NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Sudah tiga hari sejak kejadian di kolam renang itu.

Tiga hari sejak kabar tentang Nayla yang tenggelam menyebar hampir keseluruh sekolah. Dan selama tiga hari itu pula Endra tidak pernah benar-benar tenang.

Cowok itu duduk dibangku paling belakang kelasnya dengan kepala bersandar malas pada sandaran kursi. Penjelasan guru didepan sana sama sekali tidak masuk kedalam otaknya. Tatapannya kosong mengarah keluar jendela, sementara jemarinya sejak tadi mengetuk meja tanpa ritme.

Pikirannya penuh.

Tentang Nayla.

Tentang kabar yang ia dengar.

Tentang bagaimana gadis itu hampir kehilangan nyawanya. Endra mengusap kasar wajahnya frustasi.

"Dra, lo denger gak sih dari tadi gue ngomong?"

Endra menoleh malas kearah Jevano yang duduk disampingnya.

"Apaan?"

"Lo kenapa sih? Dari tadi bengong mulu kayak orang stres," komentar Jevano heran.

Endra diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan.

"Nayla belum masuk tiga hari."

Jevano langsung terdiam.

Nama itu lagi.

Sejujurnya Jevano sudah menduga cepat atau lambat Endra pasti akan mencari tahu keadaan Nayla. Mustahil cowok itu bisa benar-benar tidak peduli. Apalagi setelah mendengar apa yang terjadi.

"Katanya dia masih sakit," jawab Jevano hati-hati.

Endra terkekeh hambar.

"Sakit? Dia tenggelam, Van. Hampir mati malah."

Nada suara Endra terdengar pelan, tapi jelas menyimpan emosi yang berusaha ia tahan.

Hari kejadian itu Endra memang tidak berada disekolah. Ia dipanggil ayahnya untuk menghadiri acara keluarga dan baru mengetahui kabar Nayla malam harinya dari salah satu teman kelas.

Awalnya Endra mengira itu hanya rumor biasa.

Namun ketika semakin banyak orang membicarakannya, ditambah video keributan dipinggir kolam sempat tersebar di grup sekolah, dada Endra langsung terasa sesak.

Didalam video itu terlihat beberapa murid panik mengelilingi tubuh Nayla yang tak sadarkan diri dari kolam. Dan semenjak melihat video itu, Endra tidak bisa tidur dengan tenang.

Bayangan Nayla yang terkulai lemas terus menghantuinya.

"Lo mau jenguk dia?" tanya Jevano akhirnya.

Endra menggeleng pelan.

"Dia pasti gak mau ketemu gue."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Jevano menghela napas.

Hubungan Nayla dan Endra memang sudah hancur sejak beberapa minggu terakhir. Pertengkaran mereka semakin sering terjadi, terlebih setelah munculnya Tamara yang terus menempel pada Endra.

Dan Nayla...

Gadis itu perlahan berubah menjadi lebih dingin, lebih emosional, dan lebih tertutup.

"Dra, gue serius nanya. Lo masih sayang sama Nayla kan?"

Endra langsung menatap Jevano tajam seolah pertanyaan itu bodoh.

"Gue gak pernah berhenti sayang sama dia."

Jawaban itu terdengar cepat.

Tanpa ragu.

Dan entah kenapa justru membuat dada Endra sendiri terasa semakin sakit.

Kalau memang masih sayang kenapa semuanya jadi sejauh ini?

Bel istirahat berbunyi nyaring.

Siswa-siswi mulai berhamburan keluar kelas, tapi Aiden tetap diam ditempatnya. Cowok itu menunduk sambil memijat pelipis.

Sampai akhirnya seseorang masuk kedalam kelas mereka.

"Endra!"

Cowok itu mendongak malas.

Tamara berdiri didepan pintu kelas sambil tersenyum lebar.

"Temenin gue kekantin yuk," ajaknya manja.

Biasanya Endra akan mengiyakan sekadar untuk menghindari keributan.

Tapi kali ini tidak.

"Gak mood," jawab Endra singkat.

Tamara mengerucutkan bibirnya kesal.

"Lo kenapa sih akhir-akhir ini dingin banget sama gue?"

Endra menghela napas kasar.

"Tam, gue lagi capek."

"Capek mikirin Nayla lagi?"

Deg.

Endra langsung menatap Tamara tajam.

Cewek itu tersenyum tipis seolah sengaja memancing reaksinya.

"Satu sekolah juga tau kok kalau lo masih belum bisa move on dari Nayla," lanjut Tamara santai.

"Jaga omongan lo."

"Salah gue dimana? Emang kenyataannya begitu kan? Bahkan pas gue ngomong lo tunangan gue aja, pikiran lo masih Nayla terus."

Jevano yang mendengar itu langsung merasa suasana mulai tidak nyaman.

"Tam, udah ya—"

"Enggak Van, biarin aja," potong Endra dingin.

Cowok itu berdiri dari kursinya lalu menatap Tamara tanpa ekspresi.

"Gue udah bilang dari awal jangan pernah ngomong sembarangan soal hubungan kita."

Senyuman diwajah Tamara perlahan memudar.

"Lo malu punya hubungan sama gue?"

"Karena emang gak ada hubungan apa-apa diantara kita."

Kalimat itu sukses membuat kelas mendadak sunyi.

Tamara terlihat syok.

"Endra—"

"Dan satu lagi," potong Endra lagi, "jangan pernah bawa-bawa nama Nayla didepan gue."

Setelah mengatakan itu Endra langsung pergi meninggalkan kelas.

Jevano mengusap wajahnya pelan.

Selesai sudah.

---

Hari itu hujan turun cukup deras sepulang sekolah.

Endra duduk didalam mobilnya sambil menatap layar ponsel.

Nama Nayla masih berada paling atas daftar chat mereka.

Percakapan terakhir.

Dan semuanya berakhir buruk.

Endra menekan rahangnya kuat-kuat.

Sudah berkali-kali ia mengetik pesan lalu menghapusnya lagi.

Pada akhirnya cowok itu melempar ponselnya kesamping frustrasi.

"Sialan!"

Kenapa semuanya terasa sesulit ini?

Endra menyandarkan kepalanya kebelakang sambil memejamkan mata.

Namun lagi-lagi bayangan Nayla muncul.

Nayla yang menangis.

Nayla yang marah.

Nayla yang memintanya pergi.

Dan sekarang...

Nayla yang hampir tenggelam.

Dada Endra terasa sesak.

Tanpa pikir panjang cowok itu langsung menyalakan mobilnya.

Ia harus melihat Nayla.

Minimal memastikan kalau gadis itu benar-benar baik-baik saja.

---

Malam mulai turun ketika mobil Endra memasuki halaman rumah keluarga Raharja.

Rumah besar itu terlihat sepi seperti biasanya.

Endra turun dari mobilnya dengan langkah cepat.

Baru saja ia ingin masuk, Bi Nani yang kebetulan membuka pintu langsung terkejut melihat kedatangannya.

"Den Endra?"

"Bi... Nayla dimana?"

Bi Nani tampak ragu beberapa saat.

"Non Nayla dikamar dari tadi. Belum keluar makan juga."

Endra langsung mengangguk.

"Saya boleh ketemu dia?"

Bi Nani terlihat serba salah.

"Non Nayla lagi gak mau ketemu siapa-siapa den..."

"Sebentar aja bi."

Nada suara Endra terdengar memohon.

Dan itu cukup membuat Bi Nani akhirnya mengalah pelan.

"Kalau begitu coba aja den... tapi kalau non Nayla marah jangan salahin bibi ya."

Endra mengangguk cepat lalu melangkah menaiki tangga.

Setiap langkah terasa berat.

Entah kenapa jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.

Sampai akhirnya cowok itu berdiri tepat didepan pintu kamar Nayla.

Lampu kamar masih menyala.

Endra mengepalkan tangannya gugup sebelum akhirnya mengetuk pintu perlahan.

Tok.

Tak ada jawaban.

Aiden mengetuk lagi.

"Nayla..."

Sunyi.

Cowok itu menghela napas pelan.

"Nay, ini gue."

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya terdengar suara langkah mendekat.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Dan disitulah Endra membeku.

Nayla berdiri didepannya dengan wajah pucat.

Rambut panjang gadis itu dibiarkan berantakan, sementara tubuhnya dibalut sweater kebesaran.

Namun yang paling membuat dada Endra terasa diremas adalah mata Nayla.

Sembab.

Lelah.

Dan kosong.

Tatapan Nayla langsung berubah dingin saat menyadari siapa yang datang.

"Ngapain lo kesini?"

Nada suaranya datar.

Tak ada lagi kehangatan yang dulu selalu menyambut Endra.

Cowok itu menelan ludah susah payah.

"Gue denger lo tenggelam."

"Terus?"

Endra terdiam.

Nayla tertawa kecil sinis.

"Lo mau pastiin gue masih hidup? Nih lihat sendiri. Gue belum mati."

Kalimat itu membuat Endra langsung mengernyit.

"Jangan ngomong sembarangan, Nay."

"Kenapa? Takut?"

menatap Endra lurus.

"Bukannya lo udah gak peduli lagi sama gue?"

Endra langsung kehilangan kata-kata.

Nayla mengalihkan pandangannya.

"Kalau cuma mau lihat keadaan gue, lo udah lihat kan sekarang? Sekarang Lo bisa pergi, sebelum papah dan kakak-kakak gue tau Lo ada di sini."

Saat Nayla hendak menutup pintu, Endra dengan cepat menahan daun pintu itu.

"Nahla please..."

Gadis itu langsung menatapnya tajam.

"Jangan sentuh pintu kamar gue."

Endra menghela napas berat.

"Gue cuma pengen ngobrol."

"Gue enggak."

"Nay—"

"Capek, Dra."

Suara Nayla mendadak melemah. Untuk pertama kalinya sejak tadi gadis itu terlihat benar-benar rapuh.

"Gue capek banget."

Endra membeku.

Nayla menunduk sambil tertawa kecil hambar.

"Lo tau gak sih rasanya hampir mati?"

Deg.

"Pas gue tenggelam... gue takut banget. Gue gak bisa napas, Dra. Dan lucunya ditengah keadaan kayak gitu yang kepikiran malah lo."

Mata Endra langsung memerah.

Nahla menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar suaranya tidak bergetar.

"Gue mikir... kalau gue beneran mati mungkin lo juga gak bakal peduli."

"Jangan ngomong gitu!" potong Endra cepat.

Nada suaranya meninggi.

Nayla terdiam.

Endra mengusap wajahnya frustrasi.

"Gue peduli sama lo, Nayla. Selalu."

"Peduli?"

Nayla tersenyum miris.

"Peduli yang kayak gimana?"

Endra membuka mulutnya, tapi tak ada suara yang keluar.

Karena bahkan dirinya sendiri bingung harus menjelaskan semuanya dari mana.

Tentang Tamara.

Tentang keluarganya.

Tentang tekanan ayahnya.

Tentang bagaimana ia berusaha mempertahankan Nayla tapi justru semakin menyakiti gadis itu.

"Lo tau apa yang paling nyakitin?" lanjut Nayla lirih.

"Bukan waktu gue tenggelam. Tapi waktu gue sadar orang yang paling gue harapin buat ada disamping gue malah jadi orang yang bikin gue hancur pelan-pelan."

Dada Endra terasa sesak sampai sulit bernapas.

Nayla menghapus air matanya cepat.

"Sekarang lo udah lihat keadaan gue. Jadi tolong... pergi sekarang."

Endra menggeleng pelan.

"Gue gak bisa."

Nayla menatapnya tak percaya.

"Kenapa?"

"Karena gue takut kehilangan lo."

Jawaban itu keluar begitu saja.

Jujur.

Tanpa ditahan.

Nayla tertawa kecil sambil menggeleng.

"Lucu ya? Baru takut kehilangan pas semuanya udah hancur."

Endra menatap Nayla dengan sorot penuh penyesalan.

"Maafin gue."

Nayla langsung memejamkan mata.

Dua kata itu.

Dua kata yang selama ini ia tunggu.

Tapi anehnya sekarang justru terasa terlambat.

"Gue gak butuh maaf lo sekarang, Dra."

Suara Nayla bergetar.

"Yang gue butuhin waktu itu lo percaya sama gue. Lo bela gue. Tapi lo gak pernah lakuin itu."

Nayla mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Ia tahu.

Ia sadar.

Dan itulah yang paling menghancurkannya.

Selama ini Nayla selalu sendirian menghadapi semuanya.

Sementara dirinya...

Justru menjadi salah satu alasan gadis itu menangis.

"Gue salah," ucap Endra lirih.

Nayla tertawa hambar.

"Iya. Lo salah banget."

Kalimat itu menusuk telak.

Namun Endra tak bisa membantah.

Karena memang itu kenyataannya.

Hening beberapa saat.

Sampai akhirnya Nayla kembali membuka suara.

"Sekarang pulang ya. Gue capek."

Endra menatap Nayla lama.

Lalu perlahan mengangguk.

"Oke."

Cowok itu mundur selangkah.

Namun sebelum pergi, Endra kembali menatap Nayla dengan sorot mata yang membuat dada gadis itu terasa sesak.

"Tapi satu hal yang harus lo tau... gue gak pernah berhenti sayang sama lo, Nayla."

Dan setelah mengatakan itu Endra benar-benar pergi.

Nayla mematung ditempatnya.

Sampai suara langkah Endra benar-benar menghilang.

Barulah gadis itu menutup pintu kamarnya pelan.

Tubuhnya perlahan merosot kelantai.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh lagi.

Nayla menangis dalam diam.

Karena meskipun ia membenci semua perlakuan Endra...

Sebagian hatinya masih berharap.

Dan itulah yang paling menyakitkan.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!