Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.31
Kakek jun begitu bersemangat saat ini. karena dia sudah bosen berada di rumah terus menerus. Jadinya dia ingin ikut berjualan, dan melihat keramaian di pasar tradisional ini. Dia juga begitu penasaran seperti apa para pedagang di sana. Sebelumnya memang dia ditemukan di dekat pasar ini, tapi saat itu, kondisi pasar sudah pada bubar dan sepi.
Banyak juga para pedagang yang sedang memasarkan barang barang mereka masing masing. dewa langsung menyewa lapak berjualan, agar lebih mudah. dewa menyewa lapak, agar tak terjadi kesalahpahaman dengan pedagang lainnya. karena di pasar ini, tempat strategis sering menjadi rebutan oleh para pedagang. Jadinya kalau mau tempat yang baik, harus siap menyewa tempat untuk berjualan. Disini juga, tidak ada para preman yang bertindak seme. Sebab pasar ini, masih di jaga oleh aparat negara. Itu sebab nya tak ada preman pasar.
"Ayo li, bawa barangan kita, ayah sudah menyewa lapak ini, untuk satu hari ini." kata dewa yang langsung menyuruh Ali membawa gerobak nya di pinggir jalan sana.
"Berapa harga sewa nya nak?" tanya kakek jun yang begitu penasaran.
"20 RB pak, untuk satu hari."kata dewa sambil tersenyum tipis.
"hmm, lumayan juga. Tapi setidaknya tidak digusur oleh para pedagang lain, karena sudah mengambil lapak sendiri." ucap kakek jun yang menganggukkan kepalanya.
"Benar kakek, disini banyak pedagang yang akan mengambil tempat secara rebutan. Kalau tidak menyewa tempat, pasti akan di usir oleh pedagang lainnya." ucap Ali yang memang tau kebiasaan orang desa ini.
"Ayo kita mulai berjualan, bismillah....semoga ini, awal yang baik!" ucap dewa tersenyum tipis dan segera berjalan menuju ke depan dengan tongkat nya itu.
"Ayah, biar Ali saja. Ayah dan kakek cukup berdiam diri disini." kata Ali yang tak ingin , ayah nya terlihat lelah. Apalagi setelah berjalan jauh, pasti kaki ayah nya masih terasa sakit.
"Ayah bisa nak, tenang saja."
"Tidak ayah, kaki ayah pasti masih sakit. Biar Ali saja yang menawarkan keripik buatan ibu."
"Baiklah." ucap dewa yang akhir nya menyetujui ucapan ali.
"Keripik....keripik.....ayo...ayo...dibeli, paman, bibi, ayo dibeli!" kata Ali dengan berteriak agar para pembeli melihat dagangan nya.
"Rasanya enak....ayo, dibeli... dibeli!"
Tak lama ada seorang pria paru baya yang langsung menghampiri nya. Dia begitu penasaran dengan dagangan anak kecil itu.
"Nak, berapa harga keripik nya?" tanya pria itu yang masih menatap Ali.
Sedangkan Ali, langsung berbinar seketika melihat ada yang mau membeli dagangan ibu nya.
"Paman, harga nya hanya 10.000 RB saja. Ini adalah buatan ibu ku, rasanya enak dan gurih. Kami juga menyediakan tester untuk paman mencoba nya." Ali begitu antusias menawarkan dagangan ibu nya itu. Bahkan tatapan binar di wajah nya tak pernah hilang
"wah, ada tester nya ya. Boleh paman coba?"
"Tentu saja tuan, ayo silahkan di coba." ucap dewa yang takjub dengan kemampuan Ali yang memikat pelanggan pertama nya.
"Di jamin enak nak, buatan menantu ku memang juara!" ucap kakek jun yang ikut mempromosikan nya.
"Sebentar aku akan mencoba nya dulu ya."kata pria itu yang langsung mengambil tester nya dulu.
"Kresh....kres.....rasa renyah, dan rasa gurih di lidah nya membuat pria itu tanpa sadar, mengambil beberapa keripik lagi. satu kata yang pasti dia rasakan
"Enak!" gumam nya dalam hati yang merasa puas dengan keripik itu
"Paman ambil 50 ya, buat oleh oleh kembali ke kota!' ucap pria paru baya itu, yang langsung memesan keripik itu dalam jumlah yang banyak
"50... Tentu saja paman. alhamdulillah."
Dewa langsung sigap membungkus nya dengan gesit. tatapan di binar wajah nya benar benar tak pudar sedikit pun. Dia begitu bahagia, mendapatkan pelanggan pertama yang langsung memesan keripik buatan istri nya dalam jumlah yang lumayan banyak.