Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.
Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"
Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"
Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sena Marah.
“Kita nungguin siapa sih?” Vivi menyedot es teh jumbonya sambil menyandarkan bahu di sandaran kursi.
“Kak Adit, temennya Mas Sena,” jawab Aruni sambil celingukan mencari sosok Aditya. Beberapa kali dia melongok ke area taman, lalu jam tangannya lalu kembali melongok area taman dan menghela panjang.
“Lo, mau ketemuan sama temen suami, Lo? Kok ngajak gue? Gue kan, nggak kenal?”
“Iya kali aku ketemu dia berdua aja! Ntar jadi fitnah, dong! Gimana kalau mas Sena tau? Terus jadi masalah?” terang Aruni.
Vivi mengangkat kedua alisnya, “gile.. Lo udah jadi istri solehot ya sekarang?” pujinya sambil nyengir. “Eh, tapi, ngomong-ngomong orangnya ganteng, nggak?” tanya Vivi lagi –penasaran.
“Nggak! Lebih ganteng Mas Sena! Pokoknya kamu jangan sampai naksir! Dia itu playboy kelas kakap-“
“Ohhh, gitu ya kamu dibelakangku! Jelek-jelekin aku? Padahal aku sudah rela bantuin kamu sama Sena!”
Tak sadar sejak kapan, tiba-tiba Aditya sudah berdiri dibelakang Aruni dan menonyor kepala istri sahabatnya itu.
“Ih! Kak Adit! Bilangin Mas Sena loh! Nonyor-nonyor kepalaku!” kesal Aruni sambil mengusap kepala bagian belakangnya yang barusan ditonyor.
Adit hanya terkekeh, lalu duduk tepat didepan Aruni.
“Kak Adit punya aide apa?” tanya Aruni to the point- tak menunggu –tak basa-basi lagi.
“Buset! Nggak sabaran amat lu! Ada temen sampai nggak dikenalin dulu,” ucap Adit sambil melirik Vivi.
“Ini temenku Vivi, dia udah punya pacar, Udah ya, kita focus lagi,” ucap Aruni dengan cepat.
Aditya kembali tergelak, “beliin minum dulu, lah…”
Aruni berdecak kesal sambil melirik sinis pada Aditya yang malah nyengir tak tau malu.
Aruni mengagkat tangannya –memanggil pegawai kantin. “Mau pesan apa? Kopi atau teh?”
Adit mengerutkan alis, “kau pikir aku orang tua!” lalu menoleh ke karyawan kantin, “mbak, tolong es batu dan cola ya. Oh ada spicy chicken wings, nggak? Kalau ada aku minta satu porsi.”
“Baik Om, tunggu sebentar,” ucap karyawan kantin –sopan.
“Om?” kaget Adit yang lalu berubah jadi kesal. “Perasaan model rambut ini usdah paling trendy, kok masih dipanggil ‘OM’, sih!’ gerutunya sambil memperbaiki gaya rambutnya.
“Yaelah kak.. sadar umur lah… emang udah umurnya dipanggil ‘Om’ juga,” ucap Aruni.
“Huft! Sial banget gua! Harusnya nggak ketemu di sini! bikin badmood aja.”
“Tapi kak Adit, nggak setua Pak Sena deh. Kelihatan lebih muda, dari pada suaminya Aruni,” celetuk Vivi yang dari tadi diam. Jujur saja, Vivi sejak tadi diam itu karena terpana pada ketampanan Aditya. Bagaimana tidak terpesona, orangnya tinggi, putih, bodynya ideal banget, dan yang paling penting wajahnya ganteng banget persis oppa-oppa Korea yang sering ditionton Vivi di drakor.
Adit menoleh –menatap Vivi sambil tersenyum, mengacungkan jarinya membentuk love, “I loph yu bibeh!” ucapnya sambil mengedipkan satu matanya.
“Iih! Udah-udah! Kak Adit! Jangan godain Vivi, ya! dia temen baik aku!” cegah Aruni.
“Cih! Pelit banget, sih!” kesalnya. “Oke, kita mulai rencana menjebak Sena.” Adit langsung memasang tampang serius. Tangannya dia lipat di atas meja lalu dia menatap Aruni.
“Bagaimana?” tanya Aruni –penasaran.
“Pertama-tama, lo punya baju seksi, nggak?”
Aruni terdiam, “baju?”
“Iya, kayak korset top, atau kemben atau backless.. terus rok mini, atau hot pants… punya?”
Aruni mengerutkan keningnya, “nggak punya. Ngapain aku punya baju kayak gitu!” pekik Aruni lirih, wajahnya merah –malu, membayangkan dirinya memakai baju seksi super mini begitu.
“Kalau begitu, setelah ini kita ke mall, cari barang-barang itu,” ucap Aditya santai sambil menyeruput colanya yang baru datang.
“Buat apa sih?” Aruni masih bingung.
“Buat panasin mesin yang hampir beku,” lalu Aditya nyengir dan mealahap salah satu chicken wings berbalut saus berwarna kecoklatan. “hmm.. enak juga!” lanjutnya lagi sambil menjilati jari-jarinya yang belepotan.
Aruni menoleh ke arah Vivi, “kamu ikut ya, Vi? Temenin aku…”
Vivi tersenyum, tentu saja dia tak mau menolak. Dia akan bersama si cowok matang nan tampan itu lebih lama, mana mungkin Vivi menolak.
*
Viv dan Aruni meninggalkan motornya di parkiran dalam kampus, yang lebih aman karena mereka akan meninggalkannya di sana. Setelah itu, dengan mobil Aditya mereka bertiga pergi ke mall untuk membeli barang-barang yang di inginkan Aditya. Aruni masih bingung, tapi dia menurut saja, yang penting Aruni bisa mendapatkan hati suaminya.
Dengan gesit Aditya memilih baju, memasangkannya sekilas di depan tubuh Aruni lalu mengangguk saat sesuai dengan keinginannya. Akhirnya, Adit sudah membeli beberapa potong pakaian yang super mini untuk dikenakan Aruni.
Korset top warna putih dengan renda-renda gemes di bagian depan, rok kulit super mini warna hitam, dan jacket kulit warna hitam yang pas di badan Aruni, tak lupa sepatu boot sepanjang betis dengan tinggi lima senti.
“Kak Adit.. serius suruh aku beli barang-barang ini?” kaget Aruni.
“Iya, bagus ini, cocok buat kamu.” Adit mengeluarkan kartunya untuk membayar di kasir. “Mbak, Saya minta notanya ya,” lanjut Aditya sambil nyengir dan memasukkan ke dalam dompetnya, “bakal aku reimburse kalau sukses, hehehe…” gumamnya.
Aruni dan Vivi saling pandang dengan bingung.
“Oke, Vi, lu bantu dandani Aruni ya. Buat dia kelihatan seksi dan menggoda…” ucapnya sambil nyengir penuh teka teki.
*
*
Wisnu membaca pesan yang baru saja dikirimkan adit padanya.
‘Kalo Sena datang, tahan dia nggak boleh mabok! Aku butuh dia sadar.’
Wisnu terkekeh, “apa pula rencana si bujang lapok ini!” gumamnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku –bertepatan dengan kemunculan Sena di kafe-nya.
Wisnu melirik arlojinya dan tersenyum tipis, “jam 5 sore, persis seperti kemarin.”
“Bro! Whisky!” pinta Sena –lagi.
Wisnu mendekat, membawa sekaleng cola dan segelas es batu. “hari ini lu nggak boleh mabok.”
Sena mengerutkan alis, “kenapa?”
“Gue sebagai sahabat, ingin menjaga kesehatan Lo, sob! Seperti kata bang Haji,
Minuman keras (miras), apa pun namamu
Tak akan kureguk lagi
Dan tak akan kuminum lagi
Walau setetes (setetes)
Sekarang tak tak tak tak-“
“Diem lo! Kalau mau nurutin kata bang haji, kenapa nggak lo tutup aja kafe laknat ini!” ketus Sena –kesal, sambil menuangkan cola ke dalam gelas berisi es batu.
Wisnu langsung melirik sinis, “Lu mau kasih makan bini ama anak gua? Kalau gua tutup kafe ini?!”
Sena tak menjawab. Dia mengambil ponselnya dan mulai sibuk dengan akun sosmednya.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk.
“Dari Aruni…” desis Sena, lalu dnegan cepat dia membuka pesan itu.
‘Mas, aku ijin main dulu ke Club 39, ya…’
“What!!!” pekik Sena –kaget, lalu segera membalas. ‘ngapain? Nggak usah! Bahaya ke tempat kayak gitu!’
‘Aku bosen di rumah sendirian terus, aku pengen jalan-jalan buat buang pengap!’
‘Nanti kalau Mas pulang, Mas ajak ke kafe Wisnu aja!’ balas Sena -cepat.
‘Lama! Mas kan pulang masih seminggu lagi. Terus juga, Mas Sena lagi hindarin aku terus. Aku stress.’
Sena mendengus kasar.
Tak lama kemudian, Aruni mengirim foto, dan sontak membuat Sena menahan napas. Bagaimana tidak, Aruni mengirim foto dirinya sedang duduk di salah satu kursi yang melingkari meja bar di dalam Club, dengan hanya memakai kemben putih berenda yang mempertontonkan bahu putih mulusnya itu, ditambah rok mini bahan kulit warna hitam dan super pendek.
Tangan Sena mengepal kencang. Lalu langsung menekan tombol panggil.
“Halo Mas-“
“Pulang sekarang juga!” ucap Sena dengan lantang, hingga membuat Wisnu melonjak kaget.
.
.
Bersambung..
lecet2 ga ya punya rumi,,😁😁
masa iya perdana kur Pindo 😂😂🤭🤭🤭 ya noo good lah
selanjutnya mau apa mereka di kamar😁😁😁
/ itu udah sembuh kan ngk lucu dah mancing bujang lapuk eh ngk bisa di exsekusi 🤭.......
✌
ayo rum bikin seno cemburu marah berat,,😁😁