NovelToon NovelToon
Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Penyelamat / Action
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: Aldiaza Ahyani

Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.

Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.

Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Rencana Balas Dendam dan Janji Perlindungan

Di tempat lain, di sebuah bangunan mewah namun terasa dingin dan gelap di pinggiran kota, suasana berubah menjadi sangat tegang. Ketiga ahli kultivator dan para preman yang tadi aku usir kembali dengan kondisi yang memalukan — pakaian mereka kusut, wajah pucat, dan tubuh terasa lemas seolah kehilangan separuh tenaga.

Mereka berdiri berlutut di lantai, menunduk dalam-dalam karena takut, sementara di kursi besar di ujung ruangan duduk seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam dan aura yang sangat menekan. Itu adalah Tuan Arga, orang yang memerintahkan mereka — pengusaha yang memiliki banyak koneksi gelap, dan juga seorang kultivator yang telah melatih diri selama lebih dari empat puluh tahun.

Suaranya berat dan penuh amarah saat memecah keheningan:

“Kalian pulang dengan tangan kosong, bahkan dalam keadaan seperti ini? Apa artinya ini? Bukankah kalian bilang hanya butuh waktu sebentar untuk menghancurkan gedung itu dan membawa gadis itu ke hadapanku?”

Salah satu ahli kultivator itu gemetar saat menjawab:

“Maafkan kami, Tuan Arga… kami tidak menyangka ada orang yang begitu kuat menjaga tempat itu. Dia hanya seorang satpam biasa di mata orang lain, tapi kekuatannya jauh melebihi apa yang kami miliki. Dia bisa menahan serangan kami dengan satu tangan saja, dan energi yang dia keluarkan membuat kami tidak bisa bergerak sedikit pun. Kami tidak punya kesempatan untuk melawan.”

Tuan Arga menekan gagang tongkatnya hingga kayu itu berderak, matanya menyala penuh rasa ingin tahu sekaligus marah.

“Seorang satpam biasa memiliki kekuatan sebesar itu? Tidak mungkin. Pasti dia berasal dari aliran tertentu yang selama ini tersembunyi. Tapi tidak masalah… meski dia kuat, dia hanya sendirian. Kalau dia berani menghalangi jalanku, maka aku akan menghancurkannya beserta semua yang dia jaga.”

Dia berdiri dan berjalan mendekati jendela, menatap ke arah kota dengan pandangan dingin.

“Anindya Harjo telah menolak tawaran kerjasamaku, bahkan menolak menyerahkan sebagian asetnya. Dia pikir dia bisa hidup tenang begitu saja? Dan sekarang dia punya pelindung yang kuat? Baiklah… aku akan mengumpulkan semua kekuatan yang aku miliki. Besok malam, aku akan datang sendiri ke tempat itu. Aku ingin melihat seberapa kuat penjaga itu, dan setelah dia jatuh, gadis itu akan tahu siapa yang berkuasa di sini.”

Sementara itu, kembali ke Gedung Surya Pratama. Setelah keadaan aman kembali, kami semua berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan apa yang baru saja terjadi. Pak Harjo bahkan datang ke kantor setelah mendengar kabar lewat telepon, wajahnya terlihat serius namun tetap tenang.

“Aku mendengar semuanya dari Pak Suryo,” katanya sambil menatapku. “Tuan Arga memang orang yang keras kepala dan tidak segan menggunakan cara kotor. Dia sudah lama mengincar lahan dan aset perusahaan ini. Kalau dia sudah mengirim orang sekali dan gagal, dia pasti tidak akan berhenti sampai dia merasa puas.”

Aku mengangguk setuju, suaraku tenang namun tegas:

“Aku tahu dia akan kembali lagi, Pak. Orang yang memiliki ambisi dan tidak mau menerima kekalahan akan terus mencari cara. Tapi aku sudah siap. Selama aku ada di sini, dia tidak akan bisa menyentuh apa pun yang menjadi milik keluarga ini.”

Anindya duduk di sampingku, tangannya memegang lenganku erat-erat. Wajahnya terlihat cemas, tapi dia berusaha tetap tenang.

“Mas… apakah dia akan datang dengan kekuatan yang lebih besar kali ini? Aku tidak ingin kamu terluka atau mengambil risiko yang terlalu berat demi kami,” katanya pelan.

Aku menoleh dan menatap matanya, lalu tersenyum lembut untuk menenangkannya.

“Nin, dengarkan aku. Kekuatan yang aku miliki bukan untuk dipamerkan atau ditakuti orang lain, tapi untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi. Tuan Arga mungkin memiliki banyak orang dan energi yang dia latih, tapi dia tidak mengerti apa arti kekuatan yang sesungguhnya. Kekuatannya tumbuh dari keserakahan dan keinginan menguasai, sedangkan kekuatanku tumbuh dari ketenangan dan janji untuk menjaga. Jangan khawatir, aku tidak akan terluka, dan aku juga tidak akan membiarkan dia menyakiti siapa pun di sini.”

Bu Siti yang juga ikut datang menambahkan dengan nada khawatir:

“Tapi Nak Kaito, bagaimana kalau dia datang dengan ratusan orang atau menggunakan cara yang tidak adil? Kita tidak ingin kamu berjuang sendirian.”

“Aku tidak berjuang sendirian, Bu,” jawabku dengan tulus. “Aku memiliki kalian yang memberiku alasan untuk bertahan. Dan percayalah, selama hatiku tetap tenang dan tujuanku benar, tidak ada kekuatan jahat apa pun yang bisa mengalahkanku.”

Sore itu, setelah semua karyawan pulang dan gedung mulai sepi, aku berkeliling memeriksa setiap sudut bangunan dan halaman. Aku mengalirkan energi lembut ke sekeliling area, menciptakan lapisan perlindungan yang tidak terlihat oleh mata biasa. Lapisan ini akan memberi tahu aku jika ada orang dengan niat buruk mendekat, dan juga akan menahan serangan pertama sebelum aku turun tangan.

Saat aku sedang berdiri di depan gerbang, Anindya datang menghampiri dengan membawa segelas air hangat. Dia memberikannya padaku, lalu berdiri di sampingku menatap langit yang mulai berwarna jingga.

“Mas… tadi saat mereka datang, aku merasa sangat takut, tapi saat melihatmu berdiri tegak menghadapi mereka semua, rasa takut itu hilang begitu saja. Aku tahu tidak ada yang bisa mengalahkanmu,” katanya lembut.

Aku meminum air itu, lalu meletakkan gelas di atas meja kecil, sebelum memegang kedua tangannya.

“Terima kasih sudah percaya padaku, Nin. Ingatlah, apa pun yang terjadi besok atau di hari-hari mendatang, jangan pernah mendekat ke tempat pertarungan. Tetaplah di ruang aman yang sudah disiapkan, dan biarkan aku yang menangani semuanya. Itu adalah cara terbaik untuk membantuku.”

“Aku mengerti, Mas. Aku akan menuruti semua katamu,” jawabnya sambil mengangguk mantap. “Tapi tolong… jaga dirimu sendiri juga. Aku tidak sanggup membayangkan jika sesuatu terjadi padamu.”

Aku menariknya sedikit mendekat, lalu memeluknya dengan lembut namun erat.

“Aku berjanji akan kembali dengan selamat. Kita masih punya banyak hal yang ingin kita jalani bersama, masih banyak hari indah yang menanti kita. Aku tidak akan membiarkan apa pun merusak itu semua.”

Malam itu, suasana terasa lebih tenang namun penuh kewaspadaan. Semua lampu di gedung tetap menyala, dan aku tetap berada di pos jaga, duduk bersila dalam posisi tenang, mengumpulkan energi dan menenangkan pikiran. Di dalam hatiku, aku sudah membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi, dan sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi apa pun yang datang.

Aku tahu besok malam akan menjadi ujian yang lebih berat dari sebelumnya. Tapi aku tidak merasa takut. Sebaliknya, aku merasa semakin yakin — karena aku tahu untuk siapa aku berjuang, dan untuk apa kekuatan yang aku miliki ini digunakan.

Di tempat lain, Tuan Arga juga tidak tidur. Dia duduk di ruang latihannya, mengumpulkan energi sebanyak mungkin, sementara di sekelilingnya berkumpul lima orang ahli kultivator lain yang dia percayai dan bayar mahal. Mereka semua memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari orang-orang yang gagal sebelumnya.

“Besok malam, kita akan pergi ke tempat itu,” kata Tuan Arga dengan suara dingin. “Kita akan hancurkan perlindungan apa pun yang dia buat, tangkap dia jika memungkinkan, lalu bawa gadis itu ke sini. Biarkan dia merasakan apa artinya menentangku.”

Malam berlalu dengan lambat, seolah waktu berhenti sejenak menunggu pertemuan yang akan menentukan segalanya. Dua kekuatan yang berbeda prinsipnya sedang bersiap — satu untuk merusak dan menguasai, satu lagi untuk menjaga dan melindungi.

Dan aku tahu, saat matahari terbenam besok, pertarungan itu akan segera dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!