Ibrahim Adlan baru menyadari telah jatuh cinta pada Najwa aulia,di saat gadis itu sudah di persunting oleh kakak sepupunya sendiri yang bernama Irfan Zidni.
Mempercepat keberangkatannya untuk melanjutkan study ke Ummul-Quro adalah langkah yang di tempuh oleh Ibrahim Adlan untuk menghindari pernikahan gadis yang di cintainya begitu dalam itu.
Disaat,Ibrahim Adlan sudah memiliki kemantapan hati untuk melupakan perasaannya setelah dua tahun berlalu,ia mendapat kabar kalau Irfan Zidni meninggal karna sebuah kecelakaan.Bukannya pulang untuk meraih kembali cintanya,Ibrahim Adlan justru menyerahkan perjalanan cintanya pada kehendak Taqdir.
Saat ia pulang dua tahun kemudian,keluarganya menjodohkannya dengan Aisha,gadis cantik yang sepadan dengannya.yakni sama-sama anak Kyai pemilik pesantren.Di saat yang sama ia juga kembali bertemu dengan Najwa Aulia yang masih di cintainya tanpa jeda.
Siapakah kemudian yang akan di pilih oleh Ibrahim Adlan.Apakah Aisha yang telah di anggapnya sebagai adik,ataukah Najwa yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengannya,yang mungkin tidak akan di setujui orang tuanya..
Untuk tau jawabannya,simak ceritanya yukk..
ENGKAULAH TAQDIRKU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Engkaulah Taqdirku 32
Sepasang mata bening nan tajam berhias bulu lentik
itu menatap terarah wajah ayu Najwa Aulia.
sebelum kalimatnya mengalir,terlebih dulu ia sampaikan lewat tatapannya.Agar wanita di depannya itu paham,seberapa dalam ia bersungguh-sungguh dengan pernyataannya.
" Mungkin aku memang egois, aku hanya mementingkan perasaanku sendiri ketika aku menolak isha. aku tak memikirkan bagaimana perasaan bibi,perasaan Aisha.saat itu aku hanya merasa ingin hidup bersama dengan orang yang aku sayangi,bersama kamu Najwa.Karna itu aku tegaskan di depan semuanya,bahwa aku memilihmu."..
" Itu gak mungkin Ra..gak akan semudah itu anda menyayangi seseorang..saya tau itu". Najwa menggelengkan kepalanya keras.hal yang di dengarnya saat ini jauh bertolak belakang dari apa yang di ketahuinya.
Sejak awal masuk menjadi tenaga pengajar di Al Falah ia sudah cukup tau mengenai putra sulung kyai pengasuh Al Falah itu, meski cuma sekedar kabar dari mulut ke mulut.Namun sebagian besar dari kabar itu memiliki kesamaan,yang bisa di pastikan kalau delapan puluh persen kabar itu benar adanya.
Salah satu beritanya tentang Ibrahim Adlan yang sejak menginjak usia remaja sudah tak lepas dari skenario perjodohan dengan gadis-gadis yang sepadan.Dalam tanda kutip, cantik,pintar,shaliha,putri kyai pemilik pesantren.
Namun tak satupun dari perjodohan itu yang terlaksana.Karna adanya penolakan dari Ibrahim Adlan dengan alasan,karna tak memiliki perasaan istimewa pada calon-calon jodohnya.
Hingga lalu terbentuk penilaian tentang kriteria yang sangat tinggi dan sulit terjangkau dari seorang wanita, yang akan membuat pemuda tampan itu jatuh cinta.
Namun kini ibrahim adlan justru menyatakan rasa suka kepadanya,yang notabene seorang wanita biasa.
bukan keturunan kyai dan bahkan sudah janda,
jelas kalau Najwa langsung mengingkari.
" Saya tau anda tidak akan mudah jatuh cinta Ra,
anda tidak usah berkilah seperti ini...ini hanya membuat perasaan saya tambah sakit Ra,saya..
" Aku lebih dulu mencintaimu sebelum Mas Irfan , Najwa.". Ibrahim Adlan cepat memotong ucapan wanita itu dengan tegas.
"Ee apa??"..Najwa jadi gelagapan mendengarnya.
" Aku sudah menyimpan perasaan ini selama bertahun-tahun,dan kau bilang aku berkilah??"
rasa sedih dan kecewa membaur dalam dirinya,ketika pernyataannya di ragukan,dan perasaannya di sangsikan.
Padahal selama bertahun-tahun menyimpan perasaan cinta pada wanita yang ada di depannya itu,
tak hanya rasa bahagia saja yang di dapatinya karna sudah merasa jatuh cinta pada seseorang.Tapi juga rasa sedih, rasa sakit, rasa kecewa ketika kenyataan tak seindah yang di harapkan.Juga rasa rindu tak tertahankan yang terkadang merampas kewarasannya.Semua itu ia redam dalam doa dan sujud bahkan terkadang di selingi tangis, selama bertahun tahun di jalaninya.
Hanya keyaqinan yang ia jadikan sandaran,bahwa suatu saat rasa yang di milikinya tak akan terbuang sia-sia.
Namun ia tak dapat menyalahkan Najwa dengan ketidak percayaannya.Karna ia memang tidak pernah
memberitaukan apa-apa.
Pemuda tampan itu perlahan mengusap wajahnya.
isak tangis lirih Najwa terdengar bak irama di pendengarannya. " aku rasa,kau mampu merasakan getar perasaanku saat itu Najwa.Saat aku berpamitan
padamu sebelum aku berangkat ke Ummul Quroo.
saat itu kau menangis,dan aku tau tangisanmu itu untukku.Aku pikir kau tau perasaanku sejak itu".
Adlan berkata lembut,lembut sekali.
" Saya..saya.." Najwa masih terbata di antara isak tangisnya. " saya terlalu naif Ra,saya gak berani berpikir sejauh itu." ujarnya kemudian dengan terisak.
" Saat itu aku sengaja mempercepat keberangkatanku ke Makkah, karna kamu Najwa..
karna aku tidak sanggup melihatmu menikah dengan orang lain,yang justru adalah kakakku sendiri.
aku merasa sakit, dan lebih sakit lagi ketika aku berpamitan padamu saat itu, karna aku merasa harus melepaskan perasaan yang bahkan baru aku sadari keberadaannya, untuk selamanya".
Rasànya seberapapun banyaknya tetesan air mata yang tercurah mendengar ucapan Ibrahim Adlan itu,
tak cukup untuk menggambarkan perasaan Najwa
saat ini.
Ketika ia ingat kembali pada peristiwa itu, dimana
Ibrahim Adlan berpamitan padanya seraya menjabat tangannya. Saat itu ia merasa begitu sedih dan kecewa.Seperti akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.Tapi ia juga tidak mengerti
kenapa.
Berhari- hari semua itu menjadi pertanyaannya.
Bahkan ketika dirinya telah menjadi istri seorang Irfan Zidni, kenangan akan hal itu masih sering
membayangi hari-harinya.
Dan kini lambat laun ia mulai memahami semuanya..namun situasinya sudah rumit terasa.
" Kenapa..anda tidak pernah memberitaukan saya
waktu itu Ra??"
" Karna aku ingin..mengatakan perasaanku padamu, setelah kau menjadi yang halal untukku..".
Najwa tertunduk air matanya kian luruh.
tak ada lagi kalimat yang mampu di ucapakannya.
" tolong..jangan menangis Najwa!!".
Adlan menatapnya dengan seksama.
Namun Najwa Aulia benar-benar masih berada dalam
situasi tak mampu menguasai dirinya.
air matanya tak mau berhenti, seiring hatinya yang terasa lara.
" Berhentilah menangis Najwa, sebelum aku tidak mampu menguasai diriku untuk memelukmu dan menghapus air matamu".. Ibrahim Adlan mentapnya dalam.
Najwa segera mengalihkan posisi tubuhnya ke arah samping .Lalu mengusap air matanya dengan kedua
tangan.Namun kedua pundaknya masih berguncang
menahan sesenggukan.karnanya ia memilih untuk pergi begitu saja dari tempat itu.
" Najwa!!" Ibrahim Adlan memanggil tertahan.
Najwa Aulia menghentikan langkah. berbalik menatapnya dengan wajah basah.
" Saya minta maaf"
" Apanya yang perlu ku maafkan??"
" Saya sudah salah paham".. kini.sulit bagi najwa untuk tidak percaya pada apa yang di katakan Adlan
padanya.
Ibrahim Adlan tersenyum.
" Tolong..jenguklah Aisha..sebentar saja Ra..!!"
ia menatap memohon..sebelum lalu bergegas pergi
meninggalkan pemuda tampan itu.
**
nangiss bombay malam2 😭😭