Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032
Lipstick Merah
"Bagus," katanya. "Besok aku pakai lipstick merah."
Natasha benar-benar datang dengan lipstick merah.
Merahnya tidak mencolok murahan, tetapi tajam seperti tanda peringatan. Begitu Seraphina masuk ke ruang privat restoran tempat Jason mengadakan dinner perayaan, Natasha sudah duduk di dekat pintu dengan gaun hitam, rambut diikat rapi, dan senyum yang membuat Jason terlihat ingin menghubungi keamanan tambahan.
"Lo datang," kata Natasha.
"Ini acara untuk Astoria," jawab Seraphina.
"Ini acara untuk melihat siapa yang perlu gue injak secara sosial."
Jason yang baru keluar dari sudut bar langsung mengangkat tangan. "Sebelum ada yang diinjak, izinkan tuan rumah mengingatkan bahwa lantai restoran ini mahal."
"Ko Jason, kalau kau mengundang ular, jangan protes kalau ada pawang."
"Aku tidak mengundang. Namanya masuk lewat tanteku. Katanya Yolanda dekat dengan beberapa sponsor charity yang juga mendukung pilot kota."
Seraphina meletakkan tasnya di kursi. "Jadi dia punya alasan masuk."
"Alasan palsu tetap alasan kalau dibungkus kartu nama," kata Natasha.
Reynard datang tidak lama setelah itu. Berbeda dari akhir pekan di Teluk Mutiara, malam ini ia kembali menjadi Reynard Hartono yang dikenal publik: jas gelap, wajah tenang, jarak yang sulit disentuh. Ia menyapa Jason, mengangguk pada Michelle dan Jessica, lalu berhenti di depan Seraphina.
"Bu Sera."
"Pak Rey."
Natasha mengeluarkan suara batuk yang sangat palsu.
Jason menatap langit-langit. Michelle menahan senyum di balik gelas. Jessica pura-pura sibuk melihat menu.
Seraphina menatap Natasha dengan peringatan. Natasha mengangkat kedua tangan, tetapi matanya jelas berkata bahwa ia akan menggunakan informasi ini untuk hiburan seumur hidup.
Dinner dimulai cukup hangat. Beberapa partner muda yang benar-benar terkait proyek hadir, termasuk dua orang dari jaringan Halim yang ingin mendengar perkembangan pilot Dinas. Seraphina menjawab pertanyaan dengan ringkas. Jason memastikan semua percakapan tetap ringan. Reynard duduk di sisi seberang meja, tidak terlalu dekat, tetapi setiap kali pelayan mengisi gelas Seraphina terlalu penuh, ia melihatnya.
Seraphina pura-pura tidak menyadari.
Ia hampir berhasil.
Lalu pintu terbuka.
Yolanda Lim masuk dengan gaun warna champagne dan senyum yang sudah dilatih untuk membuat orang merasa bersalah jika tidak membalas. Ia tidak datang sendiri. Di belakangnya ada dua perempuan dari lingkaran charity Wibowo yang tampak kebingungan, seolah baru sadar mereka dijadikan alasan masuk ke ruang yang tidak sepenuhnya menerima mereka.
"Maaf terlambat," kata Yolanda manis. "Aku dengar ini dinner kecil untuk merayakan proyek Kak Sera. Aku tidak mau ketinggalan mendukung keluarga sendiri."
Kak Sera.
Seraphina merasakan meja itu berubah dingin setengah derajat.
Natasha meletakkan garpu.
Jason berdiri sebagai tuan rumah, senyum sosial terpasang rapi. "Silakan, Yolanda. Karena sudah datang, duduk saja."
Yolanda menoleh cepat, mencari posisi. Kursi kosong yang paling dekat dengan Reynard ada di ujung, sengaja dibiarkan untuk partner yang belum hadir. Ia melangkah ke sana.
"Ko Rey," sapanya lembut, "lama tidak bertemu."
Reynard tidak berdiri. Tidak tersenyum.
"Pak Hartono," katanya.
Langkah Yolanda berhenti.
Suara sendok di tangan seseorang terdengar terlalu keras.
Natasha menyesap air putih, matanya berbinar.
Yolanda tertawa kecil, mencoba menutup malu. "Maaf, kebiasaan. Kita kan sudah sering bertemu di acara keluarga."
"Saya tidak ingat memberi izin untuk panggilan itu."
Kalimat itu jatuh bersih di meja.
Seraphina menunduk sebentar, bukan karena ingin menyembunyikan diri, tetapi karena ia perlu menahan wajahnya tetap datar. Di dalam dadanya, sesuatu yang kecil dan jahat merasa puas.
Yolanda memucat tipis. Namun ia belum menyerah. Ia duduk di kursi dekat Reynard, lalu menoleh pada Seraphina.
"Kak Sera tidak keberatan, kan? Aku hanya ingin ngobrol dengan Pak Hartono soal peluang kerja sama charity. Papa juga sering bilang hubungan baik antar keluarga harus dijaga."
Natasha tersenyum.
Itu senyum paling berbahaya malam itu.
"Yolanda," katanya manis. "Kalau mau bicara charity, kau duduk di dekat aku. Wibowo charity yang kau pakai sebagai alasan masuk, bukan Hartono."
Yolanda berkedip. "Aku hanya ingin menyapa."
"Menyapa bisa dari jarak tiga kursi. Tidak perlu seperti mau menyandarkan nasib keluarga di lengan jas orang."
Jason tersedak minuman.
Salah satu perempuan charity menunduk cepat.
"Tasha," Yolanda mencoba tertawa. "Kau selalu lucu."
"Aku belum mulai lucu."
Seraphina mengambil napas pelan. Ia tahu Natasha bisa menghancurkan Yolanda hanya dengan tiga kalimat lagi, tetapi ini tetap acara Jason dan proyek Astoria. Ia tidak mau drama keluarga Lim menelan semua.
"Yolanda," katanya tenang, "kalau kau datang untuk mendukung proyek Astoria, terima kasih. Duduklah di sisi partner charity. Pembahasan bisnis malam ini tidak informal."
Yolanda menatapnya. Senyumnya retak sedikit. "Kak Sera, aku hanya ingin membuat suasana hangat."
"Suasana sudah hangat sebelum kau datang."
Kali ini Jessica benar-benar batuk untuk menahan tawa.
Reynard menoleh ke Jason. "Kursi di dekat saya untuk siapa?"
Jason langsung menangkap. "Untuk partner logistik dari Halim. Dia sedang parkir."
"Kalau begitu biarkan kosong."
Pesan itu jelas. Yolanda tidak boleh duduk di sana.
Natasha berdiri, mengambil tas kecilnya, lalu menunjuk kursi di sebelahnya. "Sini. Aku mau dengar sekali lagi bagaimana kau mendukung keluarga sendiri."
"Aku bisa duduk di mana saja."
"Benar. Dan malam ini, di mana saja itu di sini."
Tidak ada orang yang berani menolong Yolanda. Ia akhirnya berjalan ke sisi Natasha dengan langkah yang masih berusaha elegan. Begitu duduk, Natasha mencondongkan badan dan berkata cukup keras agar setengah meja mendengar.
"Aturan pertama di meja ini: jangan panggil laki-laki orang dengan nada manja kalau orangnya sendiri sudah menyuruhmu berhenti."
Yolanda membeku.
Seraphina menatap gelasnya. Laki-laki orang. Natasha sengaja membuatnya ambigu. Tidak membuka rahasia, tetapi cukup untuk menandai batas.
Reynard tidak bereaksi. Namun di bawah meja, ponsel Seraphina bergetar.
Rey:
Aku menyukai sahabatmu.
Seraphina membalas tanpa menatap layar terlalu lama.
Dia akan meminta piagam.
Balasan Reynard datang pendek.
Beri dia.
Dinner berlanjut dengan ketegangan yang lebih tajam, tetapi justru lebih menghibur bagi sebagian orang. Setiap kali Yolanda mencoba menyelipkan kalimat tentang keluarga Lim, Natasha memotong dengan pertanyaan charity. Setiap kali Yolanda melirik Reynard, Reynard berbicara pada Jason atau Seraphina tentang proyek. Seraphina tidak perlu membela dirinya berkali-kali. Untuk pertama kalinya, ada orang lain yang memasang pagar sebelum luka lama sempat dilempar ke arahnya.
Di akhir acara, Yolanda berdiri dengan wajah yang masih berusaha manis.
"Kak Sera, Papa pasti senang mendengar proyekmu dirayakan banyak orang."
Seraphina menatapnya. "Kalau Papa ingin tahu perkembangan proyek, dia bisa membaca rilis resmi Astoria."
"Keluarga tidak perlu serapi itu."
"Astoria perlu."
Yolanda tidak punya jawaban yang cukup aman. Ia akhirnya pamit pada Jason, mengangguk kecil pada Reynard yang tidak membalas lebih dari sekadar sopan, lalu pergi bersama dua perempuan charity yang tampak lega keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, Jason mengembuskan napas panjang. "Aku akan membakar semua guest list keluargaku."
"Bagus," kata Natasha. "Pakai lipstickku sebagai pemantik."
Michelle tertawa pelan. "Kau luar biasa malam ini."
"Aku tahu."
Seraphina menyentuh lengan Natasha sebentar. "Terima kasih."
Natasha meliriknya, lalu melunak. "Simpan terima kasihmu. Masih banyak ular di Jakarta."
Ponsel Seraphina bergetar. Bukan dari Reynard. Nama Ko Adrian muncul di layar.
Ia mengangkatnya di luar ruang privat, dekat lorong yang lebih tenang.
"Ko?"
Suara Adrian Tjiandra terdengar rendah dan akrab. "Sera, Vincent baru mendarat di Jakarta. Dia bilang ingin bertemu kau besok kalau jadwalmu memungkinkan."
Seraphina terdiam, lalu tanpa sadar tersenyum.
"Ko Vincent di Jakarta?"
Dari pintu ruang privat yang sedikit terbuka, Reynard mendengar nama itu.
Senyumnya menghilang.