NovelToon NovelToon
Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: lisxone

Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketegasan Hana

Cekkleekk

Dimas membuka pintu kamarnya, dan ternyata tidak terkunci. Hana sengaja tidak mengunci kamarnya agar Dimas bisa masuk ke kamar.

Kamu tidak memasak, Han? Aku lapar, ibu dan yang lainnya juga belum makan."Ucap Dimas tanpa merasa bersalah sama sekali tadi pagi sudah memukul Hana.

Hana diam membisu dan tetap fokus dengan layar ponselnya. Melihat Hana yang tidak merespon perkataannya membuat Dimas mulai terbawa emosi. Dimas mencengkram lengan Hana, sampai Hana meringis kesakitan.

Lepaskan, Mas !! Kalau kamu seperti ini, aku bukannya akan menuruti kemauan kamu tapi aku justru akan membencimu."Seru Hana dengan sorot mata tajam.

Dimas pun melepaskan cengkramannya, baru kali ini dia melihat Hana marah. Jika pun marah tidak akan seberani sekarang.

Apa? Kalian lapar ? Kalau lapar ya masak saja sana, itu bahan makanan di kulkas ada. Kenapa harus meminta makan sama aku? Aku bukan pembantu kalian mas, yang tinggal di rumah ini bukan hanya aku saja. Aku capek mas diperlakukan seperti ini, selama 3 tahun aku menjadi pembantu mereka. Kamu juga tidak ada niat sedikitpun untuk membela ku, selama ini kamu itu menganggap aku apa mas?."Seru Hana akhirnya lolos juga amarahnya.

" Jika mas Dimas tetap seperti ini, aku tidak sanggup lagi mas. Mas pilih kita pisah atau mas suruh mereka bertiga keluar dari rumah ini !!."Ucap Hana dengan mata yang sudah berkaca‑kaca.

Hahhh... !!

Cerai ? Dimas tidak mau bercerai dari Hana, meskipun dia bersikap cuek dan tidak pernah membela Hana. Dimas masih sangat mencintai Hana, untuk saat ini Dimas juga membutuhkan Hana. Jika mereka cerai siapa lagi yang akan menanggung hidup keluarganya. Dimas memang mencintai Hana, tapi dia juga egois. Dia egois, memanfaatkan keuangan Hana agar uang pribadinya bisa dia nikmati sendiri.

" Hana, kenapa kamu bicara seperti itu? Sampai kapapun aku tidak akan menceraikanmu. Aku sangat mencintaimu, dan aku juga sangat menyayangi keluargaku. Hana, jangan memberikan pilihan yang tidak bisa aku pilih."Ucap Dimas sudah melunakkan suaranya agar Hana tidak marah.

Kamu menyayangi keluargamu, tapi kamu mengorbankan aku, Mas? Cinta macam apa itu?."Seru Hana lagi.

Jika sudah seperti ini Dimas tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak mungkin akan berlanjut untuk memarahi Hana atau marah sama Hana. Salah langkah, Hana akan benar benar meminta cerai darinya. Jika itu sampai terjadi, apa yang akan dia katakan kepada ibunya? Selama ini yang ibunya tahu jika rumah dan semuanya miliknya, dan gajinya juga besar. Dimas belum siap kehilangan itu semua dan belum siap untuk bicara jujur dengan ibunya.

Sehingga dia pun mencari jalan yang aman, dengan berpura‑pura menyesali perbuatannya.

Hana, maafkan mas. Tadi pagi mas benar‑benar khilaf sampai mas menamparmu. Tolong maafkan mas, dan jangan marah lagi."Ucap Dimas membawa Hana kedalam pelukannya.

" Jangan peluk‑peluk aku !! Aku bisa memaafkanmu mas, tapi kamu harus bisa bersikap adil. Kamu bisa menasehati keluargamu agar tidak semaunya di rumah ini, atau kamu mau kalau aku yang memberitahu mereka kalau ini itu rumahku? Selama 3 tahun mereka menjadikan aku pembantu mas. Jika mereka masih ingin tetap tinggal di sini, lakukan pekerjaan sendiri. Paling tidak mereka ikut membereskan rumah dan membereskan pakaiannya sendiri."Seru Hana masih tersulut amarah.

Iya mas janji, mas akan bicara sama mereka bertiga. Tapi kamu sudah memaafkan mas kan, Han?."Tanya Dimas berharap Hana tidak marah lagi.

Tergantung. Aku lihat dulu perubahan mu dan bukti janjimu itu. Sekarang mandilah, dan jika mau makan sana beli sendiri."Seru Hana masih ketus.

Hana naik ke atas ranjang lalu berbaring, dia menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Sudah tidak menghiraukan Dimas yang masih tetap berdiri di samping ranjangnya.

Hhuuhh... mungkin untuk saat ini aku mengalah dulu sampai aku bisa menaklukkan Hana. Kenapa susah sekali membuat Hana untuk merubah surat kepemilikan rumah ini? Aku juga sudah mencari surat rumah ini, tapi tidak juga ketemu. Disimpan di mana sama Hana.*Gumam Dimas dalam hatinya.

Pagi menjelang, wajah‑wajah sumringah penghuni rumah Hana sudah keluar dari kamarnya masing‑masing. Bagaimana tidak? Hari ini adalah hari gajian Dimas, yang mana hari ini pasti mereka akan menerima jatah uangnya masing‑masing.

Namun keadaan rumah masih tetap seperti semalam, masih berantakan dan di atas wastafel menumpuk piring dan gelas kotor bekas mereka makan.

Bu, kok rumah masih berantakan sih? Bukannya semalam Dimas sudah bilang, tolong mulai hari ini bantu pekerjaan rumah. Kalau Hana marah lagi juga kita semua yang akan susah bu. Rumah kotor, makanan tidak ada juga kan? Ayolah bu, untuk sementara saja sampai Hana benar‑benar tidak marah."Seru Dimas " Kenapa tidak kamu ceraikan saja istrimu itu, Dim? Dia di sini itu cuma orang lain, kenapa kamu takut sama dia? Sudah mandul tapi kurangajar juga sama mertua."Ucap ibu Sundari terus mengomel.

Tidak semudah itu Dimas menceraikan Hana, Bu. Sudahlah bu, jangan memperkeruh suasana lagi."Ucap Dimas memohon.

" Mbak Hana !!!."

Tiba‑tiba dari arah tempat laundry Lastri berteriak. Mendengar teriakan Lastri yang melengking membuat Dimas dan ibu Sundari serta Sintia yang baru keluar dari kamar segera berlari menghampiri Lastri.

Ada apa Lastri? Suara kamu terdengar sampai ruang tamu."Tanya Dimas.

Lihatlah kelakuan istrimu mas, masa dia tadi cuma mencuci pakaiannya sama punya mas saja. Punya ku tidak dia cuci dan hanya dia tumpuk di sini. Benar‑benar kurangajar, padahal baju‑baju ini sudah aku tumpuk di sini dari kemarin sore."Ucap Lastri bicara dengan kesal.

Mata ibu Sundari dan Sintia meneliti pakaian yang terongok di dekat mesin cuci. Seketika mata mereka melebar, saat mendapati pakaian mereka juga berada dalam tumpukan itu.

Haahh ? Baju‑baju mahal ku dia tumpuk jadi satu begini? Dan tidak Hana cuci? Benar‑benar ini si Hana."Seru Sintia kesal.

Pakaian ibu juga tidak di cuci?."Seru ibu Sundari.

Ketiga wanita yang berbeda‑beda usia itu nampak kesal dengan Hana. Dimas melihat itu semua ingin marah dengan Hana, namun dia urungkan. Untuk saat ini dia tidak mau membuat Hana marah, sebab Hana sudah berani mengancamnya untuk bercerai.

Sudahlah, kalian cuci saja sendiri. Lagian itu ada mesin cuci kan? Selama ini Hana justru mencuci hanya pakai tangan saja."Ucap Dimas akhirnya dia mengeluarkan suaranya juga.

Tapi Dim, ini semua kan pekerjaan kasar. Ini pekerjaan pembantu dan di rumah ini hanya Hana yang pantas mengerjakan pekerjaan ini. Lihatlah tanganku yang halus ini, masa kamu tega sih Dim melihat tangan halusku jadi kasar gara‑gara mengerjakan pekerjaan pembantu."Seru Sintia sambil menempelkan telapak tangannya di tangan Dimas.

Jantung Dimas berdetak lebih cepat saat tangan Sintia memegang tangannya. Sintia tersenyum manis membuat Dimas semakin salah tingkah.

Eheemm eheemmm

Apa yang kalian lakukan di sini? Mau gotong royong mencuci? Oh iya mas, ini sudah siang apa kamu tidak mau ke kantor? Aku mau berangkat duluan ya. Bye..."

Hana tersenyum sinis, lalu pergi begitu saja. Dia tadi melihat bagaimana interaksi Sintia dengan Dimas.

1
Heni Setiyaningsih
haaddeeuuh...alamat ini mah modelan suami mokondo/Left Bah!//Left Bah!//Left Bah!/
Anonim
hah dimas?? enggak ngerti nih cerita nya
Anonim
woy BISA NULIS GA SIH
Ma Em
Heran ya sama Bu Sundari dan menantu sintingnya si Sintia ga punya otak masa arisan dirumah orang , Hana buat mereka semua kapok agar TDK berani ganggu kamu lagi Hana bila perlu laporkan saja ke polisi agar tdk ganggu Hana lagi .
Anonim
BUNUH SAJA SEKALIAN SEMUANYA BUNUH
Anonim
BUNUH SEMUA NYA
Anonim
KAU YANG HARUS MATI ANJING
Ma Em
Akhirnya Hana berpisah juga dgn Dimas tanpa uang sepeserpun uang yg Dimas terima untuk permintaan Dimas yg katanya harta gono gini , benalu minta bagian harta sedangkan Dimas dan keluarganya Hana yg tanggung biaya hdp nya bahkan Domas tdk pernah memberikan nafkah untuk Hana , dasar Dimas muka tembok tdk punya malu Dimas cuma modal mokondo .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!