Saat kamu datang, hatiku masih penuh bertahta nama Carissa. Gadis cantik impian setiap pria, punya karir mandiri dan pintar.
Awalnya aku melihatmu sebagai gadis yang urakan, pecicilan, cerewet dan sangat menyebalkan dan bukan kriteria ku.
Namun..kisah kita membawaku pada jiwa yang lain. Kamu adalah wanita yang berbeda dari apa yang aku lihat. Kamu hanya bersembunyi pada kesakitan dan keluguan diri.
Kamu dan Carissa sungguh sangat berbeda. Perlahan nama Carissa menghilang dan berganti dengan namamu. Teriring doa terucap namamu. Dalam detak nadiku, ada dirimu
Love by Lettu Arben and Nadira Anjani.
Bersama dalam cinta Abrian dan Ariela ( Lilan )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Demi kamu istriku.
Arben bersama anggota yang lain mengangkat puing satu persatu. Akhirnya para anggota mengikuti Arben menyingkirkan puing bangunan. Perasaan gugup dan cemas tak karuan membuat hatinya tersayat perih. Begitu banyak jenazah bergelimpangan.
***
Arben bersandar lemas di reruntuhan tembok bangunan.
"Abang sudah lelah sebaiknya Abang istirahat dulu, kita gantian cari Dira" saran Hilman yang ikut dalam pencarian itu.
"Kamu saja. Abang nggak tenang.. mana bisa istirahat. Kabar Dira saja masih belum ada kejelasan" jawabnya di wajah yang begitu lelah.
"Tapi tiga hari ini Abang nggak tidur. Ini bukan standby biasa bang, kita pakai tenaga" kata Hilman mengingatkan.
"Abang nggak apa-apa" baru tiga langkah kaki Arben meninggalkan Hilman, tapi langkahnya sudah oleng menabrak reruntuhan tembok yang lain.
"Bang!!!!" Hilman di bantu Wahyu membantu Arben untuk berdiri.
"Dira.. maafin Abang yang nggak bisa jaga kamu" ucapnya sedih tak lepas dari rasa penyesalan. Danki B itu bersikukuh untuk bangkit mencari istrinya lagi tapi tubuhnya sudah tidak mau kerjasama meskipun ia memaksanya.
-_-_-_-
"Gimana Vi?" tanya Hilman pada perawat Lovi. Perawat lapangan pada team kerja mereka.
"Abang Arben nggak apa-apa, hanya kelelahan dan sangat butuh banyak istirahat" saran Lovi.
Arben menggelinjang memegangi dadanya yang terasa sesak dan nyeri. Saat tangannya akan meraih bungkus rokok, Lovi meraihnya.
"Nggak boleh bang! Abang bisa tambah sakit"
Arben menatap kasar dan penuh kesal pada Lovi.
"Abang merokok pun istri Abang sudah mati. Ombak sunami sangat dahsyat. Tak akan mungkin ada orang yang selamat" ucap Lovi menggebu menambah sakitnya perasaan Arben.
"Jaga bicaramu!!! Dia tidak akan berani meninggalkan Abang karena dia tau ada nyawa yang harus dia selamatkan" bentak Arben membuat Lovi sangat tidak suka.
"Mana ada orang selamat jika sudah terkena sunami" gumamnya dalam hati.
"Ya sudah aku minta maaf ya Bang! Tapi sekarang Abang istirahat dulu! Tenaga Abang belum pulih..bisa bahaya kalau Abang lanjutkan" bujuk Lovi.
"Terserah apa katamu. Abang nggak mau disini. Dira sedang sendirian disana" Arben memilih menghindari Lovi.
"Abaaang... Kalau aku bilang nggak boleh ya nggak boleh. Untuk apa Abang memberatkan orang yang sudah mati" teriak Lovi begitu
"Siapa kamu berani larang saya mencari Dira istri saya? Istri saya belum mati. Sekali lagi kamu katakan itu, saya nggak akan segan tampar mulut kamu meskipun kamu perempuan" bentak Arben yang mulai kehilangan akal. Hatinya sudah hancur porak poranda tak bisa menyeimbangkan akal dan perasaan.
Hilman menarik Arben keluar dari tenda kesehatan. Ia tau Abangnya sudah begitu lelah dengan prahara rumah tangganya. Belum lagi sekarang mencari Dira bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami.
Ponsel Arben berdering tanpa henti. Kepala Arben langsung pening melihatnya begitu tau yang menghubunginya adalah Brian.
"Bang, Shisi minta cerai" kata pertama yang Arben saat ia baru mengangkat panggilan teleponnya.
"Selesaikan masalahmu sendiri. Abang nggak peduli. Abang hampir mati memikirkan Dira dan kamu masih saja memusingkan istri yang masih ada di depan mata. Bayangkan kalau Shisi yang ada dalam posisi Dira!!!" ucap keras Arben langsung membuka mata Brian.
"Maafkan Brian bang. Brian akan coba bicarakan lagi dengan Shisi. Semoga Dira segera ditemukan ya bang" kata Brian.
Arben mematikan panggilan dari Brian. Setiap mendengar tentang Dira yang belum juga di temukan, perasaan Arben begitu sakit. Jika saja ia mengantarkan Dira atau mungkin ia bersikap lebih tegas untuk membuat Dira tetap bersamanya, kemungkinan besar Dira masih bersamanya saat ini.
"Ijin Let, sudah banyak yang menangani disekitar sini. Apa ada tempat yang bisa di lakukan penyisiran?" tanya seorang anak buah.
"Lihat petanya!" Arben mengambil peta dari seorang anggotanya.
"Ini bagian daerah yang terdampak sunami kemarin. Ini pulau apa?" Arben menunjuk sebuah pulau yang tidak masuk daftar pencarian.
"Itu pulau seberang Let. Tidak berpenghuni, jadi tidak ikut dalam daftar daerah pencarian" penjelasan Serma Joko. Senior Bintara di Batalyonnya.
"Besok kita kesana pak!" perintah Arben.
"Tapi itu tidak masuk daftar wilayah pencarian Let. Apa kita mau membuang waktu?" Tanya Serda Nico.
"Bagi kalian semua yang tidak ingin ikut dengan saya.. saya mengerti. Tapi saya ingin pergi kesana tanpa kalian sekalipun"
"Kami siap menjalankan perintah!!" ucap para anggota Arben.
***
Arben dan para rekan menyusuri lautan menuju pulau tersebut menggunakan perahu karet. Berjam-jam mereka habiskan terombang ambing di lautan hingga sampai pada pulau yang dituju.
Arben melompat dan langsung berlari memperhatikan keadaan sekitar. Disana juga banyak mayat berserakan. Nampak ada beberapa tanda kehidupan disana. Mata Arben melihat sosok Lili gadis kecil dari seorang pria yang begitu membuatnya cemburu. Arben mengangkatnya perlahan lalu menggendongnya.
"Lili sayang, jangan takut ya! Ada om disini" ucapnya mengusap punggung Lili, sungguh tak tega melihat gadis kecil menggigil dalam pelukannya penuh lumpur dan pastinya sangat kelaparan.
Arben mengambil air bersih dan membersihkan tubuh Lili lalu memakaikan baju seadanya walaupun itu sangat kebesaran untuk Lili.
"Ada bahan makanan apa? Cepat siapkan makanan. Bagi beberapa kelompok dan bergantian menyisir sekitar!!" perintah Danki B pada rekat team.
-_-_-_-_-
Arben menyuapi di kecil Lili yang menampakan wajah sedih dan syok, hatinya trenyuh melihat Lili yang mungkin sudah kehilangan papa nya.
"Makan lagi ya sayang" Arben mengusap air mata gadis kecil yang sedari tadi terus merengek di pangkuan Arben.
"Mau papa" Lili masih menangis terus meminta papanya.
"Sayang, papa masih kerja.. kerja jauh. Lili sama Om Arben dulu ya! Sana om-om yang lain" ucap Arben yang tidak mungkin mengatakan kalau papa Lili bisa saja tewas dalam bencana sunami kemarin.
-_-_-_-
Selepas sholat isya Arben duduk termenung dengan pikiran kosong melayang jauh. Ia menepikan rasa takutnya kalau sampai Dira sungguh meninggalkan nya dengan cara seperti ini.
Tangannya mengepal dengan hati gelisah. Rokok satu bungkus sudah habis sekejap saja namun itu tidak cukup menghalau rasa frustasinya.
Para anggota melihat Arben mulai meringkuk merebahkan diri di atas patahan puing papan kayu. Danki yang tegas, dingin, kaku, penuh wibawa harus berterus terang memperlihatkan kehancuran diri saat menghadapi musibah ini.
Abang harap bisa segera bertemu kamu dek! Abang nggak tau kapan rasa ini ada.. tapi saat kamu nggak ada, Abang baru tau rasanya gelisah merindukanmu. Setiap doa Abang selalu terselip namamu. Kamu memang bukan yang pertama ada di dalam hati Abang, tapi Abang pastikan kamu yang terakhir.. menggantikan nama Rissa disana. Rasa sakit kehilanganmu ini sungguh menyadarkan pentingnya kamu di hidup Abang.
"Beritau Abang! Kamu ada dimana dek. Hati Abang rasanya sakit sekali!! Tolong jangan tinggalkan Abang! Abang nggak kuat"
.
.
.
semangat Thor bkin kita jedag jedug trus 💪