NovelToon NovelToon
HANCURNYA HARAPANKU

HANCURNYA HARAPANKU

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erni Handayani

Arini Karisma Putri atau yang lebih akrab dipanggil Arin tidak pernah mengira jika ia akan menikah muda. Diusianya yang baru menginjak 20 tahun seharusnya ia bisa menikmati masa-masa muda yang tidak akan pernah terulang kembali. Akan tetapi karena kesalahannya yang memberikan kehormatannya Arin merasa begitu bersalah kepada dirinya sendiri. Terkadang Arin menyesali pertemuannya dengan Reza Rahardian seorang duda muda yang menjadi pacarnya saat ini. Arin yang hidup bersama ayahnya selalu merasa kesepian dan kurang perhatian. Bertemu dengan Reza membuat Arin merasa beruntung sebab setelah ia bertemu dengannya membuat hidup Arin lebih berwarna. Sementara Reza Rahardian yang sebelumnya memiliki seorang istri harus menjalani kehidupan rumah tangganya seperti dineraka. Bahkan sang istri Sintia Azkya jarang sekali melayani Reza, ada saja alasana agar Reza tidak menyentuhnya. Hal itulah yang membuat Reza pada akhirnya melakukan perbuatan terlarang bersama Arin. Bagaimana nasib Arin ke depannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erni Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Rasa Yang Tak Biasa

Tidak seharusnya Reza ikut campur dengan urusan Sintia, sebab ia bukan siapa-siapa lagi. Tapi entah mengapa Reza merasa begitu khawatir pada Sintia. Reza selalu saja memikirkan tentang Sintia. Apa ini semua karena janji Reza kepada ayahnya?

"Aku tahu semua ini hanya karena aku sudah berjanji akan selalu menjaga Sintia pada ayahnya. Aku tidak mencintainya, aku hanya ingin memenuhi janjiku saja," gumam batin Reza.

Setelah hampir seharian bekerja kini tiba saatnya bagi Sintia untuk pulang. Reza memperhatikan Sintia sudah bersiap dan akan berjalan menuju tempat parkir.

"Sintia," panggil Reza sambil berlari menghampiri Sintia.

"Iya ada apa Za?" tanya Sintia yang menautkan kedua halisnya.

"Aku akan mengantarmu pulang," ujar Reza.

"Ti, tidak usah Za. Aku bisa pulang sendiri," jawab Sintia.

"Tapi itu pasti akan merepotkanmu," tambah Sintia lagi.

"Tidak Sintia, aku tidak merasa keberatan," tukas Reza yang segera membukakan pintu untuk Sintia.

Merasa tidak enak dengan perlakuan Reza, Sintia pun akhirnya menerima tawaran Reza. Tidak ada obrolan serius disepanjang perjalanan. Mereka hanya terdiam satu sama lain.

"Bagaimana dengan sekolah Zidan Sintia?" tanya Reza membuka obrolan.

"Zidan baik, dia merasa begitu senang saat berada di sekolah," jawab Sintia.

"Syukurlah kalau begitu, aku merasa senang mendengarnya," ucap Reza sambil tersenyum saat sedang menyetir.

"Apa ayahnya pernah menjenguk atau bahkan sekedar menanyakan kabarnya?" tambah Reza lagi.

Deg..

Pertanyaan itu membuat Sintia merasa gelisah. Sintia bingung harus menjawab seperti apa sebab baru saja tadi pagi ia bertemu dengan Panji.

"Sintia? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Reza yang merasa heran karena melihat Sintia tiba-tiba terdiam.

"Sintia, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Reza yang masih melihat Sintia terdiam.

"Ti, tidak. Aku tidak apa-apa," jawab Sintia.

"Ya sudah jika kamu tidak mau menjawabnya tidak apa-apa. Kamu tidak usah menjawab setiap pertanyaanku," ujar Reza yang merasa kecewa.

Mendengar pernyataan itu membuat Sintia merasa bingung dan tidak enak hati. Namun tanpa terasa akhirnya mereka tiba di halaman rumah Sintia.

"Terima kasih karena sudah mau mengantarku Za," ucap Sintia sambil berlalu keluar rumah.

"Ya sama-sama Sintia, tapi itu siapa?" tunjuk Reza pada seseorang yang sedang duduk diteras Sintia.

"Mas Panji? Sedang apa dia disini?" gumam batin Sintia.

Reza pun segera keluar dari mobilnya dan melihat lebih dekat siapa laki-laki itu.

"Panji? Sedang apa dia disini?" gumam batin Reza yang mengepalkan tangan kanannya.

"Jadi karena ini alasan kamu tidak mau berbicara kepadaku tadi pagi. Jadi karena dia kamu menghindariku?" tanya Panji yang melihat kedatangan Sintia dan juga mantan suaminya.

"Apa maksudmu?" tanya Reza yang menghampiri Panji.

"Ah sudahlah tidak usah banyak basa-basi," pekik Panji yang merasa kesal melihat Sintia bersama Reza. Merasa cemburu Panji pun langsung melayangkan pukulannya dipipi Reza.

Bug..

Reza seketika tersungkur saat menerima pukulan keras dari tangan Panji.

"Apa yang kamu lakukan mas?" tanya Sintia yang langsung menolong Reza.

Ujung bibir Reza pun sedikit berdarah karena pukulan tangan Panji. Sementara Reza hanya bisa terdiam dan tidak melakukan pembelaan diri.

"Kamu tidak apa-apa Za? Wajahmu terluka," lirih Sintia yang merasa tidak tega melihat ujung bibir Reza berdarah.

"Apa yang kamu lakukan Mas? Tidak seharusnya kamu melakukan ini! Tolong pergi dari sini sebelum aku panggil warga mas!" ancam Sintia yang merasa tidak suka dengan apa yang dilakukan Panji.

"Tapi Sintia aku hanya ingin menemui Zidan saja, tolong pertemukan aku dengan anakku," lirih Panji.

"Tidak mas, cepat pergi dari sini!" pekik Sintia.

"Baiklah kalau itu yang kamu minta. Tapi aku  datang kemari lagi untuk membawa Zidan," ujar Panji sesaat sebelum pergi meninggalkan tempat itu.

Sintia yang mendengar hal itu langsung merasa khawatir. Sintia takut jika Panji benar-benar membawa Zidan jauh darinya. Setelah kepergian Panji, Sintia pun mencoba mengobati luka Reza.

"Tunggu disini Za, aku akan membawakan kotak P3K," pamit Sintia yang segera bergegas masuk mencari kotak P3K.

Sementara tanpa menjawab pertanyaan Sintia, Reza hanya mengangguk dan langsung duduk diteras rumah Sintia. Reza memegang lukanya yang terasa sedikit perih diujung bibirnya.

"Sialan! Awas saja kamu Panji! Aku akan membalasnya," gumam batin Reza.

Beberapa detik kemudian Sintia datang dan segera mengobati luka Reza.

"Maaf Za," ujar Sintia sambil mengusap ujung bibir Reza dengan kapas yang sebelumnya diberi alkohol.

"Aw,," ujar Reza yang merasakan perih saat Sintia mulai mengobatinya.

"Maaf atas perbuatan Panji Za, aku tidak menyangka jika dia akan melakukan hal itu kepadamu," timpal Sintia sambil mengobati Reza yang kini mengusap luka itu dengan betadine.

"Tidak apa-apa, mungkin dia merasa cemburu. Lagipula aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku  berada diposisinya," tukas Reza sambil memegangi wajahnya yang terasa perih.

"Terima kasih Sintia," ucap Reza saat Sintia selesai mengobatinya.

"Iya Za sama-sama, ini sudah menjadi kewajibanku," timpal Sintia.

"Apa yang dia katakan tadi? Kalian bertemu tadi pagi?" tanya Reza yang baru mengingat kata-kata Panji.

Sebenarnya Sintia tidak pernah ingin menceritakan masalahnya kepada Reza. Namun setelah kejadian ini, Sintia terpaksa harus menceritakan yang sebenarnya. Perlahan tapi pasti Sintia pun mulai menceritakan kejadian tadi pagi.

"Oh jadi karena ini sejak pagi Sintia banyak melamun," gumam batin Reza.

"Ya sudah kalau begitu aku pamit, sudah  sore. Terima kasih karena sudah mengobatiku Sintia," pamit Reza yang segera bergegas dari rumah Sintia.

"Iya Za, sama-sama. Hati-hati dijalan," ujar Sintia sesaat sebelum Reza pergi.

Tanpa menjawab Reza pun hanya menganggukan kepalanya. Reza segera pulang meninggalkan halaman rumah Sintia. Satu jam kemudian akhirnya Reza tiba dirumah.

"Assalamualaikum," ujar Reza saat baru memasuki rumahnya.

"Waalaikumsalam. Loh kak wajah nya kenapa? Apa kakak berantem?" tanya Arin yang begitu khawatir setelah melihat wajah Reza.

"Tidak apa-apa Rin, kakak hanya terjatuh," jawab Reza yang terpaksa harus berbohong. Reza tidak mungkin jika harus menceritakan kejadian yang sebenarnya, Arin pasti akan merasa cemburu jika ia tahu bahwa Reza mengantarnya pulang.

"Ya sudah kakak mandi dulu, setelah itu kita makan ya," ujar Arin.

"Iya Rin," jawab Reza yang segera bergegas ke dalam kamarnya.

Arin memang sengaja tidak banyak bertanya pada Reza. Arin juga merasa sangat yakin jika luka yang ada diwajah Reza bukan karena terjatuh, tapi seperti ada orang yang memukulnya.

"Aku tahu kak. Kakak pasti berbohong kan? Aku bukan anak kecil lagi kak yang bisa kakak bohongi. Tapi sebenarnya dengan siapa kakak bertengkar? Masalah apa yang sebenarnya sudah terjadi?" gumam batin Arin bermonolog.

Meski dalam pikirannya begitu banyak pertanyaan, tapi Arin berusaha bersikap biasa dihadapan suaminya.

1
Hera sasuwe
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Hera sasuwe
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
R-Niie
ya kak 🙏, makasih sudah mau mengikuti sampai tamat 😁. Jangan lupa cerita ke cerita yang lain juga ya kak 😅🙏😉
ajiu jiu
happy ending .......
R-Niie
emang cwo tu sukanya belok-belok ae 😅
ajiu jiu
ud lah Reza jgn kau "belok" 🥴🥴🥴
ajiu jiu
🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦
ajiu jiu
lanjut ......
ajiu jiu
ibu tangguh ....
ajiu jiu
Arin terlalu banyak pendam kata2 😩😩
R-Niie
hihi kalau ga gitu ga rame kak😂😅
ajiu jiu
sbnry chemistry Sintia sama Reza lbh dpt , dr pda Reza am alin , tp Thor kl bs jgn pkai alur perselingkuhan y 😅😅
ajiu jiu
lanjut ......Thor
R-Niie: siap kak 😁
total 1 replies
Ani Ratih
selalu bagus cerita nya
ajiu jiu
Sheila mengandung 🥴🥴🥴
Girlysky
Next kak, ceritanya seruu, semangat terus ya :)
Jangan lupa mampir di ceritaku kak😍
R-Niie: makasih ka 😁, judulnya apa ka?
total 2 replies
🌸EɾNα🌸
ceritanya keren ditunggu up nya Thor 👍
jangan lupa feedback ke ceritaku ya
"Kekasih Simpanan Tuan Muda"
makasih 🥰
R-Niie: makasih ka , 😁
oiya k siap.. 🖒😊
total 1 replies
Nur aeni
wahh, Silmi mau sm Gilang appa Glen nih...
R-Niie: Ikuti terus ceritanya ka 😊
total 3 replies
Nur aeni
Ciye Silmi, udh pnya knalan aja,,
Nur aeni
Silmi wanita yang hebat❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!