"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Aku kembali diam setelah mas Aga bilang akan ke Bogor lagi, mungkin dia bersikap manis kali ini agar jika ibu pulang nanti, aku tidak melaporkan apapun ke ibu. Dia masih penuh banyak misteri.
Aku membantunya mengemas barang-barang nya, aku heran kenapa kali ini dia membawa banyak barang. Apa dia akan mendaki lama? Terserah dia saja, toh hubungan kami tidak sedekat itu.
"Kemarin aku jatuh Rin"
Aku langsung menoleh ke arahnya, menatapnya tak percaya. Kakiku cidera dalam. Kemarin mungkin aku hampir saja kehilangan nyawa jika tidak di tolong seseorang"
"Kenapa mas baru cerita sekarang?"
"Karena mas nggak mau kamu dan ibu hawatir, kakiku sakit bukan karena kelelahan mendaki, tapi karena aku terpeleset dan hampir terjatuh ke jurang"
Aku menatap kakinya, menang ada beberapa memar di sana, aku juga sempat curiga, tapi karena kami jarang berkomunikasi, aku memilih diam dan tidak bertanya, aku hanya fokus merawatnya saja.
"Semua sahabat ku pergi karena mereka mendengar suara binatang buas, aku bertaruh nyawa sendirian, namun ada orang baik yang menolong ku, aku di selamatkan oleh dia, tapi sekarang orang itu sakit"
"Jadi mas ke sana mau jenguk orang itu?"
Dia mengagguk pelan, aku ikut mengagguk mengerti, mungkin dia berniat balas Budi dengan orang itu.
Mendadak mas Aga menarik kedua tanganku, menggenggam nya erat.
"Maafin mas ya Rin? mas salah faham sama kamu, mas sudah salah membenci kamu, kamu wanita yang sangat baik"
Mas Aga menatapku begitu lama, pandangan yang sama sekali tidak aku mengerti. Tatapan mas Aga nampak sayu, perlahan dia mengikis jarak di antara kami, apa yang akan dia lakukan? Kenapa dia makin mendekat? Hatiku rasanya jungkir balik tidak karuan, apalagi saat mas Aga meminta izin mencium ku.
Aku memalingkan wajah, dia menyentuh dagu ku memutar wajahku perlahan. Perlahan pula dia mulai mendekatkan bibir kami.
Aku hanya diam, aku tidak tahu harus bagaimana? apa aku harus membalas ciumannya? Jujur aku begitu terkejut dia melakukan ini. Apa ini? Apa dia sudah memberi ku sebagai istrinya? Dia mulai bersikap romantis, tutur katanya juga lembut, tapi kenapa? Apa bisa orang berubah begitu saja dalam waktu satu hari?
Gerakan tangannya mulai aktif masuk ke bawah rok yang aku kenakan, mas Aga mulai meraba paha ku, aku menahan diri agar tidak melenguh di depannya.
Dia menyadarinya dan melepaskan ciumannya.
"Jangan di tahan, mendesah lah"
Kata-kata itu benar-benar membuat wajahku memerah, aku tidak punya pengalaman sama sekali tentang hal ini, selama ini aku tidak pernah pacaran atau dekat dengan lelaki lain, itu ku lakukan karena sejak awal ibu sudah menegaskan padaku jika setelah lulus nanti, aku akan di nikahkan dengan mas Aga.
Sepertinya mas Aga hendak meminta malam pertamanya, tapi jujur aku masih ragu dengan hatinya. Apa dia tulus? Atau hanya ingin kembali mempermainkan aku? Aku takut kembali terluka jadi aku menutup bibirku dengan tangan saat mas Aga ingin mencium ku lagi.
"Arin belum siap mas, ini terlalu mengejutkan" Jujur ku. Dia seperti salah tingkah.
Aku jadi merasa tidak enak padanya.
"Eee jaket ku belum aku masukkan, sepertinya masih di jemur di belakang. Aku kebelakang dulu ya Rin ambil jaket"
"Iya mas"
****
Malam ini mas Aga tidak jadi berangkat, karena ibu terlanjur pulang, dia tidak enak pergi saat ibu baru datang, jadi mas Aga memilih pergi besok saja.
Mas Aga meminta ku tidur di ranjang, tapi aku menolak, jujur aku masih belum siap jika dia kembali meminta hak nya. Aku memang sudah lama menunggu hari ini, tapi aku masih ingin tahu ketulusan hatinya, jujur aku masih ragu kenapa dia mendadak berubah.
Paginya, mas Aga sudah siap pergi, aku membawakan dia bekal, dia tersenyum dan berterima kasih padaku. Ibu juga tersenyum melihat perubahan sikap mas Aga padaku.
"Kamu nggak mau ikut sekalian Rin?" Tawar ibu.
"Kamu mau ikut?" Mas Aga langsung bertanya padaku.
Aku menggeleng pelan.
"Kenapa Rin?"
"Toko sudah tutup lama Ibu, nanti kalau tutup terus takut pelanggan kabur"
"Ibu bisa menghandle nya, kamu pergi saja sama Aga"
"Tapi Ibu baru saja sembuh, Arin tidak tega"
"Ya sudah, lain kali saja kalian pergi berdua, nanti ibu Carikan hotel yang romantis"
"Iya Bu"
Mas Aga pamit, seperti biasa aku mencium tangannya, namun kali ini dia tidak langsung melepas tanganku, dia justru menarik tangan ku dan mencium kedua pipi dan keningku.
Ibu makin tersenyum melihat kami.
"Nah gitu dong, pengantin baru itu harus romantis " Kekeh Ibu.
"Tentu Bu, Aga berangkat dulu ya?"
"Iya nak, hati-hati"
Aku keluar rumah mengantar kepergian mas Aga, dia membuka kaca mobil. Dia tersenyum dan melambaikan tangan ke arah ku, aku ikut tersenyum, tangan ini juga refleks ku angkat dan membalas lambaian tangannya.
'Rin?'
'Kamu lagi apa?'
'Rin? Kog nggak di angkat?'
'Rin.....????????'
Tepat jam satu siang aku baru membaca pesan dari mas Aga, aku tersenyum saat membaca pesannya, banyak sekali emoji lucu yang dia kirimkan padaku.
Aku jarang bawa hp saat mengadon kue, lagi pula aku punya hp khusus untuk pelanggan kue kami, jadi ponsel pribadi ku jarang tersentuh.
Aku sangat terkejut saat melihat begitu banyak pesan masuk dari mas Aga.
'Maaf mas, baru istirahat'
Jawab ku singkat. Aku begitu senang melihat pesan ini, untuk pertama kalinya mas Aga berkirim pesan lebih dulu padaku. Aku bahkan terus memandangi emoji yang dia kirim. Rasanya gambar-gambar itu seperti bunga yang mas Aga berikan padaku.
Begitu jawaban ku centeng biru, mas Aga langsung menelepon. Aku terkejut, aku bingung harus mengangkatnya atau tidak. Mana keadaan ku kucel sekali. Hari ini begitu buka toko, kami langsung di serbu pelanggan, hari ini sangat melelahkan tapi terbayar lunas saat mas Aga mengirimi pesan untukku. Aku jadi grogi saat aku ingin mengangkat telfonnya.
"Assalamualaikum Rin"
"Wa'alaikum salam mas.."
"Sudah makan?"
"Sudah mas, sama roti"
"Kog roti, makan nasi Rin"
"Arin masih kenyang mas. Mas Aga sudah makan?"
"Belum"
"Kenapa?" tanyaku hawatir.
"Nggak nafsu Rin, dari tadi mas wa nggak di balas-balas"
"Sekarang sudah di balas mas, mas Aga makan, nanti sakit lagi"
"Aku justru ingin sakit lagi Rin" Gumamnya sangat pelan, namun masih bisa aku dengar.
"Mas bilang apa?"
"Tidak, tidak apa-apa. Kamu Istirahat Rin, jangan capek-capek"
"Iya mas, ini juga lagi istirahat kog"
hening tak ada suara lagi, aku juga bingung mau bicara apa.
"Eeeee kamu minta oleh-oleh apa Rin dari sini?"
"Tidak usah mas, yang penting mas pulang dengan selamat"
"Pasti, mas juga sudah tidak sabar ingin ketemu kamu"
Kalimatnya sukses membuat ku tersipu malu, rasanya siang ini seperti mimpi, mas Aga menelfon dan berkirim pesan duluan padaku. Apa dia sudah berubah? haruskah aku memberikan malam pertama itu setelah dua pulang? Wajahku kembali tersipu mengingat semalam. Ciuman pertama ku sudah di ambil oleh nya. Rasanya aku tengah menjadi orang yang paling bahagia di dunia.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...