NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Aku meraih sendok dan garpu dengan gerakan kaku, mulai menyuap makanan ke mulutku. Setiap kunyahan terasa hambar, tertelan dengan susah payah di bawah pengawasan intens yang tak kunjung berhenti. Sepasang mata hazel itu tajam dan tak terbaca seolah menjadi beban fisik yang menekanku ke kursi. Ia tidak melepaskan pandangannya dariku sedetik pun, seolah tengah membedah setiap gerakan kecil yang kubuat.

​Setelah piringku hampir kosong, aku memberanikan diri meletakkan peralatan makan dengan bunyi denting halus. Aku menatap lurus ke matanya, meski nyaliku menciut di dalam.

Caca ​" Apakah hanya karena aku ingin membeli kopi, aku harus meminta izin dulu, Bhi?" suaraku sedikit bergetar, namun aku memaksanya untuk tetap terdengar jelas.

Caca " Tidak bisakah aku membeli apa yang kuinginkan tanpa harus meminta izin darimu? Kenapa kamu tidak mengurungku saja di kamar sekalian, agar aku tidak menginginkan apa pun lagi?"

​Kalimat itu meluncur begitu saja, luapan frustrasi yang selama ini kutahan. Aku menantang tatapannya, menunggu reaksi apa yang akan ia berikan atas keberanianku yang nekat itu.

​Abhinav terdiam. Ia meletakkan gelas wine-nya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gerakan yang lambat dan tenang. Sudut bibirnya terangkat tipis, sebuah seringai yang justru membuat suasana terasa semakin mencekam. Ia mencondongkan tubuh ke arahku, memperpendek jarak di antara kami hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang samar.

Abhi ​" Kamu pikir aku tidak mempertimbangkannya, sweetheart?" bisiknya dengan suara rendah yang terdengar berbahaya.

Abhi " Mengurungmu di kamar adalah solusi termudah agar kamu tidak menyakiti dirimu sendiri dengan harapan-harapan palsu tentang kebebasan. Tapi kamu masih punya tugas yang harus diselesaikan, bukan? Jadi, jangan pernah berpikir bahwa menantangku adalah cara untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan."

​Ia kembali menegakkan tubuhnya, menatapku seolah aku hanyalah pion dalam papan catur miliknya.

Abhi " Dan soal kopi itu... aku tidak melarangmu meminumnya. Aku melarangmu untuk bergerak tanpa kendaliku. Apakah itu sudah cukup jelas, atau kau perlu aku tunjukkan apa artinya 'dikurung' yang sebenarnya?"

Tanpa bisa kutahan lagi, pertahananku runtuh. Air mata hangat mengalir deras, membasahi pipiku dan meninggalkan jejak perih. Tanpa memedulikan tatapannya, aku beranjak dari kursi balkon dengan langkah gemetar, berusaha menjauh dari kehadirannya yang menyesakkan. Namun, Abhinav tidak membiarkanku pergi begitu saja.

​Di belakangku, aku mendengar suaranya yang dingin memanggil pelayan untuk membereskan sisa makan malam di balkon. Suara piring yang berdenting dan langkah kaki pelayan yang terburu-buru terasa seperti latar belakang yang tidak nyata bagi gejolak yang tengah terjadi di antara kami.

​Tepat saat aku mencapai tepi tempat tidur, Abhinav menarik lenganku dengan satu gerakan kuat, memutar tubuhku hingga punggungku membentur dadanya yang bidang. Tanpa ada aba-aba atau kelembutan, ia membalikkan tubuhku dan menciumku. Itu bukan ciuman, itu adalah sebuah penaklukan kasar, menuntut, dan penuh dominasi. Rasanya menyesakkan hingga aku merasakan amis darah yang merembes di ujung bibirku, tanda bahwa ia tidak memberikan ruang bagi perlawananku.

​Tangannya yang bebas tidak tinggal diam. Ia mulai menjelajahi tubuhku dengan gerakan yang posesif dan intimidatif, seolah sedang menegaskan klaim atas setiap inci kulitku. Ia menarikku semakin dekat, hingga tidak ada lagi jarak di antara kami, lalu membisikkan kata-kata itu tepat di depan wajahku yang tajam dan tak terbantahkan.

Abhi " You are mine. Now, tomorrow, and forever. Don't you ever forget that, sweetheart." (Kau milikku. Sekarang, esok, dan selamanya. Jangan pernah lupakan itu, Sayang.)

​Suara itu terdengar seperti sebuah dekrit yang mengunci masa depanku, meninggalkan aku yang terisak dalam pelukannya terperangkap dalam kepemilikan yang tidak pernah aku inginkan.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!