NEW!!
Selain karena sudah punya kekasih, Devalia Caroline tidak mencintai suaminya juga karena dia mengetahui rahasia besar keluarga lelaki itu.
**
Setelah bangkrut, Pak Hans terus menjadi masalah bagi Devalia dan Agnes--kedua putri tanpa ibu--yang ia besarkan. Karena sebuah kecerobohan, Pak Hans yang terlibat dalam kasus pembunuhan seorang bandar judi akhirnya menjadi buronan polisi akibat banyaknya tindakan kejahatan yang telah ia lakukan.
Ia menikahkan putri sulungnya--Agnes--dengan pengusaha hidung belang bernama Bram, untuk menyelamatkan hidupnya. Sayangnya, perusahaan Bram ditimpa masalah.
Hingga suatu hari, pemilik dunia hitam yang sesungguhnya menarik tangan Pak Hans dari ancaman hukuman, membebaskan, dan bahkan menampung hidupnya. Dengan syarat; bahwa Pak Hans harus bersedia menjadi kaki tangan bisnis gelapnya, dan! Menikahkan Devalia dengan putranya yang "katanya" sangat mengerikan.
Devalia sangat benci suaminya! Lelaki itu sangat posesif dan menakutkan!
"Aku! Hanya aku yang kau butuhkan!" teriak lelaki itu kepadanya.
Suatu hari takdir berubah!
Foto syur Valia bersama mantan kekasihnya tersebar luas di media sosial! Valia merasa difitnah, padahal dia sangat yakin dia tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu, apa lagi dia sudah menikah.
Hal itu membuat suaminya--Damarion--menandatangani surat perceraian yang dulu Valia lemparkan.
SIALNYA, Valia sadar bahwa ia tidak bisa berpisah dengan suami posesif itu, dia jatuh cinta padanya!
Sayang sekali, lelaki dingin itu semakin beku dan mengerikan.
Apa yang akan Valia lakukan? Akankah dia terus berjuang merebut kembali hati suaminya, atau merelakan pernikahan menyedihkan itu?
Yuk disimak. Terima kasih pembaca❣
Tinggalkan like, komen, dan vote supaya author semangat menulis.
Jangan lupa pencet love ya ❣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELRAHA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback: Tuan Muda Pulang 2
"Nona, Tuan Muda pulang."
Apa? Bagaimana bisa secepat itu? Mengapa dia pulang secepat itu?
Valia yang dalam keadaan mendesak, berdiri dari duduknya. "Kalian pergilah sekarang juga dari sini. Aku tidak ingin melibatkan kalian dalam masalahku. Lain kali, jangan pernah main ke sini lagi. Tunggu aku yang datang ke cafe, ya?" Valia berusaha mendorong tubuh teman-temanya. Tapi,
"Valia," panggil Dena.
"Siapa gadis itu?" sambung Hani.
"Ha?"
"Gadis yang memeluk suamimu yang tampan itu, siapa dia?" Perkataan itu membuat Valia membalikkan tubuhnya. Ia menatap kejauhan dengan dada yang bergemuruh. Yang ia lihat, saat melihat Damar dari kejauhan, adalah sesuatu yang aneh terasa di dada.
Jenny yang hanya dengan kemeja putih lebar, keluar dari rumah dan memeluk Damar dengan mesra. Ia bahkan menangis memeluk Damar yang saat itu datang dengan wajah penuh luka.
Setelah menelan beberapa kali saliva, "Dia ... adiknya," ujar Valia pelan.
"Wah! Bukankah seharusnya kau yang memeluknya seperti itu?" tanya Dena.
Valia yang saat itu merasakan sesak di dadanya, merasa ada yang aneh dengan dirinya. "Kalian keluarlah sekarang. Aku harus kembali ke kamar, sebelum dia melihatku di sini." Dena dan Hani dibawa para pelayan keluar dari sana. Dengan raut wajah kebingungan, keduanya hanya bisa pasrah meninggalkan Valia.
Valia yang bergegas diantar para pelayan, tak bisa melanjutkan langkahnya. Dia menatap pemandangan itu sekali lagi.
"Kenapa Kakak terluka seperti ini?" Suara mendayu Jenny, benar-benar menunjukkan rasa khawatir.
"Menyingkirlah," tegas Damar berusaha sabar. Dia terus berjalan, melewati Jenny yang terus mengejarnya.
"Nona, ayo cepat ke kamar. Nanti mereka melihat Anda." Bibi Fey menarik cepat tangan Valia segera bergegas, tapi ... kaki Valia terasa terkunci di tempat.
"Kenapa dia terluka seperti itu?" tanya Valia pada Bibi Fey.
"Nona, Tuan Muda tidak suka diganggu saat sedang murka seperti itu. Cepatlah ke kamar, sebelum beliau melihat Anda di sini," jawab Bibi Fey.
"Kalau begitu, kenapa dia tidak marah disentuh adiknya?" tambah Valia yang tampak tertekan.
Tatapan mata Bibi Fey secara tidak sengaja berlabuh pada kepalan halus tangan Valia yang tersembunyi di balik punggungnya. Dadanya naik turun dengan ritme yang begitu cepat. Bibi Fey menoleh pada objek yang sama dengan Valia, "Anda cemburu pada Nona Jenny, Nona?" tanya Bibi Fey tanpa pikir panjang.
Valia yang mendengar pertanyaan itu tampak sangat tidak terima. Ia menoleh pada Bibi Fey, "Cih! Cemburu? Itu tidak benar." Valia bersama egonya akhirnya meninggalkan tempatnya berdiri. Ia berjalan cepat masuk ke kamar.
***
"Kak Damar, Kakak terluka seperti ini ... Kak Finn, apa yang terjadi? Kenapa Anda tidak membawa kakakku ke rumah sakit?" tanya Jenny.
Finn menggeleng pelan, mengisyaratkan Damar tidak mau diajak ke rumah sakit.
"Lepaskan tanganmu, Jenny!" Teriakan Damar mengejutkan seisi ruangan. Jenny akhirnya melepaskan pelan genggamannya. Nyonya Laras yang mendengar teriakan menggema keluar dari kamarnya.
"Damar!" Nyonya Laras yang tampak sangat terkejut melihat luka di tubuh Damar langsung saja menitikkan air mata.
"Putraku ... kau bertengkar dengan siapa lagi?" lirihnya.
Damar yang tampak tidak tenang terus saja mondar-mandir. "Di mana Bibi Fey?!" tanyanya tanpa memedulikan orang-orang disekitarnya.
"Iya, Tuan?" Bibi Fey yang baru saja mengantar Valia masuk diam-diam, tergesa-gesa mendatangi tuannya setelah mendengar teriakan itu.
"Mana kunci kamarku?" tanyanya. Damar menarik cepat kunci kamarnya, bergegas menemui Valia.
Saat Damar menginjakkan kaki menyusuri satu persatu anak tangga, tiba-tiba Jenny bersuara.
"Kakak Ipar baru saja keluar dari kamarnya."
Langkah Damar pun terhenti. Ia berbalik menatap Jenny, "Apa katamu?"
"Kakak Ipar keluar dari kamar, dibantu Bibi Fey," jawab Jenny.
Sejak tadi, hanya ketegangan yang menyelimuti Bibi Fey. Ia yang dari tadi menunduk akhirnya mendongak menatap Damar yang berdiri di hadapannya. "Apa itu benar?" tanya Damar, matanya memerah. Melihat Bibi Fey yang tidak menjawab, Damar lantas berlari cepat menuju kamar.
"Tuan, Tuan mohon jangan memarahi Nona. Beliau hanya bertemu dengan temannya sebentar." Bibi Fey ikut mengejar Damar.
Namun, Damar sama sekali tidak mengatakan apa pun.
***
Brakk!!
Pintu malang itu didobrak dan ditutup dengan kasar untuk yang ke sekian kalinya.
Valia yang sedang berdiri tepat di depan pintu, mata mereka lantas langsung bertemu.
Tanpa pikir panjang, Damar yang tersulut emosi, dengan bibirnya yang berdarah langsung menyerang bibir Valia dengan kasar.
Sikap agresif Damar sangat buruk. Dia menangis, tetapi juga marah. Valia yang tak bisa melawan, hanya terus berusaha melepaskan diri.
"Eemmm!! Emm!!!" Mulutnya yang dibungkam bibir Damar tak bisa bersuara, sekarang semakin basah.
"Emmm!!! Tuan!!"
Setelah melepaskan ciuman mautnya, Damar menggendong tubuh Valia hanya dengan satu tangannya yang tidak terluka, membanting gadis itu ke atas ranjang.
"Kau mau tahu siapa pemilikmu?!" Damar melempar jasnya ke sembarangan arah. Melepas dasinya, dan menarik sabuk celananya.
Srett!
Ia bahkan menarik kemeja nya hingga terbelah dua, hanya dengan satu tarikan.
"Kenapa kau membuat aku gila?!"
Valia terdiam sangat lama. Luka di tubuh Damar bukan luka ringan. Bagaimana bisa dia punya sayatan pisau di tubuhnya?
"Tuan ... Anda terluka," lirih Valia.
Ranjang putih bersih menyisipkan bekas merah kecoklatan.
"Setelah memblokir nomor ponselmu, mengurungmu, kau masih bertemu temanmu untuk menanyakan pacarmu?!! Bren*sek!!! Akkh!"
Damar mendadak tampak kesakitan. Dia yang bertelanjang dada, di atas tubuh Valia, tiba-tiba saja terjatuh.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"
Valia yang panik membantunya untuk berbaring di sebelahnya. Tangannya menyentuh wajah Damar. Bagai sebuah keajaiban, rasa sakit itu tampak mereda hanya dengan sentuhan Valia yang sederhana. "Tunggulah di sini, aku akan kembali."
Dengan bantuan para pelayan, Valia mengambilkan obat. Damar tampak semakin berdarah. Hidungnya mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
"Tuan, apa yang terjadi pada Anda?" Dengan handuk basah, Valia mencoba membantu Damar membersihkan darah di tubuhnya.
Saat tangan Valia hendak menjajaki wajah Damar yang lebam, tangan Damar menahan tangan mungil Valia. "Kau khawatir padaku?" tanyanya.
Saat tenang seperti itu, wajah Damar berkali-kali lebih tampan. Dia menatap wajah Valia, dengan mata berkaca-kaca. "Luka Anda sangat serius. Aku panggilan Finn untuk membawa Anda ke rumah sakit, ya?"
"Aku tanya, kau khawatir padaku?" tanya Damar sekali lagi. Valia akhirnya mengangguk pelan, tanpa sadar. Damar melepaskan tangannya dari tangan Valia, membiarkan Valia membersihkan darah di wajahnya. "Jika tidak peduli, lebih baik tidak usah sok peduli. Ini hanya luka ringan. Aku sudah terbiasa," tambah Damar.
Di atas ranjang, Damar yang bersandar di bantal sedikit tegak, berhadapan langsung dengan wajah Valia yang sedang membersihkan lukanya. Dia tiada henti menatap wajah Valia yang tengah membersihkan lukanya.
Bagaimana bisa dia punya bekas luka sebanyak ini?
"Tuan, Anda sebaiknya berobat ke rumah sakit. Tubuh Anda penuh lebam. Anda juga mimisan. Ini pasti sangat menyakitkan." Pelan-pelan Valia menunjukkan perhatiannya pada sang suami. Wajahnya tampak bersedih.
"Aku tidak mau ke rumah sakit," jawab Damar, masih menatap Valia.
"Tuan, Anda--"
"Minta maaf lah padaku," bantah cepat Damar memotong kalimat Valia, terus menusuk Valia dengan tatapannya.
"Tuan, dengan tubuh penuh luka seperti ini ... Anda masih ingin bertengkar denganku?" kilah Valia.
"Aku bilang minta maaf!" tegas Damar.
Valia dengan napas tak teratur, menatap wajah tampan itu dengan rasa yang berbeda. Hidungnya, matanya, semua milik Damar yang indah jadi lecet karena lukanya yang cukup banyak.
"Ma-maaf," jawab Valia.
Mendengar jawaban Valia, Damar langsung meraih bibir Valia yang basah karena darahnya yang lengket di sana. Ia mengusap mesra bibir itu dengan jarinya. Ternyata bibir Valia ikut lecet karena Damar yang baru saja tadi bersikap brutal kepadanya. "Apa aku menyakitimu?" tanya Damar.
Devalia yang merasakan sentuhan manis, dadanya kembang kempis. Dengan tangan yang masih memegang handuk basah, ia melirik ke arah air yang tadinya jernih kini berubah berwarna merah keruh.
Kenapa ... kenapa dia membiarkan dirinya terluka seperti ini?
"Tuan, maaf ... maaf, Tuan. Kenapa ... Anda bisa terluka seperti ini?" tanya Valia, membiarkan Damar mengusap bibirnya.
"Aku tanya, apa ciuman dariku tadi menyakitimu?" tanya Damar, mengabaikan pertanyaan Valia. "Tidak, Tuan."
"Istriku tidak boleh lecet. Aku akan mematahkan tangan yang menyakitimu, termasuk tanganku sendiri, jika aku melakukannya." Damar merapikan rambut sang istri.
"Valia ... mengapa mencintaimu sangat menyakitkan?" tambah Damar.
"Tuan--"
"Luka di hatiku, kenapa tidak segera kau obati seperti ini? Hatiku jauh lebih sakit." Damar dengan wajah seriusnya menitikkan air mata.
Apa aku harus mempercayai ucapannya?
Devalia yang bodoh, dengan egonya yang tinggi, meski sangat ingin memeluk lelaki itu, dia malah tetap berdiam diri.
"Jika kau masih berhubungan dengan lelaki itu, bersiap-siaplah untuk melihat, dia yang mati ... atau aku."
Apa?
Aku Uda senang akhirnya ketemu novelmu ini karena aplikasi disebelah gantung
Eh ternyata sama aja 😭😭😭
..setiap baca part nya JD deg2an..
berlinang air mata 🥺🥺