Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Tidak ada yang tahu di mana Bayu. Tapi di mana pun dia berada...
Di sebuah desa kecil di perbatasan Kenjeran, di sebuah rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan, Bayu duduk bersila di lantai tanah.
Rumah itu bukan rumahnya. Bukan rumah siapa-siapa. Hanya bangunan tua yang sudah setengah roboh, tersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu. Tidak ada listrik. Tidak ada air. Hanya gelap. Hanya sunyi.
Tapi justru itu yang Bayu inginkan.
Sejak tiga hari yang lalu, sejak Lusi kembali ke kampus, Bayu sudah tahu ada yang tidak beres. Ia merasakannya. Bukan dengan logika, tapi dengan naluri. Naluri yang selama ini ia andalkan untuk membaca orang lain. Naluri yang sekarang berteriak-teriak di dalam kepalanya, mengatakan: Lari. Sembunyi. Jauhi dia.
Dan Bayu mendengarkan nalurinya.
Ia meninggalkan kosnya. Meninggalkan kampusnya. Meninggalkan ponselnya di kamar kos supaya tidak bisa dilacak. Ia hanya membawa ransel kecil berisi baju, uang, dan satu benda yang selalu ia bawa ke mana-mana: keris kecil warisan kakeknya.
Keris itu bukan keris biasa. Konon, itu keris penolak bala. Diberikan oleh seorang dukun tua kepada kakeknya sebagai imbalan atas bantuan yang tidak pernah diceritakan pada siapa pun. Bayu tidak pernah percaya hal-hal mistis. Sampai sekarang.
Sekarang, ia menggenggam keris itu seperti pegangan hidup.
"Dia dapet ilmu dari mana..." bisiknya dalam gelap. "Nggak mungkin secepat itu. Nggak mungkin sekuat itu. Kecuali... kecuali dia emang dari awal..."
Ia ingat percakapannya dengan Lusi di perpustakaan. Ingat tatapan Lusi yang polos. Ingat betapa mudahnya ia membaca gadis itu atau setidaknya, itulah yang ia kira.
Ternyata ia salah.
Ternyata selama ini ia membaca kulitnya saja. Isinya... isinya adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Sesuatu yang jauh lebih gelap. Jauh lebih kuat. Jauh lebih berbahaya.
Dan sekarang, sesuatu itu bangun.
Tiba-tiba, dadanya terasa panas. Bayu memegangi dadanya, terkejut. Keris di tangannya bergetar benar-benar bergetar, seperti ada energi yang mencoba masuk dan keris itu menolaknya.
"Apa ini..." desisnya.
Dan kemudian, ia melihatnya. Di dalam kegelapan rumah kosong itu, ia melihat bayangan Lusi. Bukan Lusi yang asli. Hanya proyeksi. Hanya bayangan.
Bayangan Lusi itu tersenyum padanya.
"Kak Bayu..." bisik bayangan itu. "Kakak di mana? Kenapa sembunyi? Aku kangen..."
"PERGI!" Bayu mengacungkan kerisnya ke arah bayangan itu. "PERGI KAU!"
Bayangan Lusi tertawa.
"Nggak bisa, Kak. Kakak udah terikat. Sama kayak Irawan. Sama kayak Dimas. Sama kayak Rendy. Tinggal menunggu waktu..."
"APA YANG KAU INGINKAN?!"
"Aku cuma mau..." Bayangan itu memiringkan kepalanya. "...Kakak ngerasain apa yang aku rasain."
Dan bayangan itu lenyap.
Bayu terdiam, napasnya memburu, keringat mengucur dari pelipisnya. Tangannya masih menggenggam keris yang sekarang terasa dingin. Dingin sekali.
"Dia..." bisiknya. "Dia bukan manusia biasa. Dia..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Karena ia tahu, apa pun yang ia katakan, itu tidak akan mengubah kenyataan.
Lusi sudah memulai ritualnya.
Dan Bayu, tidak peduli seberapa jauh ia lari, tidak akan bisa menghindar.
Kamar kost Lusi. Pukul 00.01.
Mantra selesai.
Lusi membuka matanya. Api lilin masih menyala biru, menciptakan cahaya yang tidak wajar di seluruh kamar. Asap dupa masih mengepul, menciptakan pola-pola rumit di udara.
Ia menatap tiga foto di depannya. Foto Dimas, Rendy, dan Bayu. Sama seperti foto Irawan sebelumnya, sekarang ada bayangan hitam di atas masing-masing foto. Samar. Tapi jelas. Siluet wajah yang menatap Lusi dengan mata yang tidak bisa melihat.
Jiwa mereka, bisik suara di kepalanya. Bagian dari jiwa mereka yang sudah terikat padamu. Sama seperti Irawan. Mereka sekarang selalu bersamamu. Selalu melihatmu. Selalu merindukanmu.
Lusi tersenyum. Senyum yang lelah. Senyum yang dingin. Senyum yang semakin kosong.
"Tiga sudah," bisiknya. "Tinggal satu lagi."
Tapi ia tahu, yang terakhir Bayu tidak akan semudah yang lain. Bayu berbeda. Bayu tahu. Bayu melarikan diri. Bayu punya... sesuatu. Sesuatu yang melindunginya.
Tapi Lusi tidak khawatir. Ia masih punya waktu. Ia masih punya kekuatan. Dan ia masih punya Mbah Buyut.
Liontin perak di lehernya bergetar hangat. Seperti bisikan dari jauh. Seperti suara Ki Sarowang yang berkata: Aku di sini. Selalu.
Keesokan harinya. Kampus Universitas Adiloka. Pukul 11.00.
Lusi berjalan melewati gerbang kampus dengan langkah tenang. Di sampingnya, Irawan berjalan seperti biasa seperti bayangan yang tidak bisa lepas. Matanya terus menatap Lusi dengan pemujaan yang buta.
Mereka baru saja melewati lapangan basket ketika seseorang muncul dari arah parkiran.
Rendy.
Ia berdiri di samping motor NMax-nya, wajahnya pucat, matanya sembab. Tapi yang paling mencolok adalah ekspresinya. Bukan ekspresi ketakutan seperti Dimas. Tapi ekspresi... rindu. Rindu yang aneh. Rindu yang tidak wajar.
"Lusi..." suaranya serak.
Lusi berhenti. Menatap Rendy dengan wajah datar. "Kak Rendy. Tumben ke kampus. Katanya lagi bolos?"
"Gue... gue nggak tau kenapa gue ke sini." Rendy mengusap wajahnya kasar. "Gue cuma... gue mimpiin lo semaleman. Dan pagi ini gue ngerasa... gue harus ketemu lo. Gue harus."
"Oh ya?" Lusi memiringkan kepalanya. "Kenapa harus ketemu aku?"
"Nggak tau! Gue nggak ngerti! Ini aneh banget! Sejak kapan gue..." Ia berhenti. Menatap Lusi dengan campuran emosi yang sulit diartikan marah, bingung, takut, dan... rindu. "Apa yang lo lakuin sama gue?"
Lusi tersenyum. Senyum yang sama yang ia berikan pada Irawan. "Aku nggak ngelakuin apa-apa, Kak. Mungkin Kakak cuma..."
"Jangan bilang gue sakit!" potong Rendy. "Gue tahu ini bukan sakit! Irawan juga jadi aneh sejak lo balik! Dimas juga! Lo... lo ngelakuin sesuatu! Ilmu! Pelet! Apa gitu!"
Beberapa mahasiswa yang lewat mulai memperhatikan. Tapi Lusi tidak peduli. Ia melangkah mendekati Rendy, berhenti tepat di depannya.
"Kakak tahu apa tentang ilmu, Kak?"
Rendy terdiam.
"Kakak percaya sama hal-hal kayak gitu?"
"A... apa?"
"Pelet. Santet. Teluh. Ilmu hitam." Lusi menatap mata Rendy langsung. "Kakak percaya?"
Rendy menelan ludah. "Gue... gue nggak..."
"Kalau nggak percaya, kenapa Kakak nuduh aku pake ilmu?" Lusi tersenyum lagi. "Berarti Kakak percaya, kan?"
Rendy mundur selangkah. Wajahnya semakin pucat. "Lo... lo serem banget sekarang. Lo bukan Lusi yang dulu."
"Lusi yang dulu sudah mati, Kak." Suara Lusi tiba-tiba dingin. "Di kamar hotel itu. Waktu malam itu. Lusi yang dulu sudah mati."
Dan tanpa menunggu jawaban, Lusi berbalik dan melanjutkan langkahnya. Irawan mengikuti di belakangnya seperti anjing setia.
Rendy berdiri mematung di samping motornya. Dadanya masih terasa panas. Wajah Lusi masih terbayang-bayang di kepalanya. Dan satu pikiran muncul di benaknya pikiran yang sama sekali tidak masuk akal, tapi tidak bisa ia tolak:
Gue pengen deket sama dia.
Gue pengen Lusi.
Rumah Ki Sarowang. Malam harinya.
Jauh dari keramaian kampus, di rumah joglo di lereng Gunung Lawu, Ki Sarowang duduk sendirian di pendopo.
Pedupaan di sudut mengeluarkan asap tipis. Di hadapannya, segelas kopi pahit sudah dingin, tidak tersentuh. Matanya terpejam, tapi ia tidak tidur. Ia sedang nerawang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat mata biasa.
"Lastri," panggilnya tiba-tiba.
Bi Tun yang sedang menyapu halaman berhenti. "Ya, Ki?"
“Sesok kowe nang Suroboyo. Mbesuk Lusi.”
(Besok kamu ke Surabaya. Tengok Lusi.)
Bi Tun mengerutkan dahinya. "Kenapa, Ki? Ada apa dengan Lusi?"
Ki Sarowang membuka matanya. Mata keemasan itu bersinar redup di bawah cahaya bulan.
“De’e wis mari karo rituale. Tapi ono siji sing lolos.”
(Dia sudah selesai ritualnya. Tapi ada satu yang lolos.)
"Satu?"
"Anak bernama Bayu. Dia punya pelindung. Keris pusaka. Lusi nggak akan bisa ngikat dia sepenuhnya selama keris itu masih ada." Ki Sarowang menghela napas panjang. "Dan keris itu... aku kenal pemilik aslinya."
"Siapa, Ki?"
Tapi Ki Sarowang tidak menjawab. Ia hanya menatap langit malam, ke arah bintang-bintang yang berkelap-kelip di atas Gunung Lawu.
"Seseorang dari masa laluku," bisiknya akhirnya. "Seseorang yang sudah lama kukira mati."
\[BERSAMBUNG…\]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥