Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. SBR
...~•Happy Reading•~...
Wajah Janet memerah. Dia jadi merasa malu akan pikirannya pada Gevaro, karena mengira Devan sedang pura-pura tidak mengenalnya.
"Selain bapak tidak menunjukan gelagak mengenal saya, juga sikap bapak berbeda dengan orang itu. Saya berpikir, mungkin orang itu sedang sakit atau amnesia. Jadi biarkan saja sampai ingat perbuatannya pada saya. Baru saya akan...." Janet tidak meneruskan. Dia merasa tidak enak terhadap Gevaro.
"Tidak mengutuk saya dalam hati?" Gevaro terus bertanya untuk membuat Janet lebih santai, hingga mau menceritakan yang dilakukan Devan padanya.
"Apa lagi itu, Pak. Saya tidak berani kutuk. Tadi emosi spontan, karena dia bilang tidak mengenal saya. Padahal..." Janet tidak meneruskan lagi. Tapi nada suaranya menurun dan mulai tenang.
Sekarang dia merasa berbeda saat berhadapan dengan Gavaro. Tidak ada lagi pertanyaan mengapa Devan begini atau begitu. Tidak ada lagi prasangka atau praduga negatif. Dia seakan terlepas dari belenggu sakit hati yang mengikatnya.
Jika harus berlutut untuk mendapatkan maaf dari Gevaro, dia akan lakukan. Karena Gevaro telah memperlakukan dia dengan baik, tanpa mengetahui siapa dia dan masa lalunya dengan Devan.
"Baik. Kau mau cerita yang terjadi denganmu dan Devan?" Gevaro ingin tahu hubungan Janet dengan Devan dari dua belah pihak. Agar dia bisa menimbang yang terjadi sesuai porsinya dan tidak salah ambil keputusan.
Janet tidak menjawab, tetapi mengangguk dua kali dan menelan air liurnya. "Baik. Silahkan duduk." Gevaro menunjuk sofa. Kemudian dia berdiri dari kursi kebesarannya dan ikut duduk di sofa, sebab yang akan dibicarakan tidak berhubungan dengan perusahaan.
"Kapan kau mengenal Devan?" Gevaro langsung bertanya pada hal yang akan dibicarakan.
"Sekitar lima tahun lalu, Pak." Janet menunduk sambil menautkan jarinya, agar mampu membicarakan masa lalunya yang kelam dan menyakitkan.
"Lima tahun?" Gevaro mengulang pertanyaan sambil ingat usia Janet sekarang.
"Iya, Pak."
"Di mana?"
"Di rumah Mami Mas Devan, Pak." Janet coba bicara sopan, sebab bagaimana pun, Devan adalah saudara Gevaro. Oleh karenanya dia tetap menggunakan sebutan yang digunakan selama bersama Devan.
Gevaro memiringkan kepala sambil menatap Janet. Dia mengira pertemuan mereka di tempat bersenang-senang. "Dalam rangka apa, kau ke rumah kami?"
"Boleh saya ceritakan saja, Pak?" Tanya Janet, pelan.
"Ya, ceritakan saja, kalau kau bersedia." Gevaro menggerakan tangan mempersilahkan. Dia sangat penasaran mengetahui nama Maminya disebut.
"Begini, Pak. Papa saya bekerja sebagai sopir pribadi Mami Mas Devan. Karna suka berjudi, jadi pinjol, akhirnya terlilit hutang dan berhutang sama Mami Mas Devan. Karna tidak bisa bayar hutang, saya dibawa ke sana sebagai alat bayar hutangnya."
Gevaro terdiam. Dia menyandarkan punggung agar bisa tenang mendengar cerita Janet. Sebab ada banyak pertanyaan yang mulai memancing emosinya.
"Mami Mas Devan kasih saya sebagai hadiah ulang tahunnya..."
"Sebentar? Kau tidak dijadikan pelayan di rumah, tapi diberikan sebagai hadiah buat Devan?" Gevaro sangat terkejut. Sesuatu yang di luar nalarnya. Janet tidak dijadikan pelayan tanpa menerima gaji, untuk membayar hutang, tapi menjadi hadiah.
"Iya, Pak. Kata Mami ke Mas Devan, kalau saya bisa hamil, akan dinikahkan dan Mas Devan dijadikan pewaris."
"Stop di situ..." Gevaro sangat malu dan kecewa mendengar yang dilakukan Maminya. Dia berdiri dan berjalan ke jendela.
"Devan terima itu?" Rasa kesal dan penasaran menguasai hatinya.
"Iya, Pak. Saya dibawa ke apartemennya." Janet tetap menunduk.
"Berapa lama kau tinggal dengannya?"
"Setahun lebih, Pak."
"Setahun lebih?" Gevaro mengepalkan tangan. 'Dia bilang hidup bersama setahun lebih dengan sebutan wanita sambil lalu? Bangss...' Gevaro mengepalkan tangan makin kuat, agar tidak meninju jendela kaca di depannya.
"Lalu bagaimana kau bisa lepas dari dia?"
"Saya bilang sepertinya saya hamil. Saya mengira itu yang ditunggu, jadi berharap saya dibawa ke rumah sakit untuk memastikan hasil tespek." Janet tidak sopan lagi menyebut Devan. Emosinya mulai turun naik, harus menceritakan bagian yang sangat melukainya.
"Tapi dia bilang saya tidak mungkin hamil dengannya, karena dia pakai pengaman atau apa dan dia tidak terima sebab sudah punya kekasih. Dia menuduh saya selingkuh dan mengusir saya pergi dari apartemen malam itu juga." Janet menceritakan tanpa menarik nafas, agar apa yang dikatakan tidak menggores luka hatinya.
Gevaro kembali duduk dan memegang belakang kepalanya, agar tetap awas dan emosinya tidak meluap. "Itu empat tahun lalu?" Gevaro menebak.
"Iya, Pak." Jawab Janet sambil mengangguk.
"Kau berusia berapa saat itu?"
"Saya belum lama 20 tahun, Pak." Gevaro menghitung usia Janet dibawa Papanya.
"Dari situ, kau ke mana?"
"Ke rumah sakit untuk memastikan hamil atau tidak, Pak. Setelah tahu hamil, saya ditolong Mas Andri yang menjemput saya dengan mobil online yang saya pesan."
"Cukup. Saya sudah mengerti." Gevaro mengangkat tangan mencegah, karena bagian inti persoalan dengan Devan makin jelas.
"Sekarang ada apa-apa, kau kasih tahu Pak Jensen. Jangan coba-coba bertemu dengan dia seorang diri. Kau mengerti maksud saya?"
"Iya, Pak." Janet menjawab sambil mengangguk.
"Siapa pun yang mau bertemu denganmu, terutama Devan dan Mami. Kau masih ingat wajah Mami?"
"Masih, Pak." Janet menjawab cepat. 'Aku tidak akan lupa muka orang-orang itu.' Janet membatin.
"Termasuk Papamu, tidak boleh bertemu."
"Iya, Pak." Janet jadi melihat wajah Gevaro, sebab permintaannya sama dengan Andri. Tidak boleh bertemu dengan Papanya.
"Berikan kami minum." Ucap Gevaro kepada Jensen yang masih duduk diam sambil melihat Janet. Dia seakan tidak percaya yang dialaminya. 'Pantas tadi dia ingin sekali mencakar Devan.'
"Sekarang, katakan mau makan apa siang ini. Biar Pak Jensen yang pesan lunch buat kita." Gevaro kembali duduk di kursi kebesarannya. Dia sudah tidak sanggup mendengar perbuatan keluarganya yang memalukan.
"Baik, Pak." Jensen berdiri untuk mengambil air mineral buat mereka. Setelah memberikan kepada bossnya, dia berikan kepada Janet. "Ini minum dulu. Tunggu di ruangan. Nanti kita bicara lagi soal lunch."
"Terima kasih, Pak." Janet minum untuk melegakan tenggorokannya. "Saya permisi, Pak." Janet langsung pamit, sebab melihat wajah Gevaro keras dan memerah.
~▪︎▪︎
Setelah Janet keluar, Gevaro menghembuskan nafas panjang. Tangannya mengepal di atas meja dan memukul meja berulang kali. Jensen tidak berani bergerak melihat kondisi bossnya.
"Jensen, kau paham situasi ini bagi keluaga saya. Masukan Janet dalam prioritas penjagaanmu." Ucap Gevaro tegas setelah mengaitkan semua yang dikatakan Janet dan kondisi keluarganya.
"Siap, Pak." Jensen segera memasukan nama Janet dalam list prioritas keamanan setelah bossnya.
"Batalkan semua schedule hari ini. Saya tidak bisa konsentrasi bekerja." Ucap Gevaro lagi.
"Siap, Pak." Jensen langsung mengetik di ponsel.
"Apa Devan masih berhubungan dengan Meghan?" Gevaro bertanya, karena ingat yang dikatakan Janet tentang kekasih Devan.
"Masih, Pak. Justru menurut berita nyamuk di balik kelambu, mereka sudah menikah." Jensen coba bicara santai, sebab Gevaro masih mengepalkan kedua tangan di atas meja.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...