Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Akhirnya Terbuka dan Keragu‑raguan yang Menguat
Di kantor pusat perusahaan, Leonardo duduk berjam‑jam di depan tumpukan berkas laporan dari berbagai daerah. Matanya lelah, namun tangannya tetap cekatan memindai satu per satu catatan kelahiran, daftar pendatang baru, dan laporan perjalanan masuk‑keluar desa di pegunungan utara. Sudah berbulan‑bulan ia mencari tanpa hasil, sampai sore itu matanya tertumbuk pada satu nama yang membuatnya menahan napas: Alexander, anak laki‑laki, lahir di Puskesmas Bukit Jernih, ibu bernama Ayranza, disaksikan dua orang muda bernama Angga dan Arshen.
Segera ia bergegas ke ruang kerja Axel.
“Tuan!” serunya masuk tanpa mengetuk lebih dulu karena terlalu bersemangat namun tetap menjaga nada rendah. “Kita dapatkan jejaknya!”
Axel yang sedang duduk melamun di balik meja besar langsung bangkit berdiri, wajahnya berubah tegang berharap sekaligus takut kecewa lagi.
“Benarkah? Di mana?”
“Desa bernama Bukit Jernih, letaknya terpencil di lereng pegunungan,” jelas Leonardo sambil menunjuk peta yang segera dibentangkan di meja. “Laporan kelahiran baru masuk sistem kemarin sore. Nama anaknya tercatat Alex Alexander. Tepat dugaan kami.”
Axel menatap titik kecil di peta itu lama sekali. Tangannya gemetar sedikit.
“Alex… Dia berikan nama itu padanya.” Suaranya parau. “Dia belum melupakan aku.”
“Benar, Tuan,” sahut Leonardo pelan. “Dan catatan itu menyebutkan ada dokter bernama Rendra yang menangani persalinan dan sering mengunjungi mereka. Warga sekitar menyebut mereka keluarga pendatang yang hidup tenang dan tak banyak bertanya.”
Axel mengerutkan dahi mendengar nama itu.
“Dokter Rendra… Apakah dia orang yang bisa dipercaya?”
“Belum jelas sepenuhnya, tapi dari catatan dinas kesehatan dia sudah bertugas di sana bertahun‑tahun, berkelakuan baik, dan dihormati warga,” jawab Leonardo. “Meski begitu, kita tetap harus berhati‑hati.”
Tak lama kemudian mereka berdua berjalan menemui Daddy Xavier dan Mommy Xena di kediaman. Begitu mendengar kabar itu, Mommy Xena langsung menutup mulutnya menahan isak bahagia, sementara Daddy Xavier menghela napas panjang seolah beban berat runtuh dari pundaknya.
“Syukurlah… Mereka selamat,” gumam Mommy Xena. “Cucu kami lahir sehat.”
Daddy Xavier segera menatap tajam ke arah Axel.
“Kau berniat berangkat ke sana kapan?”
“Sesegera mungkin, Dad,” jawab Axel mantap. “Besok pagi sekali kami berangkat bersama Leonardo. Kami takkan membawa rombongan besar agar tak menakuti Ayranza.”
Mommy Xena menyodorkan tangan kanannya menggenggam tangan anaknya erat‑erat.
“Hati‑hatilah, Nak. Pastikan dulu suasana hatinya sebelum bicara hal berat. Ingat, dia pergi karena sakit hati mendalam.”
“Aku paham, Mom.”
Sore itu juga kabar keberangkatan itu sampai terdengar Cindy. Ia segera datang lagi ke kediaman dengan wajah tak puas dan langkah tergesa. Saat Axel sedang membereskan perlengkapan perjalanan di kamar, Cindy masuk dengan alasan tak ada penjaga yang berani menahannya.
“Kenapa kau tak pernah bicara padaku soal hal ini?” serunya langsung begitu melihat Axel. “Kau akan pergi menjemputnya? Padahal dia sudah berbulan‑bulan meninggalkanmu tanpa kabar sedikit pun!”
Axel berhenti melipat baju, menoleh dan menatapnya dingin.
“Cindy, berapa kali harus kukatakan? Dia istriku, anakku lahir di sana. Tugas kewajibanku adalah menjemput mereka pulang.”
“Tapi apa kau yakin dia mau pulang?” Cindy maju selangkah mendekat. “Dengar, aku sudah dengar ada dokter muda yang selalu ada di sisinya. Membantu, merawat, menemani. Bisa saja dia sudah lebih nyaman di sana dan tak butuh kau lagi.”
Axel mengepalkan tangan kuat menahan gejolak hati yang mendadak bergemuruh.
“Itu urusan nanti. Aku tetap harus datang sendiri dan bertanya langsung padanya.”
“Kalau dia menolak?” Cindy tak mau kalah. “Kalau dia malah lebih memilih hidup damai bersama dokter itu? Apa rencanamu?”
Axel mengangkat wajah, matanya tajam tak tergoyahkan.
“Kalau itu benar terjadi, aku akan terima keputusannya dengan lapang dada. Tapi setidaknya aku sudah berusaha. Aku takkan membiarkan dugaan kosong atau orang lain yang menentukan nasib rumah tangga kami.”
Melihat keteguhan hati itu, Cindy akhirnya diam terpaku. Ia sadar usahanya kali ini belum bisa menggoyahkan tekad Axel. Dengan wajah kecewa ia berbalik berjalan keluar kamar.
“Baiklah, pergilah,” ucapnya sebelum menutup pintu. “Tapi ingat kata‑kataku: kekecewaan menanti di ujung jalan itu.”
Di kejauhan, di Bukit Jernih, sore itu berjalan tenang seperti biasanya. Ayranza sedang duduk di teras, menyusui Alex yang mulai aktif bergerak‑gerak. Angga pulang dari ladang membawa seikat sayuran dan dua butir telur ayam hutan, sementara Arshen berlari di belakangnya sambil tertawa lepas.
“Lihat Kak!” seru Arshen sambil menunjukkan selembar daun lebar berbentuk unik. “Nanti aku pakai ini buat gambar Alex.”
Ayranza tersenyum lembut.
“Bawa ke sini Dik, biar Kakak lihat.”
Tak lama kemudian Dr. Rendra datang membawa sebungkus ramuan hangat. Ia berjalan santai, wajahnya masih tampak sedikit sungkan sejak pembicaraan tegas tempo hari, namun sikapnya tetap ramah dan hormat.
“Bagaimana keadaan Alex hari ini?” sapanya sambil duduk agak jauh di bangku kayu.
“Sehat dan ceria saja, Dokter,” jawab Ayranza santai. “Tadi pagi dia sempat tertawa keras sekali digelitik Arshen.”
Angga duduk di sebelah dokter itu, lalu perlahan membuka obrolan yang sempat mengganggu pikirannya belakangan ini.
“Dokter… Kalau boleh tahu, apakah ada pendatang baru atau orang asing yang mulai banyak lewat di sekitar sini akhir‑akhir ini?”
Dr. Rendra mengangguk pelan.
“Memang seminggu belakangan ini ada beberapa orang terlihat bertanya jalan ke desa kami. Ada yang menyebutkan urusan dagang, ada yang sekadar ingin berlibur. Tapi saya curiga mereka tak sekadar itu.” Ia menoleh menatap Ayranza dengan nada hati‑hati. “Bisa jadi mereka orang‑orang yang kau tunggu… atau yang kau takutkan.”
Ayranza terdiam sejenak, menatap anaknya dalam‑dalam.
“Kalau memang mereka datang… bagaimana pendapat Dokter?”
Rendra menarik napas panjang sebelum menjawab jujur.
“Sebagai sahabat, saya ingin kau bahagia, apa pun pilihannya. Kalau suamimu datang dengan hati tulus dan penyesalan sungguhan, tak ada salahnya membuka peluang baru. Kalau sebaliknya, kau dan adik‑adikmu tetap bisa tinggal di sini selamanya. Kami semua akan menjaga.”
Angga menyahut cepat, nadanya tegas.
“Siapa pun yang datang nanti, kami takkan biarkan Kakak diperlakukan sembarangan lagi. Kali ini kami ada di sampingnya.”
Arshen ikut angkat bicara polos namun serius.
“Iya! Kalau dia nakal lagi, kami suruh dia pulang sendiri saja.”
Ayranza tertawa tipis mendengar ucapan polos adiknya, meski di mata dan hatinya terselip keraguan besar. Ia tahu, pertemuan yang selama ini ia hindari perlahan mulai tak terelakkan. Kabar kedatangan seseorang yang mencarinya di sana sudah terasa makin dekat, meski sosok Axel belum tampak batang hidungnya sama sekali.
Malam itu, saat kabut tebal kembali turun menyelimuti desa, Leonardo dan rombongan kecil mereka baru sampai di penginapan sederhana di kaki bukit. Axel berdiri di teras kayu penginapan itu, menatap ke arah puncak gunung yang gelap dan tertutup kabut tebal. Jantungnya berdebar kencang, campuran rasa rindu luar biasa dan kekhawatiran hebat.
“Besok pagi‑pagi sekali kita mulai mendaki,” ucapnya pelan pada Leonardo di sebelahnya. “Sebelum matahari terbit, sebelum ada yang curiga.”
“Siap, Tuan,” jawab Leonardo. “Semoga semuanya berjalan baik.”
Di kejauhan, di balik bukit‑bukit yang menghalangi pandangan, Ayranza sedang duduk bersandar di kepala ranjang, mengelus rambut Alex yang tidur nyenyak di sebelahnya. Ia tak tahu persis bahwa sosok yang dirindukan sekaligus ditakutkan itu kini sudah begitu dekat, hanya terpisah satu pendakian panjang dan satu malam lagi yang perlahan berakhir. Pertemuan itu belum terjadi, namun udara di antara dua tempat itu sudah terasa berat penuh harap dan tegang.