak menjelaskan hal ini pada suaminya terlebih

dahulu, karena suaminya masih dalam keadaan emosi. Jadi Gia mengurungkan saja.

Keesokan harinya, seperti biasa setelah sholat Gia memasak

untuk Naufal, kali ini suasana rumah tidak seperti biasanya, karena Naufal yang sepertinya masih marah dengan Gia, dan tak ingin berbicara dengan Gia.

Di dalam mobil ketika mereka berangkat untuk bekerja, mereka hanya diam tidak ada obrolan saat itu.

***(di Rumah Sakit)

Saat Gia sedang memeriksa Meira, Gia merasa kasihan

dengannya.

Gia sangat merasa bersalah pada Meira.

Gia mengelus-elus tangan Meira.

“Kenapa Dok?” tanya Meira karena Gia melamun sedari hendak memeriksa Meira.

Gia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memberikan senyumnya pada Meira.

“Mbak, apakah Mbak sudah pernah bertemu dengan wanita yang di cintai oleh tunangan Mbak?” tanya Gia.

“Eeem maaf sebelumnya, sebenarnya tak pantas jika saya

menanyakan hal ini, tapi..” ucap Gia.

“Nggak papa Dok, saya belum pernah bertemu dengan wanita itu Dok,” jawab Meira.

“Bagaimana jika Mbak bertemu secara tiba-tiba dengan wanita itu,” kata Gia terbata-bata.

“Saya tidak pernah berharap bertemu dengan wanita itu Dok,

pasti saya akan membencinya,” ucap Meira dengan nada emosi.

Deeegggg.

Gia panik mendengar hal itu.

Gia langsung pergi meninggalkan Meira.

“Ya udah saya permisis dulu ya Mbak, saya mau ke ruangan

saya,” pamit Gia.

“Iya Dok,” jawab Meira ramah.

Gia tepaksa berbohong pada Meira, Gia tidak pegi ke ruangan

nya melainkan pegi ke kamar mandi.

***(di Kamar Mandi)

Gia berdiri di depan kaca.

“Aku yang salah disini! Aku!,” ucap Gia sambil menangis di

depan kaca.

“Aku telah menyakiti banyak orang disini,” ucap Gia lagi.

Gia merasa sangat bersalah pada Meira, Gia meluapkan semua tangisnya di kamar mandi.

Tiba-tiba ponsel Gia bordering, ada pesan dari pihak rumah

sakit, Gia harus menangani segera pasien yang ada di UGD.

Setelah beberapa jam Gia keluar dari UGD, Gia berjalan menuju ruangannya, ternyata dari arah belakang Pak Kevin mengikutinya sambil memanggil-manggil namanya.

“Gi,” ucap Pak Kevin yang diabaikan oleh Gia.

“Gia, aku pengen ngomong bentar sama kamu,” tutur Pak Kevin.

Pak Kevin terpaksa dan nekat memegang lengan Gia agar Gia berhenti, lagi-lagi ulah Pak Kevin diketahui oleh Naufal.

“Ngapain lagi sih pria itu pegang-pegang tangan Gia, bikin

hati panas aja!” gumam Naufal dalam hatinya.

Naufal langsung menghampiri Gia dan Pak Kevin.

Gia yang melihat kehadiran suaminya langsung menarik

tangannya dari genggaman tangan Pak Kevin.

“Maaf, Dokter Gia silahkan anda ke ruangan saya sekarang,

karena ada yang perlu saya bicarakan dengan anda,” perintah Naufal pura-pura.

Gia mengerti dengan sikap Naufal tersebut ingin

menyelamatkan Gia dari Pak Kevin.

“Oh iya baik Dok,” Gia mengikuti akting dari suaminya.

Mereka berjalan menuju ruangan Naufal.

***(di Ruang Kerja Naufal)

“Kamu apa-apaan sih pegangan tangan sama pria itu!” ucap

Naufal yang sudah kesal dengan Gia.

“Bukan aku yang megang, dia aja yang narik yeee,” jawab Gia.

“Ada hubungan apa kamu sama keluarga pasien itu?!” tanya

Naufal.

“Kenapa tiba-tiba kamu nanyain pria itu?” tanya Gia balik

sambil mengernyitkan keduaalisya.

“Ya cuman pengen tau aja, gak lebih,” kata Naufal malu-malu.

“Jangan-jangan kamu cemburu ya,” tebak Gia sambil berjalan

mendekati Naufal.

“Ya kan? Tuh wajah kamu aja udah mulai merah,” ejek Gia.

Naufal mengusap kedua pipinya.

“Iiiih apaan sih ngaco kamu,” bantah Naufal.

“Udah sana balik ke ruangan kamu, habis ini kita pulang,” tutur Naufal.

“Tadi aja nyuruh-nyuruh aku kesini, pake acara bohong lagi, sekarang aku di usir-usir,” keluh Gia sambil memonyongkan bibirnya.

“Dasar! Gak jelas kamu,” ejek Gia sambil berjalan pergi

keluar dari ruangan Naufal.

Setelah beberapa menit Gia selesai membereskan ruang

kerjanya, Gia pulang bersama suaminya.

***(di Rumah)

Sampai di rumah, Gia langsung bergegas mandi dan

melaksanakan sholat dengan suaminya.

Naufal sama sekali tidak mengajak Gia berbicara, Naufal

duduk-duudk di sofanya, Gia menghampirinya.

“Kamu masih marah gara-gara tadi?” tanya Gia pada Naufal.

“Menurut kamu?” tanya Naufal dengan nada sinis.

“Udah dong marahnya, tadi itu bener-bener keluarga dari

pasien aku,” rayu Gia.

“Beneran?” tanya Naufal lagi.

“Iya, beneran, masak iya aku bohong sama kamu,” jawab Gia

dengan manjanya.

“Terus kenapa tadi dia narik-narik tangan kamu?” lagi-lagi

Naufal masih belum puas dengan jawaban Gia.

Gia belum siap menceritakan tentang Pak Kevin pada

suaminya, karena Gia takut nanti suaminya puasa bicara padanya. Apalagi saat ini keadaan masih memanas.

“Tadi itu…nanyain gimana keadaan tunangannya gitu, ehhm

mending sekarang aku ambilin kamu salad deh,” rayu Gia lagi.

“Boleh,” jawab naufal.

Gia keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju ke dapur.

***(di Dapur)

Gia melihat Bi Sarah yang sedang membuat teh.

“Eh Bibi,” sapa Gia.

“Lagi buatin siapa Bi?” tanya Gia.

“Buat saya sendiri Mbak, badan saya agak meriang,” keluh Bi

Sarah.

“Besok Bibi isitirahat dulu aja ya, besok habis kerja, Gia kasih obat,” tutur Gia.

Gia mengambil salad dari dalam kulkas.

“Oh iya Bi, soal suami Bibi, Gia lupa belum bicara sama

Naufal,” kata Gia.

“Iya Mbak Gia, nggak papa,” jawab Bi Sarah.

“Bibi ke kamar dulu ya Mbak,” pamit Bibi.

“Iya Bi, jangan lupa istirahat loh Bi,” tutur Gia.

Bi Sarah berjalan ke kamarnya, sedangkan Gia mendengar bel

pintu rumahnya.

Teng tong….teng tong….teng tong.

Gia membuka pintunya.

“Pak Kevin! Bapak ngapain disini?!” ucap Gia lirih.

“Gi, maafin aku Gi, aku terpaksa banget kesini Gi,aku harus

ngomong sama kamu Gi,” paksa Pak Kevin.

Sedangkan Naufal yang resah menunggu salad buah Gia,

akhirnya menyusul Gia untuk turun ke bawah.

Saat Naufal sampai di dapur, dia sama sekali tidak melihat

istrinya. Naufal berjalan mencari Gia, dan ternyata Naufal mendengar suara orang yang sedang ngobrol di luar rumahnya.

Pelan-pelan Naufal mendekat ke sumber suara tersebut,

dilihatnya Gia bersama seorang Pria yang katanya Gia adalah keluarga dari pasiennya.

Naufal dengan sengaja mendengarkan obrolan mereka.

“Apa lagi Pak?” tanya Gia dengan nada takut.

“Gi, saya gak bisa lupain kamu, jujur Gi! Saya terpaksa

tunangan dengan Meira waktu itu agar saya bisa lupain kamu, tapi nyatanya? Gak bisa Gi, gak bisa! aku masih sangat sangat mencintai kamu!” kata Pak Kevin dengan tegas.

Bersambung.......

Terima kasih untuk semua readers

untuk respon baik kalian, kritik dan sarannya terima kasih😊

Dan jangan lupa like, comment dan vote sebanyak-banyaknya ya🙏😁

Tunggu episode selanjutnya

see you🖤

1
Akmal Ramadhan
pengen nya enggak tamat thoor terasa ada ganjelan dari masalah dr Naufal yg belum lurus 😁
tapi alhamdulillah dah sampai akhir aja ceritanya semangat sukses terus thor
Asribasir
akhirnya tamat juga
moedah
bagus...
lanjut dog kak .....
Uswatun
tolong segera up...ini sdh sangat lama
Uswatun
lanjut thor
Giyono Yon
pak Kevin mulai bucin nih
Asribasir
thor kapan up lagi
Prapti Muakhiroh
alur critanya tmbh rumiy
Ude Iir
hampir satu tahun hiatus Thor.......
Any Yustiwi
ini ceritanya kog gk ada lanjutannya ya
ngegantung gini
Mmh Zahra
ko...ceritanya jd nyebelin gini sih😢mudah"an akhirnya happy🤲🏻💪🏻💪🏻💪🏻
Noer Anisa Noerma
lanjuuutttttt
Noer Anisa Noerma
siapa lgi tuh tamu
Noer Anisa Noerma
😭😭😭😭😭😭
Noer Anisa Noerma
gia langsung menangis
Noer Anisa Noerma
jadi sedih'
Noer Anisa Noerma
rupa nya gia cemburu3
Noer Anisa Noerma
pa Naufal nlpn sama siapa ya
Noer Anisa Noerma
jangan banyak pikiran gia
Noer Anisa Noerma
semangat authooorr 💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!