Di hari pernikahannya, seharusnya Leticia menikahi pria yang dicintainya, bukan pria yang terkenal memiliki sifat begitu kejam dan menyeramkan.
Dan Leticia baru menyadari, kalau semua ini permainan dari Ibu dan adik kembarnya yang sejak awal sudah memaksanya untuk memakai penutup mata saat pernikahan berlangsung.
Leticia harus menikahi calon suami sang adik kembar, dan adiknya… Leila menikahi pria yang sangat dicintai oleh Leticia.
Awalnya Letcia ingin mengajukan surat perceraian kepada Maximillan, tetapi pria itu tidak mau dan memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang dari awal sudah salah.
Dan Leticia baru tahu kalau suaminya adalah seorang mafia kejam yang sangat posesif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Jackson tidak bisa tidur dengan tenang, karena Savanya terus merintih kesakitan.
Pria paruh baya itu membuka matanya dan menoleh ke samping, ia sangat terkejut saat melihat wajah istrinya yang begitu pucat.
Tangannya terangkat untuk menyentuh kening Savanya, ternyata begitu panas. Pantas saja sampai sepucat itu.
“Harus dibawa ke rumah sakit,” Jackson menghela napas dengan kasar.
Dengan sangat terpaksa, ia harus membawa istrinya ke rumah sakit… agar keadaan Savanya tidak semakin parah. Jackson segera bersiap-siap dan juga memanggil penjaga yang bekerja di rumahnya untuk membantunya membawa Savanya ke dalam mobil.
Jackson tidak bisa menggendong istrinya, karena akhir-akhir ini dirinya sering minum dan kesehatannya juga menurun.
“Leticia, maafkan Ibu! Leticia maaf!” Savanya terus menggumamkan nama sang putri.
Matanya terpejam begitu erat, suhu tubuhnya sangat panas dan keringat juga membanjiri tubuhnya. Namun di kepalanya terus memutar semua perlakuannya kepada Leticia, dari kecil Leticia sudah dibedakan dan selalu disalahkan tanpa sebab.
Savanya menangis, membuat suaminya semakin panik dan langsung berteriak memanggil penjaga untuk membantunya.
Tidak lama kemudian, penjaga yang tadi memanaskan mobil… tiba ke kamar utama dan membantu Jackson untuk membawa istrinya ke mobil.
Jackson akan menyetir mobilnya sendiri, karena sopir pribadinya sudah dipecat tiga hari yang lalu untuk menghemat uang yang memang sangat menipis.
“Jaga rumah!” Pesan Jackson kepada penjaga.
“Saya mengerti, Tuan.” Penjaga tersebut menganggukkan kepalanya, lalu menutup gerbang setelah mobil Jackson melaju cukup kencang.
“Sepertinya sebentar lagi, saya juga akan dipecat. Jadi, saya harus mengambil barang-barang yang bisa dijual!”
Pejaga tersebut masuk ke dalam rumah untuk mencari barang-barang yang bisa dijualnya, karena kemungkinan besar dirinya juga akan dipecat seperti rekannya yang menjadi sopir pribadi Jackson.
“Apa yang dia lakukan?” Betty menatap ke arah penjaga yang kini masuk ke dalam kamar utama.
“Bukan urusanku juga,” kekeh Betty yang hanya mejadi mata-mata di kediaman Morana.
Wanita paruh baya itu memilih untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat dengan tenang, ia tidak peduli dengan apa yang sedang dilakukan leh penjaga… meskipun gerak-geriknya sudah sangat jelas.
Sedangkan diposisi Jackson, pria paruh baya itu sudah sampai di rumah sakit terdekat. Dengan bantuan dua perawat, Savanya akhirnya bisa dibawa ke dalam rumah sakit.
“Tuan, silakan isi formulir terlebih dahulu!” Kata salah satu perawat kepada Jackson yang masih mengatur napasnya.
“Di mana?” Tanya Jackson yang baru pertama datang ke rumah sakit tersebut.
“Di sebelah utara!” Kata perawat.
Jackson menganggukkan kepalanya dan melangkah menuju tempat administrasi.
“Silakan isi data pasien terlebih dahulu!” Kata petugas administrasi sambil menyerahkan selembar kertas kepada Jackson.
Sebelum mengisi formulir, Jackson sedikit mendekatkan kepalanya untuk menanyakan sesuatu kepada petugas administrasi.
“Kira-kira berapa biaya untuk pengobatan di sini?” Tanya pria paruh baya itu.
“Untuk biaya aka diberitahu setelah pasien mendapatkan penanganan dan kami juga menunggu konfirmasi dari dokter apa pasien harus di rawat inap atau boleh langsung pulang. Jadi, kami masih belum bisa menentukan berapa nominalnya,” penjelasan itu membuat Jackson bimbang.
“Jika data pasien tidak segera diisi, maka dokter tidak akan melakukan pemeriksaan,” jelas sang penjaga administrasi.
Jackson tidak memiliki pilihan lagi, selain mengisi nama Savanya dan namanya di kertas tersebut.
“Baiklah, kami akan memberikan data pasien kepada dokter!”
Jackson menganggukkan kepalanya, kakinya kini melangkah menuju tempat Savanya yang baru ditangani oleh dokter.
...***...
Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya Jackson kembali ke tempat administrasi… karena Savanya harus dirawat inap.
“Ini untuk satu hari?” Kaget pria paruh baya itu, setelah melihat angka yang ada di kertas tersebut.
“Benar, itu sudah termasuk obat dan penanganan dokter.”
Jackson memejamkan matanya, uangnya memang ada dan kalau dibayar… masih ada sisa setengah.
“Baiklah,” Jackson memberikan tanda tangannya dan langsung membayarkan biaya pengobatan sang istri.
Setelah itu, Savanya dipindahkan ke kamar rawat. Jackson mengikutinya dengan langkah gontai. Uang yang sudah sedikit, kini semakin sedikit. Namun keselamatan Savanya lebih penting, karena wanita itu adalah istrinya dan orang yang dicintai olehnya.
“Kesembuhanmu yang lebih penting,” Jackson mengusap puncak kepala sang istri.
Savanya sudah bisa tidur dengan tenang, suhu tubuhnya juga tidak sepanas tadi. Jadi, Jackson memilih untuk memejamkan matanya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan Jackson menahan decakannya, sebelum mengetahui siapa yang mengirim pesan selarut ini.
“Leila? Apa dia sudah bisa pulang?” Kaget Jackson yang kini rasa kantuknya langsung menghilang.
Satu pesan dari Leila, membuat perasaannya menjadi sedikit tenang.
“Tidak apa-apa Leila bisa pulang tiga hari lagi, setidaknya dia bisa pulang dan kembali kepada orang tuanya,” Jackson juga mengirimkan sisa uang di rekeningnya untuk Leila membeli tiket, karena uang Leila sudah habis dan Ashvin tidak meminta bantuan kepada orang tuanya sama sekali.
“Tapi sekarang aku sudah tidak memegang uang sepersen pun,” Jackson menghela napas dengan kasar.
Pria paruh baya itu berdiri dari duduknya dan akan pergi untuk menemui seseorang.
“Aku tinggal sebentar, kau akan dijaga oleh perawat!” Jackson mengecup kening istrinya, sebelum berlalu dari sana dan menemui perawat untuk membantunya menjaga Savanya sampai ia kembali.
Setelah ada satu perawat yang mau menjaga Savanya, barulah Jackson keluar dari rumah sakit dan dengan menggunakan mobilnya… ia akan pergi ke Mansion Leander.
“Leticia pasti tidak akan tega mengetahui Ibunya jatuh sakit, lalu dia akan memberikanku uang,” kekeh Jackson yang sangat yakin kalau Leticia akan memberikannya uang.
Namun saat Jackson sampai di Mansion Leander, ia mendapatkan jawaban yang sama seperti istrinya tadi siang.
“Di mana tempat tinggal Leticia? Kenapa mereka sangat pelit dan tidak mau memberitahuku tentang tempat tinggal Leticia?” Geram Jackson dengan kesal.
Pria paruh baya itu tidak tahu di mana letak Mansion milik Max, ia juga tidak mendapatkan jawaban dari penjaga yang tadi mengusirnya dengan kasar.
“Apa Leticia sengaja tidak tinggal di sini, sehingga aku tidak bisa menemukannya?” Jackson memutar mobilnya, ia sekarang tidak tahu harus mencari Leticia di mana.
Jadinya, Jackson memilih untuk pulang ke rumah dan mengambil beberapa perhiasan milik Savanya untuk dijual besok pagi. Sekalian juga, Jackson akan mengambil pakaian ganti.
Namun saat Jackson sampai di depan gerbang rumah, tidak ada penjaga. Sehingga ia menekan klakson mobilnya dan tidak lama kemudian, penjaga keluar dan segera membukakan gerbang dengan ekspresi paniknya.
“Kenapa kau di dalam? Apa yang kau lakukan di dalam?” Tanya Jackson yang merasa curiga dengan tingkah pejaga tersebut.
“Saya hanya mengambil minum, kehausan,” jawaban itu membuat Jackson sedikit percaya.
Jackson memilih untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan penjaga yang bernama Tobert itu bergegas melarikan diri… sebelum dirinya ketahuan mengambil perhiasan milik Savanya.
Jackson terkejut saat melihat lemari yang terbuka, lalu ia melihat beberapa baju yang berserakan di lantai dan pandangannya terjadi pada kotak perhiasan.
“Sialan, dia mencuri perhiasan istriku!”
Bersambung!
🌹🌹🌹☺️
🌹🌹🌹❤️❤️❤️☺️