Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Jalan Ketiga dan Kebohongan yang Terbungkus Kasih Sayang
Cahaya samar itu perlahan meredup kembali ke dalam liontin dan cincin yang tergantung di dadaku, meninggalkan aku yang masih terpaku diam di samping tempat tidur. Kalimat peringatan itu terus berputar di kepalaku bagaikan gema yang tak kunjung reda: "Pengorbanan yang tidak saling diketahui nilainya bukanlah kasih sayang, melainkan beban yang akan memisahkan kalian selamanya." Apakah ini berarti jalan keluar yang ditawarkan Paman Haris itu bukanlah penyelamatan, melainkan jebakan yang lebih berbahaya lagi? Dan mengapa pria yang haus kekuasaan itu justru menyimpan cara untuk memutus ikatan kekuatan tersebut? Bukankah seharusnya dia menyembunyikannya selamanya agar tidak ada yang bisa merampas kekuatan itu darinya?
Pagi itu, kabut tebal masih menyelimuti halaman rumah saat kami bertiga berkumpul kembali di ruang kerja Erlan. Dokumen yang ditemukan Dimas itu kini terhampar di atas meja kayu besar, tertutup bayangan keraguan yang semakin pekat. Erlan membacanya perlahan, jari telunjuknya menelusuri setiap baris tulisan tangan yang sudah mulai pudar, seolah berusaha mencari jejak kebohongan di antara kata-kata yang tertulis rapi itu.
"Dokumen ini terlihat asli," ucap Erlan pelan, suaranya berat dan penuh keraguan. "Tapi ada sesuatu yang aneh. Bagian akhir yang menjelaskan cara memutus ikatan kekuatan itu... seolah-olah sengaja ditulis agar terdengar seindah mungkin, padahal ada bagian yang sengaja disembunyikan di balik tinta yang samar."
Dimas mengernyitkan dahi, lalu menunjuk ke arah salah satu sudut halaman yang terlihat agak berbeda warnanya. "Di sini... ada tumpukan tulisan yang dihapus lalu ditulis ulang. Sepertinya Paman Haris sengaja mengubah syarat sesungguhnya agar terlihat ringan dan dapat diterima dengan mudah oleh siapa pun yang menemukannya."
Hatiku mencelos ke dasar perut. Jadi benar dugaanku. Jalan ketiga yang tampak begitu meyakinkan itu ternyata sudah diubah isinya. Syarat yang sesungguhnya jauh lebih berat daripada sekadar melepaskan kekuatan untuk mengubah takdir. Kami segera mengambil lampu sorot dan memeriksa bagian yang tersembunyi itu dengan saksama. Di bawah lapisan tinta yang baru, tertulis syarat asli yang membuat darah kami berdesir hebat:
"Kekuatan yang telah menyatukan dua jalur waktu tidak bisa begitu saja dipisahkan tanpa ada pengganti. Jika ingin keduanya tetap hidup bersama tanpa ada yang dihapus keberadaannya, maka harus ada seseorang yang secara sukarela menyerahkan separuh jiwanya kepada kekuatan itu. Orang tersebut akan tetap hidup, namun separuh kehidupannya menjadi milik kekuatan itu—ia tidak akan bisa mati, tidak akan bisa menua, dan tidak akan bisa menemukan ketenangan selamanya. Ia akan menjadi penjaga gerbang yang berdiri di perbatasan waktu, terpisah dari orang yang dicintainya meski tubuhnya berdiri di sisi yang sama."
Keheningan yang mencekam seketika menyelimuti ruangan. Separuh jiwa diserahkan... hidup namun tidak sepenuhnya hidup... terpisah meski berdiri berdampingan. Itu artinya kami bisa tetap hidup bersama secara lahiriah, namun batin salah satu dari kami akan terbelah selamanya. Ikatan batin yang selama ini menjadi kekuatan terbesar kami akan hancur perlahan, karena separuh hati orang yang berkorban itu tidak lagi miliknya. Dan yang paling menyakitkan: orang yang berkorban tidak akan bisa menceritakannya kepada siapa pun, termasuk orang yang dicintainya. Beban itu harus dipikul sendirian seumur hidup.
"Itulah sebabnya Paman Haris menyembunyikan syarat aslinya," gumam Dimas dengan suara tercekat. "Dia tahu betul tidak ada pasangan yang rela mengorbankan separuh jiwanya demi kebersamaan yang semu itu. Dia sengaja mengubah syaratnya agar salah satu dari kalian terjebak menyerahkan separuh jiwanya tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya diberikan."
Erlan menatapku lekat-lekat, matanya penuh kepedihan yang tak sanggup diucapkan dengan kata-kata. Dia mendekat dan menggenggam kedua tanganku erat. "Dengar aku, Dian. Kita tidak akan mengambil jalan ini. Apa pun pilihannya nanti, kita tidak akan membiarkan diri kita terpisah oleh dinding tak kasat mata di antara kita. Lebih baik kita berpisah sepenuhnya daripada hidup bersama namun hatinya terbelah selamanya."
Aku mengangguk pelan, namun di dalam hatiku badai emosi sedang berkecamuk hebat. Ketiga pilihan itu ternyata sama-sama menyakitkan: menghapus keberadaan salah satu dari kami, hidup dalam ketakutan abadi tanpa kuasa melindungi siapa pun, atau hidup bersama namun salah satu berjalan membawa separuh jiwanya yang hancur. Manakah yang seharusnya kami pilih?
Malam itu, saat Erlan tertidur lelap karena kelelahan memikirkan segala hal, aku kembali membuka buku harian kakek Erlan yang kubawa pulang dari rumah tua di bukit. Aku mencari hingga halaman-halaman terakhir, berharap ada pesan tersembunyi lain yang belum sempat kubaca. Dan di halaman paling belakang, terselip selembar kertas yang tertulis khusus untuk kami berdua—ditulis oleh kakek Erlan sehari sebelum kematiannya.
"Cucuku yang terkasih, dan gadis yang membawa cahaya ke dalam hidupmu. Jika kalian membaca ini, berarti kalian sedang berdiri di persimpangan yang sama beratnya bagi siapa pun yang memilih. Ketahuilah satu hal: kekuatan itu tidak pernah benar-benar menuntut pengorbanan nyawa atau separuh jiwa. Yang ia uji hanyalah ketulusan hati kalian. Jika kalian berdua rela berkorban demi satu sama lain tanpa pamrih, tanpa menyembunyikan apa pun, dan tanpa membiarkan beban itu dipikul sendirian... maka keseimbangan itu akan pulih dengan sendirinya. Karena kekuatan sesungguhnya bukanlah yang ada di dalam cincin atau liontin itu, melainkan ketulusan hati yang saling melengkapi hingga menjadi satu kesatuan yang utuh."
Air mata menetes membasahi kertas itu. Jadi selama ini kami salah paham. Kami berpikir harus ada yang menderita agar yang lain bahagia. Padahal ujian sesungguhnya adalah: apakah kami berani menanggung beban itu bersama-sama, saling mendukung, saling menguatkan, dan tidak pernah menyembunyikan pengorbanan apa pun satu sama lain? Jika kami berani bersatu hati sepenuhnya, maka keseimbangan itu akan terjaga tanpa harus ada yang menderita sendirian.
Pagi harinya, saat aku menyampaikan isi surat itu kepada Erlan dan Dimas, secercah harapan kembali menyinari wajah mereka yang semula penuh keputusasaan. Erlan memelukku erat, seolah baru saja mendapatkan kembali seluruh dunianya yang sempat hilang. "Jadi selama ini jawabannya ada di hati kita sendiri," bisiknya penuh haru. "Kita tidak perlu memilih salah satu dari pilihan yang menyakitkan itu. Kita hanya perlu tetap bersatu, saling jujur, dan tidak pernah menyembunyikan apa pun satu sama lain."
Namun tepat saat itu, selembar kertas terlempar masuk dari celah jendela yang sedikit terbuka. Di atasnya tertulis tulisan tangan yang sangat kukenali, tulisan tangan Paman Haris yang kini dipenjara:
"Kalian pikir ujian sudah selesai? Kekuatan itu tidak selemah yang kalian kira. Keseimbangan itu tetap harus ditebus. Dan penebusnya bukanlah hati kalian. Melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar kasih sayang. Tunggu saja tiga hari lagi. Kalian akan melihat siapa yang sebenarnya harus dikorbankan."
Tubuhku menegang. Apakah Paman Haris masih memiliki kekuatan untuk mengancam kami dari balik jeruji besi? Atau ada pihak lain yang masih bersekutu dengannya dan belum kami ketahui identitasnya? Dan apa sebenarnya yang dimaksud dengan "sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar kasih sayang"?
Erlan meremas kertas itu kuat hingga tangannya memutih, matanya menatap lurus ke arah jendela dengan tekad yang tak tergoyahkan. "Siapa pun yang berdiri di balik semua ini, apa pun yang akan terjadi tiga hari lagi... kali ini kita tidak akan berpisah sedetik pun. Kita menghadapinya bersama, dan kita tidak akan menyembunyikan apa pun lagi. Karena jika keseimbangan itu diuji dengan ketulusan, maka tidak ada ancaman apa pun yang mampu memisahkan kita."
Namun jauh di dalam lubuk hatiku, rasa cemas masih menyisakan keragu-raguan. Apakah ketulusan hati kami benar-benar cukup untuk menyeimbangkan kekuatan kuno itu? Atau ada rahasia lain yang bahkan kakek Erlan pun tidak sempat tuliskan? Dan saat hari ketiga tiba... apa yang sebenarnya akan direnggut dari kami?