NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Permata di Balik Debu

Beberapa hari berlalu dalam ritme yang sibuk dan menegangkan di lokasi syuting.

Shafira Maharani tidak lagi punya waktu untuk mempersulit Citra Lestari. Sang sutradara terus mendorongnya mengasah kemampuan akting, sinar matahari membakar kulitnya setiap hari, dan kelelahan menyergapnya di penghujung setiap sore.

Citra selalu mengenakan kacamata berbingkai hitam tebal itu. Di lokasi syuting, ia tahu persis apa yang ia inginkan — tidak pernah membentuk kelompok eksklusif, tidak pernah ikut bergosip. Setiap kali ada jeda, ia dengan cermat mengamati akting dan penempatan posisi setiap aktor, besar maupun kecil.

Delapan belas tahun pertama hidupnya berlalu dalam ruang yang sempit. Karena kondisi jantung bawaan, ia tidak pernah benar-benar mengalami dunia. Semua kegembiraan, kemarahan, kesedihan, kebahagiaan — semuanya harus ia tekan agar emosi tidak melonjak terlalu jauh. Terlahir ke dunia ini, kemudian harus bergantung pada Arjuna Pratama, semuanya berada di luar kendalinya.

Tapi berakting berbeda. Berakting memungkinkannya melampiaskan emosi yang bertahun-tahun terkubur, mengalami kehidupan-kehidupan lain yang tak pernah ia miliki.

Ia ingin menjadi seorang aktris.

Itu sebabnya ia keras kepala menolak meninggalkan lokasi syuting maupun sisi Shafira Maharani. Selain mengawasi perkembangan hubungan antara Arjuna dan Shafira, ia juga sedang menunggu — menunggu kesempatan.

Kesempatan itu datang lebih cepat dari yang ia duga.

Sore itu, suasana di lokasi syuting mendadak tegang.

Sang sutradara berbicara ke walkie-talkie dengan suara yang menahan amarah: "Apa maksudmu dia tidak bisa datang? Kau baru memberitahuku sekarang, tepat sebelum syuting? Apa yang sedang dilakukan Akademi Tari?"

"Tokoh pelacur itu punya adegan tarian yang harus memukau semua orang. Di mana aku harus mencari penggantinya sekarang?"

Asisten sutradara ikut berkeringat: "Sutradara, mereka bilang pergelangan kakinya keseleo saat latihan, benar-benar tidak bisa bergerak..."

Berdiri di samping, manajer Shafira Maharani — Kakak Siska— mendengarkan dengan dahi berkerut. Jari-jarinya tanpa sadar mengetuk-ngetuk termos di tangannya. Tatapannya menyapu area syuting, dan akhirnya berhenti pada Citra Lestari yang berdiri tak jauh darinya.

Gadis itu mengenakan kaus dan celana jins paling sederhana. Rambut panjangnya yang seperti rumput laut diikat longgar di belakang kepala, beberapa helai terurai menyentuh pipi. Kacamata berbingkai tebal itu menutupi sebagian besar wajahnya — namun lekuk tubuhnya yang halus tetap terbaca jelas.

Meskipun statusnya hanya asisten, ia efisien dalam setiap tugas, dan posturnya memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan.

Mata Kak Siska berkedip.

Ia telah berkecimpung di industri hiburan bertahun-tahun. Matanya tajam, terlatih. Selama beberapa hari ini, ia diam-diam mengamati asisten baru itu.

Mengesampingkan kacamata yang menutupi wajahnya dan kebiasaannya menunduk, proporsi tubuh gadis itu sempurna — langsing namun lentur, leher panjang, garis bahu yang mulus. Terutama tangannya; sepuluh jarinya ramping seperti giok, buku-buku jari tampak bersih dan jelas.

Yang lebih mencolok adalah temperamennya. Ketenangan dan fokus itu terasa tidak selaras dengan lokasi syuting yang riuh — namun justru karena itulah matanya selalu kembali ke sana. Ada kualitas tertentu yang memancar dari gadis itu, sesuatu yang tidak bisa dibeli atau dilatih.

Kak Siska sudah terlalu sering melihat pendatang baru yang putus asa mendaki tangga ketenaran, mata mereka penuh keinginan yang justru membuat mereka tampak kecil. Citra Lestari berbeda. Ia seperti permata mentah yang tertutup debu.

Sebuah pikiran mulai terbentuk.

Sang sutradara masih menggerutu: "...Kalau tidak ada pilihan lain, suruh saja si anu dari kru B menggantikannya. Meskipun fisiknya agak kurang..."

"Sutradara." Kak Siska tiba-tiba angkat bicara, memotong keluhan itu.

Ia melangkah menghampiri Citra dan menepuk bahunya.

Citra terkejut, mendongak. Mata almond nya dipenuhi kebingungan: "Kakak Siska?"

Kak Siska mengabaikan kegugupannya dan bertanya langsung: "Bisakah kamu berdansa?"

Citra terdiam sejenak. Lalu, tanpa sadar, mengangguk pelan: "...Sedikit."

Sebenarnya tidak bisa. Tapi ia baru saja mendengar setiap kata sang sutradara.

Ini peluang. Dan aku ingin memanfaatkannya. Tubuhnya lentur — gerakan tari sederhana tidak akan menjadi hambatan besar.

Mata Kakak Siska berbinar. Selama ada fondasi, itu sudah cukup.

Ia merendahkan suaranya, berbicara cepat: "Sekarang ada kesempatan. Memerankan wanita penghibur, hanya dua adegan."

"Adegan pertama adalah tarian masuk yang memukau — tanpa dialog, semuanya bergantung pada bahasa tubuh dan tatapan mata."

"Adegan kedua sebagai mayat."

"Aktris aslinya tidak bisa hadir. Berani mencoba? Kalau kamu lolos audisi sutradara, aku akan membantumu memperjuangkan peran ini." Ia berhenti, menatap mata jernih di balik kacamata itu, lalu melempar umpan terakhir: "Dan jika kamu tampil baik, aku bisa merekomendasikanmu ke Duta Informasi Media. Bagaimana? Mau?"

Duta Informasi Media.

Jantung Citra berdegup keras. Itu perusahaan Raka Hadiputra — salah satu raksasa sejati di industri hiburan, batu loncatan yang diimpikan banyak pendatang baru.

Ia menarik napas dalam-dalam. Mengangguk, bulat dan mantap. Suaranya tidak keras, tapi sangat jelas:

"Aku akan mencoba."

Di area audisi.

Tanpa kostum mewah, Citra hanya mengenakan kaus dan celana jinsnya sendiri. Kacamata berbingkai hitam tebal itu ia lepaskan.

Sang sutradara, asisten sutradara, Kak Siska, dan beberapa staf inti berkumpul di tepi. Shafira Maharani berdiri agak jauh dengan tangan bersilang, mengamati dengan dingin. Seringai tipis tersungging di sudut bibirnya — ia bersiap menyaksikan pertunjukan yang memalukan. Kakak Siska pasti sudah kehilangan akal. Seorang asisten kecil ingin jadi bintang?

Lampu panggung menyala, menerangi area tengah dengan tajam.

Citra berdiri di bawah cahaya itu, kepala sedikit tertunduk.

Lalu ia mengangkat wajahnya. Menatap langsung ke kamera.

Udara membeku selama beberapa detik.

Satu per satu, tarikan napas tersengal terdengar di antara para penonton kecil itu.

Tanpa kacamata, wajah kecil itu akhirnya terlihat sepenuhnya. Kulit halus putih tembus pandang, bulu mata panjang yang terkulai — seperti kuncup anggrek yang tengah bersiap mekar.

1
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!