NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Identitas Tersembunyi / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Foto itu mengubah udara di kontrakan.

Kirana menyimpannya di dalam map, lalu memasukkan map ke bawah tumpukan baju di kamar. Setelah itu ia tetap merasa tidak aman. Ia memindahkannya ke tas kerja. Lalu merasa terlalu mudah ditemukan. Akhirnya ia membungkusnya dengan plastik dan menyelipkannya di dalam kotak beras.

Raka menyaksikan semua itu tanpa komentar.

Baru setelah Kirana menutup kotak beras, ia berkata, "Tempat yang menarik."

"Tidak ada yang mencari dokumen di beras."

"Orang lapar mungkin."

"Kalau pencurinya lapar, dia pantas dapat beras."

Raka tersenyum kecil, tapi senyum itu cepat hilang. Ia tahu Kirana sedang menenangkan dirinya sendiri.

Hari-hari berikutnya, Kirana bekerja lebih keras. Cicilan mobil membuatnya meminta shift tambahan. Ia juga menerima tawaran membantu acara malam di lounge hotel sebagai staf plating dan kadang membantu promosi minuman non-alkohol. Hotel Wijaya memang tidak sembarangan memakai staf dapur di area lounge, tapi Pak Dimas tahu Kirana butuh uang dan Chef Arman mengizinkan selama tidak mengganggu jam dapur.

Raka tidak setuju.

"Jam kerjamu sudah panjang."

"Cicilan juga panjang."

"Saya bisa..."

"Jangan mulai."

"Saya belum selesai."

"Aku tahu ujungnya."

Raka menatapnya dengan kesal yang ditahan. "Kamu keras kepala."

"Kamu juga."

"Saya bisa membayar tanpa kesulitan."

"Itu justru masalahnya."

"Kenapa?"

Kirana meletakkan seragam ke tas. "Karena aku belum tahu uangmu datang dari mana. Aku tidak mau menerima bantuan yang nanti membuatku merasa lebih bodoh."

Raka terdiam.

Kalimat itu tidak keras, tapi mengenai tempat yang tepat.

Ia belum membuka identitasnya. Maka ia tidak punya hak memaksa Kirana menerima perlindungan penuh.

"Baik," katanya akhirnya. "Tapi saya antar jemput."

"Pakai taksi?"

"Kalau kamu mau."

"Pakai mobil teman?"

"Kalau kamu tidak marah."

"Aku akan marah."

"Kalau begitu taksi."

Kirana mengangguk puas.

Raka ingin mengatakan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau taksi, terutama jika keluarga Hendra kembali bergerak. Namun ia menelan kalimat itu. Setelah semua yang mulai terbuka, perlindungan yang tidak diminta hanya akan terdengar seperti perintah baru.

Ia memilih diam, meski diam itu membuatnya gelisah.

Diam ternyata juga bisa terasa seperti risiko.

Malam pertama di lounge berlangsung aman. Kirana membantu di belakang bar, menyiapkan garnish dan beberapa minuman herbal sparkling untuk tamu yang tidak minum alkohol. Ia tidak banyak berinteraksi, hanya bekerja.

Malam kedua lebih ramai.

Ada acara ulang tahun seorang pengusaha muda. Musik lebih keras, tamu lebih bebas, dan beberapa orang mulai sulit membedakan staf dengan objek hiburan.

Kirana membawa tray berisi gelas minuman ke salah satu meja ketika seorang pria menahan pergelangan tangannya.

"Mbak, ikut duduk sebentar."

Kirana menarik tangan perlahan. "Maaf, Pak. Saya sedang bekerja."

"Justru itu. Kerja melayani tamu, kan?"

Teman-temannya tertawa.

Kirana menahan napas. "Kalau Bapak butuh tambahan minuman, saya panggilkan server."

Pria itu menyentuh ujung celemeknya. "Saya butuh kamu yang antar."

Kirana mundur.

Sebelum ia sempat bicara lagi, suara Pak Dimas terdengar.

"Ada masalah?"

Pria itu melepas tangan Kirana, tertawa. "Santai, Pak. Bercanda."

Pak Dimas tidak tertawa. "Staf kami tidak disediakan untuk bercanda seperti itu."

Pria itu mengangkat tangan. "Oke, oke."

Kirana kembali ke area belakang dengan tangan dingin. Ia pernah menghadapi hinaan keluarga, tapi sentuhan orang asing dengan tawa mabuk tetap membuat kulitnya terasa kotor.

Laras datang malam itu untuk menemaninya pulang. Ia sudah lebih tenang setelah Maya mengirim somasi kedua pada Danu. Uang cicilan Danu juga mulai masuk.

"Kamu yakin masih mau shift malam?" tanya Laras.

"Tidak yakin. Tapi perlu."

"Ki..."

"Aku akan hati-hati."

Namun hati-hati tidak selalu cukup.

Malam ketiga, pria yang sama datang lagi. Kali ini ia bersama dua orang lain dan sengaja duduk di dekat jalur staf. Kirana mencoba menghindar, tapi salah satu server meminta bantuan karena meja mereka memesan minuman wellness yang hanya Kirana tahu takarannya.

"Kamu lagi," kata pria itu, membaca name tag. "Kirana."

Kirana menaruh gelas. "Silakan dinikmati, Pak."

"Duduk dulu."

"Tidak bisa."

"Sebentar saja."

Ia berdiri, menghalangi jalan Kirana. Teman-temannya tertawa pelan.

Kirana menahan tray di depan tubuh.

"Tolong minggir."

"Kalau tidak?"

Kirana menatapnya lurus. "Saya panggil security."

"Panggil. Saya kenal owner tempat ini."

Kirana hampir menjawab bahwa ia juga mulai curiga mengenal orang yang lebih tinggi daripada owner, tapi ia menahan diri.

Tiba-tiba tangan pria itu meraih pinggangnya.

Tray Kirana miring. Gelas jatuh dan pecah.

Sebelum Kirana sempat mundur, pria itu sudah ditarik ke belakang.

Raka.

Wajahnya dingin. Matanya tidak seperti Raka yang bercanda soal nasi padang. Ia memegang kerah pria itu dan menekannya ke dinding tanpa suara keras.

"Minta maaf."

Pria itu terkejut. "Lepas! Kamu siapa?"

"Minta maaf."

Security berlari mendekat. Pak Dimas juga.

Kirana memegang tray kosong dengan tangan gemetar. "Raka..."

Pria itu mencoba mendorong Raka, tapi Raka memelintir tangannya cukup untuk membuatnya meringis.

"Aduh! Iya, iya! Maaf!"

"Ke dia."

Pria itu menatap Kirana dengan marah dan malu. "Maaf."

Raka melepaskannya. Security langsung membawa pria itu keluar bersama teman-temannya. Pak Dimas memberi instruksi tegas agar mereka masuk daftar hitam.

Kirana masih berdiri kaku.

Raka mendekat. "Kamu terluka?"

"Tidak."

"Dia menyentuhmu."

"Aku bilang tidak terluka."

"Itu bukan jawaban."

Kirana menatap pecahan gelas di lantai. "Jangan di sini."

Pak Dimas meminta staf membersihkan pecahan, lalu membawa Kirana ke ruang staf. Laras yang baru datang langsung memeluknya. Kirana tidak menangis, tapi tubuhnya masih tegang.

Raka berdiri di pintu, menatapnya dengan wajah gelap.

"Kamu berhenti shift malam."

Kirana mengangkat wajah. "Jangan memerintahku."

"Saya tidak meminta."

"Justru itu masalahnya."

Laras perlahan mundur, merasa percakapan itu bukan untuknya.

Raka masuk dan menutup pintu setengah.

"Kamu hampir diserang."

"Aku tahu."

"Dan kamu masih akan bicara soal cicilan?"

"Aku bicara soal keputusan hidupku."

"Keputusan yang membahayakanmu bukan keberanian."

"Dan melarangku tanpa menjelaskan siapa kamu bukan perlindungan."

Raka terdiam.

Kirana berdiri. Matanya merah, tapi suaranya stabil.

"Kamu selalu muncul di saat tepat. Kamu punya Bima, pengacara, mobil, orang yang memanggilmu Pak lalu buru-buru memperbaiki. Kamu tahu terlalu banyak. Tapi setiap aku tanya, kamu bilang nanti. Sekarang kamu mau mengatur aku?"

Raka menatapnya.

Ia kalah.

Bukan kalah karena tidak punya jawaban, tapi karena jawabannya memang terlambat.

"Saya ingin melindungimu."

"Aku tahu."

"Tapi?"

"Tapi aku bukan barang yang bisa kamu pindahkan ke tempat aman tanpa bicara."

Raka menunduk sebentar.

"Baik."

Kirana tidak menyangka ia akan menyerah secepat itu.

Raka mengangkat wajah. "Kita bicara malam ini. Tidak semua, tapi cukup agar kamu tahu saya tidak sedang mempermainkanmu."

Jantung Kirana berdebar.

"Malam ini?"

"Iya."

Sebelum ia bisa bertanya lebih jauh, Bima muncul di pintu ruang staf. Wajahnya lebih serius dari biasa.

Kirana melihat cara beberapa staf di lorong mendadak menunduk ketika Bima muncul. Bukan sopan biasa. Ada rasa takut yang tertahan. Ia semakin yakin, hubungan Raka dan Bima bukan hubungan teman yang saling meminjam laptop.

"Mas Raka."

Kali ini ia berhasil tidak menyebut Pak.

Raka menoleh. "Apa?"

Bima melirik Kirana, ragu.

Raka berkata, "Bicara."

Bima menarik napas. "Bu Ratna mengirim orang ke kontrakan. Tim kita melihat mereka di sekitar gang."

Kirana membeku.

Map foto.

Kotak beras.

Raka langsung bergerak. "Kita pulang sekarang."

Kirana mengambil tas dengan tangan gemetar.

Laras ikut berdiri. "Aku ikut."

Raka tidak menolak.

Mereka keluar lewat pintu belakang hotel. Kali ini bukan taksi yang menunggu, melainkan mobil hitam yang sama dengan pintu tergores.

Kirana tidak protes.

Tidak ada waktu.

Di dalam mobil, Raka menatap Bima yang duduk di depan.

"Kalau mereka menyentuh barang Kirana..."

"Tim sudah menahan jarak, Pak."

Kata Pak keluar jelas.

Tidak ada yang memperbaiki.

Kirana menatap Raka.

Raka menatap balik.

Rahasia itu akhirnya berdiri di tengah mobil, tidak bisa disembunyikan lagi.

Namun sebelum Kirana sempat bertanya, mobil melaju cepat menuju kontrakan.

1
sukensri hardiati
ni mereka dah nikah belum sih....?
Leha Rahman
lanjut Thor 😊
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!